Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

Ku Tak Salah Melepasmu





Lewat kertas kosong sisa buku tulis sekolah ini, aku utarakan bagaiamana perasaan hatiku. Lewat setiap kata yang selalu aku susun sama, tidak ada yang berubah. Terik matahari yang masih mentereng hingga membuat kulit terbakar, cinta itu masih tetap ada. Bahkan angin yang kemarin datang bersama kita, masih tetap tertiup mesra membelai kulit telanjangku. Ah, bukankah semua masih sama? Tidak ada yang berubah kecuali kita.

Iya, kita memang sangat berbeda. Bukan lagi berbeda yang menyatukan, tapi sebaliknya. Kita adalah dua hal yang sangat berbeda dan itu menimbulkan jarak di antara kebersamaan kita. Kita seperti dua manusia yan terpisah ratusan kilo mater. Padahal dulu kita terlampau dekat, bahkan angin pun tak bisa lewat di sela kita.
Roda memang selalu berputar, ‘kan?

Kekasihku yang dulu aku cinta. Lewat surat ini aku ingin memberitahukan betapa aku sangat mencintaimu. Bahkan kamu pun mungkin tak akan sadar seberapa besar itu. apakah sebesar gunung? Atau sebesar dunia ini? Ah, aku pun tak dapat mengira-ngira sebesar apa cintaku. Karena yang aku tahu adalah perasaan ini terlampau besar hingga tak ada perandaian yang dapat mewakilinya.

Namun kekasihku, kamu jangan terlalu senang dulu. Sudah aku bilang di awal, bahwa roda itu berputar, bumi pun sama. Perasaan yang dulu membuncah ruah, lama kelamaan menyurut. Cinta yang dulunya besar, lama-lama mengkerut, mengecil hingga akhirnya habis.

Kekasihku yang dulu pernah aku cintai tanpa alasan apa dan mengapa. Ternyata waktu memang tak berwujud tapi kenapa ia berhasil melululantahkan semua yang kita bangun. Waktu seakan menghipnotismu untuk berbubah dan berjalan menjauh dariku. Aku sadar, itu pasti bukan kehendakmu. Mungkin kamu di bawah pengaruh waktu yang jahat hingga kini kita menjadi masing-masing aku dan kamu.

Aku tidak tahu harus dari mana memulai kisah ini. Apakah sejak aku jatuh cinta? Atau sejak kita bersama? Tapi alangkah bijaknya, aku mulai saat kita mulai merasa saling menjauh. Karena menurutku inilah awal kisah baru kita. Kita akan melangkah dengan jalan yang saling bersebrangan tanpa ada titik temu di depan sana. Kita seakan menuruti waktu yang memerintah kita berpisah.

Tidak ada orang ketiga atau keempat di dalam hubungan kita, seperti perjanjian kita di awal. Meski begitu, retaknya hubungan bukan hanya karena masalah orang lain. Ini murni karena kita sendiri. Kamu yang mulai menjadi orang lain, atau memang seperti itu kamu? dari dulu hanya bertopeng karena kamu merasa perlu menakhlukkanku? Dan setelah aku takhluk, kamu dengan sikapmu kembali pada semula. Sikap yang jelas tidak aku kira dan pastinya tak aku suka.

Kamu terlalu mengekang dan mengikatku hingga aku tak bisa apa-apa. Bahkan sekadar bernapas pun, terlampau sulit. Ikatannya terlalu ketat. Apakah kamu sadar bahwa semakin kuat ikatan ini maka semakin besar keinginanku lepas?

Kekasihku yang berubah. Tidak baik bila kita sama-sama ketakutan. Kau takut aku berpaling sedang aku takut kamu berubah. Karena dari ketakutab itu, aku sadar bahwa kita sama-sama melangkah di arah yang berbeda.

Ketakutan itu tidak baik, kataku dulu. Namun kamu bilang kamu tidak takut hanya awas saja. Aku tak lantas percaya. Karena sinar mata kita sama, sama-sama dalam kecemasan dan ketakutan setiap bersama.

Kekasihku yang terlampau aku cintai dulu, siang ini bnayak kejadian yang semakin meyakinkan aku bahwa cinta memang tidak harus selalu bersama. Ada kalanya kita harus saling melepas untuk sejenak merasa bebas. Kita perlu bernapas untuk mengisi perasaan yang mulai kebas.

 Setiap waktu yang bergulir, setiap kata yang selalu kita katakan di setiap malam itu, banyak perbedaan yang semakin kentara. Perbedaan yang satu per satu muncul dengan sendirinya. Itu sudah menjadi aba-aba perpisahan kita, bukan?

Aku sudahi sejenak cerita ini. esok mari kita sambung lagi dengan lebih rinci. Dan mungkin esok, cerita ini sudah tentang aku dan kamu masing-masing, bukan lagi kita.

Probolinggo, 1 September 2019

Persahabatan Kami




Karena semesta tak mungkin berbisik dan memberikan jalan secara telanjang, maka aku memilih takdirku sendiri. Aku menggenggamnya sebagai sahabatku. 

