Resensi The Last Piece of Puzzle



Kepingan Puzzle Kehidupan


Judul                : The last Piece of Puzzle
Penulis             : Nicko Zainnanda
Penerbit           : The Panas Dalam Publihsing
Terbitan          : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 233 Halaman
ISBN               : 978-602-52576-2-9
Peresensi         : Agustin Handayani

“Apakah dia kepingan puzzle terakhir?” – Hal. 229
Berbicara tentang bagaimana kehidupan, memang hampir serupa seperti potongan puzzle. Sahabat, keluarga, cinta, dan kenangan adalah kepingan puzzle yang menjadi utuh. Penulis bernama Nicko Zainnanda seakan memberikan kita pemahaman tentang bagaimana seorang individu saling mencari dan menerka-nerka, siapakah kepingan puzzle hidupnya.

Memang seperti itulah novel yang apik ini. Di setiap bagian veritanya selalu berhasil membuat pembaca menerka-nerka. Seperti apa alur selanjutnya, adakah kelokan atau rintangan di depan? Apakah makna yang ingin disampaikan penulis pada pembaca?

Markas Kura-Kura Ninja. Markas tempat Seto, Koko, Jamal, Zahra, Handi, dan Arum berkumpul. Di sana, setiap orang memiliki kisah sendiri-sendiri hingga dapat berkumpul bersama dan memutuskan bahwa mereka adalah sekumpulan sahabat. Banyak kisah yang dilalui bersama hingga dapat memperkokoh persahabatan mereka. Dengan sifat dan perbedaan masing-masing, mereka seakan tidak mempermasahkannya. Asal mereka tetap bersama.

Dalam novel ini, Jamal seakan memiliki porsi paling banyak yang menduduki inti cerita. Bagiamana seorang Jamal yang mencintai Zahra dan bersedia menunggu sahabatnya itu. jamal bahkan terus belajar dari kisah kegagalan cinta yang Zahra alami hingga suatu saat nanti bisa menjadi bekalnya untuk menyatakan kebenarian ciantanya pada Zahra. Namun, setiap kisah tidak pernah kita tahui muaranya di mana? Sama seperti yang Jamal lakukan, hanya bisa bersabar dan menunggu hingga suatu saat Zahra bisa menatap balik dirinya.

“Seni kehidupan hadir karena kejutan yang diberikan Tuhan.” – Hal 113

Kehadiran Paul juga membuat kisah dalam novel ini menjadi lebih haru. Seorang penderita penyakit hipopituitarisme. Sebuah penyakit yang membuat si penderita terlihat kecil dan menghambat pertumbuhannya. Paul yang memiliki kecerdikan luar biasa serta mampu menebar senyum kebahagiaan, membuat geng kura-kura ninja semakin lebih berwarna. Hingga lagi-lagi, kepingan puzzle seakan menemati tempat bernama kenangan. Paul datang hanya itu memberikan sebuah arti dari sahabat yang sesungguhnya.

 “Setiap keping sangat berarti. Entah keluarga, sahabat, atrau bahkan cinta. Sebenarnya sejak membeli, bentuknya sudah diketahui. Sehingga ketika menyusun lagi, kita tidak perlu takut gagal. Seperrti Tuhan yang sejak awal telah menemukan takdir. Kita hanya perlu tidak meragukannya ....”- Hal 117

Arum percaya bahwa kehidupan mereka semua memang seperti puzzle yang sebelumnya sudah tertata utuh. Kita tidak perlu takut, bingung atau salah dalam menatanya. Kita hanya perlu percaya bahwa semuanya telah memiliki jalan masing-masing sama seperti hidup yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Kita hanya perlu menjalani dan percaya. Sama seperti kisahnya, meski hidup sebatang kara di kota ini, Arum bersyukur atas kehadiran sahabat dan juga Hardi yang  membuatnya paham bahwa puzzlenya hampir utuh.

