Dan biarkan aksara-aksaraku menatap dalam keabadian. Biarpun raga dimakan ulat-ulat tanah, aksaraku tetap melangit
Showing posts with label Acara Bedah Buku. Show all posts
Showing posts with label Acara Bedah Buku. Show all posts
Dan Biarkan, Kami (Perempuan) Memesan Takdir
Tepat pukul 14.00 WIB, ternyata lagi-lagi Probolinggo memberikan sebuah acara besar di Dunia Literasi. Probolinggo yang memiliki sebuah organisasi literasi daerah yaitu Komunlis berhasil mengisi Hari Kartini kali ini dengan sesuatu yang indah dan pastinya lebih bermanfaat.
Sukses dengan acara-acara sebelumnya, Komunlis (Komunitas Menulis) mengundang seorang penulis muda bernama W Sanavero. Perempuan kelahiran Blora, 17 Januari 1995, seorang perempuan yang kini sedang sibuk melakukan booktour album prosanya yang berjudul, Perempuan Memesan Takdir".
Dalam album prosa yang sangat manis ini memang menceritakan bagaimana perempuan-perenpuan dalam album ini berinteraksi dengan kekasih, keluarga, masyarakat dan hubungan dengan Tuhan.
Pembawaan yang apik dan unik menjadi ciri khas dari album ini. Pengungkapan fakta-fakta yang sebelumnya telah melakukan riset selama setahun lebih menjadikan karya ini sangat bagus dan 'Wow'.
Bahkan menurut Penulisnya sendiri, semua karya di dalam album prosa ini adalah pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi di sini bukan hanya dialami oleh penulis sendiri, namun juga sekitarnya yang menjadi proses kreatif dalam pembuatan album prosa ini.
Kedatangan penulis sendiri ke Probolinggo, memang tanpa sengaja memiliki moment yang pas sesuai dengan judul album prosa ini. Hari Kartini dan Perempuan yang Memesan Takdir. Bahkan dari banyaknya pengunjung kali ini, perempuan memang mendominasi. Sehingga, para pemantik diskusi, moderator bahkan Narasumber bisa secara gamblang memberikan pesan dan kesan kepada perempuan sesuai dengan album prosa ini.
Pengunjung yang sebagian besar adalah pelajar, membuat para pemantik, moderator bahkan narasumber berhati-hati dan memilah kata untuk mengungkapkan isi album tersebut. Album Prosa yang memang disajikan untuk usia 18+, hingga dalam penyampaian harus lebih diperhalus lagi. Namun, semua kembali pada pembaca. Seperti yang dikatakan Sanavero, setelah buku-buku ini dicetak, maka buku tersebt bukan miliknya lagi. Layaknya anak, mereka akan menemukan orang tua baru dimana orang tua baru itulah yang akan menyikap anak-anaknya. Bagaimana pembaca akan menyikap album Prosa ini ke depannya. Apakah hanya menjadi kata dan frasa, atau dijadikan pegangan dan kekuatan untuk bertindak ke depannya.
Acara terakhir dari Komunlis ke #5 ditutup dengan edisi foto bersama penulis. Selanjutnya, harapan yang mungkin tak tersampaikan secara tersurat, namun tersirat adalah harapan semoga dengan rentetan acara yang telah dilewati ini, bisa dijadikan pendorong/motivasi bagi semua teman-teman yang sudah datang maupun tidak agar bisa lebih berani mengutarakan gagasan, dan tampil 'unik' tanpa rasa terkekang sama sekali. Carilah diri kita sendiri agar kita bisa lebih berekspresi lagi. Tak ada yang bisa menjatuhkan kita, bahkan diri kita sendiri. Bila kita tak memiliki kaki, biarkan tangan yang menjadi penonggak. Bila kita kaku tak bisa bergerak, biarkan aksara kita yang melangkahi Dunia.
Selamat Hari Kartini bagi wanita-wanita Hebat di seluruh Dunia.
Di tanganmu tergenggam takdir yang suci dan indah.
