Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Cerpen : Tukang Kaba

Doc. Kabar Madura 28 Juni 2019

Tukang Kaba

Lelaki itu terus saja bercerita. Bahkan ini sudah lima jam saat ia memutuskan duduk di tengah pasar dan bercerita tentang banyak kisah. Puluhan orang mulai mengerubunginya sejak tadi. Bukannya berkurang, setiap detik malah bertambah semakin banyak.
“Oh, bahagia orang kita sebarkan, derita orang kita sembunyikan ….”
Tukang kaba itu selalu memulai kisahnya dengan nyanyian yang menjadi lagu wajib ceritanya.
“Oh Tukang Kaba! Ceritakan tentang kisah puteraku yang sebentar lagi akan menghadapi pilkades tahun ini,” pinta seorang lelaki tua yang punggungnya sudah bongkok. Matanya terlihat rabun, namun masih memancarkan harap untuk mendengarkan kisah anaknya yang akan mujur dari mulut tukang kaba.
“Oh, anakmu yang bernomor satu, ‘kan?” tanya tukang kaba yang sempat tahu poster pilkades di desa ini.
Pak tua itu mengangguk bersemangat. Ia menuggu dengan sabar untuk mendengarkan kisah dari tukang kaba tersebut.
Tukang kaba menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan matanya lama-lama sebelum terbuka dan tatapannya berbeda. Ada titik hitam yang serius dalam pandangannya. Seakan tatapan itu memutar sebuah gambar yang akan ia ceritakan setelah ini.
“Oh, kisah bahagia orang kami sebarkan, derita orang kita sembunyikan ….”
Dan mengalirlah sebuah cerita tentang kepala desa yang arif dan bijaksana. Dengan kemurahan hatinya, rakyat hidup makmur dan desa semakin maju. Kepala desa yang lahir dari orang bawah yang mengerti bagaimana nasib orang-orang bawah berjuang untuk hidup. Kepala desa yang mencintai rakyatnya dengan segenap perjuangan.
“Oh, tukang kaba, apakah itu anakku? Yang menjadi kepala desa itu adalah anakku?” tanya pak tua itu penasaran. Namun binar bahagia tak pernah redup di wajahnya. Ia sudah bisa menebak bahwa anaknya akan menjadi kepala desa yang arif dan bijaksana.
“Benar. kepala desa itu adalah anakmu. Dia adalah kepala desa paling tampan dan gagah di desa ini. Kerendahan hatinya bahkan membuat rakyta segan,” jawab tukang kaba dengan senyum yang nampak aneh.
Pak tua yang mendengarnya semakin mengembangkan senyum. Ia mengelus dadanya berkali-kali dan bergumam dengan pelan, “akhirnya aku bisa mati dengan damai. Terima kasih, Tukang Kaba. Aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan nasib anakku setelah ini,” ujarnya yang langsung memberikan beberapa koin pada tukang kaba sebagai upah berceritanya.
Setelah langkah membawa pak Tua itu pergi, tatapan tukang kaba masih terus saja mengiringi Pak tua itu.
“Oh, bahagia orang kami kabarkan. Derita orang, kami sembunyikan ….”
Kepala desa itu hanya akan bertahan setahun di masa jabatannya. Karena Ia memiliki kekasih yang tamak dan haus akan uang. Kepala desa muda ditemukan tewas di peraduannya dengan leher yang digorok oleh sang kekasih.
Tukang kaba akan berjelajah dari satu pasar ke pasar lain, dari satu desa ke desa yang lain. Dengan keahliannya bercerita, banyak orang-orang yang menunggunya untuk meminta cerita bahagia dari tukang kaba tersebut.
“Tukang kaba, ceritakan tentang kekasihku! Malam Minggu nanti kami akan melangsungkan pernikahan!” seru seorang gadis berpakain kebaya. Wajahnya bulat dengan kulit kuning langsat. Kentara sekali bahwa perempuan itu keturunan jawa asli.
Tukang kaba tak mampu menolak. Ia mengangguk untuk mengiyakan permintaan gadis tersebut.
Ia mengambil napas dalam-dalam dan memulai menyanyi sebelum memulai kisahnya.
“Oh, bahagia orang kami kabarkan, derita orang kami sembunyikan …”
“Sepasang suami isteri yang hidup dengan dua anak kembar. Keadaan mereka bahagia dengan canda tawa setiap hari. Teh hangat yang selalu menjadi rutinitas mereka di kala senja datang, dan berkumpul penuh canda saat malam tiba. Oh, benar-benar keluarga yang penuh cinta.”
Tukang kaba terus bercerita hingga membuat gadis itu menitikkan air mata. “Oh, benarkah aku akan bahagia dengan suamiku kelak? Aku benar-benar lega mendengarnya,” ujar gadis tersebut.
Setelah gadis itu memberikan koin pada tukang kaba, ia masuk ke dalam rumahnya.
Sementara tukang kaba masih menatap kepergian gadis itu dengan tatapan sendu.
“Oh, bahagia orang kami kabarkan, derita orang kami sembunyikan ….”
“Di belakang isterinya, lelaki itu memiliki anak dari madunya. Aib yang terus tertutupi hingga terbongkar di saat yang tepat,” lirih tukang kaba melanjutkan ceritanya, tanpa gadis itu tahu.
Begitulah keseharian tukang kaba. Setelah malam datang, ia melangkah menuju tabing rumahnya. Di sana ia akan beristirahat dengan segelas kopi panas yang ia seduh.
Begitulah kisah manusia. Tidak selamanya akan indah. Ada saatnya derita selalu datang di bekalang bahagia atau berbarengan dengan tawa. Seperti kisah tukang kaba itu.
Hidup sendiri tanpa seorang pendamping. Ia hanya bisa merangkai kisah tentang orang-orang, namun tidak untuk kisahnya. Ia tidak memiliki kisah bahagia yang bisa ia ceritakan. Hidupnya hanya mempu menghibur orang lain, bukan dirinya sendiri.
“Oh, kisah orang saya kabarkan, kisah sendiri tak tahu rimbanya,” ujar tukang kaba sebelum kantuk membawanya terpejam sampai batas waktu tak memberikannya hari lagi.
Probolinggo, 27 Maret 2019

