Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Alasan Menjadi Anggota FLP!




"Rumah bagi penulis adalah sebuah organisasi yang menjadi wadah sekaligus tempat belajar bersama." -Yani, FLP Probolinggo.



Seseorang mungkin bisa menulis sendiri, namun untuk menjadi seorang penulis, kita butuh teman, wadah, dan juga segala hal lainnya yang bisa membuat kita maju dan terus berproses. Tidak ada penulis yang langsung meraih kesuksesan dan berada di titik tertinggi tanpa melalui proses. Maka dari itu, seyogyanya kita belajar mencintai proses. Dan dalam proses tersebut, ada banyak penulis yang melaluinya dengan kisah masing-masing.
Forum Lingkar Pena adalah sebuah wadah sekaligus menjadi rumah untuk para penulis agar terus berproses, dan belajar hingga sukses dan menjadi penulis yang bermanfaat. Banyak teman, saudara, motivasi serta dukungan yang membuat kita bisa terus tegak dan kokoh dalam usaha kita menjadi penulis yang bermanfaat.
Dari sebuah artikel ini, saya akan memaparkan alasan-alasan yang membuat saya wajib bergabung dengan FLP terutama FLP Probolinggo.

1. Berawal dari Kegelisahan.

Minat baca memang sangat kecil, apalagi dengan minat menulis. Dari sini, saya berpikir bagaimana bisa saya meningkatkan minat baca kota (Probolinggo) agar lebih tinggi lagi. Dan karena saya sendiri memang menyukai dunia literasi sejak dulu, meski hanya membaca, saya pun mencari komunitas dan organisasi daerah yang bisa menjadi wadah agar membantu meningkatkan minat baca remaja. Saya ingin menjadi bagian untuk mendukung semua kegiatan literasi di zaman ini. Karena, kesadaran diri bahwa seseorang yang cerdas adalah mereka yang gemar membaca.
Secara global, FLP memang sangat sukses menjadi sebuah jawaban untuk meningkatkan minat baca dalam masyarakat.
2. FLP adalah wadah

Sangat banyak rintangan dalam menjadi penulis. Misal, patah semangat, malas, lelah, tidak ada ide, dll. Itu semua adalah kegelisahan lainnya yang sering dirasakan oleh penulis manapun menurut saya. Maka dari itu saya berpikir bagaimana caranya menghilangkan kegelisahan yang ini? Oh, iya! Saya harus memiliki teman sehobi dan sejalur dengan saya. Merekalah yang nantinya akan terus mendorong kita dan memberi Semangat. Selalu ada kata-kata, "sukses, ya!" , "jangan patah semangat!" , "gitu saja pasti kamu bisa, kok!" , "kami percaya sama kamu!" Dan banyak lagi kata-kata dukungan yang mau tidak mau memang sangat berpengaruh untuk kita semua. Akan ada saat di mana kita berpikir, "Oh, ya! Jika mereka percaya saya bisa, kenapa saya harus pesimis?"

Itu adalah pemikiran kenapa saya harus memiliki rumah (FLP) untuk menjadi tempat saya mencari semangat dan dukungan dari mereka.  Karena Kegelisahan itu tidak datang sekali dua kali. Kadang berkali-kali yang membuat saya semakin gencar bertukar pikiran dan meminta dukungan teman-teman.

FLP sebagai wadah juga mengenalkan saya kepada penulis-penulis lainnya. Mereka akan dengan senang hati bertukar cerita perjuangan mereka hingga bisa sampai di titik ini. Tidak ada yang instan di dunia ini, mie saja harus dimasak sebelum di makan. Apalagi menjadi penulis. Harus ada usaha dan pengorbanan di setiap langkahnya. Dari sini kita pasti akan semakin semangat setelah mnedapatkan pengalaman dari temna-teman yang seperti “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.”

3. Luruskan Niat, Berikan Manfaat.

Jika ditanya apa yang harus dimiliki penulis saat pertama kali ia menulis, pasti jawabannya adalah niat. Apa niat kita menulis? Sebelumnya, mungkin saya tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk. Niat saya hanya untuk menulis saja. Hingga saat saya mulai tergabung di FLP, saya paham niat menulis saya masih belum benar. FLP mengajarkan kita menulis untuk berbagi manfaat untuk sekitar. Seperti yang kita tahu, dengan tulisan, kita seakan hidup dalam keabadian. Dengan tulisan, kita menembus ribuan kepala untuk berbagi kebaikan dan manfaat. Karena itulah, adanya FLP benar-benar membantu saya untuk terus membenarkan niat dan beribadah lewat tulisan.

4. Pengalaman, Pelajaran, sekaligus Pengetahuan

Forum Lingkar Pena juga memberikan saya pengalaman dalam berorganisasi di masyarakat. Mereka memberikan saya kesempatan untuk ikut aktif bergabung dalam segala acara yang dilaksanakan. Banyak acara yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena yang semakin menambah pengalaman saya, sekaligus menjadi ide dan pondasi untuk saya terus menulis.

Pelajaran. Di sini banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Cara menyikapi diri, cara menulis yang baik, dan seperti apa tulisan bermanfaat itu, dan juga menjadi motivator untuk orang lain agar tidak patah semangat.

Pengetahuan. Forum Lingkar Pena bukan hanya memiliki penulis Fiksi. Ada banyak penulis non fiksi yang tergabung  di sana. Dari hasil karya mereka lah saya mendapatkan sebuah ilmu baru dan pengetahuan lainnya. Saya tidak selalu hidup dalam dunia imajinasi (fiksi), namun juga menyeimbangkannya dengan dunia riset dan ilmiah.

