Showing posts with label Cermin. Show all posts
Showing posts with label Cermin. Show all posts

Esok Setelah Lulus




Agustin Handayani

Wanita ini terus saja duduk dalam dia. Sejak tadi, tiga puluh menit yang lalu tidak ada percakapan yang berarti antara dua manusia yang saling membisu. Memberi jeda dan jarak bagi kesunyian untuk duduk di atara mereka. Bahkan muk-muk bening hanya bisa diam tanpa gerakan. Kopi yang sejak tadi panas, mulai menghangat dan dingin di detik ini.

“Jika kamu kuliah, apakah kamu bisa menjamin kamu bisa kerja?” tanya wanita yang lebih tua. Umurnya mungkin sudah setengah abad. Sangat kentara dengan keriput yang nampak jelas di sekitar matanya. Meski begitu, bekas sisa senyum bibirnya tak pernah hilang. Masih membekas sempurna yang selaras dengan cetakan mata bulatnya.

“Aku tidak tahu, Bu. Namun, aku sangat ingin kuliah. Ada jalur undangan dan bidik misi yang bisa aku ambil nantinya. Masalah biaya tidak akan jadi masalah lagi,” jawab Lela, seorang gadis yang sejak tadi mengutarakan impian dan cita-cita pendidikannya. Ia sudah tak memiliki ayah, jadi semua yang memerlukan diskusi dan pertimbangan selalu bersama dengan sang ibu. Ayahnya sudah sejak delapan tahun lalu meninggal akibat kecelakaan motor saat berangkat kerja. Kehidupan mereka setelahnya sangat berat. Kepala keluarga yang menjadi pondasi rumah, sekaan runtuh seketika. Dari sinilah Lela diajarkan untuk bisa bersikap mandiri dan memandang jauh ke depan.

“Ibaratkan rumah. Kuliah ibaratkan perabotannya seperti meja, kasur, kursi, dan lain-lain. Sedangkan pekerjaan adalah rumah itu sendiri. Dan masa depan adalah unsur keduanya. Dari sini coba kamu piker. Apa yang kamu butuhkan terlebih dahulu? Rumah atau perabotannya?” wanita itu diam terlebih dahulu. Ia menghirup udara sedalam-dalamnya dan menghembuskan napas perlahan. Pemikirannya mungkin berbeda dari orang tua kebanyakan. Namun, ia hanya ingin memberikan sedikit pencerahan tentang apa namanya masa depan dan keberhasilan.

Di luar sana, banyak para wisudawan yang berakhir dengan menjadi pengangguran hingga banyak pula kertas lamaran yang terbuang sia-sia. Siapa yang salah? Apakah perkuliahan atau lembaga pelatihan tenaga kerja yang salah? Sebenarnya ini bukan salah siapa-siapa. Menurut wanita ini, kesalahan terbesar hanya berada pada awal pemikiran yang kurang matang. Beberapa orang kurang memperhitungkan langkah yang akan mereka tuju ke depannya. Beberapa pemuda bahkan hanya asal kuliah dan menjalaninya dengan bermain sesuka hati. Apakah itu salah?

“Kamu bisa jawab pertanyaan Ibu?” wanita ini kembali bertanya pada Lela yang sepertinya sedang mencerna apa yang akan dipilihnya untuk menuntun langkahnya kelak.

“Aku ingin memiliki rumah dahulu baru perabotan,” jawab Lela mantap.

Wanita itu tersenyum. Setiap manusia memiliki apa yang namanya pilihan dalam masa depannya masing-masing. Sementara orang tua hanya bisa memberikan arahan dan pengertian. Mau apa jalan yang diambil nantinya, orang tua hanya harus merelakan dan memberi dukungan.
Probolinggo, 2 Maret 2019


Perpisahan


Bisakah dunia berjalan seperti negeri dongeng di mana kecupan menjadi pengobat segalanya.
"Aku nggak mungkin bisa menemani kamu seumur hidup." Kepalanya menggeleng pelan. Ia semakin menatap mantap wanita yang kini duduk di sebelahnya. "Tapi, aku bisa menghabiskan umurku denganmu, apa itu sudah cukup?" ujarnya lagi

Wanita di depannya menoleh. Ada sembab di kedua matanya. Bahkan aliran air mata di pipinya masih serupa jalan bagi para semut. Dia adalah Anggun.

Pada sore yang mendung, Anggun dan Dimas sedang duduk di bawah sebuah pohon yang rindang. Sebentar lagi akan hujan, mungkin langit sedang menabung air yang akan ditumpahkan ke bumi. Mungkin lagi, dapur langit sedang sibuk dengan bawang merah agar semua Dewa di sana menangis dan airnya jatuh ke bumi. Itu adalah kemungkinan yang sedang dipikirkan Anggun.