Dia yang datang saat purnama ke delapan di malam itu. Dengan segala tingkah dan suasana yang mengharu biru, kami mampu bersatu. Disetiap banyaknya pertanyaan, mungkin ada satu atau dua hal yang belum terjawab. Namun, apakah itu penting bagi kami? Tidak sama sekali. 

Dia penyuka segala macam warna, sedang aku pembenci warna. Dan hitam adalah simbol bagiku sebagai seorang pendendam. Apakah itu memberi jarak bagi kami? Aku rasa tidak.

Pernah sesekali bulan memerah. Mengurung kami dalam sebuah kebisuan yang nyata. Waktu melambat seakan menenggelamkan kata-kata yang hanya mampu terbungkam dalam cerita. Dan jalan yang kami pilih, menulis.

Sebuah cerita-cerita baik karangan atau pengalaman. Semua kami torehkan dalam tulisan. Di mana ada kami sebagai tuhan kecil di sebuah kisah yang kami rangkai. Dan, karena itu pula kami bertemu. Apakah kita sahabat? Bisa saja sejak itu. 

Tak ada yang menghendaki satu sama lain berpisah. Mungkin kami enggan. Ikatan yang terangkai terlalu menghanyutkan kami ke dalam dasar kenyamanan. Dan kami lupa, bahwa sebelum ini, kami adalah dua insan yang belum mengenal satu sama lain. Benarkan?


Probolinggo, 08 Januari 2018


Dan, Kami adalah Penjuru Mata Angin



Mereka adalah keajaiban-keajaiban yang terjebak dalam sebuah ikatan tak kasat mata. Mereka adalah insan-insan dengan kekuatan yang tak mampu ditandingi oleh siapapun.

Kerap beberapa kali, badai seakan menerjang dan meruntuhkan segala ikatan yang mereka kukuhkan. Namun, dengan sekali hembus, badai itu surut. Kalah pada sebuah perasaan yang menyatu antara mereka.

Mereka adalah takdir yang ditentukan langit untuk bersatu. Dengan kekuatan masing-masing, mereka menjadi lebih kuat dan tak terkalahkan.

Mereka bukan pusat bumi. Namun, penjuru mata angin yang tersebar dan mengokohkan sebuah rumah yang berpondasi cinta dan kasih sayang. 


Mereka hanya insan-insan yang lahir dari tangis haru keluarga masing-masing. Namun, dalam waktu yang tak dapat direncanakan, mereka bersatu untuk bangkit bersama.

Bagai elemen dalam sebuah kekuatan. Iya, mereka adalah elemen kekuatan dalam hidup 

Dia adalah Yuanda Isha. Mata angin di Tanjung Pinang. Wanita Desember dengan segala ketegaran hidupnya. Pantang menyerah dari cekikan dunia. Ia tetap kokoh berdiri sebagai penguat yang lain.

Di jarak berkilo meter lainnya, Blitar. Lahir lelaki pertama dalam hubungan keluarga ini. Seseorang penasehat dan penengah dari segala masalah yang ada. Dia adalah si pondasi penegak dan pelindung dari berbagai ancaman. Andik Prasetya ( Jon Blitar )

Sedang di Bontang. Wanita berdagu lancip. Mata bulat dengan tawanya yang khas. Menjadi seorang wanita yang kuat melebihi baja. Dia adalah si berani dari lainnya, Ellis Purnama Sari

Tanggerang dan segala kelembutannya. Seorang ibu sekaligus isteri yang sholeha. Ia bagai angin sejuk kala udara memanas. Ada sebuah ucap yang selalu didengar bersama. Dia adalah penasehat yang menyejukkan dan pemilih jalan di antara persimpangan, Sutianah.

Sidoarjo, kota cantik dengan wanita paling cantik dalam keluarga ini, Fitri Niswani. Wanita berelemen air dengan suara lemah lembutnya. Pusat kesabaran dan pendinginan dari sebuah amarah yang tak sengaja terpercik di antara kami. Dengan sabar, ia rangkul sebuah kasih sayang untuk kembali bersama.

Di penjuru lainnya. Mata angin yang menunjuk ke arah Timur. Probolinggo menjadi tempat kelahiran bagi seorang gadis belia. Dia adalah elemen paling muda di antara yang lain. Labil dengan segala sifat yang belum stabil. Namun, hidup adalah belajar. Dan dengan berdirinya ia bersama keluarga ini, dia bangkit dan berani bermimpi. Dialah Yani.

Tak lupa, tak akan pernah sedikit kami melupakan elemen satu dengan yang lainnya. Terutama elemen tambahan yang baru bergabung dengan keluarga ini. Andai dia adalah vampir baru, mungkin dia adalah seorang yang kuat dan tegas. Namun, dia bukan vampir. Dia adalah seorang ayah yang menempati posisi lain di pertemuan titik mata angin. Jumhari, Kakak pertama yang lahir dengan kesabaran dan lapang dadanya.