Probolinggo, 21 April 2018
Bedah Buku 'Tanjung Kemarau" karya Royyan Julian
Tepat hari Sabtu, 10 Februari 2018 di Pelantaran Togamas Probolinggo tengah ramai oleh muda-mudi Probolinggo. Dari jam 10.00 WIb, sudah nampak beberapa bazar yang memenuhi pelantaran tersebut. Beberapa diantaranya menjual baju-baju asli Probolinggo, buku terbitan lokal, dan aneka makanan. Sebenarnya hari ini bukan inti dari Bazar itu yang akan saya bahas. Namun, lebih ke acara inti, yaitu Bedah Buku karya salah satu penulis hebat Royyan Julian. Beliau lahir di Pamekasan, 3 Juli 1989. Memiliki Profil yang sangat mengagumkan dan bisa dijadikan contoh bagi kami semua khususnya yang sudah hadir dalam acara tersebut.
Acara yang disusun oleh salah satu komunitas di Probolinggo, KOMUNLIS. Komunitas menulis tersebut dengan sangat bangga mengundang Royyan Julian untuk membedah salah satu bukunya yang berjudul, Tanjung Kemarau yang terbit 2017 oleh Grasido. Novel yang berkisah tentang lokalitas Madura. Dalam novel tersebut bahkan di bahas beberapa mitos, perjalanan politik, agama dan surah, hingga kepedulian masyaraat setempat etrhadap ekologi.
"Saya baru tahu jika sapi yang mengikuti kerapan harus ditusuk dengan paku," ucap Kak Yetti selaku moderator dalam bedah buku tersebut.
Dalam penjelasannya, Kak Royyan menjabarkan beberapa realita yang berada dalam lingkungannya. Alur yang apik dan mengesankan membuat kita tak akan bosan untuk mebacanya. Seperti yang dikatakan penulis, Novel tersebut bermain alur dimana seakan tokoh dalam setiap bab ingin menjadi tokoh utama.
Dalam kesempatan bedah buku tersebut, beberapa peserta bahkan bertanya dengan sangat antusias dengan kehadiran novel tersebut. Mungkin penasaran dengan sosok Walid, Lokalitas Pamekasan yang kental dalam novel tersebut, pemilihan tokoh utama yang seorang guru, hingga pertanyaan tentang riset dan kendala dalam membuat novel tersebut.
"Menulis itu berdarah-darah," ungkap Kak Royyan Julian saat ditanya tujuan beliau menulis. Apakah untuk kesenangan diri sendiri atau pembaca dan bagaimana bila banyak kritik yang masuk.
Kak Royyan dengan senyumnya menjawab bahwa penulis memang membutuhkan kritikan dalam karyanya. Karya yang hebat, ialah yang mendapatkan Apresiasi dari pembacanya. Entah baik atau buruk.
"Memiliki target mmebaca 120 buku selama 2017, namun sayang, saya hanya bisa membaca 108 buku," sesal Kak Royyan saat ia menjabarkan kunci dia menulis. Dengan gamblang kak Royyan berkata bahwa jadilah pembaca yang hebat agar bisa menjadi penulis yang handal.
Diperujung acara, ditutup dengan pembagian doorprize bagi peserta teraktif dan sesi foto bersama. Disitulah saya sebagai peserta Bedah Buku memiliki kesempatan foto bersama dengan Kak Royyan Julian sekaligus berbagi tips dan pesan singkat dalam menulis.
Petang pada Malam Minggu yang sangat berfaedah dan mengesankan bersama KOMUNLIS, Kak Royyan Julian, dan para bibit penulis dan pejuang literasi lainnya.
Next Time, akan ada bedah buku tentang salah satu buku hebat lainnya di tempat yang sama, dan insya allah tak akan kalah meriah.
Untuk Kak Royyan Julian, terima kasih ilmu dan semua saran yang bermanfaat hari ini
Komunlis, tempat yang mewadahi literasi daerah
dan Semua Peserta yang akan menjadi bibit-bibit kesuksesan dimasa yang akan datang.
All Photos By Kak Yetti
Salam Literasi semua,
Nay
Subscribe to:
Posts (Atom)
Resensi Novel Ikan Kecil
Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul : Ikan Kecil Penulis...
-
Dok. Radar Mojokerto, 2 Februari 2020 Ketangguhan Para Anak Badai Judul : Si Anak Badai Penulis ...
-
Judul : Raja Ratu dan Rahasia Sutradara : Findo Purwono HW Penulis : Wulanfuadi & Haqi Ach...
-
Doc. Radar Cirebon Minggu, 12 Januari 2019 sumber. Footo by Faris Al Faisal Pembunuhan Mematikan dari Dasar Laut Judul ...