Biodata Penulis
Agustin Handayani, penggiat literasi dan anggota FLP Probolinggo

Angan Dara



“Aku mungkin bisa hidup meski tanpa dia.” Dara terdiam setelahnya. Dia mengetuk ujung dagunya dan berpikir sejenak. “Iya. Aku bisa hidup tanpa dia, tapi tidak tanpa kamu,” cengirnya setelah itu.
“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”
“Hm, mungkin karena dari semua lelaki yang ada, hanya kamu yang rela aku recokin setiap malam, gendongin aku keliling taman kompleks, dan hanya kamu juga yang selalu ngasih aku makan saat aku lupa,” jawab Dara enteng.
Sementara Angan, lelaki yang kini berada di depannya hanya tersenyum tipis. Merasa ajaib juga dengan jawaban Dara yang jauh dari harapannya. Ia kira, Dara akan berkata ‘karena aku mencintaimu’, tapi itu semua memang hanya mimpi bagi Angan.
Dara adalah wanita yang Angan sayangi. Mungkin perasaan yang ia rasakan tidak sepenuhnya bertepuk sebelah tangan. Angan jelas tahu bahwa Dara juga menyayanginya. Meski dalam rasa yang berbeda, hanya sebagai kakak dan pelindung.
“Jadi, dalam artian, kamu nggak akan bisa hidup tanpa aku?” pancing Angan dengan nada menggoda. Namun, anggukan yang ia terima langsung menghentikan cengiran Angan. Ia mengubah mimik wajahnya menjadi serius dan berucap lirih, “aku harap kamu memang nggak akan bisa hidup tanpa aku.”
Dara mendekat. Memposisikan dirinya di depan Angan dan langsung menepuk bahu lelaki itu seakan menyalurkan sebuah energi yang dapat menguatkan Angan. “Aku harap kamu selalu bahagia,” ujar Dara tulus.
Angan tersenyum tipis. Ia kehabisan kata-kata untuk menjawab kalimat yang diberikan oleh Dara. Kalimat doa yang sebenarnya cukup mustahil untuk Angan semogakan. Karena ia sangat paham, bahwa kebahagiaannya bukan dengan cara seperti ini. Kebahagiaannya bukan dengan cara melepaskan Dara untuk menuju kebahagiaanya esok, jelas bukan. Angan tidak akan pernah mampu setegar itu. ia seperti manusia kebanyakan yang memiliki sifat egois. Dan sekali saja, Angan ingin egois dengan memiliki Dara untuk dirinya sendiri.
“Besok kamu harus datang ke acara pernikahanku, ya!” pinta Dara yang berhasil membuyarkan semua hayalan yang berada di atas kata ‘seandainya’.
“Nyatanya, meski kamu nggak bisa hidup tanpa aku, takdirmu memilih dia menjadi teman hidupmu,” batin Angan sendu. Ada perih setiap Angan tahu, bahwa semua yang ingin ia miliki hanya sekadar angan dalam hayalannya. Ia tidak akan mampu meminta semesta menjadikan Dara sebagai teman hidupnya.
Maka, biarlah Angan menitipkan saja segala kenangan, cinta, dan rindu yang ia rasakan pada angin yang selalu datang setiap waktu. Pada rerumputan yang selalu menjadi saksi bahwa ia sedang bersandiwara dan memainkan sebuah lakon berkarakter kuat. Ia menipu semua orang bahwa ia kuat menghadapi hari esok. Hari di mana sebuah ikrar suci akan melayang di ujung doa bersamaan dengan retak segala harapannya. Ia kalah telak.
***
Hari ini Angan sengaja tidur sampai siang. Ia bahkan mengabaikan rengekan adiknya dan teriakan sang abang yang memintanya bersiap untuk menghadiri pernikahan Dara yang sedang digelar di gedung Joyolelono. Katakan saja ia pengecut, tapi itu lebih baik dari pada kedatangannya hanya akan menimbulkan kekacauan. Angan tidak yakin dirinya akan bertindak normal dan santai saat melihat Dara tersenyum bahagia bersama lelaki lain. Ia tidak sebaik itu. Bisa saja ia akan mengamuk dan menghancurkan acara pernikahan itu dengan kebrutalannya.
Angan sudah berniat untuk melanjutkan tidurnya bila saja teleponnya tidak berbunyi nyaring dengan nama ‘Soni’ yang terpampang di layarnya. Dengan malas, Angan segera mengambil ponsel dan menekan tombol hijau.
“Kamu ganggu ak—“
“Kamu di mana?” potong Soni dengan nada panik dari seberang sana.
Angan menjauhkan ponselnya sejenak. Kenapa abangnya nampak panik?
“Di rumah. Kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Angan yang mulai khawatir. Ia menyesal juga tidak ikut serta dengan sang abang dan adik ke sana. Bisa saja mereka sedang di jalan dan---
“Dara kecelakaan. Mobil pengantin wanita ditabrak truk hingga sekarang seisi mobil di rawat di Rumah Sakit Dharma Husada dengan kondisi kritis.”
Telinga Angan mendengung. Ia tidak bisa mendengar semuanya dengan jelas. Bukan. Bukan kerena ini memiliki riwayat gangguan pendengaran, hanya saja informasi yang ia terima sangat menyakitkan untuk ia dengar.
“Aku udah hubungin kamu dari tadi. Sekarang cepat kamu ke sini. Dara kritis.”
Ponsel yang Angan pegang terjatuh. Ini bukan mimpi. Semuanya jelas nyata. Maka dengan tangan yang sudah gemetar hebat, Angan segera menyambar jaket dan kunci motornya. Berdoa dalam hati semoga Dara tidak mengalami kondisi buruk. Semoga saja.
Nyatanya, Tuhan kadang tidak mengabulkan semua doa yang kita panjatkan. Ada beberapa hal yang dijadikan ujian bagi manusia sebelum doa-doanya terkabul. Angan merasakannya sat ini. Ia harus menerima kabar buruk keadaan Dara saat sampai di rumah sakit tersebut.
Mama Dara, Irana yang menangis dalam pelukan suaminya. Seorang lelaki dengan bahu bergetar yang seharusnya menjadi suami Dara hari ini. Di depan ruangan yang mungkin tempat di mana Dara dirawat, ada Soni dengan tatapan kosong.
“Dia kritis. Dan mungkin setelah ia sadar, ia akan mengalami kebutaan. Retinanya rusak. Rumah sakit juga tidak memiliki pendonor yang yang cocok untuknya,” jelas Soni dengan suara pelan. Meski tidak begitu akrab dengan Dara, beberapa kali mereka masih saling betegur sapa apabila Angan membawa Dara ke rumahnya.
“Buta?” beo Angan dengan pikiran kosong. Kepalanya terasa berat dan siap meledak dengan informasi yang ia terima saat ini. Apakah tak cukup Tuhan menguji dirinya dengan harus melepaskan Dara bersama lelaki lain? Apakah Angan juga harus ikhlas menerima kenyataan hidup Dara yang jelas tidak akan sama seperti semula? Tidak dapat melihat bagaimana warna-warni dunia. Tidak dapat juga melihat bagaimana bunga yang selalu mereka petik di kebun belakang. Dara juga tidak akan bisa melangkah seriang kemarin.
“Aku akan mendonorkan mataku untuk dia,” ujar Angan yang langsung mendapatkan perhatian dari semua orang di dalam sana, tak terkecuali abangnya sendiri.
“Jangan bodoh!” hardik Soni geram. Ini bukan masalah mendonorkan dan semuanya selesai. Akibat yang ditimbulkan akan mempengaruhi kehidupan Angan setelah ini. Dan sebagai Abang, Soni belum bisa melihat adiknya berkorban terlalu jauh.
“Aku nggak bisa lihat Dara menderita, Bang. Aku mungkin bisa hidup dengan kekurangan aku nantinya, aku kuat. Tapi Dara nggak, Bang. Dia pasti akan frustasi dengan kodisinya. Lagi pula, Dara masih seperti anak kecil.” Angan tertawa kosong sebelum melanjutkan ucapannya, “dia bahkan masih sering nangis saat aku godaian dia. Coba kalian bayangkan! Bagaimana reaksi Dara saat tahu dirinya buta? Aku jelas nggak bisa ngebayangin itu,” jelas Angan dengan aliran air mata di pipinya. Angan menangis dalam ucapannya.
Semua orang kembali menangis. Mereka tidak dapat melontarkan apa-apa untuk menjadi jawaban dari penjelasan Angan. Karena semua orang tahu bahwa semuanya benar. Dara belum sekuat itu untuk menerima semuanya.
“Baiklah. Jika kamu mau mengorbankan semuanya.” Soni mengucapkannya dengan nada pelan. Mungkin sebagian hatinya berharap Angan tidak akan mendengar ucapannya. Namun saat melihat Angan yang tersenyum senang, Soni yakin ia akan menyesali persetujuannya barusan.
“Terima kasih, Bang. Aku hanya ingin mengorbankan sesuatu untuk orang yang aku cintai. Mungkin aku tidak akan bisa menemaninya seumur hidup, tapi mata ini akan menjadi bagian dari hidupnya dan itu sudah lebih dari cukup,” jelas Angan dengan nada pelan agar hanya Soni yang mendengarnyua. Karena tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya pada Dara selama ini selain abangnya.
Cukup hari ini saja ia mengungkapkan perasaannya. Esok, ia harus semakin kuat menutupnya agar tidak merusak kebahagian Dara. Cukup ia menjadi salah satu bagian tubuh orang yang ia cinta, itu sudah cukup. Setidaknya ia pernah berkorban demi orang yang ia cinta.
Selesai.
Probolinggo, 13 februari 2019


