Puisi Kenangan

Kenangan

Aku masih di sini
Dengan debur ombak yang membawa kenangan menepi
Membawa risalah yang tak usai kumengerti

Probolinggo, Maret 2020

Resensi Novel Acc, Pak!


Radar Cirebon, 07 Desember 2019


Cinta dan Segala Hal tak Terduga

Judul                       : Acc, Pak!!
Penulis                   : Rara Rachel
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                 : Pertama, 2019
Tebal                      :  288 halaman
ISBN                       : 978-602-06-3153-0
Peresensi               : Agustin Handayani

Jika banyak orang mengatakan cinta itu buta, maka dalam novel ini cinta juga tidak butuh banyak logika. Ada banyak hal dan alasan kenapa seseorang bisa jatuh cinta dengan mudah tanpa perlu berpikir sesuatu dengan susah. Semuanya mengalir seperti air yang sangat lancar.

Seperti dalam kisah novel ini. Seorang Danial, seorang dosen yang dingin, cuek, tapi kelewat ganteng dan mempesona. Dosen dengan gelar duda yang membuat banyak mahasiswa mengantre untuk sekadar mencari perhatian dosen tampan itu. Hampir semua mahasiswa menyukai dosen tersebut, kecuali Olivia atau dipanggil Yaya.

Bagi Yaya, prestasi adalah prioritas utamanya ketimbang baper nggak jelas dan membuat nilainya terancam. Yaya memiliki banyak mimpi dalam hidupnya yang sudah dipikirkan matang-matang, terutama melanjutkan kuliah di Singapura.

Yaya harusnya bisa mengerjakan tugas skripsinya dengan lancar jaya tanpa hambatan. Namun, semua mulai pupus saat dosen pembimbingnya diganti dengan seorang Dosen bernama Danial tersebut. Tipe lelaki yang tidak disukai Yaya.

Bukan hanya karena sikap sang dosen yang menyebalkan, wajah datarnya benar-benar membuat Yaya gemas. Namun, kejadian per kejadian seakan menggiring mereka ke dalam sebuah kebersamaan yang tak sengaja, atau… memang disengaja. Apalagi dengan sikap anak kandung dosen tersebut yang sangat lengket dengannya. Seakan Yaya adalah ibu dari putri kecilnya.
“Nggak semua cowok nyatain perasaannya lewat kata-kata.” –Hal. 113
Yaya tidak yakin dengan sikap yang Danial berikan padanya adalah bentuk keperdulian lelaki itu pada seorang perempuan dalam arti lebih. Yaya pikir Danial hanya bersikap seperti itu karena bersahabat dengan Reihan, sepupu Yaya. Namun, desas-desus dan juga banyaknya pendapat dari dua sahabatnya, mulai membuat Yaya berasumsi sendiri dengan semua yang dosen itu berikan padanya. Bagaimana Danial dengan tatapan tajamnya tapi terasa hangat, perhatiannya, dan segala hal yang laki-laki itu lakukan, benar-benar seusatu yang aneh dan tidak wajar untuk seorang dosen pada mahasiswanya. Apalagi di luar sana banyak mahasiwa yang lebih cantik dari pada Yaya.
“Tuhan nggak mungkin salah mengatur pertemuan kita. Mengatur semesta saja mudah bagi Tuhan, apalagi mengatur pertemuan kita.” –Hal. 283
Novel ini hampir sama dengan kisah cinta kebanyakan. Mungkin hal yang menjadi sebuah keistimewaannya adalah penjabaran yang penulis ceritakan dalam narasinya. Tokoh-tokoh yang sangat kuat dengan sifat dan sikap masing-masing. Bagaimana Yaya yang digambarkan dengan ceria dan hobi tersenyum harus berhadapan dengan sang dosen yang sangat minim ekpresi. Kisah perjalanan cinta dan perjuangan sang dosen dalam mengaungkapkan semua perasaannya sangat runtut. Seakan memiliki fase-fase yang pelan, tapi pasti. Pembaca seakan disedot masuk ke dalam kubangan emosi yang diciptakan penulis pada setiap tokohnya.