5. Saudara

Ada yang beda dengan pergaulan di Forum Lingkar Pena. Apa? Persaudaraan yang terjalin. Kita sama-sama saling mengingatkan tentang agama dan syariat Islam. Jadi, FLP bukan lagi hanya tentang Menulis, tetapi tentang berdakwah lewat tulisan. Seperti sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Atau sembari menyelam, kita minum air. Maka, selagi belajar menulis, kita juga belajar keagamaan.

Mungkin itulah beberapa alasan kenapa saya memilih FLP sebagai wadah yang wajib saya ikuti. Karena menulis bukan lagi tentang membuang kegelisahan, namun juga tentang berbagi manfaat, berdakwah lewat tulisan. Jadi, bagi teman-teman yang belum tergabung, saya ingatkan untuk segera bergabung. Dan bagi yang sudah bergabung, salam literasi untuk kita semua!

“Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22Th” Blogger FLP



Probolinggo, 25 Maret 2019






Yuk, Meresensi!




Hai, selamat malam!
Kali ini aku mau berbagi tentang Menulis Resensi.
Apa saya sih cara-cara atau step-step menulis resensi?
Jadi, Yuk, langsung saja!
Step-step Resensi buku!
1.      Pilihlah buku yang akan di resensi
Teman-teman, memilih buku yang diresensi ini sangat penting untuk kita. Kenapa? Karena ini adalah penentu resensi kita ke depannya. Misal, aku memilih novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer karena novel ini kembali booming di akhir tahun 2018 karena isu film yang diadopsi dari novel ini. Contoh lain adalah aku meresensi sebuah buku yang baru saja lahir dan tersebar di pasaran. Jadi, kita nggak sembarang meresensi sebuah buku. Apalagi jika meresensi untuk kepentingan di koran atau media lainnya. Pastilah harus buku-buku yang sedang marak dipasaran dan terbaru atau buku tersebut sedang booming  di era kini.
2.      Membacalah secepat mungkin, tetapi tetap bisa mengambil intisarinya.
Nah, loh! Di sini biasanya kita harus membaca secepat yang kita bisa. Kenapa? Karena dalam meresensi, waktu yang lama dalam membaca kurang efektif. Membaca dalam satu kali duduk (read. Satu waktu) akan membuat kita masuk ke dalam alur, dan menghindari ‘lupa alur’. Batas baca berapa hari? Maksimal 3 hari. Loh? Cepet, ya? Coba lihat saja system Ipusnas. Di sana kita bisa belajar cara membaca yang cepat, karena batas peminjaman hanya tiga hari. Setelahnya, buku akan otomatis kembali dan kita bisa pinjam lagi saat buku tersedia atau sudah dikembalikan oleh user lain.
3.      Menulis Identitas Buku
Judul                                  :
Penulis                               :
Penerbit                             :
Terbitan                             :
Jumlah Halaman                 :
ISBN                                  :
Peresensi                            :
4.       Memilih Judul yang Menarik
Dalam sebuah resensi, judul adalah sumber kekuatan resensi kita. Seperti apa judul yang menarik itu? Jelas memikat pembaca. Sama seperti kita membuat sebuah artikel di UC News, jelas bila judul tidak menarik, konten kita tidak akan disentuh oleh mereka. Benar, kan? Contohnya? Misal di resensi buku yang pernah aku buat, yaitu : Pengorbanan dan Nasionalisme di Tanah Seberang, Menterjemahkan Kesunyian pada Wanita, dll
5.       Menulis hal-hal yang menarik
Ini sama halnya dengan quotes buku tersebut. Quotes tersebut harus menunjang judul resensi yang teman-teman buat.
6.       Memilih Media yang Sesuai.
Di internet sudah banyak sekali alamat media yang bisa teman-teman dapatkan untuk pengiriman resensi. Jadi, tidak perlu bingung hanya untuk mencari alamat media. Dan jangan biarkan resensimu hanya mengendap dalam draft laptop.
7.       Semangat dan terus Mencoba
Jangan karena sekali tolak, teman-teman langsung down dan menyerah untuk mengirim resensi. Coba lagi dan lagi. Dan tetap semangat lagi, ya!

Oke. Itu hanya sedikit step yang bisa aku berikan sedikit untuk teman-teman. Jika nanti ada pertanyaan, bisa langsung tanya di kolom komentar. Jangan malu-malu, ya! Aku baik kok hehhe

Salam.

Probolinggo, 25 Januari 2019


Perjuangan di HR kelas RC


Hai, selamat siang.

Sebenarnya ini adalah postingan yang teramat terlambat. Bagaimana tidak? Seharusnya aku mengumpulkan kesan dan pesan ini Minggu lalu. Namun, karena something yang tidak dapat dihindari, aku baru posting sekarang. Jelas dengan coretan sistem Kebut sehari.


Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih pada Kak Rhozy dan kak Rizal yang telah membersamai kami semua di RC kelas HR. Alhamdulillah, kami bisa lolos di hari ke lima puluh meski dengan nyawa (read. Peringatan) yang bikin ngeri.

Kesan selama di kelas RC. Seru. Jelas. Dari sini yang kadang bikin kesel sendiri adalah buku bertema yang jelas-jelas sangat jauh dari kecintaan saya. Ilmu filsafat, sejarah dan tokoh-tokoh. Ini benar-benar hal yang tidak begitu saya pahami. Hingga muncullah peringatan dari wali kelas.


Kesan kedua. Dari kelas ini aku kembali mengenal teman baru dan juga ilmu barunya.