Dan, Izinkan Aku Melupakanmu




Sebenarnya benar kata orang, cinta memiliki artian yang luas. Bila beberapa orang memandangnya sempit, itu bukan salah cinta. Melainkan penafsiran sempit dari cinta itu sendiri. Cinta dan luka, mau tak mau itu adalah sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Layaknya gelap dan terang. Kita tak akan mengetahui terang bila tak pernah berada di posisi gelap. Dan aku, merasakan luka setelah mengalami beberapa kali cinta.

“Aku mencintainya,” jujurku. Entah sudah keberapa kalinya aku berkata seperti itu pada Tia. Nyatanya, lidahku seakan tak pernah bosan mengucapkan hal tersebut. Seperti sebuah mantera yang sudah terapal di luar kepala.

“Tapi dia tidak mencintaimu.” Tia seakan menjatuhkanku dari ketinggian tak terbatas. Mengembalikan semuanya pada fakta bahwa perasaanku hanya aku yang merasakan. Tak terbalas.
Aku menggeleng pelan. Merasa miris pada hidupku yang sekarang.

“Cobalah kamu melupakannya,” saran Tia yang sudah keberapa kalinya pada hari ini, bahkan pada hari sebelumnya juga begitu.

Aku tetap menggeleng pelan. Sangat sulit rasanya harus melupakan sebuah cinta yang tertancap sangat dalam di sela-sela hati. Dari awal ini semua salahku. Aku terlalu percaya bahwa dengannya, perasaanku akan terbalas. Aku kira dia beda. Dia memiliki sebuah kesabaran dimana sangat sulit untuk aku temukan pada lelaki lainnya. Hanya saja aku lupa. Sifat manusia tidaklah kekal. Labil dan mudah terombang-ambing. Lagi, aku salah menilai orang, batinku.