Mereka adalah kasih sayang yang selalu mengait bagai hubungan tali rantai
 
Dan mereka bukan sekadar ingatan yang akan hilang oleh rotasi waktu. Mereka adalah kekekalan dalam hati dan jiwa masing-masing. 

Dan mereka adalah keluarga dari rumah Komunitas Sastra Nusantara. 


Probolinggo, 31 Desember 2018
Dalam rangka harapan untuk keluarga tersayang 

Prosa Menunggu dan Rahasia Rahasia Paling Rahasia

Yani, Just it
Menunggu


 Hatiku masih sama. Menghitung bait per bait puisi yang kau tinggalkan. Menggenggam janji dan rindu 'tuk dituntaskan. Menimbun segala rasa yang kupupuk semakin subur. Cinta itu masih ada. Di lipatan hatiku yang paling dalam ; namamu merajai.

 Ragaku masih dingin tak terhangatkan. Semilir angin malam semakin mendinginkan tubuh tanpa peluk hangatmu. Waktu tak pernah berhenti. Tidak sedetikpun. Hingga dingin berhasil bekukan sgalanya ; hati dan raga.

 Semua masih sama. Andai kau kembali, aku masih menunggumu. Tapi, entah dengan hatimu. Masihkah untukku?

Probolinggo, 15 Juni 2018


Rahasia-Rahasia Paling Rahasia



Bila aku jujur akan rasa rahasia, bisakah kau lucuti juga rahasiamu? Tentang cinta, rindu, cemburu, marah dan emosi lainnya, apakah rahasiamu? 

Kemerlap bintang simpan rahasia malammu kala itu. Kala kau dengan rahasia mulai susun rahasia antar kita. Rahasia akan jarak yang semakin panjang. Apakah rahasiamu?

Sedang aku simpan rahasia. Tentang marah dan kecewa yang kueja tiap kau datang dengan duka dan luka. Tak adakah rahasia sukamu padaku. Mengapa wajahmu tetap muram kala bersamaku. Apakah rahasia barumu?

Cukup kita timbun rahasia ini. Waktunya diam atau tuntaskan segala rasa paling rahasia.

Rahasiaku adalah mencintaimu dengan segenap rahasia yang kumiliki.

Sedang kamu, dengan rahasia 'tuk lepas dariku.

Kini, kita ambil rahasia paling adil.
Ke depan, melangkah tanpa menoleh pada rahasia lagi.

Rahasia Rahasia paling rahasia ini sungguh menyakitkan rasa.

Probolinggo, 15 Juni 2018 

Prosa dan Puisi Idul Fitri

Yani, Just it


Prosa Singkat Lebaran dan Kemenangan

Esok, kala malam takbir kau dengar dari masjid dekat rumahmu. Cepat-cepatlah kau sujud syukur. Merasakan letupan kebahagiaan kala malam kemenangan dapat kau genggam lagi. Tuntas puasamu di bulan suci Ramadhan. Waktu bersenang-senang memerdekakan diri dengan amalan ibadah zakat. Kau kembali fitrah, seperti itulah janji Allah SWT setelah umat muslim berpuasa dan berzakat fitrah. Suci diri setelah dosa-dosa kemarin kau gunungkan.

Akan tetapi, fitrahmu tak akan genap bila sampingmu masih mendendam luka yang teramat sangat. Maka saling bermaaf-maaflah kalian. Melebur segala dosa antar umat muslim. Esoknya, pereratlah tali persaudaraan menjadi lebih dekat. Jaga lisan dan sikap, karena sakit hati sahabatmu adalah sumber dosa yang sulit kau hilangkan.

Kemenangan ini memang hanya akan datang sekali dalam setahun. Itu pun setelah kita diuji menahan segala napsu. Mendekatkan diri kepada sang Ilahi agar kita sadar bahwa kita hanya debu tanpa arti bila tak ada Allah SWT. Sengaja mungkin lebaran hanya didatangkan sekali dalam setahun. Agar kita bisa pandai-padai memanfaatkannya untuk menghapus segala dosa. Bayangkan bila hari kemenangan datang setiap hari? Manusia pasti akan banyak menyepelekannya. Bukankah Allah SWT selalu menciptakan sesuatu dengan manfaat dan pertimbangan yang apik? Maka begitupun dengan hari Kemenangan ini. Agar kita belajar menghargai dan slaing berlomba dalam kebaikan.

Semoga kita menjadi umat muslim yang beruntung setelah hari Kemenangan ini. Muslim yang lebih baik dari hari kemarin. Dan menjadi yang terbaik dikeesokan harinya. Amin yarabbal alamin.