Namun, sebenarnya bukan ini yang menjadi pokok pikiran kali ini. Ini tentang Dimas yang membawa segenggam bunga-bunga melati di tangannya. Ada sekotak cokelat dan selembar surat berwarna merah jambu. Semuanya berbau sama, perpisahan.

"Apa gunanya kita bersama, kalo kamu nggak bisa jadi milik aku seutuhnya," ujar Anggun dengan isakan kecil yang masih tersisa.

Dimas menggenggam kedua tangannya. Memberikan sebuah kekuatan agar Anggun bisa lebih tegar dan percaya bahwa semuanya bisa mereka lalui.

"Aku nggak mampu melawan takdir. Nyatanya, sekuat apapun aku berusaha, keajaiban Tidak pernah datang."

"Tapi, aku belum bisa merelakan kamu," ujar Anggun pilu. Ada nada berat yang selaras dengan hatinya. Mana mungkin ia bisa melepaskan kepergian seseorang yang sudah lama berada di hatinya. Itu sangat mustahil. Lagi pula, Anggun sudah memiliki impian untuk bersama Dimas sampai mereka sama-sama menutup mata.

Terdengar helaan napas kasar. Dimas meraup wajahnya yang mulai kusut. Ini sudah pukul lima sore. Setengah jam lagi, ia harus pergi dan mau bagaimanapun, Anggun harus merelakannya.

Memang tidak ada yang mudah dalam sebuah keikhlasan. Namun, kita juga tidak bisa membiarkan hati dimakan oleh segala perasaan yang menyakitkan. Berlapang dada mungkin menjadi salah satu alasan kita untuk mulai bahagia.

"Aku harus cepat pergi. Ini mungkin jadi pertemuan terakhir kita. Namun, jika besok keajaiban datang, aku harap sisa umurku bisa terisi oleh kamu lagi," ujar Dimas nanar.

Anggun menggelengkan kepalanya pelan. Menolak kepergian Dimas. Namun, ada sebagian kecil hatinya ingin agar kepergian Dimas bisa membawa lembaran baru untuk mereka

"Kamu harus sembuh dan janji kembali lagi ke aku!" perintah Anggun.

Dimas tersenyum sebelum berkata, "bagi seseorang yang hanya memiliki 10% peluang hidup, aku nggak bisa berjanji."

Dan tangis Anggun semakin pecah. Ia memeluk badan yang semakin kurus itu. Wajah Dimas semakin pucat karena terlalu lama di luar sedangkan tubuhnya harus selalu dipantau dokter. Hidup Dimas sudah terlalu sering bergantung pada obat-obatan. Apakah Tuhan tidak memberikan Dimas kesempatan untuk terbebas dari obat tersebut?

Dalam hati, Anggun selalu bertanya, bisakah kali ini keajaiban datang pada mereka yang percaya? Bisakah sekali saja, ia hidup di negeri dongeng di mana sebuah kecupan berhasil menyembuhkan segalanya. Andai bisa ...