“Apa Guntur tahu kamu masih mencintainya?”

“Tidak. Aku belum mau jujur. Aku takut semakin aku berkata bahwa aku mencintainya, dia akan menghindar dan semakin jauh,” jawabku lesu. Memang itu yang aku takutkan bila aku jujur padanya. Rasanya aku belum siap untuk semakin jauh darinya kala hatiku sendiri masih berporos padanya.

“Bulshit. Kamu bilang Guntur adalah lelaki yang sangat mengerti kamu, seharusnya dia juga mengerti bagaimana perasaanmu padanya,” ucap Tia dengan nada yang sedikit keras.

Aku menghembuskan napas pelan. Keadaannya sudah beda. Dulu, status kami sangat intim, dekat. Sekarang status mantan benar-benar memberi jarak yang teramat jauh. Guntur, lelaki itu pencuri hatiku. Mencuri paksa tanpa izin terlebih dahulu. Setelahnya, ia dengan sangat mudah membuang rasa-rasa yang timbul.

Percakapan berakhir tanpa sebuah jalan keluar. Tia tak bisa mendebat perasaanku yang terus memberontak. Dan aku mengalah karena bukan aku yang ingin bertahan, akan tetapi hatiku. Seakan hati ini berkata, sekali lagi untuk bertahan dan mencoba.

“Besok kita akan bertemu,” ucap Guntur disebuah panggilan pada malam harinya.

Aku berteriak dalam diam. Sangat senang mendapat sebuah kabar dan janji temu dengannya. Pikirku, mungkin ini adalah awalan untuk aku dan dia bisa bersama, lagi.

“Besok aku akan menunggu kamu sampai kamu datang,” janjiku mantap.

Guntur hanya menjawab dengan deheman pelan. Entah bagaimana ekspresi lelaki itu di seberang sana. Nyatanya, saluran telepon ini hanya bisa memberikan timbal balik berupa suara penelpon, bukan wajah dan ekspresinya.

Banyak orang berkata, hati-hatilah dengan hati. Sekali kamu bermain hati, sakitnya sangat tak terkendali. Aku paham bahwa aku sudah terlalu jauh bermain hati. Padahal aku kira,menaruh hati pada lelaki itu adalah sebuah kebenaran yang akan aku syukuri. Nyatanya sama saja. Aku terluka.

Aku tak bisa pergi dari tempat ini. Aku sudah berjanji padanya. Aku akan menunggunya hingga ia datang dan berbalas pandang denganku. Berbicara panjang lebar hingga larut malam atau hingga fajar datang menjelang. Hanya saja, ini sudah lebih dari tiga jam aku duduk di taman yang sepi. Menatap arloji dan jalan di depan sana bergantian. Jam ini terus berputar, sementara lalu lalang manusia semakin tak terlihat. Tak ada tanda-tanda ia akan datang dan menebus janjinya. Satu kesadaran muncul, Guntur ingkar, lagi.

Aku menyerah. Ini sudah tengah malam saat aku melangkah dengan gontai dari taman ini. Rasa lelah tiba-tiba menyergap jiwa dan ragaku. Bukan hanya tubuh, melainkan juga hatiku. Terlalu sakit merasakan cinta yang selalu dikecewakan.

“Maaf, kemarin aku lupa kalo ada janji sama kamu,” ucap Guntur keesokan harinya.

Guntur sudah menjabarkan perihal ketidakhadirannya. Ternyata ia sibuk bertelpon ria dengan Vio, perempuan yang ia dekati.

Aku diam. Menelisik ke dalam matanya yang bulat. Mencari-cari arti aku pada kedua netra tersebut. nihil. Hanya kekosongan yang aku dapat.

Aku tersenyum miris, “untuk apa kamu minta maaf? Nyatanya aku adalah wanita bodoh yang menunggu kamu tanpa batas waktu,” ujarku getir.

“Kamu bicara apa sih? Aku kan sudah minta maaf!” suaranya mulai meninggi. Pertama kalinya ia berbicara dengan keras padaku.