Kembali Fitrah
-Yani-

Ini malam kemenangan
Saat sorak-sorak bahagia dan suka saling bersautan
Di hari ketiga puluh, puasa itu terselesaikan
Membayar zakat sebagai sebuah amalan

Ada adzan, takbir, dan segela macam perayaan
Nyanyian kemerdekaaan turut menghiasi kesenangan
Dari petang hingga esok kepagian
Aku, kami dan para muslim tersenyum menyambut lebaran

Para muslim kembali fitrah
Suci bersih tanpa noda-noda dosa
Melepas dosa dan saling maaf antar sesama
Khilaf kemarin terlupakan dan luntur seketika

Probolinggo, 10 Juni 2018



Aku Masih Hidup Lebaran ini
-Yani-
Lebaran lalu, aku menangis
Bertanya pada bulan; hidupkah aku di lebaran nanti?
Semakin bersujud dan meminta ‘tuk hidup sekali lagi
Dosa-dosaku masih banyak dan menggunung hingga tak terhitung lagi

Tahun ini. Aku menangis lagi
Bersyukur dalam sujud yang selalu kulakukan
Aku masih hidup di lebaran tahun ini
Merasakan bagaimana bahagiaku di hari kemenangan

Probolinggo, 11 Juni 2018


Kesedihan Tokoh 'Ia'

Yani, Just it





Semua yang ada di Bumi maupun langit adalah milik Allah SWT. Baik itu angin, makhluk hidup dan harta yang sedang kita miliki hari ini. Percayalah bahwa semua yang sedang kamu miliki sekarang adalah titipan yang bersifat sementara. Lantas, mengapa kau merasa kehilangan saat titipan tersebut diambil kembali?

Wacana di atas terus terbaca berulang kali. Merapalkannya ibarat sebuah mantera yang dapat merubah kehidupan. Ikhlas ikhlas dan ilkhlas. Bibirnya terus mengeja tiada henti. Setitik air mata itu bahkan ikut melaju turun sebagai jawaban mantera tersebut.

Ia membalik badannya. Menatap lampu yang semakin meredup lantaran lama dipakai. Warnanya tak putih, agak sedikit jingga. Pantulan cahaya yang mengenai wajahnya, membuat saraf-sarafnya kembali menegang. Mengingat dengan sangat jelas bahwa ia baru saja kehilangan.

Bodoh.

Umpatnya berkali-kali saat ia sadar dengan semua sikapnya. Ia kelewat bodoh dan gegabah untuk bertindak. Seharusnya ia menjaga apa-apa yang ada di sampingnya. Seharusnya ia tak akan kehilangan bila ia lebih bisa peka dengan semua di sekitarnya.

Ia hanya memiliki satu itu, tak ada yang lain. Bahkan dalam doanya, ia selalu meminta kepada Tuhan untuk tidak mengambil satu ini. Ia bisa hancur bila satu ini hilang dari hidupnya, ia yakin itu.

Akan tetapi, doanya seakan nyanyian malam yang mudah terhembus semilir angin. Ia kehilangan dan Tuhan tak membantunya. Ia tak bisa mempertahankan hal tersebut.

Cinta.

Ia pernah berdoa dalam sujudnya. Ia bisa hidup meski tanpa uang sepeserpun. Ia masih bisa bahagia meski hidup sebatang kara. Akan tetapi, penuhi hari-harinya dengan cinta. Ia ingin banyak dicintai oleh orang di sekitarnya, terutama seseorang yang beberapa waktu ia kenal.

Jelas ia meminta orang tersebut juga akan balas mencintainya. Karena ia sudah tahu bahwa ia jatuh cinta pada orang tersebut. Setiap sujud dan doa, ia meminta agar rasanya terbalas.

Terkabul.

Doa-doa di penghujung malam itu seakan mampu membelah langit hingga doanya bisa terkabul. Ia bahagia. Terlebih bisa merasakan cinta yang saling berbalas dengannya.

Di dunia ini, banyak hal yang tak bisa ditebak keberadaannya, salah satunya adalah waktu di detik berikutnya. Ia terlalu terbuai dalam keindahan yang ia miliki, hingga ia lupa bahwa semua yang ia peluk tak akan abadi menjadi miliknya. Ia harus mengembalikan semuanya kepada Tuhan yang memberikan keindahan tersebut. 

Kebahagiaan sesaat itu seakan terenggut paksa. Ia dipaksa merelakan sesuatu yang sangat ia cintai. Ia lupa, semua yang ada di atas (langit) dan bawah (bumi) adalah milik Tuhan. Tuhan hanya menitipkan semuanya agar ia bisa merasakan kebahagiaan. 

Apa yang bisa ia lakukan? Saat jari-jarinya tak dapat lagi bergerak untuk memeluk. Saat kakinya bahkan tak dapat melangkah untuk mengejar. Lidahnya pun kelu, hanya untuk berkata dan memohon agar orang tersebut tak pergi.

Ia kehilangan.

Saat itulah, mantera-mantera itu mulai ia rapalkan kembali. Ikhlas dan relakan. Ia kembali bersujud pada Tuhan. Meminta kelapangan dada agar apa yang telah hilang darinya bisa digantikan dengan sesuatu yang lebih indah lagi.