Probolinggo, 14 Februari 2019

Bintang





Aku mulai melangkah dengan pelan lagi. Seakan baru saja belajar berlatih melangkah seperti anak kecil yang belum genap berumur setahun. Mungkin juga orang-orang yang kini sedang menatapku tengah mencibir dalam hatinya. Bahkan anak berumur tiga tahun saja sudah berlari mengitari pancuran di taman. Hal ini benar-benar membuatku iri.
Namun apa daya. Inilah keadaanku. Selama tiga tahun hidup dalam kelumpuhan akibat sebuah kecelakaan beruntun yang menewaskan orang tuaku, aku hidup bersama bibi yang sangat mengasihaniku. Seorang wanita yang mungkin sudah hampir memasuki setengah abad, dengan lesung pipi dan gigi kelincinya. Tidak akan ada yang mengira bahwa ia berumur sekian bila dilihat dari kecantikan wajahnya. Aku pun sempat tertipu dan tak percaya dengan umur beliau. Namun, itulah kenyataannya.
"Bintang! Ayo makan!" Teriakan itu berhasil membuatku menoleh dengan senyum mengembang. Itu adalah suara dari Rama. Anak dari bibi Sinta yang menampungku selama ini. Dan mungkin saja, Rama jugalah yang menjadi alasanku untuk bangkit dan sembuh.
"Bentar!" teriakku tak kalah lantang. Dengan hati-hati, aku menapaki rumput taman dengan perlahan. Sejak tadi, aku memang tak memakai sandal atau alas kaki lainnya. Anggap saja aku sedang melakukan terapi. Karena Kata dokter, aku memang harus sering-sering menapak tanah agar saraf di kaki cepat bisa merespon dan tidak kaku seperti sebelumnya.
Baru beberapa langkah, aku merasakan badanku melayang. Otomatis aku terpekik dan hampir saja memukul siapa orang yang lancang mengangetkan aku, tetapi urung saat melihat wajah Rama yang jaraknya sangat dekat denganku.
"Kamu lama. Aku sudah lapar banget," gerutunya yang bahkan helaan napasnya terdengar jelas di telingaku. Jarak kami terlalu dekat. Dan ini benar-benar tak baik untuk kesehatan jantungku.
"Maaf," cicitku dan semakin masuk ke dalam gendongannya. Aku paling tak suka digendong, tetapi gendongan Rama jelas terasa lain. Ada rasa nyaman dan aman yang menjadi satu di sana. Dan aku suka dengan gendongannya.
"Sampai mana perkembanganmu?" tanya Rama setelah berhasil membawaku dan mendudukkan di sebuah karpet yang ia bawa untuk acara piknik kami kali ini.
Hanya ada aku dan Rama. Paman dan bibi harus berangkat ke Bali pagi-pagi sekali untuk mengevaluasi resort di sana. Dan untuk mengusir kejenuhan, Rama mengajakku piknik sekalian terapi di alam terbuka. Aku menyutujui usulannya. Aku pun ingin segera sembuh dan meraih cita-citaku terutama memantaskan diri bersanding dengan Rama. Katakan saja itu adalah bunga tidur. Karena nyatanya, takdir tak pernah mengizinkan kami bersatu. Dengan banyak alasan, aku hanya mampu mengaguminya dari jauh.
"Sudah lumayan. Aku mulai merasakan saraf kakiku bekerja," jawabku seraya mengambil buah yang sudah ia kupas.
Terlihat Rama mengangguk dengan binar puas di matanya. Aku paham, Rama sangat mendukung kesembuhanku. Ia sangat ingin aku segera menjadi Bintang seperti dulu lagi. Bintang yang kuat, bersinar dan semangat.
Lama kami saling fokus dengan santapan yang terhidang. Semilir angin sore benar-benar menjadi selimut kenyamanan bagi kami. Gumpalan awan di langit seakan berbentuk hewan-hewan yang berlarian yang menghiasi birunya semesta.
Aku menikmati bagaimana rumput dengan gemulainya mengikuti angin yang bergerak di sekitarnya. Semuanya nampak damai dan menenangkan. Namun tidak dengan hatiku yang sejak tadi berdetak liar. Ini pasti karena Rama.
"Bin?"
Aku menoleh dan mendapati Rama yang memandangku lekat. "Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Hmm, gini. Besok, aku akan ke Paris," ujar Rama dengan suara yang terbata.
Aku tercekat. Paris? Luar Negeri? Untuk apa?
Aku jelas-jelas kaget. Sebelumnya Rama tidak pernah bercerita apa-apa tentang Paris dan tujuannya ke sana. Dan berita ini benar-benar seperti bom waktu bagiku. Meledak tepat di wajahku bahkan saat aku belum siap menerimanya.
"Aku mau lanjutin S2 ku di sana. Dan besok mungkin aku akan berangkat."
"Secepat itu?" tanyaku kaget.
Rama mengangguk pelan.
Aku tertawa miris. Sepertinya memang hanya aku yang berat melepaskannya. Rama malah terlihat baik-baik saja. Bahkan tidak ada gurat sedih di wajahnya. Apa memang hanya aku yang selalu menderita?
"Oh, oke. Kamu baik-baik di sana," ujarku untuk terakhir kalinya. Setelah itu, aku lebih banyak diam. Tak menghiraukan ajakan Rama untuk keluar dan jalan-jalan. Menurutku semua sama saja. Rama tetap akan meninggalkan. Tidak ada bedanya besok ataupun sekarang.
Aku memang hanya bisa sendiri. Iya. Aku memang harus berdiri sendiri dan terbiasa. Seperti kata pepatah, 'jangan bersandar pada manusia, karena saat ia bergerak, kita bisa jatuh.'
Mungkin merelakan memang tidak akan pernah mudah, tapi bukan berarti aku tak bisa. Rama ke Paris untuk masa depannya. Untuk menapaki tangga kehidupan yang lebih tinggi. Seharusnya aku mendukung dan bangga pada dirinya. Itu seharusnya bila andai saja aku tak jatuh hati.

Probolinggo, 13 Februari 2019

Cinta (tak) Bertuan




"Lo beneran suka sama dia?" Vina bertanya dengan nada tak percayanya.

Sedangkan Dini mengangguk santai. Ia memang sangat mencintai lelaki yang dimaksud oleh Vina. Lelaki yang menjadi objek perbincangan pada sore kali ini. Pohon, dan bunga di taman seakan ikut bergosip ria tentang lelaki yang berhasil mencuri hati wanita cantik ini.

"Lo pikir ulang deh," ujar Vina dengan nada memerintah.