“Kamu minta maaf untuk apa? Untuk ketidakhadiran kamu kemarin? Untuk ketidakpedulianmu? Atau untuk hatiku yang nggak kamu pikirin? Kamu minta maaf yang mana, hah?!” teriakku emosi.
Kali ini, aku ingin mengeluarkan segala kesakitan yang aku pendam sendiri. Aku muak harus berada di pihak yang memendam dalam diam. Sesak-sesak itu bahkan menjadi kawan kala kesunyian menyapaku.
“Kamu diam? Nggak bisa jawab, kan? Atau kamu baru sadar bahwa terlalu banyak kesalahan yang kamu buat sama aku?” lanjutku lagi, kala Guntur hanya diam dengan pandangan yang menatapku lekat.
Mungkin sebelumnya, padangan itu mampu meluluhkan perasaanku. Membuatku bersemu merah bahkan salah tingkah. Akan tetapi, itu dulu. Sebelum ia menggenggam sebuah luka dan menaburkannya pada hatiku yang berbunga. Menjadikannya layu hingga hampir saja nyaris mati.
“Kita sudah gagal sebelumnya. Dan sekarang kita hanya sebatas sahabat,” jawab Guntur pelan.
Aku memalingkan wajahku ke samping. Nyatanya benar pikiranku. Lelaki di depanku ini memang sudah tidak punya hati untuk sekedar menghargai perasaanku.
“Itu kamu. Bagaimana dengan aku? Dengan hatiku yang mudah kamu buang?”
“Aku nggak buang kamu,” bantah Guntur tegas. Suaranya bahkan berhasil memekakkan gendang telingaku.
Aku menoleh. Memberanikan membalas netra tajam tersebut. aku kuat, rapalku dalam hati.
“Aku nggak pernah buang apalagi nyakitin kamu. Akan tetapi, perpisahan kita memang jalan terbaik, apalagi untuk kamu. Ini semua untuk kebaikanmu,” lanjutnya yang berubah kalem seketika.
Aku tertawa kosoong. Menengadahkan kepalaku guna menahan laju air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Bulsyit. Nyatanya ini semua nyiksa aku. Aku tahu aku masih kekanakan. Aku nggak bisa berpikiran dewasa seperti kamu. Aku jelek, bodoh, murahan, da----“
“STOP!!!” teriak Guntur memotong bualanku yang semakin melantur.
“Kamu salah. Kamu cerdas dan berharga. Hanya saja maaf. Jujur, aku lebih suka kita bersahabat. aku mohon kamu ngerti. Cinta tidak harus memiliki.”
“Tapi, cinta ingin dimiliki, Gun. Nggak akan ada orang yang membiarkan cinta terbang tanpa usaha. Mereka akan berusaha memiliki cinta tersebut meski pada akhirnya hanya kehilangan sebagai balasan. Akan tetapi, setidaknya ada kata berjuang,” bantahku pada persepsi Guntur yang terlalu menganggap bisa bahagai asal orang yang dicintai bahagia, meski bukan dengan kita. Itu adalah kata-kata terbulsyit yang pernah aku dengar.
“Nggak bisakah aku pertahanin kamu? Berjuang sekali lagi atas nama kita?” tanyaku dengan harap.
Guntur menggeleng. “Aku sudah bersama Vio,” jujurnya.
Aku mengangguk. Tersenyum miris hingga berubah tawa-tawa yang menggelegar kosong. Aku kalah, bahkan sebelum berperang dan berusaha. Kekalahan telak yang mengundang malu.
“Jadi, aku sudah tidak berarti apa-apa dalam hidup kamu?”
“Kamu masih adikku, sahabatku,” jawab Guntur sambil memegang kedua bahuku erat. Meremasnya pelan seakan memberi kekuatan pada diriku yang mulai goyah.
“Tidak, tidak. Aku tidak bisa bersama kamu dengan status itu. Status itu malah semakin menambah garam pada luka yang menganga ini,” jelasku jujur. Aku melepaskan pegangannya di bahuku. Melangkah mundur untuk memberi jarak.
Air mata yang sudah sejak kapan mengalir, aku hapus paksa. Tawa-tawa kosong itu aku tahan. Sekelilingku berubah senyap, bahkan bumi seakan berhenti sesaat. Semilir angin menyapu kulitku yang terbuka. Memberi bisikan kesepian yang membuatku merepih.
“Aku egois kali ini. Bila aku dan kamu sudah tidak bisa menjadi sepasang kekasih, maka selama itu, aku tak menginginkan status apapun diantara kita. Tidak sebagai adik atau sahabat.”
“Yan---“
“Tunggu!!” potongku. Aku mengangkat sebelah tanganku tanda agar ia berhenti berbicara dan mendengarkan penjelasanku.
“Karena setelah luka hari ini, aku butuh waktu untuk kembali bangkit. Aku tidak bisa bila harus melihat kamu degan wanita bernama Vio itu. Rasanya saat itu, kamu mencabut paksa jantungku. Maka, bila memang kamu tidak menginginkan aku sebagai kekasihmu, biarkan aku pergi tanpa ada pertemuan kembali. Hatiku benar-benar sangat tersakiti,” jelasku dengan senyum tipis. Aku memejamkan mataku erat.
Sangat sakit. Seakan ada lubang-lubang yang tak nampak namun terasa nyata. Teremas-remas oleh tangan-tangan kesakitan yang tak dapat aku cegah. Nyatanya, merelakan sangat sakit ketimbang luka itu sendiri.
Dan lagi, izinkan aku melupakan cinta hari ini setelah kemarin ia ajarkan aku suka dan duka bersamaan. Entah akan jadi apa aku dikeesokan hari tanpanya. Akan tetapi, aku akan terus berusaha melupakannya, bangkit dan berusaha untuk tegas. Menikmati fajar dikeesokan harinya yang memberiku asa baru.
Mempercayai aka nada sebuah keindahan dibalik luka hari ini. Bukankah pelangi tak akan datang sebelum hujan? Begitupun keindahan tak akan datang sebelum kesakitan. Aku percaya itu. Dan berusaha percaya.
Guntur, kamu memang bukan lelaki yang nantinya akan mengajarkanku arti cinta yang hakiki. Cinta yang kekal. Bukan kamu, Gun. Aku terlalu memaksa agar itu kamu. Nyatanya, semakin aku memaksa, maka luka itu yang semakin aku dapatkan. Selamat tinggal, Guntur. Mungkin pada kehidupan ini, cinta kita hanya sesaat. Akan tetapi, di kehidupan yang akan datang pun, bila kita bereinkarnasi kembali, aku pun tak bisa menjamin kita akan memulai cinta lagi atau menjadi dua sosok yang tak saling kenal. Maka setidaknya, kita sama-sama mensyukuri cerita singkat kali ini. Terutama aku yang berterima kasih atas cinta dan luka yang aku pelajari darimu. Sekali lagi, selamat tinggal dan terima kasih.
Tamat.



