  “Kejarlah cintamu. Jika lelah, berhentilah. Kelak ketika kamu berhenti, mungkin aku bisa mengejarmu.” –Hal. 163

Kedatangan Syifana yang mencintai Jamal membuat lelaki itu serba salah. Bagaimana bisa ia berhenti mencintai Zahra jika sejak awal hatinya sudah jatuh sedalam-dalamnya pada sahabat masa kecilnya itu. namun, Syifana seakan memiliki jalan sendiri untuk mendapatkan kebahagiaannya. Yang harus mereka lakukan hanya bersabar.

“Pemenang tidak mesti terlihat diawal.”- Hal. 174

Keseluruhan novel ini memang bisa membangkitkan rasa haru dari bagaimana kokohnya persahabatan mereka. Masing-masing seakan memiliki peranan penting dari berdiri tegaknya persahabatan tersebut. Kisah cinta yang begitu lama dan sangat berliku mampu memberikan kejutan di akhir cerita. Mungkin juga kita akan berpikir dan bisa saja percaya, jika cinta yang kita tunggu belum tentu tujuan kita berlabuh, bisa saja cinta kita adalah dengan seseorang yang berada di belakang kita. Yang kehadirannya belum disadari sejak awal.

Bagaimana Zahra, Seto dan Jamal yang berjuang keras agar bisa masuk ke fakultas kedokteran membuat kita belajar bahwa untuk mengumpulkan puzzle, kita harus berusaha dan berjuang meraih semua yang diinginkan.

“Banyak hal di dunia ini yang diperjuangkan agar tidak berubah sampai akhir karena terasa nyaman, namun hal itu justru berubah dengan sendirinya.” –Hal. 199

Dan begitulah novel ini memberikan kita makna tentang cinta, perjuangan, keluarga, dan juga sahabat. Semua adalah kepingan puzzle kehidupan yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Tuhan. Kita hanya harus percaya bahwa itu semua adalah ketetapan-Nya
Probolinggo, 27 Maret 2019

Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo dan penggiat literasi daerah.