Pesan untuk RC kelas HR. Semoga RC ini bisa terus berjalan dan semakin menatang untuk siapapun. Semakin bermanfaat dan membantu membudayakan minat baca.

Sedikit itu saja yang saya sampaikan. Terima kasih semua.
Selamat tinggal RC kelas HR (bila diperbolehkan)
Selamat datang tantangan baru.
Dari aku, Yani untuk semua



Probolinggo, 23 Januari 2019

WiCha dan Segala Kenangan




Selamat siang! Kali ini aku nggak sedang menulis puisi, resensi atau cerpen seperti biasanya. Siang yang kebetulan sedang mendung di Probolinggo, aku akan bahas tentang kenangan. #janganbaper

Kenangan dan kesan selama mengikuti WiCha. 

Oke. Mengikuti kelas Wicha sejak Premier, Junior, Senior hingga Super jelas memiliki kesan tersendiri bagi saya. Dari yang lupa update, dikejar tema, tantangan kirim media, dan teman-teman baru dari FLP se-Jatim. Ini adalah hal yang tak akan bisa dilupakan dengan mudah. Bagaimana kami yang saling bergurau kala ada yang lupa update, dll. 

Kita belajar berani. Ini adalah poin penting di WiCha. Kita bukan hanya menulis dan disimpan sendiri. Namun, juga mengirimkan ke media dan menulis dengan tantangan tema yang disediakan. Hmm, ini adalah hal yang membuatku tertantang .

Pesan untuk Program WiCha.

Semoga WiCha ini akan terus berjalan dengan lancar bagi teman-teman. Manjadi wadah kita semua untuk rutin menulis hingga melahirkan karya-karya yang bermanfaat. Amin

Semoga apa yang kami dapatkan tidak berhenti di sini. Di depan sana, masih ada jalan panjang untuk kita menulis, menulis, dan menulis. 


Karena menurut Pramudya, 'menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Terima kasih untuk seluruh teman-teman yang membersamai dalam belajar menulis bersama. Untuk Pak Angga sebagai wali kelas dan juga kepala dari WiCha. Dan untuk Forum Lingkar Pena yang memberi wadah untuk kami. 



Probolinggo, 21 Januari 2019 

Andai Menunggu seenak Mengantri Bakso Solo.

Yani, Just it


Probolinggo tempo sekarang, di mana banyak sekali gerobak bakso berkeliaraan. Bahkan dibeberapa simpang jalan juga mulai tercecer penjual bakso yang dengan mudah kita temui. Dari harga yang terjangkau, hingga harga yang bisa dibilang fantastis.

Aku mulai mengenal Probolinggo dan baksonya saat usia dua belas tahun. Saat dengan murah hatinya, seorang guru mengajakku menyantap semangkok bakso dengan gerobak bertulis 'Bakso Solo'. Hal pertama yang terlintas dalam benak adalah, "wah, tanpa ke Solo aku sudah bisa makan baksonya." Sungguh naif dengan pemikiran seperti itu.

Namun, kawan! Di sini aku tak mau bercerita tentang bagaimana rasa baksonya, seberapa besar bakso tersebut, atau harganya. Di sini aku ingin menceritakan perihal menunggu. Menunggu bakso yang masih mentah hingga matang. Hal inilah yang menjadi filosofi ku.

Kalian tahu arti dari menunggu? Menunggu adalah bersabar karena sesuatu yang terbaik tengah disiapkan. Sama halnya saat aku menunggu bakso, aku bersabar menunggu hingga bakso bisa siap kita santap. Bagaimana bila kita tidak sabar? Maka bakso tidak akan dihasilkan dengan sempurna. Bisa jadi setengah matang atau malah mentah.

Begitulah hidup kawan! Kita menunggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan terburu-buru dalam menginginkan sesuatu. Ada kalanya kita harus duduk, mengamati dan meresapi bagaimana lingkungan kita berjalan sembari menunggu tersebut

Aku berbicara, andai menunggu seenak mangantre bakso Solo, jelas semua orang akan menunggunya sembari mengobrol dengan teman, berbincang-bincang, melihat bagaimana bakso di masak, atau menhirup aroma bakso yang tercium. Nah, kenapa dalam menunggu sesuatu kita tidak bisa seperti itu. Misal, kita menunggu datangnya cinta. Mengeluh, ingin cepat datang, bahkan menghujat pada semesta. Dan saat semesta lelah mendengar keluhanmu, datanglah cinta. Dan terima saja bila cinta itu seperti bakso yang masih setengah jadi atau bahkan mentah.

Jadi, itulah filosofi yang harus aku terapkan dalam hidup. Kenapa aku memilih bakso Solo? Karena dibalik rasanya yang enak, bakso Solo memiliki kisah lain di dalamnya. Tersimpan haru, arti hidup dan lain sebagainya.

Probolinggo, 04 12 2018

Pesan dan Kesan Mengikuti Wicha FLP se-Jatim




Tergabung dalam organisasi Forum Lingkar Pena Probolinggo jelas adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Dalam hati saya berniat untuk turut andil dalam acara dan kegiatan yang diadakan oleh FLP tersebut. 

Hingga saat beberapa kali aktif dalam kegiatan FLP Probolinggo, ketua FLP Probolinggo yang saat ini adalah Kak Rully memberikan informasi terkait adanya program WiCha (Writting Challenge) dan RC (Reading Challenge). 

Mengingat saat itu saya sedang fokus menulis dan jadwal membaca belum beraturan, saya putuskan untuk mengikuti WiCha. Pertama kali di mana perjalanan dalam tantangan menulis di WiCha dimulai.