Kata yang (tak) Sempat Terucap




“Sebenarnya aku memiliki 3 permintaan. Apa kamu bisa mengabulkannya?”
Sika diam. Ia masih menatap sahabatnya dalam. Meski begitu, semua orang tahu ada tatapan penuh arti yang coba Sika berikan pada Dika. Dan Biarkan hanya Dika yang tahu arti tatapan tersebut.
“Apa permintaan kamu?” tanya Sika. Ia biarkan saja saat tangan kokoh Dika merangkulnya. Mungkin ini akan menjadi rangkulan terakhir mereka.
“Pertama, aku ingin kamu bahagia.”
“Pasti,” jawab Sika cepat. Ia tersenyum hingga lesung pipi kanannya terlihat yang semakin menambah manis dirinya.
“Kedua, aku ingin kamu memiliki keluarga yang kamu sayang, seperti aku yang menyayangimu.” Ucapan ini membuat Dika dan Sika sama-sama terdiam. Ada sebuah luka dan harapan yang muncul bersamaan dalam hati masing-masing.
Hidup di sebuah rumah tanpa tahu siapa kedua orang tua masing-masing adalah sebuah kesialan yang tak pernah mereka harapkan. Tidak. Tak seorang pun ingin bertukar posisi dengan mereka.
Dika, lelaki yang dua puluh tahun lalu ditemukan di depan gerbang panti. Hanya dengan selembar kertas bertuliskan permohonan maaf dan sebuah nama untuk dirinya. Saat itu yang Dika tahu bahwa keluarganya tak bisa membesarkan dirinya tanpa sebuah alasan yang jelas.
Sedangkan Sika. Anak yang katanya hasil hubungan gelap seorang pejabat negara dengan seorang janda. Setelah kedua orang tuanya di arak keliling kampung saat ditemukan kumpul kebo, sang Ibu diasingkan sedangkan Pejabat tersebut lepas karena kekuasaan dan uang. Tak ingin menanggung malu, Ibu tersebut selalu mencoba menggugurkan kandungannya. Namun, takdir memang ingin Sika lahir. Meski dalam kebencian sang Ibu dan dibuang ke panti yang sama di mana sudah ada Dika di sana.
Nasib yang hampir sama. Meski semua anak di sini jelas memiliki cerita yang sial menurut masing-masing. Dan pada hari ini, saat Sika harus pergi meninggalkan Dika. Pergi dan memulai kisah yang baru dengan keluarga yang baru dan akan menerima Sika dengan kasih sayang. Lantas Dika bisa apa selain mendoakan?
“Permintaan ketiga?” tanya Sika yang bisa membuyarkan lamunan Dika.
Dika tersenyum. Ia beralih mengusap pipi Sika dengan sayang. “Permintaan terakhir biar aku yang simpan. Karena permintaan ini tidak akan pernah terkabul.”
“Loh, kok gitu?” protes Sika mengembungkan pipinya.
Dika hanya tersenyum. Ia memilih menikmati semua yang masih bisa ia pandang saat ini. Bagaimana merah bibir itu, kulit kuning langsat yang selalu bercahaya, dan rambut hitam legam yang selalu dibiarkan terurai. Esok, Dika paham bahwa apa yang ia pandang sekarang tak akan bisa ia nikmati lagi.
Meski begitu, Dika akan menandai waktu ini. Waktu yang menjadi awal kisah mereka masing-masing, bukan berdua.
***
“Di dunia ini tidak semua kata harus terucap dengan lugas. Ada yang diteriakkan nyaring, berbisik, dan ada pula yang hanya dipendam sendiri.”
“Dan kamu memilih yang terakhir?”
“Eh’em. Aku memilih mengucapkannya lewat hati. Karena aku tahu bahwa terucap atau tidaknya ini, tidak akan pernah mengubah keadaan. Dan aku tak ingin apa yang aku keluarkan percuma.”
“Kamu memang aneh, ya! Andai kamu berbicara dari awal pada Sika tentang cintamu, aku yakin Sika tak akan meninggalkanmu seperti ini. Apalagi sekarang dia sudah menikah.”
Dika hanya tersenyum. Ya, mungkin jika dulu ia berani dan berbicara lebih dulu pada Sika, wanita itu tak akan meninggalkannya. Dan mungkin juga ia memiliki kesempatan lebih. Namun...
“Bagaimana kalo jodoh Sika memang lelaki itu? Aku bisa apa?”
Sekali lagi, Dika mencoba berpikir jernih. Yah, sekuat apapun ia berusaha, tetap saja semesta yang akan menentukan. Bukan ia, bukan Sika, bukan cinta, maupun penyesalannya.
“Jika orang-orang selalu menghindari penyesalan. Maka aku sangat menghormatinya. Karena penyesalan adalah kerja sama antara takdir dan hati,” bisik Dika.
Sedangkan Dito, kawan kerjanya hanya bisa diam dan coba memahami. Ia belum pernah berada di situasi yang rumit seperti Dika, tetapi bila ia berada dalam keadaan seperti itu, ia tak yakin akan berperilaku sama.