Lebih dari apa pun, novel ini mengajarkan tentang sebuah kepercayaan dalam sebuah hubungan. Pondasi yang sangat kuat. Dan tentang cinta yang memang sangat meminimkan perbedaan untuk sebuah masa depan.
Probolinggo, 08 November 2019


Agustin Handayani. Anggota Forum Lingkar Pena Probolinggo dan Aktivis literasi kota. 

Resensi Novel Life Begins With Spices


Kabar Madura, 05 Desember 2019

Belajar Melawan Takut untuk Masa Depan


Judul                           : Life Begins With Spices
Penulis                        : Luna Torashyngu
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                     : Cetakan Pertama, 2018
Halaman                     : 304 halaman
ISBN                            : 9786020619651
Peresensi                   : Agustin Handayani

“Bisa dan Suka itu dua hal yang berbeda.” –Hal. 140
Jika kita berbicara tentang kenakalan remaja, maka salah satu faktor yang sangat berpengaruh dan mendukung hal tersebut adalah lingkungan, dalam artian yang lebih sempit lagi adalah pergaulan dan teman. Pada masa remaja, biasanya mereka sangat mudah menerima segala macam hal dari sekitar tanpa memfilter mana yang baik dan buruk. Kenakalan-kenakalan tersebut beragam, mulai dari hal kecil hingga besar. Jika tidak mendapatkan arahan yang tepat dari keluarga dan beberapa pihak, kenakalan tersebut bisa berakibat fatal.

Dalam novel yang ditulis oleh Luna, kenakalan remaja dijelaskan dari hal-hal kecil seperti bolos, suka mencontek, hingga tawuran. Kenzo, seorang siswa kelas 12 yang melakukan kenakalan tersebut akibat pengaruh teman-temannya yang selalu mengajak tawuran sebagai bentuk solidaritas bersama. Hidup dalam keluarga dengan orang tua tunggal bisa menjadi alasan pengawasan yang tidak begitu ketat. Beruntung ia masih memiliki kepala sekolah yang dulunya adalah sahabat alm. sang ayah yang selalu mengawasi dan membantunya untuk memilah tindakan baik dan benar.

Ibunya yang seorang janda dengan usaha catering jelas tidak dapat memenuhi semua kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi dengan lilitan hutang yang lumayan besar. Dari sanalah tindakan yang awalnya hanya coba-coba untuk mendapatkan uang yang besar, ternyata membuatnya terbelenggu dalam sebuah kejahatan yang besar.

Di sisi lain seorang siswi cantik dan pintar bernama Alya yang memiliki rasa penasaran sangat tinggi. Alya tidak menyukai sambal, tapi karena ocehan kedua sahabatnya yang mengatakan sambal di kantin adalah sambal paling enak membuat Alya akhirnya berkenalan dengan si berandal sekolah, Kenzo.

Kenzo menyukai Alya yang tidak memandangnya dari sisi yang sama seperti orang pada umumnya. Namun di sisi yang berbeda dan jarang dilakukan oleh orang. Bahwa semua orang jelas memiliki sisi baik dan buruk. Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Seperti Kenzo yang memiliki suatu hal menarik dari sikapnya yang urakan. Tidak semua orang tahu, karena tidak semua orang berusaha untuk mengenalnya dengan sisi yang lain. Kritis, pintar, patuh pada ibu, sopan, dan apa adanya, begitulah Kenzo di mata Alya.
“Kita memang berhak suka sama siapa saja dan berusaha menentukan jalan hidup kita sendiri. Tapi bagaimanapun kita nggak bisa menghindari takdir kita sendiri.” –Hal. 290
Hingga sebuah keadaan mendesak yang membuat Kenzo berada di lingkaran hitam, membuat kisah mereka terhenti beberapa tahun. Keadaan yang genting, rumit, dan membahayakan. Kejahatan besar selalu dimulai dari kejahatan paling kecil. Dan seperti itulah yang dialami oleh lingkungan Kenzo hingga membuatnya hilang beberapa tahun.
“Mendapat beasiswa bukan sekadar kita mendapatkan pendidikan tanpa mengeluarkan biaya. Beasiswa juga pengakuan dari negara atau intitusi atas kemampuan kita.” –Hal. 260
Bisa dikatakan novel ini bukan hanya bertema remaja biasa. Bagaiamana keseharian remaja hingga pergejolakan hidup dijabarkan dengan sangat apik.  Remaja bukan hanya tentang kisah asmara, tapi berbagai konflik batin yang dialami tokoh menjadi hal menarik dalam novel ini. Beberaa konflik yang diangkat mendapatkan sebuah penyelesaian yang baik dan masuk akal.