Cerpen : Tukang Kaba

Doc. Kabar Madura 28 Juni 2019

Tukang Kaba

Lelaki itu terus saja bercerita. Bahkan ini sudah lima jam saat ia memutuskan duduk di tengah pasar dan bercerita tentang banyak kisah. Puluhan orang mulai mengerubunginya sejak tadi. Bukannya berkurang, setiap detik malah bertambah semakin banyak.
“Oh, bahagia orang kita sebarkan, derita orang kita sembunyikan ….”
Tukang kaba itu selalu memulai kisahnya dengan nyanyian yang menjadi lagu wajib ceritanya.
“Oh Tukang Kaba! Ceritakan tentang kisah puteraku yang sebentar lagi akan menghadapi pilkades tahun ini,” pinta seorang lelaki tua yang punggungnya sudah bongkok. Matanya terlihat rabun, namun masih memancarkan harap untuk mendengarkan kisah anaknya yang akan mujur dari mulut tukang kaba.
“Oh, anakmu yang bernomor satu, ‘kan?” tanya tukang kaba yang sempat tahu poster pilkades di desa ini.
Pak tua itu mengangguk bersemangat. Ia menuggu dengan sabar untuk mendengarkan kisah dari tukang kaba tersebut.
Tukang kaba menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan matanya lama-lama sebelum terbuka dan tatapannya berbeda. Ada titik hitam yang serius dalam pandangannya. Seakan tatapan itu memutar sebuah gambar yang akan ia ceritakan setelah ini.
“Oh, kisah bahagia orang kami sebarkan, derita orang kita sembunyikan ….”
Dan mengalirlah sebuah cerita tentang kepala desa yang arif dan bijaksana. Dengan kemurahan hatinya, rakyat hidup makmur dan desa semakin maju. Kepala desa yang lahir dari orang bawah yang mengerti bagaimana nasib orang-orang bawah berjuang untuk hidup. Kepala desa yang mencintai rakyatnya dengan segenap perjuangan.
“Oh, tukang kaba, apakah itu anakku? Yang menjadi kepala desa itu adalah anakku?” tanya pak tua itu penasaran. Namun binar bahagia tak pernah redup di wajahnya. Ia sudah bisa menebak bahwa anaknya akan menjadi kepala desa yang arif dan bijaksana.
“Benar. kepala desa itu adalah anakmu. Dia adalah kepala desa paling tampan dan gagah di desa ini. Kerendahan hatinya bahkan membuat rakyta segan,” jawab tukang kaba dengan senyum yang nampak aneh.
Pak tua yang mendengarnya semakin mengembangkan senyum. Ia mengelus dadanya berkali-kali dan bergumam dengan pelan, “akhirnya aku bisa mati dengan damai. Terima kasih, Tukang Kaba. Aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan nasib anakku setelah ini,” ujarnya yang langsung memberikan beberapa koin pada tukang kaba sebagai upah berceritanya.
Setelah langkah membawa pak Tua itu pergi, tatapan tukang kaba masih terus saja mengiringi Pak tua itu.
“Oh, bahagia orang kami kabarkan. Derita orang, kami sembunyikan ….”
Kepala desa itu hanya akan bertahan setahun di masa jabatannya. Karena Ia memiliki kekasih yang tamak dan haus akan uang. Kepala desa muda ditemukan tewas di peraduannya dengan leher yang digorok oleh sang kekasih.
Tukang kaba akan berjelajah dari satu pasar ke pasar lain, dari satu desa ke desa yang lain. Dengan keahliannya bercerita, banyak orang-orang yang menunggunya untuk meminta cerita bahagia dari tukang kaba tersebut.
“Tukang kaba, ceritakan tentang kekasihku! Malam Minggu nanti kami akan melangsungkan pernikahan!” seru seorang gadis berpakain kebaya. Wajahnya bulat dengan kulit kuning langsat. Kentara sekali bahwa perempuan itu keturunan jawa asli.
Tukang kaba tak mampu menolak. Ia mengangguk untuk mengiyakan permintaan gadis tersebut.
Ia mengambil napas dalam-dalam dan memulai menyanyi sebelum memulai kisahnya.
“Oh, bahagia orang kami kabarkan, derita orang kami sembunyikan …”
“Sepasang suami isteri yang hidup dengan dua anak kembar. Keadaan mereka bahagia dengan canda tawa setiap hari. Teh hangat yang selalu menjadi rutinitas mereka di kala senja datang, dan berkumpul penuh canda saat malam tiba. Oh, benar-benar keluarga yang penuh cinta.”
Tukang kaba terus bercerita hingga membuat gadis itu menitikkan air mata. “Oh, benarkah aku akan bahagia dengan suamiku kelak? Aku benar-benar lega mendengarnya,” ujar gadis tersebut.
Setelah gadis itu memberikan koin pada tukang kaba, ia masuk ke dalam rumahnya.
Sementara tukang kaba masih menatap kepergian gadis itu dengan tatapan sendu.
“Oh, bahagia orang kami kabarkan, derita orang kami sembunyikan ….”
“Di belakang isterinya, lelaki itu memiliki anak dari madunya. Aib yang terus tertutupi hingga terbongkar di saat yang tepat,” lirih tukang kaba melanjutkan ceritanya, tanpa gadis itu tahu.
Begitulah keseharian tukang kaba. Setelah malam datang, ia melangkah menuju tabing rumahnya. Di sana ia akan beristirahat dengan segelas kopi panas yang ia seduh.
Begitulah kisah manusia. Tidak selamanya akan indah. Ada saatnya derita selalu datang di bekalang bahagia atau berbarengan dengan tawa. Seperti kisah tukang kaba itu.
Hidup sendiri tanpa seorang pendamping. Ia hanya bisa merangkai kisah tentang orang-orang, namun tidak untuk kisahnya. Ia tidak memiliki kisah bahagia yang bisa ia ceritakan. Hidupnya hanya mempu menghibur orang lain, bukan dirinya sendiri.
“Oh, kisah orang saya kabarkan, kisah sendiri tak tahu rimbanya,” ujar tukang kaba sebelum kantuk membawanya terpejam sampai batas waktu tak memberikannya hari lagi.
Probolinggo, 27 Maret 2019