Selesai.
Probolinggo, 12 12 2018

Cinta Terbaik





Cinta Terbaik
Agustin Handayani

Anita tahu. Semua yang ia lakukan adalah arti dari sebuah kesia-siaan. Ia tak akan mendapatkan hasil yang ia harapkan seperti sesuatu yang sudah ia ingin dari awal. Ia hanya akan menjadi bayang-bayang yang tak kasat mata bagi sepasang manusia di depannya ini.
Cakka dan Bella terlihat tengah tertawa bersama di depan Anita yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedari beberapa jam yang lalu, mereka memutuskan untuk duduk di Kafe Pojok yang berada di pertigaan jalan raya daerah ini.
Anita hanya diam. Ia memperhatikan lagi sepasang kekasih tersebut. Tersenyum miris saat mengetahui dirinya hanya penjaga lilin bagi mereka.
“haduh. Maaf  iya. Aku tiba-tiba dipanggil sama produser nih. Sayang, nggak apa-apa kan aku tinggal?” ujar Bella tiba-tiba saat menerima sebuah pesan singkat yang mungkin dari produser yang memang menyuruhnya ke tempat syuting tersebut.
Cakka hanya mengangguk. Mungkin ia tahu bahwa percuma menahan Bella untuk tinggal, semua yang berkaitan dengan karier adalah hal yang menjadi magnet ketertarikan bagi Bella.
“Ta, kamu nanti pulangnya sama Cakka ajah, iya?”
Anita pun hanya bisa mengangguk pelan hingga Bella keluar dari Kafe tersebut setelah mencium pipi Cakka sekilas. Saat itu, Anita membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia tak mampu melihat hal tersebut.
Sepeninggal Bella, Cakka dan Anita memilih diam. Tak ada percakapan. Namun Anita berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk mencairkan suasana tersebut.
“Kita disini dulu ajah iya, Ta?” akhirnya Cakka yang memulai berbicara terlebih dahulu.
“Huh?”
“Aku masih mau ngabisin senja di sini,” jawab Cakka dengan senyum manisnya. Anita mengangguk kaku. Ia terlalu speechless dengan senyuman pertama Cakka.
“Andai Bella nggak terlalu sibuk sama syutingnya, mungkin aku bisa menghabiskan sunset sama dia,” ucap Cakka dengan pelan. Seperti ada rasa kegetiran saat mengucapkan hal tersebut.
“Mau liat sunset sama aku? Kebetulan aku suka sunset,” ajak Anita yang sedetik berikutnya mengutuk mulutnya itu. Mengapa ia bisa dengan sangat excited mengucapkan hal tersebut tanpa berpikir lebih panjang lagi. Namun hal tersebut menjadi sebuah keberuntungan saat dilihatnya Cakka mengangguk pelan.
Mereka akhirnya memutuskan melangkah ke sebuah pantai yang memiliki hamparan air yang luas. Sudah banyak manusia yang duduk santai menunggu detik-detik sunset agar melihat dengan mata telanjang bagaimana senja memakan surya dengan rona merah dan jingganya.
“Aku sayang Bella,” ucap Cakka tiba-tiba.
Anita menahan napasnya sesaat. Tapi aku cinta kamu, batinnya.
“Tapi dia selalu sibuk dengan dunianya. Dia selalu hilang saat aku butuhin, dan dia selalu menunda saat aku meminta. Namun jauh dari semua itu, hatiku tetap buat dia,” lanjut Cakka. Ia sepertinya tak masalah menceritakan perasaan dan kegalauannya pada perempuan yang jelas-jelas menunjukka rasa perhatian yang berlebih padanya.
Anita diam. Memperhatikan matahari dalam kebisuan. Menghitung mundur keajaiban yang akan tampil, ia mencoba menata hati dan perasaannya.
3
2
1

“Aku sayang kamu,” ucap Anita pelan bersamaan dengan tepi lautan yang memakan matahari, ah sunset yang indah.
Meski pelan, Anita yakin Cakka mendengarnya. Pasti. Namun lelaki itu hanya diam, tidak ada tanda-tanda akan berbiacara.
Anita kali ini benar-benar melucuti sisa perasaannya. Kepingan terakhir perasaannya telah ia pertaruhkan kali ini.
“Maaf, aku nggak bisa,” jawab Cakka akhirnya. Setelah itu lelaki itu membersihkan debu yang melekat dan tanpa kata meninggalkan Anita yang masih diam dengan keterpurukanya.
Anita sangat yakin perubahan sikap yang Cakka tunjukkan sekarang lantaran lelaki itu menghindarinya.
Bukan tanpa alasan mengapa Anita bisa berpikir seperti itu. Namun, tepat sehari setelah pengungkapan hal tersebut, Cakka langsung menghindarinya. Dan sekarang terhitung sudah seminggu lebih mereka berada dalam jarak yang fana.
“Kalian kenapa?” tanya Bella saat melihat Cakka dan Anita terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun. Mungkin Bella sudah meresa ganjil dengan perubahan sikap mereka yang aneh.
“Huh?”
Anita sendiri tak tau harus berkata apa. Ia juga bingung. Meski Cakka sudah menunjukkan penolakannya, namun Anita tak bisa menghilangkan sedikit saja perasaannya pada lelaki tersebut.
“Kami nggak apa-apa kok, sayang,” ucap Cakka menenangkan wanita yang ia cintai itu. Cakka mengelus rambut Bella dengan sayang tepat di depan mata Anita. Lagi dan lagi Anita tersenyum miris. Apa lelaki itu sengaja ingin membuatnya cemburu? Jika memang iya, berarti lelaki itu sangat-sangat berhasil.
“Kamu sengaja mau buat aku semakin sakit?” tanya Anita tepat saat Bella pamit seperti biasanya.
Pergi bersama, tak meyakinkan mereka akan pulang bersama. Di tengah kegiatan, Bella pasti akan pamit terlebih dahulu.
“Nggak. Biasa saja,” jawab Cakka santai. Benar-benar sangat menganggap hal tersebut wajar bagi mereka.
“Jujur ajah, Cak. Kalo kamu pengen aku pergi. Maka, aku akan pergi,” ucap Anita final. Ia akan menuruti semua yang diinginkan oleh lelaki tersebut. Apapun itu, ia harus pergi memang. Ia juga tak pernah meminta kepada Tuhan untuk bersama dengan lelaki tersebut. Ia tak pernah meminta untuk jatuh pada lelaki sahabatnya.
Cakka tak menjawab, ia memandang Renita lekat. Mungkin mencari sebuah jawaban yang bisa membantunya agar tak akan ada rasa penyelasan di akhirnya nanti.
Jauhi aku.”
Hanya ucapan itu, Anita langsung mengangguk dengan pelan. Ia sudah menerima perintah. Perintah yang seperti sandi untuk penggerak hatinya.
Ia harus pergi dan menjauh.
Maka Anita pergi dan menjauh. Ia lah yang menjadi pihak tersakiti untuk kisah ini. Padahal ia belum merasa memulai, tapi ternyata ia harus mengakhiri kisah dari perjalanan hatinya.
Musim panas kemarin kini telah menjadi musim penghujan yang mulai menyapa bumi setiap saatnya. Selalu hadir tanpa izin. Sekan memberiathukan bahwa hujan akan selalu setia meski kehadirannya mungkin tak pernah disambut baik.
Begitu pun dengan Anita. Meski ia benar-benar pergi dan menjauh, namun semua alat inderanya seakan menolak. Ia masih menatap lelaki itu meski dalam diam. Selalu memperhatikan wajah Cakka tanpa sepengetahuan lelaki itu.
   Hingga Anita tahu. Dalam cinta ada pembuktian. Dalam cinta ada pengorbanan. Maka hal itulah yang menjadi pondasinya hingga dengan nekat ia mengorbankan sesuatu yang hanya ia miliki sekali dalam seumur hidup.
Bella datang padanya dengan wajah yang sudah berantakan dan sembab. Ini tak baik, dan seakan radar buruk telah menghantuinya Anita tak bisa menahan rasa sakit dalam hatinya.
“Cakka kecelakaan, Nit. Dia sekarang kritis di ICU. Ak—aku nggak tahu harus gimana lagi. Dokter bilang tulang ekornya mengalami benturan yang keras,” jelas bella dengan sesegukannya.
“Kemungkinan dia ak--- akan bu---ta, Nit,” lanjut Bella hingga tangisnya semakin pecah.
Anita sendiri hanya terdiam kaku. Semua organ geraknya seakan berhenti bekerja. Hatinya seperti diremas oleh sesutu yang tak kasat mata. Otakknya seakan tertimpa beton yang bertubi-tubi.
“Bawa aku kesana,” ucap Anita terakhir kalinya saat mereka memutuskan ke tempat dimana lelaki yang mereka cintai terbujur kaku dengan alat pernafasan yang melekat pada tubuhnya.
“Kamu nggak harus lakuin itu, Nit. Kamu nggak harus korbanin itu buat Cakka,” respon Bella saat Anita memilih sesuatu yang sangat berbahaya untuknya.
“Ini pilihanku, Bel.”
Hanya itu. Hingga kata terakhir itulah yang menjadi pengubah semuanya.
Cakka harus sembuh dan melihat pelangi setelah hujan.
“Sayang,” panggil Bella pelan dengan air mata yang menetes haru. Cakka-nya bangun setelah beberapa minggu koma dari operasinya.
Cakka tersenyum dan menatap sekelilingnya pelan. Ia baru saja bangun dari sebuah mimpi yang indah namun penuh dengan rasa penyesalan dan pengorbanan sekaligus.
Bel—la,”
Bella mengangguk kuat. Ia sangat bahagia. Cakka bangun, mengingatnya, dan sembuh. Namun raut itu perlahan berubah. Ia terdiam sendu. Cakka yang melihatnya mengernyit heran. Apa Bella tak menyukai kesembuhannya?
Hingga semua terjawab dari surat berwarna merah muda tersebut. Cakka tak langsung membukanya. Bella sendiri meminta agar lelaki itu membukanya setelah kepulangannya dari rumah sakit. Bella paham ada apa dengan sahabat dan kekasihnya sekarang. Ia merasa kecil karena bukan dirinya yang berkorban untuk Cakka, namun sahabatnya sendiri. Sahabat yang ia ketahui memiliki sebuah perasaan yang teramat besar untuk Cakka. Rasa malunya memang berhasil merajai hatinya, namun ia tak akan melepaskan Cakka. Itu pesan dari Anita, dan ia akan memegang pesan tersebut.