Beberapa kelas dan cerita suka duka di kelas tersebut.

1. Premiere WiCha : kelas pertama yang menyapa di WiCha. Dengan waktu 30 Hari di mana setiap hari diwajibkan setor jumlah kata yang ditulis, saya merutinkan diri untuk menulis dan setor. Karena dilihat dari beberapa pengalaman teman sekelas, mereka rutin nulis, tapi lupa setoran. Dengan wali kelas Bu Sridaningsih, di sana saya lebih mengenal teman-teman FLP se-Jatim dan sekaligus teman baru

2. Junior WiCha (Kelas Kedua). Kelas ini cukup menantang. Dengan jangka waktu 40 hari, di mana setiap 8 hari diharuskan menulis tulisan bertema baik berupa puisi, cerpen, artikel, dll. Dari kelas ini pun saya belajar menulis artikel, karya yang belum saya kuasai.

3. Senior WiCha (Kelas Ketiga). Kelas di mana saat ini saya berada dan bersiap-siap untuk naik kelas (amin). Dengan jangka waktu 50 hari di mana jumlah kata yang disetor tiap hari pun lumayan banyak, 700 kata. Dengan tantangan tambahan setiap 7 hari sekali membuat tulisan bertema dan mengirimkan karya ke media baik cetak maupun online. Tantangan di sinilah yang menurut saya berhasil membuat saya panas dingin. Karena di kelas ini, selain dari 3 peserta dan tersisa saya sendiri, tema yang diangkat lumayan berat dan kadang harus rela saya lewati. Detik-detik berjuang sendiri yang harus segera saya akhiri. Berjuang sendiri rupanya sangat sepi. 

Kelas selanjutnya, masihkah bisa bertahan? Why not. Kelas Super WiCha, tunggu saja! 

Semoga program WiCha ini terus berjalan dan semakin bisa membantu penulis untuk merutinkan diri menulis setiap hari. Saya pribadi memang sangat terbantu dengan adanya kelas WiCha ini. Karena baik beberapa novel dan Cerpen yang saya terbitkan adalah hasil rutin nulis baik di WiCha dan sebelumnya. 


Inilah kesan dan pesan yang saya alami selama di WiCha. Semoga ke depannya dengan tantangan baru dan lebih menantang, saya bisa menjadi alumnus WiCha dengan lancar. Dan ada baiknya jangan sampai tertinggal kelas meski hanya sekali. 

Stop Bullying!

Yani, Just it

Stop Bullying!

Sikap pembulian akhir-akhir ini memang sangat marak diberitakan oleh beberapa media. Bukan hal baru lagi saat berita menayangkan korban pembulian yang mengalami kekerasan fisik maupun mental. Lebih mirisnya lagi adalah, pihak yang melakukan pembulian adalah anak-anak remaja yang bahkan masih memakai seragam sekolah. 

Bahkan Masa Orientasi Sekolah pun di jadikan sebagai waktu paling pas untuk melakukan pembulian. Pihak-pihak yang merasa senior akan mengerjai siswa-siswa baru demi kesenangan dirinya. Hingga berujung pada kekerasan fisik yang fatal. 

Salah satu kebudayaan yang sangat susah untuk dihilangkan. Bahkan pihak sekolah seakan juga tak bisa berbuat lebih banyak selain menegur beberapa siswa. 

Menurut saya, pembulian bisa diatasi dengan sikap 'berani melawan' oleh korban. Pihak yang merasa menjadi korban harus memiliki sikap berani dan bela diri untuk melawan tindak pembulian tersebut. 

Sedangkan bagi pihak pelaku. Seharusnya mereka lebih bisa menjaga sikap dan berpikir panjang tentang akibat perlakuan mereka yang tidak benar. Mereka harus memiliki empati yang besar dan rasa kasihan pada korban-korban yang menjadi sasaran mereka.

Marilah kita hidup rukun tanpa tindak kekerasan. Baik fisik maupun mental. Bila sejak kecil sudah ditanamkan sikap kriminalitas, bagaimana saat dewasa nanti? Apakah mereka bercita-cita menjadi penjahat?

Manusia yang cerdas adalah manusia yang selalu berpikiran panjang dan memiliki hubungan baik dengan sekitarnya. Stop Bullying, Now! 

Bulan Bahasa Tahun ini, Meriahkah?

Yani, Just it

SMAN 3 Probolinggo, sekolah negeri yang berlokasi di Jl. Jeruk 66-68, Wonoasih. Sekolah yang lebih umum disapa SMAGA. Setiap tahunnya SMAGA akan selalu merayakan Bulan Bahasa sebagai pesta kecintaan kita terhadap keanekaragaman Bahasa.

Bulan bahasa yang direncanakan pada akhir bulan Oktober itu masih menjadi rahasia bagi para penghuni Sekolah. Hanya saja beberapa siswa berharap kerja Tim OSIS lebih memeriahkan Bulan Bahasa kali ini. Bila mungkin harus lebih meriah dari Bulan Bahasa dua tahun lalu yang mengundang Sekolah SMP/SMA sekota-Kabupaten Probolinggo untuk bergabung di SMAGA dan melaksanakan serangkaian acara yang sudah disusun.
SMAGA yang dua tahun lalu menjadi tuan rumah untuk acara tersebut banyak menuai pujian dari khalayak umum. Beberapa acara yang menatang hingga menghibur benar-benar memikat bagi para peserta.
Ada pidato Bahasa Inggris, Penulisan Huruf Jepang Katakana, Teater, Tes Bahasa Jepang serta penampilan Anime dan juga karaoke. Serentetan acara yang digelar dari pagi hingga sore itu benar-benar membuahkan hasil yang menakjubkan. Semua tamu dan peserta pulang dengan wajah puas yang nampak jelas. Lantas, bagaimanakah Bulan Bahasa Tahun ini?
"Semoga Bulan bahasa tahun ini lebih meriah lagi dan bisa mengundang sekolah lain agar bergabung dan berpesta di bulannya berbahasa ini," ucap seorang siswa yang kini tengah duduk dibangku akhir sekolah.