Dan Tuhan sangat mencintai makhluknya bila kita terus menunduk dan memohon. Itulah pegangannya. Ia semakin menunduk dalam doa. Memohon tiada henti untuk kelapangan hatinya dan kebahagiaan di waktu depan.

Ikhlaslah, maka kau dapatkan emas dalam sujudmu.

Dan tokoh 'ia', mulai merelakan semua yang bersifat titipan dari Tuhan. Menyadari bahwa suatu saat pun, ia juga akan kembali pada Tuhan. Dan saat itu pun, orang-orang di sekitarnya juga belajar ikhlas dan merelakannya pergi.

Ia ikhlas.

Probolinggo, 5 Mei 2018. 

Pasang Surut Layaknya Ombak Bulan Juni

Yani, Just it


Hidup itu terus dijalani dari hari senin hingga ahad, dari pukul satu hingga kembali lagi ke satu. Selalu seperti itu. Berotasi mengelilingi hal yang sama. Mungkin bila mau diandaikan seperti itulah kami. Rotasi sebuah hubungan yang kami jalani tanpa lelah. Inginnya adalah menelusuri hidup seperti air yang mengalir pasrah. Bertubrukan dengan bebatuan besar, jatuh dari ketinggian beratus meter, hingga kembali lagi ke tempat semula. Bukankah air tak mungkin kembali tanpa melewati segala rintangan? Tidak mungkin ia berbelok semaunya sendiri.

Sebenarnya aku tak mau menulis. Otakku terasa buntu hanya untuk membuat alur tentang kami.  Seperti saat aku membuat kuah sop tanpa garam dan bumbu lainnya, hambar. Itulah yang aku takutkan. Membuat sebuah alur tanpa makna dan tak dapat diterima oleh semua orang yang mungkin secara tidak sengaja menengok cerita ini. Akan tetapi, bukankah aku adalah makhluk yang paling egois? Aku tak peduli –meski sebenarnya agak sedikit takut. Aku hanya akan menulis semau dari jari-jari yang tak pernah lelah memencet huruf-huruf di Komputer.

Seperti inilah alur yang akan saya bawakan untuk mengawali sekaligus bila mungkin mengakhiri cerita kami.

Pagi itu masih musim panas, bila tak salah ingat. Kira-kira sudah 8 tahun silam. Masuk ke dalam sebuah ruangan di mana banyak makhluk baru dan lama yang sudah duduk rapi di dalamnya. Aku memilih duduk di depan, pas berhadapan dengan papan tulis. Tak ada yang special hari itu. Masih dengan tas, seragam dan sepatu yang sama. Seragam putih biru yang melekat sangat pas di badanku. Meliarkan pandangan, mencoba menatap satu per satu manusia yang dalam setahun nanti akan menjalani hari-hari bersamaku, bersama kami. Hingga bergulirnya hari dari Senin ke Selasa, atau Selasa ke Rabu, dst, aku mengenalnya. Lelaki yang sebelumnya tak aku lirik. Hanya sebatas itu dan kami mulai berkenalan.

Hingga di tahun berikutnya, bukankah kenyamanan adalah alasan terkuat untuk tetap bersama? seperti itulah kami. Saat semua orang seakan mengalami seleksi alam, mungkin kami adalah salah satu golongan yang lolos dari seleksi tersebut. Masih bersama dengan sebuah predikat yang lebih dari seorang teman –sahabat. Terbersit sebuah harapan semoga kenyamanan tersebut akan tetap kami rasakan hingga tua nanti. Akan tetapi, harapan itu hanyalah sebuah harapan dari seorang bocah polos yang belum mengerti pasang surut kehidupan. Bila leluhur berkata, belum merasakan asam pahit hidup.

Ombak besar datang. Tahun itu pertama kalinya kami berpisah. Pada saat seragam putih abu-abu mulai melekat dan gedung-gedung yang menjadi tujuan kami mencari ilmu berbeda. Ketidak cocokan mulai terasa kental, perselisihan, bahkan kesalahpahaman mulai kami rasakan. Mungkin, saat itu aku berpikir itu adalah titik balik dari rasa nyaman tersebut, jenuh. Di sinilah jarak mulai tercipta dan waktu mulai berjalan dengan begitu cepat. Sebuah persahabatan seakan dijual pada jarak.

Akan tetapi, takdir siapa yang tahu, iya kan? Saat kamu telah membenci seseorang dan berpikir orang tersebut adalah orang terakhir yang ingin kamu temui, siapa sangka Tuhan membuat hidup kita kembali jungkir balik. Persahabatan yang mulai kami bangun dari awal setalah reda dari perselisihan. Berharap di kemudian hari, kami tak akan mengalami pasang surut kehidupan lagi. Apabila memang harus berselisih, harus ada jalan keluar secepatnya. Bila rasa bosan menyapa, biarkan angin dan waktu yang menghilangkannya.

Tak ada persahabatan murni antara lelaki dan perempuan.