"Andai bisa." Dini menghembuskan napasnya pelan. "Masalahnya cinta itu dari sini, bukan dari ini," lanjutnya dengan menunjuk hati dan otaknya bergilir.

Mereka sama-sama diam. Semuanya tahu bagaimana cinta dapat timbul. Tak ada yang bisa mengontrol kedatangannya. Kita tidak pernah tahu kepada siapa, kapan, dan kenapa kita jatuh cinta. Kita hanya sadar bahwa kita jatuh cinta dan tidak ingin kehilangan orang tersebut. Meski kadang beberapa orang mengalami sindrom penyesalan.

"Gue paham cinta gue salah. Tapi gue juga nggak bisa cegah semua itu. Hati bergerak duluan dari logika," lirih Dini lesu. Suaranya melemah dengan pikiran yang berkelana seakan mencari satu orang saja yang mau membelanya tentang cinta yang ia rasakan. Ia tak bisa terus menerus seperti ini. Cintanya telah dipandang salah oleh orang lain. Dan, hatinya semakin menebal tanpa mau menerima perintah move on.

"Lo bener-bener cinta sama dia?" Vina menanyakan pertanyaan yang sama entah sudah keberapa kalinya. Dia hanya berharap Dini bisa mengubah haluan perasaannya. Meski sangat sulit dan bisa saja tidak mungkin.

Dini terlihat menghembuskan napasnya lelah. Ia menoleh ke arah Vina dan menatap kedua netra sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue pengen bahagia. Tapi jika kebahagiaan gue harus dengan mencintai dia, gue bisa apa?"

Vina langsung memeluk sahabatnya. Ia tahu bagaimana perih itu menyiksa. Bagiamana suara lirihnya terkesan putus asa. Semua orang pernah di posisi tersebut. Semua orang pernah merasakan bagaimana saat hidupnya serasa dipermainkan cinta dan ditendang bagai bola oleh orang yang menjadi setengah napas kita. Semua orang pernah merasakan duka dan cinta.

"Tapi, meski hati gue memilih dia, ada banyak hal-hal yang mengharuskan gue melupakannya. Ini tentang norma," ujar Dini pedih.

Vina semakin mengeratkan pelukannya. Ia paham, sangat tahu bagaimana sakitnya itu.

"Gue selalu dukung lo. Apapun yang lo lakuin. Gue ada di belakang lo," ucap Vina memberi semangat.

Sementara setetes air mata lolos tanpa dikehendaki si empunya. Dini sudah berjanji tidak akan menangis seperih apapun sakitnya. Ia harus kuat. Meski kadang cinta sangat sakit dan perih, tapi jangan sekali-kali air mata turun hanya untuk menjadi simbol kesedihan dan kelemahan diri.

"Gue nggak bisa mencintai dia. Gue nggak bisa miliki dia. Kenapa?"

"Lo kuat, Din. Inget! Besok lo harus tampil cantik dan bahagia. Seseorang yang lo cintai, besok akan menjadi kakak ipar lo," ujar Vina dan semakin menampar Dini dengan kenyataan yang sangat menyakitkan.

"Rasanya gua bakal mati. Gue nggak sanggup," jawab Dini. Ia melepaskan pelukan Vina dan menatap sahabatnya dengan tatapan terluka yang tak dapat dielakkan.

"Gue pengen ikhlasin dia buat Kak Maya. Tapi, kenapa hati gue berat. Apa cinta memang nggak selalu happy ending?"

Vina tak mampu menjawab. Ia hanya bisa menarik Dini ke dalam pelukannya kembali.

Cinta. Nyatanya mengatakan sangat mudah. Merasakan butuh ketegaran, dan mempertahankan butuh kesabaran. Karena saat cinta bukan untuk kita, maka hanya kesedihan pilu yang dirasakan.

Probolinggo, 11 Februari 2019

Aku Benci Kamu, Bunga!