Dear Cakka, lelaki yang aku cintai selalu.
Aku pergi. Sesuai keinginanmu. Mungkin dulu aku masih bisa memperhatikanmu dalam diam. Maaf karena aku sempat ingkar. Hati ini selalu saja ingkar. Aku mencintaimu tanpa sebab yang jelas. Tak pernah terduga. Seperti awan di langit. Tak tahu artinya namun indah.
Aku pergi. Kali ini benar-benar pergi. Aku titip sesuatu yang mungkin tak seberapa. Namun bisa membantuku untuk selalu bersamamu. Pelihara jantungku agar selalu berdetak di dekat hatimu. Jagalah mata itu yang akan selalu menatap keindahan.
Salam,
Wanita yang mencintaimu dengan sangat.

Cakka terdiam kaku. Dia benar-benar terkejut. Cakka memegang dadanya, tepat dimana jantungnya berdetak dengan kencang.
“ Kamu kritis waktu itu. Dokter sudah memvonis kamu akan buta. Maka Anita dengan kenekatannya mendonorkan matanya. Aku sudah mencegah. Tapi kamu tahu bagaimana keras kepalanya dia.”
“ aku kira itu semua sudah cukup. Tapi semua itu ternyata nggak cukup. Jantung kamu mengalami kebocoran dan luka. Sehingga membahayakan kamu. Anita yang ingin kamu sembuh. Langsung mendaftarkan jantungnya buat kamu. Ia ingin kamu sembuh total tanpa cacat,” jelas bella dengan pandangan yang menerawang ke depan. Membayangkan bagaimana keras kepalanya Anita untuk Cakka.
“ aku juga sudah tahu tentang semua perasaannya. Dia mencintai kamu. Aku iri. Aku yang berstatus tunanganmu nggak berani berkorban sebesar itu. Tapi Anita benari. Dia mampu memberikan cinta terbaik kepadamu.”
“Maaf dan terima kasih,” ucap Cakka pada tumpukan tanah yang masih dipenuhi oleh bunga-bunga segar diatasnya.
“Terima kasih atas cinta terbaik ini,” ucap Cakka dan meletakkan bunga melati dan juga dandelion di atas makam tersebut.
Karena beberapa orang berkata bahwa cinta tak harus memiliki. Maka, Cakka paham sekarang. Ia memang mencintai Bella, namun perempuan bernama Anita mengajarkan hal lain dari sebuah cinta. Ia mengajarkan bahwa cinta itu sesuatu yang tak selalu bisa diucapkan dengan lisan, tak selalu bisa ia genggam dengan tangan. Kadang cinta hanya bisa kita lihat dari binar mata, bisa kita genggam dengan kekosongan dan kita buktikan dengan pengorbanan. Itulah Cinta.


Probolinggo, 31 Maret 2018



Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...