Awalnya mungkin kami tak akan percaya dengan filosofi yang entah siapa yang memprakarsai. Menurut kami, itu hanya bualan dari para novelis dalam tulisan fiksinya. Akan tetapi, kami merasakannya. Saat dimana sebuah getaran yang awalnya seirama, mulai tak beraturan. Saat keringat dingin mulai menjalar di segala tubuh. Dan saat kami mulai menjaga sikap masing-masing. Ada sensasi yang tak mungkin bisa kami jabarkan satu-satu. Saat itu, mungkin kami masih remaja labil yang hanya mengejar kesenangan tanpa berpikir sebuah kesulitan. Berpikir semua hanya sebuah mainan yang bila bosan, bisa ditinggalkan semuanya tanpa berpikir apa itu arti dari sebuah menjaga. Kami terlalu egois dan kekanakan.

Kisah apalagi antara kami? Teman – persahabatan – hubungan labil – bahkan musuh, semua kami lewati dengan berbagai emosi yang memuncak. Saling tuding kesalahan hingga rasa lelah mulai menyapa. Ada jeda di setiap hubungan yang kami jalani. Hingga cerita akan bermonolog tentang aku.

MONOLOG AKU, Setelah Semua Pergi.

Nanti, akan kuceritakan sesuai sudut pandang dan bagaimana kembang kempis perasaan ini. Intinya, alur singkat dan sengaja aku cepatkan untuk mengisahkan bagaimana kami yang telah melalui pasang surut ombak. Aku tak ingin menceritakan semuanya secara gamblang. Karena tulisan ini abadi, hingga nanti di masa masing-masing dari kami memiliki kehidupan masing-masing.  

Ada kisah di dinding jatung
Berdebar kala dirasakan
Sebuah kisah klasik yang tak bertitik, namun selalu koma
Menjalani hari ke hari denga suka dan duka
Ada warna di setiap tangis dan canda
Hingga kamu tahu bagaimana perjalanan sebuah rasa

Probolinggo, 02 Juni 2018



Monolog Sepi dan Pergi

Yani, Just it


Karya. Yani

Malam terakhir bulan Mei. Itu yang sedang aku catat dalam sebuah kertas yang kuhias cinta. Apakah aku sedang jatuh cinta? Tidak. Nyatanya aku tak berteman baik dengan rasa-rasa merah jambu itu. Terlalu bermusuhan layaknya kucing dan anjing.

Hanya saja, malam tetaplah malam. Sebentar datang, sebentar pergi. Aku tak pernah mengecewakan malam. Karena dari malam aku mulai belajar. Hitam, tak selalu gelap. Ada Bulan dan Bintang yang menyinari.

"Meski malam tetap akan datang keesokan harinya, mengapa kamu pergi dan enggan kembali?" Bisikku lirih pada angin-angin yang menyapa.

Mereka seakan berkata 'hay' dan 'selamat tinggal' secara bersamaan. Apakah aku marah? Jelas. Hanya saja, aku bisa apa. Tak ada yang bisa aku hentikan. 

Sama halnya dengan dia. Aku mengenalnya pada bulan yang tak genap tiga puluh. Ah, Februari yang basah. Dalam percakapan, aku tahu bahwa dia juga mulai mengenalku. Tak pernah serumit dengan lainnya. Perkenalan itu bagai air yang mengalir. Hanya saja, kesan pertama amat penting bukan?

Kesan-kesan yang tak pernah aku lupakan. Di sini, dia menempati tempat tersendiri dalam hati. Ego-ego dan amarah merajai perasaan lembutku kala itu. Hingga sebuah kesabaran mulai membawa arti sebuah persahabatan. Apakah cukup sampai disitu? Tidak.

Manusia adalah makhluk yang sangat rakus. Setelah persahabatan, ada kalanya aku meminta lebih. Dia untuk aku, sekarang dan secepatnya. Egois dan pemaksa. Namun, aku tak peduli. Nyatanya, keegoisanku terimbangi oleh kesabarannya. 

Ah, aku tak ingin bercerita bagaimana kami bersama. Lebih dari itu, aku ingin menuliskan sedih perih yang tiada tara. Nyatanya, melepaskan memanglah tak pernah gampang. Terlalu sakit untuk dilakukan. Akan tetapi, bertahanpun tetaplah kesalahan. Mengiris hati secara perlahan. 

Dia hanya seseorang dengan kehidupan bebas. Pahit manis hidup tlah dirasakan lebih dulu. Pun dengan cinta. Bisa kukatakan, ia berpengalaman.

Cinta masih tetap buta hingga saat ini kan? Ah, sepertinya aku harua berganti retina mata. Perbedaan yang awalnya menjadi kata "Tak Bermasalah" kini berubah "Bermasalah". Terlalu banyak kata beda yang terucap lisan. Pun dengan orang-orang yang menghujat dan menolak. Aku menyerah.

Kini, di persimpangan aku mencoba mengambil langkah yang berbeda. Aku hanya menatap segala tingkahnya. Berharap suatu saat rasa ini semakin pupus dan aku bisa merasakan cinta yang tulus -Meski bukan dirinya. 