Biodata Penulis
Agustin Handayani, penggiat literasi dan anggota FLP Probolinggo

Resensi Gustira



Doc. Radar Cirebon, 25 Mei 2019
Info. Faris al Faris

Mengulik Romantisme dan Persahabatn Gusti

Judul                : Gustira
Penulis             : Kata Kokoh
Penerbit           : Pastel Books
Terbitan          : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 352 Halaman
ISBN               : 978-602-6716-46-0
Peresensi         : Agustin Handayani

Paris Van Java, Bandung dan segala sisi romantismenya. Bukan hanya Yogyakarta yang memiliki banyak kisah romantis, Bandung seakan hadir dengan kacantikan kotanya. Semua kisah yang terjadi, tempat-tempat yang mendukung bagaimana sebuah kisah cinta menjadi alur yang sangat indah dan penuh makna. Kata Kokoh kembali dengan novel terbarunya yang berjudul Gustira. Rupaanya penulis satu ini memang sangat sukses dengan kisah-kisah remaja yang ia tulis. Mulai dari Senior Series yang menjadi best seller, novel ini rupanya akan mengikuti jejak tiga novel sebelumnya.

“Semua orang mah pasti suka sama yang apa adanya, tapi kenyataanya teh yang apa adanya akan tetap kalah sama yang sempurna.” –Hal. 214

Gustira, Gusti dan Ira. Gusti sendiri hanya lelaki biasanya yang tidak terlalu tampan. Namun beberapa temannya percaya bahwa Gusti itu karismatik dan menyenangkan. Meski hal itu tidak langsung dipercayai oleh Ira. Seorang siswi yang memiliki nasih sial karena selalu diganggu oleh Gusti. Semuanya berawal dari Ira yang harus menggantikan Gusti untuk bertemu dengan Mahesa dan Gusti. Dari sana, hari-harinya berubah 180 derajat. Gusti selalu berada di sekitarnya dan membuatnya jengkel. Meski begitu, anehnya Ira tidak benar-benar merasa terganggu dan tidak berusaha menjauhi Gusti.

Lelaki yang humoris dan konyol. Paket lengkap yang membuat teman-temannya terhibur dengan sikap Gusti. Selalu ada saja sikap Gusti yang membuat sekitarnya terhibur. Aneh, itulah penilaian dari Ira. Meski lambat laun, Ira mula terbiasa dengan sifat tersebut.

“Bahwa rasa tidak suka, bukan alasan untuk kita membenci seseorang atau sesuatu dalam hidup. Namun, untuk membuat kita mengerti bahwa ada sudut lain dalam kehidupan layaknya utara dengan selatan, timur dan barat.” – Hal. 314

Sama halnya menurut banyak orang, benci dan cinta hanya dua sisi mata logam. Tidak ada yang membedakannya kecuali sisi yang berlawanan. Rasa yang Ira miliki perlahanan mulai merasa tak menentu. Bagaimana perasaannya yang hampa saat Gusti menjauh darinya dengan alasan yang Ira tak ketahui. Bagaimana Ira yang selalu bisa merasa takjub saat melihat sisi-sisi Gusti yang lain.

Gusti yang selalu ingin menjadi yang terbaik untuk Ira, menjaga perempaun yang ia cintai dengan caranya sendiri. Meski sebenarnya, setiap cerita selalu memiliki endingnya sendiri. Tak ada orang yang bisa menetukan akhir dari kisah tersebut selain Tuhan dan penulisnya sendiri,

Humor yang benar-benar renyah. Karakter Gusti dalam novel ini benar-benar sangat kuat. Bagaimana penulis menyediakan alur yang mampu membuat pembaca ikut masuk ke dalam cerita. Kadang, pembaca akan menjadi Ira yang tersipu setiap diganggu Gusti. Di beberapa kesempatan, pembaca juga bisa menjadi Gusti dengan tingkah konyolnya. Bahkan Gusti hampir sama seperti Dilan, tapi dalam versi Kata Kokoh, bukan Pidi Baiq.

Dari novel Gustira ini, banyak hal yang dapat kita petik sebagai pesan dan amanat yang memang sengaja penulis sisipkan dari alur yang sudah tersusun dengan sedemikin rupa. Tentang kesederhanaan yang diajarkan oleh Gusti. Meskipun Gusti adalah anak orang kaya, ia tidak pernah sombong dan menampilkan kekayaannya. Malah Gusti tampil seperti orang kebanyakan, sederhana.