Probolinggo, 12 Oktober 2019

Agustin Handayani. Aktivis Literasi dan Anggota FLP Probolinggo.


Resensi Novel Beautiful Pain


Kabar Madura, 27 November 2019


Berdamai Dengan Luka

Judul                           : Beautiful Pain
Penulis                        : Nathalia Thedora
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama  
Terbitan                     : Pertama, 2018
Tebal                          : 152 Halaman
ISBN                            : 978-602-03-9825-9
Persensi                     : Agustin Handayani


Beberapa orang percaya, bahwa luka yang paling parah bukan datang dari orang lain, tapi pada orang yang paling terdekat dan paling kita cintai. Luka dari merekalah yang akan sangat membekas dan menimbulkan dampak yang buruk. Entah hanya berupa rasa takut atau bahkan menjadi sebuah trauma mendalam. Seperti yang coba dikisahkan oleh Nathalia Thedora dalam novel ini. Sebuah luka yang permanen dari orang etrcinta.

 “Kalau cinta, seklise apa pun kedengerannya, akan menyadarkannya.” –hal. 129

Keira mencinta Lamon. Lelaki yang dikenalnya lewat sebuah kejadian yang jauh dari kata indah, bahkan mendekati mengerikan. Melihat seorang lelaki di bekalang kafe tengah berusaha menyayat lengan tangannya sendiri. Dari sana, Keira yang mengingat teman masa kecilnya, seakan berusaha menyembuhkan apa pun penyakit yang Lamon alami. Hingga sebuah cinta datang pada hati keduanya.

Lamon lelaki yang cerdas, lembut, dan penuh cinta. Ia bisa memperlakukan Keira dengan sangat hati-hati. Namun, semua menjadi berbalik saat Damon datang. Damon kasar, suka menyiksa dan  bahhkan sering menyakiti Keira. Hal yang selalu ditutupi oleh wanita itu.

“Atau mungkin lo lebih familier dengan istilah kepribadian ganda.” –hal. 119

Yang tidak semua orang tahu, Lamon dan Damon adalah satu orang yang hidup dengan kepribadian berbeda. Seperti yang diketahui bahwa kepribadina ganda adalah sebuah kepribadian yang terbentuk dari rasa takut yang berlebihan hingga mengahdilkan sebuah kepribadian yang kuat untuk melindungi sisi dirnya yang lemah.

Damon akan menjaga Lamon dari semua orang yang menyakitinya dengan cara yang kasar. Bahkan tentang Keira, Damon tidak ingin wanita itu mendekati Lamon hingga berusaha menyingkirkan Keira.

Penyakit ini memang sangat langka dialmai oleh orang pada umumnya. Pengobatanpun melalui banyak tahapan panjang yang memakan waktu. Beberapa hal tentang kepribadian dan ilmu psikologi dijabarkan dengan sangat renyah dalam karya ini. Sejuah ini, dengan ketenalan novel yang bisa dinikmati di waktu luang dan singat, novel ini berhasil memnacing pembaca ke sebuah pusaran rasa penasan sebelum membeikan sebuah kalimat yang mencengangkan. Semoga pembaca siap dengan alur yang pastinya mmebuat hati bergejolak..