Aku benci semua hal yang menjatuhkan. Semua orang yang hanya memakai topeng hanya akan aku lirik, tanpa aku hampiri. Jangan mendekati sebuah jurang bila kau tak ingin terjatuh. Apalagi saat di belakangmu ada seroang musuh dalam balik kata teman. Itu adalah pelajaran yang aku dapatkan.
Dan mari kita lihat bagaimana Bunga yang dengan centilnya mendekati lelaki itu. Lelaki yang kemarin sudah aku patenkan untuk mendapatkan hatiku. Seseorang yang aku anggap sahabat, tempat berbagi suka dan duka, malah tengah bermain api di belakangku.
“Cinta itu bisa dibagi, kok,” ujar Bunga dengan nada manjanya. Tangannya yang nakal mulai berani meraba dada bidang lelaki yang sejak tadi hanya bisa diam kaku.
Dia lelaki yang mungkin masih awam dengan sentuhan-sentuhan seorang wanita. Sepertinya lelaki itu memang belum terbiasa dengan kedekatan yang Bunga berikan. Dan aku memang mencintai lelaki itu karena sikap polosnya yang beda dengan yang lain.
“Kamu hanya perlu mencoba dan aku yakin kamu akan berbalik mencintaiku,” ujar Bunga lagi.
Setelah lama terdiam, kali ini lelaki itu balas memandang manik mata milik Bunga. Bunga memiliki mata yang bulat dengan bulu mata lentiknya. Bibir semerah darah dan kulit seputih salju. Dia memang adalah bentuk dari bidadari dunia.
“Mau kamu apa?”
Bunga tersenyum penuh kemenangan. Dia semakin merapatkan diri pada lengan sang lelaki, kemudian berbisik lirih, “aku mau kamu dan cintamu.”
“Bagaimana dengan sahabatmu?”
“Bisa diatur belakangan,” jawabnya dengan kerlingan nakal.
Dan mereka berdua seperti kucing-kucing yang sedang kawin. Berisik dan mendengungkan. Aku melengos. Sudah cukup bersembunyi di balik pohon dan mendengar semua kenyataan bahwa air yang tenang bisa saja membahayakan. Bahwa sahabat yang mendukungmu, bisa juga mendorongmu terjatuh.
“Bunga, terima kasih atas arti persahabatn sebenarnya,” ucapku dengan senyum sinis sembari memasukkan alat perekam yang sejak tadi on.

Probolinggo, 12 Januari 2019

Esok, Kematian (tak) Terduga



Dia adalah wanita yang lahir dari cemoohan warga. Tanpa bapak, ia lahir yatim di tengah gemuruh masa. Saat hati memanas penuh amarah, Ika lahir dengan kekurangan yang tak dapat dipulihkan.

Setiap hari, kala waktu kembali berotasi, hanya isak tangis Ika yang terdengar di sudut kamarnya. Kulitnya memerah dengan bekas-bekas pukulan di paha dan lengannya.

"Ibu, sakit," lirih Ika sambil sesegukan menahan sesak. Raganya sudah lelah. Kaku sekujur tubuhnya setiap melihat bayang-bayang sang ibu yang mendekat

Ika lahir dari kebencian dan dendam ibu kandungnya. Kelahiran yang bersamaan dengan kematian sang ayah membuat Ika menanggung seluruh kemurkaannya.

"Dia anak pembawa sial, kamu jangan main sama dia."

"Tapi, Ma. Ika baik kok."

"Kalo Mama bilang jangan, iya jangan. Lihat saja jarinya hanya 8. Cacat. Ayahnya meninggal saat ia lahir. Kamu mau terbawa sial juga?"

"Nggak, Ma."

Selalu seperti itu. Setiap Ika lewat, hardikan anak sial melekat dalam dirinya. Jari-jari tangannya yang cacat, tak seperti orang normal lainnya.

Sang ibu bahkan tak menaruh sedikit pun perasaan iba pada dirinya. Hanya picingan mata dengan tatapan angkuh. Ika tahu, kelahirannya adalah bentuk kesia-siaan hidup. Tak ada kegunaan ia bernapas di dunia ini.

Lahir cacat dengan kebencian sang ibu, sudah cukup mengiris hatinya.

Ika berjalan pelan di sepanjang jembatan gantung. Tatapan kosong dengan kenangan yang berputar bersamaan semilir angin. Pukulan, teriakan, makian, cemoohan, dan segala kutukan menyakitkan.

Adakah yang lebih keji lagi dari hidupnya?
Air di bawah tampak tenang. Mungkin di bawah sana, ikan-ikan bersorak memanggilnya. Ada sebuah dorongan untuk datang dan berenang dengan ikan di bawah sana. Setidaknya, mereka tak memiliki jari dan tak mungkin mencemoohnya.

"Bu, Ika ingin berenang."

Ika tidak bunuh diri. Dia hanya ingin lari dari teriakan dan segala kebencian orang di sekitarnya. Dengan sekali tarikan napas, Ika meloncat dan berkumpul dengan ikan-ikan di bawah sana.

Dan mungkin ini adalah waktu di mana Ika tak mendengar celaan dari sekitar. Tak ada panggilan pembawa sial, cacat, dan lain-lain. Bahkan Ika pun tak perlu lelah menangis dan menanyakan sampai kapan ia bernapas. Sekarang, Ika tak butuh udara lagi. Ia hanya perlu berenang mengikuti arus air bersama ikan-ikan.

Ika kaku tanpa napas.
Dan kematian, memang (tak) pernah terduga sebelumnya.
Semoga tenang, Ika
Berenanglah hingga ke muara
Di mana kau bahagia

Probolinggo, 30 12 2018

Alyana, si Gadis Hujan

Yani, Just it


November yang setengah basah. Kemarau memanjang sedangkan hujan melambat. Sudah banyak kekeringan di beberapa desa, bahkan doa-doa dan ritual meminta hujan sudah sering dilakukan. Tahun ini seakan terkena kutukan oleh Tuhan.