Ira yang selalu tenang dalam menghadapi masalah. Dan bagaimana kuatnya sebuah hubungan persahabatan antara semua tokoh di sana. Di mana satu masalah, mereka pikul bersama dan saling menguatkan.

Gustira memang sangat cocok untuk remaja yang sekarang  pastinya sudah mulai mengenal cinta dan sahabat.
Probolinggo, 4 Mei 2019
Profil penulis
Agustin Handayani. Mahasiswa dan aktivis literasi kota. Anggota FLP Probolinggo.


Resensi Let Go




Mencari Kejaiban lewat Persahabatan

Judul                : Let Go
Penulis             : Windly Puspitadewi
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Cetakan pertama, Mei 2018
Halaman         : 264 Halaman
ISBN               : 978-602-03-8238-8
Peresensi         : Agustin Handayani

Novel yang baik adalah novel yang bisa memberikan manfaat dan pembelajaran untuk semua orang. Seperti itulah definisi novel yang baik itu. sama halnya dengan novel Let Go karya Windly. Awalnya, mungkin banyak pembaca yang akan mengira bahwa kisah remaja yang diangkat hanya tentang kisah percintaan klise dan keonaran saja. Tentang bagaimana sikap labil remaja seusianya hingga pencarian jati diri. Namun, dalam novel ini, Windly seakan memberikan sentuhan lain dalam kisahnya.

“Mumpung masih berupa larva, harus segera dibasmi sebelum menjadi nyamuk dan menyebarkan penyakit.” –Hal. 8

Novel Let Go mengisahkan tentang Caraka, seorang siswa yang bebal, tukang bikin onar, suka ikut campur urusan orang lain, tapi paling peduli pada temannya. Hal itu terbukti saat ia membantu Nathan yang sekadar ia kenal sebagai teman sekelas. Banyak hal yang mengejutkan dari sikap Caraka sendiri. Dan bagaimana saat sekolah terutama Bu Ratna menghukumnya, adalah tindakan yang paling benar. selalu ada alasan kuat dari setiap hukuman. Bukan serta merta membuat anak jera, tapi bagaimana anak tersebut dapat mengambil arti dan makna dari hukuman tersebut. Sekaligus perenungan dari kesalahan yang dibuat.

“Jangan kasih seseorang harapan kalau akhirnya menghempaskannya.” –Hal 84

Sebenarnya dalam novel ini tidak melulu terfokus pada Caraka. Ada si dingin yaitu, Nathan dan Nadya, sekaligus si Kurang Pede Sarah. Mereka berempat harus bersama-sama dalam sebuah ektra mading yang memaksanya terus berkumpul dan terlibat dalam banyak kegiatan. Meski dengan sifat yang berbeda-beda, mereka mencoba untuk bertahan dalam ruangan yang sama dan mencari jawaban dari pertanyana yang selalu Caraka suarakan, kenapa mereka harus bersama?

 “Orang yang tidak bisa mengharagai dirinya sendiri, nggak akan pernah bisa menghargai orang lain,” -112

Sikap Nathan yang cuek dan dingin kadang membuat orang geram bahkan tak banyak yang mengira Nathan adalah lelaki paling sadis. Namun, Nathan hanya ingin memberikan kesadaran pada sekitarnya terutama teman terdekatnya untuk bisa menghargai diri sendiri serta kemampuan pribadi. Anggapan bahwa tidak ada orang yang akan menghargaimu kecuali diri sendiri, itulah yang Nathan pegang. Bahkan saat ia juga menyadarkan Sarah yang selalu kurang percaya diri dengan kemampuan menulisnya. Nadya yang merupakan perempuan super kuat dan tidak membutuhkan pertolongan orang lain, mulai membiasakan diri untuk bertinkdak seperti manusia yang lain. Meminta pertolongan bila tidak sanggup.