Probolinggo, 17 Oktober 2019

Agustin Handayani. Seorang mahasiswa dan aktivis literasi daerah. Anggota FLP Probolinggo. 

Resensi Novel Arial Vs Helvetica


Doc. Kabar Madura, 25 November 2019

Harapan, Impian, dan Arti Perjuangan

Judul                       : Arial vs Helvetica
Penulis                   : Nisa Rahmah
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                 : Pertama, 2018
Tebal                      : 248 halaman
ISBN                       : 978-602-0382630
Peresensi               : Agustin Handayani


Dalam setiap desain grafis, apa pun bentuknya jelas memiliki nilai keindahan dan sebuah makna tersendiri. Seperti halnya dengan jenis huruf yang kita pakai di kehidupan sehari-hari di layar computer misalnya. Setiap jenisnya selalu membawa makna dan ciri khas yang disesuaikan dengan kegunaannya. Arial dan Helvetica adalah nama jenis font dalam layar komuter kita. Dalam novel ini, Arial dan Helvetica adalah sebuah karya yang menakjubkan dari seorang penulis Nisa Rahmah.
“Karena kebaikan akan terus datang pada hati yang membuka.” –Hal. 80
Helvetica adalah sebuah font yang sangat istimewa. Bukan hanya karena bentuknya yang indah dan sering digunakan dalam sebuah font hiasan. Namun, Helvetica terkesan lembut dan cantik. Harusnya nama itu tersemat pada gadis yang memiliki sifat serupa. Namun, nyatanya Helvy –nama panggilannya- adalah seorang gadis remaja yanga apatis pada harapan, dingin, dan memiliki banyak ketakutan dalam hidupnya. Akibat sebuah kejadian yang membuat sang ayah meninggal, Helvy mengalami trauma yang berkepanjangan. Trauma naik mobil, hujan, bahkan menarik diri dari pergaulan karena bekasnya yang permanen. Helvy yang dulunya sangat indan dan cantik, malah terkesan seperti font Chiller yang menakutkan.
“Yang mengatasi ketakutanmu, hanyalah dirimu sendiri.” –hal. 82
Berkebalikan dengan Helvy. Arial adalah lelaki dengan banyak ambisi untuk masa depannya. Pertemuan dengan Hellvy setelah beberapa tahun saling pergi menjauh membuat Arial penasaran pada perempuan itu. Apalagi dengan penampilan gadis itu yang semakin membuatnya tertarik dan semakin lama semakin mendapati banyak kenyataan yang membuatnya kaget dan tercengang. Selalu ada  bekas dari setiap luka, itulah yang Arial pahami.

Apalagi saat melihat bagaimana trauma itu membuat Helvy berubah sedemikian rupa. Dengan Arial, Helvy belajar bahwa manusia wajb memiliki harapan dan cita-cita. Karena dari harapan itu, mereka belajar untuk berjuang dan kerja keras untuk mencapainya.

Bagaimana kisah dua remaja yang di dalamnya memiliki konflik sendiri dalam hal harapan, cita-cita dan masa depan. Berusaha untuk mewujudkan sesuatu yang sudah mereka impikan untuk menjadi nyata dan berjuang untuk melawan segala ketakutan yang dapat menghambat langkahnya.

Novel ini mengusung tema remaja dengan keahlian non akademik setiap tokoh. Sebuah ambisi yang diperjuangkan setiap tokoh hanya sebagai pembuktian diri bahwa mereka memilih jalan yang sesuai. Bahwa sebesar apa pun cita-cita itu, mereka dapat menggapainya.

Kerja keras dan sifat percaya diri pada harapan mengajarkan kita bahwa kita hidup di atas harapan yang membuat langkah kita semakin maju ke depan untuk menjadikannya nyata. Lewat Arial dengan segala sifat kreatif dan perjuangannya untuk meraih apa yang dia suka, lewat Helvy yang berusaha menjadi manusia sewajarnya, menerima luka, dan kembali menaruh harapan pada setiap episode hidupnya.