Di pojok desa, sebuah rumah sederhana di mana halaman rumahnya berjejer banyak bunga dan pohon rindang. Di dekatnya terdapat sebuah taman di mana seorang gadis sering duduk dan menghabiskan waktunya dengan berbicara pada tumbuhan di pekarangannya. 

"Apa hujan akan datang bersamaan dengan rindu yang tuntas?" Alyana. Nama gadis tersebut.

Ia seperti berada dalam kisah bang Toyib. Menunggu seseorang yang sudah lama tak pernah pulang. Berkali-kali purnama. 

Alyana mulai menyiram bunganya sedikit demi sedikit. Desanya sedang dilanda kekeringan yang panjang. Mereka harus hemat dalam penggunaan air. Untuk mandi dan minum saja mereka harus membeli air galon atau membeli air mentah di kota yang jaraknya begitu jauh. 

"Harus ada kurban. Alam meminta kurban."

Alana diam. Ia mendengarkan beberapa petani yang baru saja pulang membajak sawah. Petani yang selalu mengeluh tentang kapan datangnya hujan. 

"Apakah alam memang butuh kurban seperti kisah Kasada di Bromo?" Alyana bertanya pad dirinya sendiri. 

Ia meninggalkan aktivitasnya. Melangkah ke luar rumah dan meneliti bagaimana keadaan orang-orang tanpa hujan. Mereka kelimpungan. Tanaman banyak yang mati. Krisis air bersih.

Konon, di desa ini terdapat sebuah laut di mana orang terdahulu meminta datangnya hujan. Laut itu selalu menjawab permintaan warga dan turunlah hujan. Namun, akhir-akhir ini Laut seakan membisu. Menulikan telinga pada permohonan warga.

Dan tanpa disadari Alana, kakinya sudah melangkah pelan menuju tempat laut itu berada. Sekitar 8 meter ke arah barat daya. 

Di sanalah laut itu berada. Laut yang tidak pernah dimanfaatkan oleh warga dikarenakan keangkerannya. Laut ini bisa menyeret warga kapan saja dan tidak pernah ada yang memprediksi. 

Alyana memejamkan matanya erat-erat. Bibirnya seakan merapalkan sebuah doa. Hatinya lelah menunggu sang Kekasih yang tak pernah pulang. Hidup sendiri tanpa sebuah kebahagiaan berarti. Apa lagi definisi sepi dalam hidupnya?

Jika Ia bisa bermanfaat bagi orang banyak dan mendatangkan hujan, kenapa tidak ia lakukan saja? Karena hidup dalam kesendirian sama saja mati. 

Dengan sekali tarikan napas, Alyana meloncat ke laut luas tersebut 

Gebyur .  ..
Bersamaan dengan itu, langit mendung dan bergemuruh. Setitik air hujan turun dan membasahi tanah-tanah tandus. 


Tamat.

Gugur Kamboja



Yani, Just it

Gbur... Gbur... Gbur...

Bumi lagi-lagi tergores. Tepat saat sang Baskara di atas kepala, semua pening. Hati terasa sekali goresan ilahi.
"Besok... Besok... Besok..." rapalku dengan guyuran tangis di samping kamboja. Merapalkan kata yang entah bermakna apa.
Aku menatap lagi ke arah sang rembulan. Diam, tenang dengan seulas senyum.
"Mandikan, wudhukan, dan pakaikan dia kerudung!" titah seorang Ustadzah tepat di belakangku.
Lagi lagi aku membatu. Aku percaya hidup. Ada perkenalan dan perpisahan. Ada lahir, hidup, dan akhirnya kembali pada-Nya. Namun, rasa ikhlas kadang memerlukan usaha. Menerima takdir tanpa tangis adalah usaha yang aku coba.
"Dekatkan saja dengan adek," pinta Paman yang terlihat tabah di luar. Sepintas memang dia terlihat baik-baik saja. Bahkan tersenyum saat para tamu menyapa. Akan tetapi, aku masih bisa melihat sisa-sisa genangan air mata di pelupuknya.
Aku masih mematung. Di pojok rumah dekat gerbang, ada Kakak. Menyapa tamu dengan ramahnya. Namun aku tahu hatinya marah. Tangan yang terkepal dengan raut wajah merah, ia menderita dalam emosi.
"Semoga amal ibadahnya diterima dan diletakkan di surga-Nya. Amin," pintaku seraya disambut dengan bisikan Ayat Kursi tepat di telinga kanannya.
Ini akhirnya.
Perjalanan seakan berat. Bunga-bunga yang menguar bau sedap disepanjang ucapan Tahlil. Meniti setiap jejak kenangan antara aku dan dia.
Ini adalah akhirnya. Sebuah akhir dari cerita. Tujuannya sudah sampai. Mendahului tetua yang bungkuk atau si kecil yang hanya bisa menangis. Dia lelah dan memilih beristirahat.
"Besok, hidup kakak akan beda," ujar Kakak pelan.
Aku tergugu. Tersedak tangis yang datang lagi.
Gbur... Gbur... Gbur...
Bumi kembali ditutup. Sang rembulan yang aku sayang pun kembali pada Buminya. Semua doa dilantunkan dengan syahdu.
Di samping kanan, setangkai kamboja jatuh tepat di atas gundukan sore ini. Gugur kamboja bersama dengan tangis yang meluruh.
Hari ini, hati teruji kembali. Ikhlas melepaskan hal demi kebaikan.
Doa kami sebagai pengantar perjalanannya menuju peristirahatan.