Probolinggo, 16 10 18.

Ibadahku hanya Untuk-Mu, Ya Rabb

Yani, Just it


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]

Dalam surah tersebut, telah ditegaskan bahwa Allah SWT tidak menciptakan makhluknya selain untuk menyembah kepada-Nya. Mendekatkan diri pada siapa yang menciptakannya.

Bagaimana cari kita mendekatkan diri kepada Allah SWT? Beribadah. Jelas kita harus beribadah agar kita bisa lebih dekat dengan siapa pencipta kita.

Menurut bahasa, Ibadah adalah tunduk, berserah diri. Sedangkan menurut terminologi, ibadah adalah taat kepada perintah Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya.

Apa-apa saja perintah Allah SWT tersebut? Semua telah dijelaskan di Al-Quran. Bahkan saat kita menempuh pendidikan di TPQ atau madrasah, kita telah diberi pengetahuan apa-apa saja yang harus dilakukan sebagai bentuk taat kita kepada Sang Pencipta.

Ibadah pun tak hanya langsung beribadah semau dan sesuka kita. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam beribadah agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan pastinya bermanfaat untuk kita. Misal:

a. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.

b. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Bila kedua hal tersebut dilakukan, yakinlah Ibadah kita pasti diterima oleh Allah SWT.

Apa kegunaan Ibadah? Mengapa kita harus beribadah? 

Saya rasa akan banyak pihak yang bertanya-tanya tentang hal tersebut. Tak terkecuali juga saya. Namun, sebagai makhluk yang cerdas dan berpikir kita diharuskan untuk menggali sebuah kebenaran. Mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaan. Bukan hanya membiarkan saja pertanyaan-pertanyaan tersebut tanpa tanggapan.

Bila saya jabarkan sedikit -Karena seyogyanya sangat banyak. Beberapa mengapa kita harus beribadah kepada Allah SWT adalah :

1. Bentuk syukur karena kita tlah diberi sebuah kehidupan hingga kita bisa merasakan kenikmatan dunia

2. Mendekatkan diri kepada sang Pencipta.

3. Menentramkan jiwa dan raga dari segala masalah yang kita hadapi.

4. Sebagai tempat curhat kala kita sendiri dan lelah menjalani masalah yang berbelit. Percayalah, semakin kita berinteraksi dengan Allah SWT, masalah akan cepat terselesaikan

5. Meminta pertolongan. Karena hanya Allah SWT lah yang sedia membantu kita 24 jam tanpa henti kala kita kesulitan. Saudara bahkan kerabat saja memiliki waktu tertentu yang tak bisa kita ganggu padahal kita sedang butuh pertolongan. Maka, bersujudlah dan minta kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan membantumu.

Ini hanya beberapa hal yang mampu saya jabarkan. Sebenarnya sangat banyak sekali manfaat dari ibadah kepada Allah SWT.

Pertanyaan terakhir adalah, bagaimana cara kita meningkatkan ibadah kala kita malas?

Ingatlah. Setan memang selalu ada di samping kita. Berjalan bersamaan dengan segala apa yang kita lakukan. Bila kita hanya diam dan membiarkan setan bersama kita, maka selamanya kita akan berteman dengan setan.

Beberapa tips yang mungkin bisa saya berikan pada kali ini, misal:

1. Perkuat Niat. Semua hal yang kita lakukan harus disesuaikan dengan niat. Niat adalah awalan, permulaan dari sikap. Niatkan ibadah kita hanya untuk Allah SWT. Niatkan untuk mendapat ridha-Nya

2. Ingatlah tentang segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya pada kita. Layaknya penjual dan pembeli. Saat pembeli memberikan barang olahannya, maka penjual wajib membayar. Sama halnya dengan kita. Allah SWT sudah berbaik hati memberikan segala kenikmatan-Nya untuk kita.

3. Hindari rasa malas dengan meningkatkan sikap disiplin. Jangan menunda-nunda ibadah agar kita tidak terbiasa molor hingga akhirnya lupa.

4 mulailah dengan hal kecil yang dapat kita lakukan. Sekecil apapun ibadah kita, peecayalah!! Allah SWT selalu menghargai usaha dari hamba-Nya.

Sekian ini yang bisa saya jabarkan pada malam hari ini. Semoga apa yang saya tulis hari ini bisa bermanfaat bagi semua pembaca sekaligus teman semua. Ke depannya, saya harap bisa menulis hal yang lebih bermafaat lagi dari ini. Amin.


Sumber Referensi


Seputar Menulis dan Penulis

Yani, Just it


Beberapa waktu terakhir ini, kesibukan saya berubah. Dari menulis novel/cerpen menjadi peresensi sebuah buku karya teman-teman penulis. Jelas ini adalah suatu kehormatan bagi saya karena bisa secara langsung menikmati karya teman-teman seperjuangan. Dari beberapa teman dengan bermacam-macam penulis, mulai dari Indie, Mayor atau self publishing ini, saya belajar banyak sekali ilmu yang akan saya bagikan kepada seluruh teman-teman yang membaca artikel kali ini.