Probolinggo, 17 Oktober 2019

Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo




Resensi Novel Dimsum Terakhir


Kabar Madura, 5 November 2019


Kejujuran dan Toleransi pada Sesama

Judul               : Dimsum Terakhir
Penulis            : Clara Ng
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan         : Cetakan Kelima, 2019
Halaman         :  376 halaman
ISBN                : 9789792279528
Peresensi       : Agustin Handayani

“Selama ada harapan dan cinta, hidup akan berkeriap selama-lamanya.” Hal- 334

Dalam bahasa Kanton, Dimsum adalah makanan kecil yang menjadi makanan khas orang Cina. Sedangkan dalam novel ini, Dimsum Terakhir adalah sebuah kebiasaan bagi keluarga Nung Antasana sebelum menyembut perayaan Imlek. Mereka akan makan dimsum di pagi hari sebelum perayaan. Dalam novel ini, Clara Ng mengangkat kisah keluarga Tionghoa dengan segala polemic budaya dan kehidapan sosial pada zaman itu.

“Manusia adalah makhluk yang mempunyai daya tahan dan kekuatan luar biasa. Tapi kesepian adalah virus yang sungguh mematikan.” –Hal. 330

Nung Antasana dan keempat anak kembar perempuannya adalah keturunan Tionghoa. Setelah beberapa tahun anak-anak itu menginjak dewasa, masing-masing berpencar ke penjuru arah untuk menata masa depan masing-masing. Siska yang menjalankan perusahaannya di Singapura, Indah yang menjadi seorang wartawan sekaligus penulis di Jakarta, Rosi dengan kebun mawar di puncak, dan Novera yang menjadi guru TK. Keempat wanita itu harus kembali ke Jakarta karena mendapatkan sebuah kabar buruk tentang kesehatan sang ayah yang terserang stroke, bahkan sudah sekarat. Hanya tinggal waktu sampai maut menjemput.

Meski keempat gadis tersebut kembar, rupanya kepribadian masing-masing sangat jauh berbeda. Bagaikan empat mata angin yang saling membelakangi, tapi termasuk satu kesatuan. Setiap tokoh memiliki kegundahan, keputusasaan, rahasia dan juga ego yang tinggi.

“Dalam kegelapan, kita akan selalu percaya pada orang yang menyelamatkan kita. Jangan terlalu percaya pada apa yang kita lihat. Percayalah pada apa yang kamu rasakan.” –Hal. 157

Selain mengulik setiap permasalahan dan kegundahan hidup setiap tokoh, dalam novel ini juga sangat kental dengan kebudayaan Tionghoa dan segala perayaannya. Beberapa istilah dan kebiasaan saat merayakan imlek, bagaimana pada tahun itu orang Tionghoa merupakan kaum marginal yang dipandang sebelah mata, dan juga diskriminasi terang-terangan yang dialami oleh si kembar. Sisi ketuhanan juga diusung dalam novel ini yang dialami oleh Novera terkait kepercayaannya terhadap Tuhan dan bagaimana mencintai Tuhan yang seakan terus melindunginya di saat titik terendah.

Jika diibartakan, novel ini seperti kue lapis yang setiap lapisnya memiliki sesuatu yang menakjubkan dan penuh kejutan. Penulis seakan sudah mengatur kadar emosi cerita agar pembaca ikut hanyut di dalamnya.
Probolinggo, 21 September 2019


Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo dan aktivis literasi daerah.