Prb. 13 08 2018

Cat. Kaki
Adek (bhs jawa) : Adik


Kue-Kue Kasih Sayang



Foto By. Group KSN

Yani, Just it

Tepat hari ini keluarga KSN sedang sibuk di dapur Hayday. Nenek Sutianah yang memeras susu sapi, Fitri Niswani yang memanen gandum, Yuanda Isha sedang mengambil beberapa telur di peternakan. Sedangkan Ellis dan Jumhari bertugas menghitung pengeluaran belanja semalam. Semua orang hilir mudik untuk menyiapkan pesta besar hari ini. Sedangkan aku? Aku berada di depan kompor dan bertugas membuat masakan pembuka.

"Nduk, kamu buat apa?"
Aku terperanjat. Hampir saja aku melempar piring tepat ke wajah orang tersebut. Tanpa hujan dan angin, kak Fitri sudah berada di belakangku sembari memperhatikan isi wajan.

"Aku buat nasi goreng, kak," jawabku mantap.

Tampak Kak Fitri yang memandang ngeri pada 'nasi goreng'  buatanku.

"Kamu yakin ini nasi goreng?" tanyanya yang langsung aku angguki dengan cepat.

Tampak Kak Fitri menghela napas pelan, "baiklah. Berdoa saja Kakek Jon nggak akan keracunan setelah makan nasi gorengmu."

Aku menggaruk kepala belakangku bingung. Memangnya ada yang salah dengan nasi goreng buatanku? Sepertinya tidak, pikirku tak yakin.

"Nduk, setelah masak bantuin Kakak buat kue, ya!" teriak Kak Yuan dari arah peternakan.

Baiklah. Keluarga KSN memang sangat megah. Banyak sekali peternakan yang berjejer di halaman belakang. Peternakan sapi, ayam, bahkan babi. Dan hari ini semua hewan tersebut harus segera diternak untuk dibuat pesta kelahiran Kakek Jon.

"Nduk, tahu bedanya tepung ini?" Kak Ell yang tadi sibuk dengan uangnya kini nampak memegang 2 jenis tepung di kedua tangannya.

Lagi. Aku menggaruk kepalaku.

"Ngh... Yang kanan itu terigu dan yang kiri itu kanji, kak," jawabku ragu. Sial. Aku tidak hapal jenis-jenis tepung. Memangnya apa gunanya jenis-jenis tepung jika sama-sama berwarna putih dan halus? Sama saja.

Dengan semangat semua keluarga mulai mengaduk adonan masing-masing. Nenek sudah berhasil membuat beberapa kue dan spageti untuk hidangan tamu. Kak Fitri yang hanya bisa masak makanan berkuah hadir dengan mie kuahnya. Sedangkan kak Yuan dan kak Ellis datang dengan nghh... Kue yang katanya kue tart.

Kak Jumhari yang tepatnya seorang lelaki tunggal di dapur segera keluar dan bertugas mengundang beberapa tamu agar ikut dalam pesta meriah hari ini.

Semakin sore, semua tamu sudah berdatangan. Ada yang menggandeng pasangan, anak, bahkan keluarganya. Akan tetapi, banyak juga yang hanya menggandeng tangannya sendiri seperti Eyang Guntur, Mbah Sang Fakir, Kak Nana, Sherrly, dan Akang Dhiaz.

Tepat pukul 19.00 waktu bagian Indonesia pelosok, Kakek turun dari kayangan, eh salah ding. Kakek turun dari tangga dengan sarung yang ia selempangkan di bahu.

Sambutan oleh beberapa teman dan keluarga hingga acara potong kue dan doa. Kakek memejamkan matanya erat, seakan bila mata itu terbuka maka setan yang akan berada di depannya.

"Aku harap ada bidadari keseleo yang jatuh tepat di depanku," pinta Kakek dengan sangat keras

Bruk.