Caraka dan Nathan. Dalam novel ini, kisah seakan berpusat pada mereka. Tentang Nathan yang mengidap penyakit dan terancam akan meninggal secepat mungkin, dan Caraka yang belum bisa memafakna kepergian sang ayah. Mereka berdua seakan bertransformasi untuk saling melengkapi, melindungi, dan meski tanpa mereka sadari, mereka saling menguatkan.

Novel ini benar-benar tidak hanya mengusung tentang bagaimana kelabilan usia remaja, romantika, tetapi juga tentang bagaiman pencarian jati diri dan arti dari sebuah persahabatan. Novel Let Go sangat cocok untuk remaja-remaja yang sedang berjuang hidup seperti Nathan agar mereka tahu untuk tidak membuang waktu dengan hal yang sia-sia.

Atau jika remaja tersebut seperti Sarah yang kurang percaya diri dengan kemampuannya. Percayalah, novel ini seakan mengajarkan bahwa hidup tidak akan adil bagi mereka yang tidak pernah mencoba dan hanya tunduk pada waktu. Hanya diri sendiri yang mampu mengalahkan semua tantangan dengan sikap berani.
Doc. Kabar Madura
7 Mei 2019

Semoga pembaca yang telah menamatkan novel ini akan paham arti dari persahabatan dan keajaiban di dalamnya.

Probolinggo, 17 April 2019
Agustin Handayani. Seorang penggiat literasi dan anggota FLP Probolingo.

Resensi Perfect Competition


Doc. Kabar Madura, 16 Mei 2019

Kompetisi Tiada Akhir

Judul                : Perfect Competition
Penulis             : Sekar Aruna
Penerbit           : Grass Media
Terbitan          : Cetakan Pertama, Februari 2019
Halaman         : 369 Halaman
ISBN               : 978-623-7078-01-2
Peresensi         : Agustin Handayani

Masa depan bukan pengulangan dari masa lalu. Masa depan adalah bentuk sebuah remidi atau perbaikan dari masa lalu dan masa sekarang. Itulah bagaimana seharusnya kita menyikapi kata masa depan itu sendiri. Novel Perfect Competition karya Sekar Aruna ini juga mengungkit sebuah hubungan antara masa depan dan masa lalu yang dialami oleh Naga dan Vara. Sepasang kekasih di masa lalu yang kembali bertemu di masa depan.

“Selain gaji, ternyata topik mantan termasuk dalam kategori pembicaraan sensitif, ya.” –Hal. 150

Nagara Anggasta dan Isvara Tanisha adalah sepasang kekasih di masa lalu. Hubungan yang rumit  kerena keduanya memiliki sifat yang sama-sama dominan. Mereka sama-sama memiliki jiwa kepemimpinan yang selalu ingin menang. Setidaknya itulah yang terjadi antara keduanya selama menjalin kasih. Hingga, baik Vara dan Naga sama-sama memilih mengakhiri hubungannya. Namun, mengakhiri hubungan, bukan berarti mengakhiri perasaan. Naga yang sadar bahwa cintanya hanya untuk Vara, berusaha membuat Vara kembali lagi padanya.

Vara sadar bahwa mereka berdua tidak cocok. Tidak ada yang ingin mengalah di antara masing-masing. Naga dan Vara sama-sama egois. Hingga Vara memutuskan untuk membuat perjanjian konyol dengan Naga; berkompetisi dan memenangkan segala hal. Jika Naga mampu mengalahkannya, Vara berjanji akan kembali pada lelaki tersebut. Itulah reward dari semua kompetisi yang akan mereka hadapi.

Hingga kisah mereka terjeda saat Vara menghindari Naga setelah hari kelulusan dan juga mengganti nomer kontaknya. Kesalahan Naga membuat Vara mundur dan enggan bertemu dengan lelaki itu kembali. Namun, siapa yang tahu dengan takdir dan waktu. Setelah mereka sama-sama bekerja dan menginjak umur tiga puluhan, mereka bertemu kembali dengan keadaan yang sama-sama panas. Kambali berkompetisi merebutkan kursi jabatan.