Kepergian adalah kawan dari kedatangan. Tak dapat terpisah sedikitpun. Maka, bila Februari yang basah aku mengenalnya, izinkan aku melepasnya di Mei yang panas ini. Pada angin-angin yang dengan keji menampar tiap malam. Memberi kedinginan tanpa pengobat penghangat. Angin-angin yang aku kutuk setiap malam keberadaannya. 

Februari selamat tinggal.
Mei bawa saja dia yang ingin pergi.
Maret dan April, terima kasih atas Rasa-rasa yang manis itu. Meski sesaat, aku sangat berterima Kasih.

Juni dan lainnya, aku tunggu kisahku esok dengan rasa yang baru -Dan aku harap cinta baru. 

Malam, izinkan aku terlelap
Sebelum lusa kisahku dan Juni dimulai.

Probolinggo, 30 Mei 2018


Kegelisahan Tengah Malam

Yani, Just it

Hasil gambar untuk kegelisahan

Ini masih tengah malam saat aku mulai terbangun dengan suara grasuk-grusuk di lemari. Suara plastik yang seakan di cakar, kerdus yang digigit bahkan suara kertas yang ditarik paksa oleh tikus-tikus kecil. Aku jengah. Membalik badan ke kanan, suara itu masih ada. Telentang, telungkup, suara itu masih saja nyaring di telinga. Mungkin karena jarak lemari dan tempat tidur hanya setengah meter.

Aku menyerah. Kali ini aku memilih bangun dan mengumpulkan ceceran kesadaran. Meliarkan pandangan kesegala penjuru ruangan ini, aku baru ingat bahwa sejak kemarin aku belum menghidupkan ponselku sama sekali. Segera saja aku mencari ponsel tersebut dan mendapati baterainya masih separuh. Aku bersyukur namun miris juga bersamaan. Tak ada tanda-tanda pesan masuk dari siapapun, terutama dia. Dia seakan lenyap tanpa kabar. Seyogyanya aku memang mengakhiri saja semua kesemuan ini. Karena tanpa sadar, di sini aku lagi yang mulai bermain hati. Sedangkan dia, masih berdiri di tempatnya bahkan menjauh pergi.

“Aku lelah,” aduku pada malam yang semakin gelap.

Langit masih saja bercumbu dengan gelap. Pun dengan rembulan dan bintang yang asyik bercanda hingga sinarnya teramat terang. Lagi-lagi mereka berpasangan seakan mengejak aku yang hanya bisa menahan segala rindu untuknya. Mungkin harus  segera aku tuntaskan segala rinduku malam ini, akan tetapi apakah harus aku yang memulai? Sedangkan sejak dulu, aku selalu menjadi pihak yang lemah. Ah, aku mulai lelah dengan pertikaian batinku.

Tepat pukul satu dini hari, aku menyerah. Menghidupkan computer dan mulai bercengkrama dengan aksara yang selalu setia menemaniku setiap saat. Kali ini, biarkan aku bersenggama dengan rindu yang semakin menyemukan segalanya. Ilusi-ilusi emosi yang tertancap dalam pikiran dan dada. Tak ingin enyah meski telah aku coba usir pergi.

“Rindu ini harus kau bayar dengan pertemuan yang abadi.”

Seperti itu mungkin pikiranku selama ini. Pintaku padanya yang hanya bisa tersenyum tanpa kata. Tak menolak saat rindu yang kusebut peluru dalam senjata yang jitu. Menembus kulit dan merembeskan darah merah yang kental.

“Aku rindu dan lelah, lagi.” Dan malam ini aku tuntaskan segala rasaku. Berakhir dalam kata tanpa arti. Hanya coretan, luapan emosi dan segalanya. Semua aku tuangkan dalam kata-kata yang menjadikannya kalimat.