Budadari keseleo benar-benar jatuh.

Putri Aditya dengan wajah polosnya tersenyum ke arah kakek Jon yang sudah merapalkan doa amit-amit.

"Mas Jon, aku padamu!"
Dan aksi India benar-benar terjadi di dalam ruang tamu KSN. Kakek terus berlari saat Kak Putri tiada lelah mengejarnya mengitari ruang tamu ini.

Saat semua tamu tertawa dengan geli, mungkin aku hanya satu-satunya orang yang melongo kaget. Tidak terima dengan hal itu, aku langsung menghadang Kakek Jon dan menarik tangannya ke arah deretan masakan keluarga.

Dengan percaya dirinya, aku mengambil piring dan menyodorkan hasil masakanku pada Kakek.

"Ini nasi goreng kasih sayang dari adekmu," ucapku sambil menyendok nasi tersebut, bersiap menyuap Kakek.

"Bentar, Nduk," ucap Kakek menahan sendok tersebut.

"Kamu buat nasi goreng apa beras goreng?"

"Hah?"

Belum aku mengeluarkan jawaban, Kak Fitri datang dengan masakan berkuahnya.

"Mas Jon ini masakan berkuah yang aku buat spesial."

"Dek Fit, mie kuah nggak bisa dikatakan masakan. Nggak usah ulang tahun, aku sering makan mie kuah," gerutu Kakek Kesal. Kakek mengalihkan pandangannya ke samping kanan di mana Kak Yuan dan Kak Ell tengah mengedipkan mata seakan berkata 'ini masakan yang bener'.

Dengan bibir yang tersenyum merekah, Kakek langsung menghampiri mereka dan tanpa aba-aba mencolek kue ukurang besar tersebut.

"Byahhh."
Kakek segera memuntahkan makanannya dan memandang Kak Yuan serta Kak Ell dengan padangan horor.

"Kalian buat kue atau buat lem sih?"

"Kamu menghina saya? Saya buat kue ini khusus kamu. Saya sudah beli tepung kanji yang banyak biar kue ini bisa ngembang," jelas Kak Yuan yang merasa tersinggung dengan muntahan Kakek.

"Ini mereka lagi ngerjain aku, kan?" Batin Kakek ngenes.

Tidak ada hadiah yang 'benar' dari keluarganya. Tidak juga dengan doanya yang mendapatkan hadiah 'salah'. Ulang tahunnya kali ini adalah hari paling ngenes se-dunia baginya.

"Kakek!" Aku memegang bahu kakek pelan. Memberi sebuah senyum termanis yang diharapkan bisa menular untuk Kakek.

"Tiada hadiah terbaik dari kami untuk hari kelahiranmu. Tidak kak Putri dengan hadiahnya, Aku dengan beras goreng, Kak Fitri dengan mie kuah, maupun kak Ell dan Kak Yuan yang membuat kue lem."

Detik berikutnya yang sudah sesuai dengan skenario, Eyang Guntur mulai membacakan sebuah puisi yang berkolaborasi dengan Embah Sang Fakir.

Setelah mereka selesai dengan puisinya, aku segera melanjutkan ucapanku.

"Aku tahu Kakek tak suka aksara panjang. Maka kami, secara langsung tanpa bertele-tele lagi, kami keluarga KSN  hanya bisa berdoa semoga yang terbaik untuk Kakek ke depannya."

"Barakallah fii Umrik, Kakek."
"Doa terbaik untukmu."
"Sehat selalu."
"Bahagia selalu."

"Dan ingatlah, Kek. Doa kami tak pernah sehancur makanan buatan kami."


Malam itu, semua makanan utuh di atas meja seakan menjadi saksi bisu bahwa dalam sebuah pesta, mereka tak membutuhkan makanan. Tapi doa dan saling berbagi bahagia.

"Sial, Mbah. Aku kelaperan," umpat Eyang Guntur.

"Podo, Eyang. Aku yo ra mangan dek omah ben iso gratisan dek kene," timpal si embah Sang Fakir

"Makan ae kalo kalian mau keracunan,"  selaku pada Eyang dan Embah yang langsung mengumpat bersamaan.
Aku terkikik dengan hancurnya pesta malam ini namun jejak kasih sayangnya menempel erat di dada.

Ini bukan cerita, baik itu cermin atau cerpen. Ini hanya sebuah khayalan seorang gadis yang gagal membuat puisi dan beralih ke cerita absurd ini. Apapun itu, baik buruknya tulisan ini, tetap terselip doa paling tulus dari adekmu, Kek. Dari keluarga KSN pada Kakek Jon yang paling kami sayang

Sukses dan bahagia selalu, Kakek

Prb. 10 Agustus 2018
(Pukul. 00.00 tepat pergantian umur Kakek tercinta, Jon)



Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...