Niat yang Menggebu-gebu akan mudah surut bila salah takaran.

Kenapa bisa? Jadi begini ceritanya. Saya pernah memiliki seorang teman yang masih giat-giatnya menulis. Sangat giat malah menurut saya. Saat dia terlalu berambisi menulis dan menerbitkan bukunya, dia ingin ambil jalur cepat. Dia memakai jalur indie agar bisa cepat-cepat memiliki karya yang sudah dibukukan. Apakah itu salah? Jelas tidak. Hanya saja niat dari awal yang salah. Dari niat yang salah tersebut, mereka tidak bisa menakar mana yang untuk mental dan mana yang untuk semangat. Mental? Yep. Penulis itu tidak gampang, kawan!. Menulis itu berdarah-darah. Menghabaiskan waktu yang seharusnya untuk istirahat, menulis dan menggali ide yang jelas mempekerjakan otak, setelah selesai akan mendapat beberapa apresiasi dari para pembaca. Nah, di sinilah tulisan kita akan dinilai kualitasnya. Dan yang kita harus siapkan adalah mental yang kuat. Kita harus berlapang dada sata karya kita dikritik dengan bahasa yang sopan atau bahkan cacian sekalipun. Jangan hanya karena beberapa orang menilai tulisan kita abal-abalan dan tidak layak, kita menjadi drop dan berhenti menulis. JELAS INI YANG SALAH.

Penulis yang benar menurut sudut pandang saya saat ini adalah dia yang mau berkembang maju, terus memperbaiki diri dan bermental baja. Tetap kokoh meski diterjang angin topan. Sampai saat ini, sudahkah kawan-kawan paham dengan takaran semangat dan mental? Bila sudah paham, mari kita lanjut.

Hargai tulisanmu, Karyamu!

Di sini sebenarnya juga berhubungan dengan mental. Kenapa? Jadi gini, beberapa penulis pemula merasa malu-malu kucing untuk mempublikasikan karyanya ke khalayak umum dengan alasan malu atau merasa karyanya tidak pantas untuk dibaca. Oke. Dari sini sebanarnya saya memiliki banyak argument yang ingin saya sampaikan. Bila alasannya adalah tidak layak, bukankan sebaiknya kawan-kawan terus berlatih dan berlatih agar tulisan yang tidak layak tadi menjadi layak untuk dibaca oleh khalayak umum. Yang kedua, alasan malu? Sebentar. Jadi gini, siapa lagi yang akan memuji dan menghargai karya kita bila bukan si empunya. Jika dari empunya saja sudah berkata jelek dan malu, terus kita bisa apa saat pembaca juga tidak akan tertarik sama sekali dengan apa yang kita tulis. 

Pernah ada pengalaman begini, seorang penulis pemula, dia sudah menyiapkan mentalnya dan dengan percaya diri menyodorkan naskahnya pada teman untuk diapresiasi. Dia (penulis) bercerita dengan menggebu-gebu dan bersemangat tentang keunggulan karyanya. Si teman sendiri (pembaca) bukan terfokus pada naskahnya, namun dengan semangat yang penulis berikan. Ia seakan ingin mendapatkan bayaran dari kerja kerasnya selama ini. Bayaran yang dimaksud adalah berupa apresiasi dari teman-teman yang membaca karyanya. Dari sini, seharusnya ada ilmu yang kita petik.

Terakhir tapi bukan yang akhir, tentang Penerbit itu sendiri. Mayor or Indie?

Jadi gini, sebenarnya apapun itu penerbitnya semuanya jelas sudah bagus. Penerbit Mayor memang menjadi impian semua penulis karena akan ada kebanggaan tersendiri saat karya kita yang sudah lulus kurasi bisa mejeng di toko buku besar. Namun, untuk bisa lolos ke penerbit mayor pun tidak semudah membalik tangan. Banyak kerja keras dan usaha yang harus dilakukan penulis. Kita harus terus berkembang dan memperbaiki tulisan kita sendiri.

Nah, di sinilah kegunaan dari penerbit indie. Mereka datang dengan uluran tangan kepada para penulis yang ingin menerbitkan karyanya. Jelas tidak gratis, kan? Jangan terlalu tergiur dengan harga murah. Kenapa? Karena sebenarnya jasa itu mahal. Mereka yang bekerja di penerbitan mengeban banyak tanggung jawab, seperti pengurusan ISBN, editing, layout, cover, bahkan kepuasan dari pelanggan. Jadi, berpikirlah cerdas dalam memilih penerbit itu sendiri. Sekali lagi, kembali ke poin-poin sebelumnya. Kita juga harus teliti memilih penerbit. Kenapa? Karena di zaman dimana penulis pemula bermuculan, para penerbit indie pun juga mulai menjamur. Hal ini juga rawan terjadi penipuan. Mulai dari ISBN palsu atau uang yang dibawa kabur oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Cek terlebih dahulu penerbit tersebut di Perpsunas. Bila karya kita sudah terbit, tetap cek ISBN nya valid atau tidak.

Dari beberapa poin yang saya jabarkan, pastinya banyak kekurangan. Jadi, saya berharap akan ada masukan dari teman-teman agar artikel ini bisa disempurnakan lagi. Hal-hal yang belum saya jelaskan di sini, akan saya jelaskan di postingan lain kali. Terima kasih, kawan!.

 Probolinggo, 19 Mei 2018

Toko Buku Cahaya Pustaka, Ternyaman dan Terpercaya!!!