Probolinggo, 25 Mei 2018
00.10-01.00 WIB

Monolog Rindu

Yani, Just it




Sebenarnya aku yakin, di luar sana kamu hanya diam dan tak beraksi apapun. Hanya menandaskan kopi yang entah sudah gelas keberapa. Mungkin juga, kamu tengah menghisap beberapa putung rokok yang kamu beli di warung Mpok Jum. Warung yang letaknya di pojok kompleks dekat rumahmu. Atau, kau sedang melakukan hal lain yang sebenarnya tidak aku ketahui. Percayalah, apapun itu, aku yakin kau pasti sedang bersantai.
Keadaan berbalik padaku. Aku masih duduk di kamar dengan sebuah laptop di pangkuanku. Mengetik beberapa kata yang indah, tapi selalu gagal. Sesekali, aku akan beralih pada benda kotak pipihku. Mengeja beberapa kata yang mucul di layar, membalasnya dan berpaling pada laptop lagi. Mencoba focus dan aku gagal lagi. Bibirku terkedut samar. Malam ini aku berdialog dengan kamu. Tak bertatap sebenarnya, hanya melalui jaringan yang mengudara hingga bisa saling terhubung. Bahkan aku tak akan bisa menatapmu dengan mata bulatku, dan juga tak bisa memeluk erat ragamu. Tapi, ternyata semua itu tak penting sekarang. Mendapat sebuah kabar darimu saja, aku sarasa mimpi jatuh ke jurang. Menebarkan dan membuatku sadar, aku mulai merasakan lagi ilusi itu.
“Aku mulai merindu, apakah salah?” tanyaku pada angin yang bergilir menyapaku.
Mereka datang silih berganti, tersenyum lantas pergi. Semua ingkar dan aku mulai menepi. Sewajarnya, semua mengalami apa itu perpisahan. Namun, aku bukan sewajarnya. Aku hanya manusia yang terlahir dari rahim kokoh seorang ibu. Di sana, aku dibelai agar semakin kuat menghadapi hidup. Datang dan pergi. Kenal dan pisah. Semuanya seperti partikel-partikel yang menyusun suatu massa. Atau semacam senyawa yang terkumpul hingga menjadi sebuah campuran.
“Kamu tahu, aku mulai merindu?” tanyaku lagi pada aksara-aksara yang kutata rapi. Pada mereka-mereka yang terangkai dalam sebuah arti. Aksara-aksara yang beralur cerita. Menjelaskan bagaimana asal muasal rinduku padamu.
Namun semuanya diam. Tak ada sedikit saja petunjuk atau aba-aba. Aku buntu dalam ilusi yang aku ciptakan. Mundur, terjatuh. Maju, tersesat. Maka, bisakah aku memintamu membalas ilusiku? Merasakan bagaimana rongga-rongga dalam dada yang mulai terisi namamu. Nama yang seyogyanya tak akan pernah aku miliki, lantaran kau yang enggan berbagi. Enggan merasakan ilusi yang sama. Bagaimana kita akhiri saja monolog ini?


Kamar Yani. 12 04 2018

Monolog Patah Hati





Agustin Handayani

Aku terduduk dengan kaki yang kutekuk. Memeluk erat badan yang sedari tadi terisak pelan. Rusuk-rusuk yang seakan menyesakkan dada. Otakku terasa pening lantaran terkuras. Aku menatap nanar pada benda-benda yang telah hancur berserakan. Vas bunga, lembaran buku yang tercecer di lantai, pun dengan kursi dan meja yang telah lupa asalnya. Semua menjadi lampiasan amarahku.
Aku mengutuk dan mengumpat bergantian. Merutuki kebodohanku selama ini. Kenapa Tuhan sangat tega membiarkan aku hilang akal dan malah andalkan rasa. Membekukan segala cerdasku dan cairkan segala cinta yang telah lama aku simpan.
“Tuhan! Aku mencintainya!!!” teriakan yang entah sudah berapa kali aku lontarkan. Mencoba meluapkan segala pernyataan-pernyataan yang   bersarang dan mendesak keluar.
Lelaki bermata sipit dengan kaca mata yang membingkainya. Wajahnya terpahat sempurna dengan lesung pipinya. Manis saat ia tersenyum. Coba saja dia melirikku sedetik saja, maka kakiku seakan lumer seperti cokelat-cokelat yang kepanasan. Seperti cacing-cacing yang berada di bawah terik. Ah, memalukan sebenarnya. Namun, itu adalah pengakuan terdalam yang sedang aku rasakan tiap kali ia melirikku tak sengaja.
Tak akan ada tepukan bila hanya dilakukan sebelah tangan. Tak akan ada langkah bila hanya sebelah kaki. Dan bukan cinta bila hanya dirasakan sepihak. Itu yang aku rasakan. Lelaki bermata sipit itu, memiliki kekasih. Memiliki tambatan hati yang telah melarang siapapun untuk masuk. Pun dengan aku yang telah kesulitan masuk.
Aku memujanya sangat lama. Namun, takdir sekarang tak adil padaku. Ia malah bersama dengan wanita yang baru sedetik menyapanya. Meninggalkan aku yang menatap nanar segala senyum dan tawanya. Bahagia yang dia rasakan, malah semakin menyesakkanku. Bukan, bukan aku sumber bahagianya. Melainkan wanita lain dengan hati yang lain. Dia bahagia dengan aku yang berduka.
Hati ini teriris. Semakin perih dan sedih. Aku tahu apa itu cinta dan tawa dengannya. Akan tetapi, dia pun yang ajarkan aku dukan dan lara. Impas!!!
“Aku berhenti!!! Aku berhenti mencintainya!” teriakku lagi. Berharap ini adalah teriakan terakhirku. Sebelum mata terpejam erat dan tersambut alam-alam  mimpi dengan seluruh godaannya. Aku terbuai. Di sana, aku bisa menciptakan sendiri mimpiku bersamanya. Hanya ada aku, dia, keindahan, kebahagian, tanpa orang lain. Meski sebenarnya semua adalah kesemuan. Setelah terbangun, aku sadar, aku bukan siapa-siapa.

Probolinggo, 15 mei 2018


Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...