Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Puisi Kenangan

Kenangan

Aku masih di sini
Dengan debur ombak yang membawa kenangan menepi
Membawa risalah yang tak usai kumengerti

Probolinggo, Maret 2020

Puisi-Puisi Hujan



Sebelum Hujan Reda
Yani

Kenanganya masih mengenang
Melekat bagai tubuh dan kepala
Ada rintik di kolong bumi
sedang matahari terus bersembunyi


Ada cinta yang terhianati
sebelum pesta usai, hujan melanda
membangkitkan sebuah asa yang terasa
Hingga di detik detak

Hujan belum reda
Probolinggo, 16 Januari 2019


Puisi Lama

Yani, Just it


EGOKU

Yani

Sempat kita berbincang saat mentari malu-malu di ufuk barat. Mengintip dengan mesra tak kala kita terfokus pada titik pembahasan.

"Aku adalah perempuan teregois, kak!" Seruku padamu.

Aku ingin menciptakan sebuah pertengkaran kecil yang ku pantik dari ujung senyummu. Namun semua tahu, kau cukup dewasa 'tuk tersulut.

Aku ingin merangkai hati dari awan-awan mendung yang dijauhi para burung jantan. Kau menolak. Menyuruhku membangun hati dengan aurora-aurora yang indah. Berharga, tak semua orang dapat menyentuh.
Aku tergelak dengan kencang. Menggeleng kepala bukti menolak.

"Tidak, Kak. Aku tidak mau menjadi hal yang indah. Karena aku buruk. Egoku menjadikannya buruk," ungkapku.

Kali ini kita terdiam. Saling mengecup perbedaan yang terbentang. Egoku dan egomu, sama.
Melucuti ego masing-masing pun kita enggan. Ego layaknya sarung yang terpakai saat kita di Gunung Bromo. Penghangat kala dingin.

Sedangkan cinta, hanya terucap di atas ranjang. Kala kita bergerumul dengan peluh-peluh tak terhitung. Meneriakkan nama di atas dosa-dosa malam. Dosa yang setelahnya memaksa kita bertaubat.

Aku egois, kakak!
Karena aku tak membiarkan cinta hilang
Mengulang lagi dan lagi kesalahan terindah
Hingga berharap, Neraka pun ada kita di sana


Semakin Luka Di sini




Karya. Yani

Semakin menganga luka semalam
Tangis-tangis yang tak lagi lirih
Bersautan dengan hati yang menjerit lara
Kekecewaan semakin menganga perih

Dendam-dendam bagai ayat yang kurapalkan
Berniat dalam hati 'tuk menjauh saja
Pun dengan hati yang kuhipnotis tuk membatu
Anggap dia sebagai angin lalu

Namun, luka tetap luka
Semakin kurasakan, perih mendera
Duka luka akan selalu terasa
Karena dia yang semakin timbulkan lara

Probolinggo, 01 05 2018

Tersenyumlah

Hasil gambar untuk senyum lelaki tuhan

Tersenyumlah
pada imaji-imaji yang datang saat rembulan menyapa
pada lirihan angin yang menyapa sebuah duka
tangisan pilu para wanita kenangan
menampar kenyataan dengan sebuah kepupusan
Tangis itu tak guna,
hanya anginan pada topan, menyakitkan dan bahaya
pun dengan doa-doa yang terpanjat lirih pada kebisuan
tak terdengar namun menembus langit dan ketidakpastian


Probolinggo, Februari 2018

Selasa

Ombak
:tepian laut Asa

Bagaikan ombak yang menderu
Menubruk batuan dengan sangat kasar
Bising-bising yang mulai memekin telinga
Menggigilkan tubuh dengan hembusan asa


Cinta yang Hilang
:Kekasih Pecundang

Dia pecundang dalam rasa
menari dalam benak lantas hilang
kecup, peluk pun bahkan hambar
ia genggam benang merah lantas putuskan
bersua dengan melodi-melodi bangsat yang sangat manis
beralibi baik dan tak ingin bersama
hilang bagaikan buih pada renjana


Puisi tak Berjudul
:Pada bait tak bertuan

Bait-bait tak bertuan
menari dalam angan yang melambung
hilan terhempas pada asa yang kuat
imaji-imaji yang merembes pada tampias hujan
hilang hingga semua menghilang




Puisi Tak Berjudul

Pelan melangkah dalam sunyi
Melirihkan harap tanpa wujud
Semua seakan tertelan pekatnya zaman
Tak boleh bermimpi, itu teriaknya
Semua hitam dan putih
tak ada jingga selain senja
tak apa semburat merah selain fajar
suka duka terasa hambar
berdiam dan kau akan hidup

Muneng, 13 Januari 2018

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...