Tentang Toko Buku & Perpustakaan Cahaya Pustaka

Cahaya Pustaka berdiri sejak Maret 2010. Awalnya hanya berupa kios kecil di dekat kampus Universitas Jember. Selain lewat kios, penjualan juga lewat akun facebook. Sejak awal, kami memang banyak menjual buku-buku bekas. Kemudian terus berkembang dan tepat pada Mei 2011 Cahaya Pustaka pindah ke Sidoarjo. 2012 Membuka toko offline di Jl. Raya Lebo No.30 Sidoarjo.

Pelanggan kami sudah ribuan, tersebar mulai Aceh hingga Papua bahkan hingga luar negeri. Ke depan kami masih berusaha terus mengembangkan layanan dan memperbanyak stok buku-buku yang berkualitas. Tentu saran dari Anda sangat kami harapkan.

Sumber web. http://www.cahayapustaka.top/p/tentang-kami.html

Awal saya memang tidak mengetahui seperti apa dan bagaimana system dari Toko Buku Cahaya Pustaka ini. Hingga, di sebuah media social, seseorang memberikan sebuah info tentang toko buku ini. Saya tak langsung percaya saja, karena itu saya mulai browsing di beberapa web, bertanya pada beberapa kerabat yang sangat kebetulan berdomisili di tempat yang sama dengan toko buku ini.
Banyak yang menarik dari toko buku ini. Mungkin ini yang akan saya paparkan sedikit hingga menjadi pertimbangan untuk ke teman-teman semua.
1.      Cahaya Pustaka tidak hanya menjual buku-buku bacaan yang beredar di toko buku pada umumnya, namun juga beberapa buku-buku langka atau sering di sebut ‘lawas’. Bagi para penggemar buku unik atau lawas biasanya akan memburu buku-buku yang sekarang sedang mengalami kelangkaan tersebut. Maka, Cahaya Pustaka hadir seakan menjawab pencarian para book lovers.
2.      Harga yang benar-benar miring dan pas untuk semua kantong. Hmm, yang ini sepertinya harus saya caps lock biar jebol. Saya sempat kaget dan bertanya-tanya, mengapa harga buku ini bisa segini, padahal di toko buku harganya sangatlah WOW. Mengapa sering ada diskon dll ? apa mereka tidak rugi menjual buku dengan harga yang benar-benar miring ini? Namun, teman-teman, percayalah. Apapun system dari toko buku Cahaya Pustaka ini, yang patut kita syukuri adalah ketersedian uang di kantong, kita sudah bisa memboyong buku-buku wishlist yang menjadi mimpi-mimpi siang bolong sebelumnya.
3.      JUJUR. Ini yang akhirnya aku caps lock. Jujur, tidak semua toko online akan sejujur Cahaya Pustaka. Why? Saya jelaskan. Pertama, dari harga ongkir. Biasanya harga ongkir di web dengan realitanya mengalami keselisihan. Kadang bisa lebih atau kurang. Nah, bagi teman-teman semua, tidak perlu takut akan hal tersebut. Cahaya Pustaka akan mengembalikan kelebihan ongkir atau transfer teman-teman semua. Serupiah apapun uang tersebut, Cahaya Pustaka tetap akan mengutamakan Kejujuran di dalamnya. kedua, harga buku benar-benar jujur. pihak Cahaya Pustaka sepertinya benar-benar mengutamakan kepuasan pelanggan dalam hal sekecil apapun itu. 
4.      Bila poin-poin di atas masih kurang, saya akan menambahkan sedikit lagi. Toko buku Cahaya Pustaka ini memang tak seluas Gramedia atau toko buku lainnya, namun juga nyaman dan pastinya ‘adem’. Why? Karena tempat ini juga dijadikan sebagai markas FLP Sidoarjo dan juga sharing keagamaan bagi para musafir, dll. Jadi, tak perlu dengan AC kita akan merasakan dingin. Hanya dengan mendengar ilmu keagamaan dan sharing ilmu lainnya bukan hanya membuat diri adem, pun dengan hati. 
5. Para teman-teman di sana yang terkenal ramah dan murah senyum. Saat kita masuk ke dalam Cahaya Pustaka tidak akan ada tatapan sinis, kecurigaan satpam seperti di Mall Besar, atau karyawan yang suka membuntuti kita saat melihat barang -barang. Di sini kita akan disapa dengan sangat hangat. Bukan hanya teman-teman yang memang bekerja di sini, namun juga pelanggan seperti kita. Waktu mungkin tak akan lagi menjadi alasan kita untuk berhenti dan pergi dari Cahaya Pustaka. 

Sementara ini dulu review kecil saya pada Toko Buku Cahaya Pustaka. Besok dan kedepannya akan saya berikan sedikit review lagi yang bisa menjadi tolak ukur atau penilaian teman-teman terhadap Cahaya Pustaka. Namun, bila teman-teman memang berniat dan berkeinginan untuk menggunakan jasa Cahaya Pustaka dalam membeli buku online, silahkan bisa kontak via WA : 081554421577 atau bisa langsung ke alamat . Jl. Raya Lebo No.30 Sidoarjo.



Kemalasan Menulis, Hindari!!!