Resensi Novel You Really Got Me



Radar Cirebon, 23 November 2019
Doc. Faris Al Faris


Pengalaman, Luka, dan Logika Cinta


Judul                       : You Really Got Me
Penulis                   : Dewie Sekar
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                 : Pertama, 2019
Tebal                      : 352 halaman
ISBN                       : 978-602-06-3400-5
 Peresensi              : Agustin Handayani

Pengalaman adalah guru terbaik untuk pembelajaran. Baik pengalaman orang lain atau pribadi. Semuanya tetap memiliki inti sari dan amanat bagi yang mau menelaah dan mempelajari pengalaman yang dialaminya. Agar suatu kesalahan tidak terulang, agar sebuah luka tidak terus berkubang, dan kesedihan tidak melulu membuat berkabung.

Dalam novel ini, Dewie Sekar mengenalkan pembaca pada sosok perempuan mandiri dan cantik bernama Prisna. Perempuan yang cukup menarik, kuat, dengan hijab yang selalu membungkus kepalanya. Kesibukan sehari-hari setelah lulus kuliahnya adalah membuka sebuah resto kecil yang menjual makanan khas Surabaya. Semua tampak sempurna pada seorang bernama Krina itu, kecuali kisah cintanya yang memiliki banyak kisah pahit.

Pengalaman kisah cintanya dengan Fazim –lelaki dan pacar pertamanya di kampus- yang buruk membuatnya sedikit apatis dan takut untuk kembali jatuh cinta. Belum lagi, jauh sebelum kisah dengan Fazim, ada sosok ayah dengan rasa tanggung jawab rendah. Tidak ada keluarga yang harmonis dalam kehidupannya. Sang ayah adalah sosok lelaki yang suka berpoligami dengan sifat yang buruk. Cukup dua pengalaman dalam hidupnya hingga membuat Prisna menjadi sosok yang mandiri dan tidak ingin bergantung pada lelaki.
“Mungkinkah seorang wanita bisa tak berhenti mencintai, meski telah diperlakukan dengan buruk oleh pria yang dicintainya.” –Hal. 199
Hingga dia mengenal lelaki yang tak lain adalah sepupu Lorenzo, Putra. Lelaki mapan dengan sifat yang mampu membuat siapa pun jatuh cinta, terutama Prisna. Ia mulai jatuh cinta dan memberikan kode-kode untuk lelaki itu, mulai dari kode kecil hingga kode keras.  Namun tetap saja, tidak ada lampu hijau dari hubungan mereka. Seakan diam di tempat.

Putra bukan lelaki sempurna dengan gambaran tanpa cela. Putra bisa dikatakan lelaki yang kurang gesit dalam bertindak, miskin ekspresi, dan pembohong yang ulung. Terbukti dengan bagaimana Putra bisa membuat Prisna seperti laying-layang yang seenaknya diulur dan ditarik sesukanya.
 “Jangan pernah nikah sama laki-laki karena kasihan atau karena kamu nggak tega nolak.” –Hal. 212
Satu hal yang diajarkan oleh ibunya pada Prisna bahwa cinta itu bukan simpati atau empati di mana seseorang tidak akan tega membuat orang lain terluka. Justru cinta adalah saat seseorang berani melukai untuk kebaikan bersama. Meski Prisna tidak berasal dari keluarga yang harmonis seperti impiannya, bukan berarti ia tidak ingin berkeluarga.

Pengalaman benar-benar membuatnya matang dalam mengelola hati dan masalah. Tidak selalu logika menurun saat hati dalam suhu naik. Mereka harus sejajar dan seimbang untuk menelaah apa pun yang ada.

Novel ini penuh logika tentang cinta. Meski seorang Prisna mencintai Putra, tetap saja penulis seakan memberikan pilihan dengan penuh logika dan realistis. Tentang bagaimana seseorang harus bersikap pada orang yang dicintainya, pengorbanan apa yang harus dilakukan, dan bagaimana cara mengalah saat kita mulai kalah.

Dalam novel ini pula, kita diajarkan untuk bersikap tanggung jawab dengan apa pun yang kita mulai. Novel yang sangat cocok untuk kalangan dewasa muda dan mereka yang butuh perkenalan cinta.

Probolinggo, 20 November 2019

Agustin Handayani. FLP Probolinggo dan Aktivis literasi kota.


Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...