“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah.”-Pramoedya Ananta Toer
“Menulislah seakan kau pelupa. Menulislah seakan kau takut terlupakan.”- Yani
Awal menulis memang hanya karena hobi. Hobi yang ditularkan dari membaca. Bagaimana saat saya membaca beberapa buku dan novel remaja saat di bangku sekolah. Saat itu, sempat saya berpikir, apakah saya tidak bisa menjadi seperti mereka? Menulis, terkenal dan menjadi idola? Maka dari itu, saya mencoba. Mencoba menulis beberapa kata hingga menjadi kalimat bahkan paragraph. Membudayakaan diri menulis memang sangat tidak mudah.
Terlalu banyak virus dan setan yang kadang menghantui. Bahkan beberapa kali, awalnya gadget pernah menjadi ‘setan’ yang sangat ampuh dan menjebak hingga lupa menulis. Teriakan beberapa social media dan chat membuat saya seakan termagnet pada benda pipih tersebut. Tidak mudah untuk meminimalisir penggunaan gadget yang jelas sangat dibutuhkan oleh kita semua. Namun, berkat niat yang besar, saya mulai menjadwalkan diri dalam penggunaannya dan mulai membiasakan diri menulis.
Menulis sendiri tidak mudah. Berdarah-darah dan memakan waktu yang tidak singkat. Kadang kala kita harus memakan waktu istirahat untuk menulis hingga makan pun dilupakan. Kita seakan diperintahkan untuk belajar, membaca, dan menulis dalam berbagai hal. Hingga saat kita sedikit pandai, kita akan tahu bahwa hal tersebut memang sangat menyenangkan.
Namun, ditengah kesenanga tersebut, biasanya akan tetap timbul rasa malas. Rasa malas sendiri wajar dirasakan oleh beberapa orang. Namun, bila rasa malas terus merajai kita, pastilah akan sangat sulit untuk kita berkembang dan maju. Jadi, di sini, saya membawakan beberapa tips-tips untuk melawan rasa malas menulis.
Beberapa tips saat kemalasan menghambat menulis.
1.       Perbaiki niat menulis. Kemalasan menulis kita, bisa saja salah dari awal, dimana niat yang kita ucapkan memang kurang mujarab untuk bertahan lama.
2.       Berkumpullah dengan para penulis. Dari sini, akan muncul rasa iri dan ingin agar kita bisa meniru para penulis yang telah hebat dan lolos dalam berkarya
3.       Ikuti beberapa acara menulis. Hal ini bertujuan agar kita bisa mengetahui seluk beluk para penulis dalam mengerjakan karyanya.

Itulah beberapa hal yang bisa menjadi jurus ampuh kita melawan rasa malas menulis. Meski sebenarnya masih banyak hal lagi yang dapat kita lakukan, semuanya tergantung pada diri sendiri.

Try Out Akbar Se-Kota Probolinggo Oleh PBQ


Pendampingan Belajar Global Qurrota'ayun atau lebih terkenal dengan nama PBQ adalah sebuah instansi Pendampiangan Belajar yang kini mulai merajai kota Probolinggo, Jawa Timur. Memiliki cabang yang hampir memerangkap Kota dan Kabupaten Probolinggo ini telah membuktikan kehebatan Pendampingan Belajar ini. 

Pendampingan Belajar yang didirikan Oleh sepasang suami isteri ini sukses mendapatkan sorotan kepercayaan dari masyarakat. Dengan visi misi yang dibuat oleh Widyan Arika, S.Pd, seorang guru sejarah di salah satu Sekolah Madrasah Negeri dibantu oleh sang suami, berhasil membuat Pendampingan ini memiliki alumni-alumi yang berprestasi dan menembus sekolah-sekolah favorite di Probolinggo.Kelebihan inilah yang membuat masyarakat terutama orang tua berbondong-bondong menitipkan perkembangan sang anak ke PBQ.

Berita tentang diadakannya UN berbasis CBT pada tahun ini sudah sampai ke telinga-telinga orang tua bahkan para siswa. Banyak kalangan masyarakat yang pastinya resah dengan wacana tersebut. Tentang mereka yang masih awam dengan internet ataupun komputer, atau bahkan bagaimana mereka mengoperasikan nantinya. ketakutan-ketakutan itulah yang mensugesti siswa-siswa dan menjudge bahwa nilai mereka akan hancur.  Karena mustahil bagi mereka mendapatkan nilai yang bagus, jika mereka sendiri belum pernah berkenalan dengan apa itu CBT.

Computer Berbasic Text (CBT), di Probolinggo adalah kedua kalinya dilakukan sebelum yang pertama pada tahun 2017 di beberapa sekolah tertentu yang memang memiliki fasilitas yang mendukung. Jadi, pada tahun 2018 ini kali kedua Probolinggo akan melakukan UN berbasis CBT di beberapa Sekolah Negeri.

Maka, pada tahun ini pun, PBQ menantang kembali kepada seluruh siswa-siswa se-kota Probolinggo untuk mengikuti Try Out Akbar yang berbasis CBT. ini untuk pertama kalinya di Probolinggo diadakan try out untuk mempersiapakan seluruh siswa-siswi di Probolinggo untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) berbasis CBT. Beberapa tahun yang lalu sukses dengan Try Outnya, PBQ kembali memberikan wadah untuk mengenal bahkan bersaing dengan para siswa se-kota Probolingo.

Maka, hadirilah Try Out Akbar berbasis CBT ini yang akan dilaksanakan, pada:

Hari/Tanggal : Minggu/ 28 Januari 2018
Waktu              : Gel 1 : 07.30-10.00 WIB, Gel 2. 10.00-12.30 WIB
Tempat            : Perum STI blok A 
HTM                 : Rp. 10.000 -. (potongan 50% bagi siswa PBQ)
 Batas Akir pendafataran 25 januari 2018.

Segera daftarkan diri dan bersaing dengan seluruh siswa se-Kota Probolinggo dengan Try Out berbasis CBT!!!

CP.
Kak Muid : 0823-3850-5556
Kak Alfiyah : 0856-4688-9640
Kak Yolanda : 0852-2142-3050





Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...