“Kadang, sisi lain dari seseorang laki-laki membuat perempuan memutuskan memberikan kesempatan kedua walaupun pernah tersakiti.” –Hal. 273

Naga dan segala gombalan serta sikapnya yang tidak pernah serius. Hal itulah yang membuat Vara enggan kembali pada Naga. Apalagi kesalahan Naga di masa lalu benar-benar membuatnya kapok dan tidak mau kembali dibodohi lelaki tersebut. Naga adalah orang yang picik, menghalalkan segala cara agar apa yang dimaunya dapat dicapai. Meski begitu, Vara merasa Naga belum memiliki sifat tanggung jawab. Tak jarang Naga kabur dari tanggung jawab yang lagi-lagi membuat Vara semakin membenci Naga.

Kompetisi yang tidak akan pernah berakhir di antara Naga dan Vara. Bagaimana Naga yang berhasil mendapatkan posisi tersebut, Naga yang mendominasi Vara dan membuat wanita itu tunduk saja dalam perintah Naga. Meski begitu, dari semua sifat menyebalkan Naga, Vara akui bahwa masih ada perasaan yang mengisi ruang kosong di hatinya. Perasaan yang hanya tertuju untuk Naga. Meski ia sudah berusaha move on dan mencari pengalihan dari perasaannya, tapi selalu berakhir dengan tidak memuaskan.

Dari novel ini, sebenarnya ada beberapa hal yang dapat kita petik. Terutama arti dari sebuah kejujuran. Dari kejujuran, kita mendapatkan kepercayaan yang pastinya harus dijaga. Dilihat dari bagaimana Vara yang tidak mudah percaya lagi pada Naga meski lelaki itu sudah berusaha menjelaskan dan minta maaf. Bukan itu saja, kita diajarkan untuk berani memulai dan tidak hanya melihat seseorang dari kovernya saja. Meski Naga selalu bertingkah kekanakan dan menyebalkan, ada sisi Naga yang dewasa dan belum diketahui Vara. Naga bisa bersikap gentle dengan menghampiri ayah Vara dan meminta restu. Bahkan ia meminta maaf atas semua kesalahannya di masa lalu.

Dan dari semua kompetisi yang didapatkan Naga, mendapatkan hati Vara adalah sebuah kompetisi yang paling berat menurutnya. Karena kesalahan masa lalu harus ia perbaiki di masa depan.

Sisi romansa percintaan yang dibalut dengan kompetisi. Novel Perfect Competition ini juga mengusung komedi yang membuat kita tidak akan bosan dan jenuh. Kisah romansanya pun tidak terkesan kacangan.
Probolinggo, 4 Mei 2019

Profil Peresensi
Agustin Handayani. Seorang mahasiswa dan nggota FLP Probolinggo. Aktivis literasi kota yang sekarang berusaha menyelesaikan novelnya. 

Resensi Senyum Karyamin


Kabar Madura, 20 Mei 2019 

Potret Metafora Kehidupan Wong Cilik

Judul                : Senyum Karyamin
Penulis             : Ahmad Tohari
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Cetakan kesebelas, Januari 2019
Halaman         : 88 Halaman
ISBN               : 978-979-22-9736-2
Peresensi         : Agustin Handayani
Saat dunia sastra populer hadir dan merebak, Ahmad Tohari datang dengan cerpennya yang akan terasa asing, dan jauh dari dunai popular atau gemerlap kehidupan. Ahmad Tohari seakan memberikan penampakan lewat karya yang ia buat bahwa ada sebuah lapisna masyarakat bawah yang perlu diperhatikan dengan alur dna konflik mereka sendiri. Wong cilik dengan kepolosan, kebodohan, dan kehidupan mereka yang kumuh. Namun, meski seperti itu, Ahmad Tohari seakan sukses dan menjadikan karyanya sebagai ciri khas dari kumpulan cerpen yang disatukan dengan judul ‘Senyum Karyamin.

“Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.” –Hal. 1

Cerpen pertama yang dibuka dengan judul Senyum Karyamin yang juga menjadi perwakilan judul buku ini. Sebuah penampakan kehiduapn seorang lelaki bernama Karyamin yang menjadi tukang pengumpul batu. Keseharian, ia bersama teman-temamnya mencari batu di kali dan menjualnya dengan harga rupiah yang rendah. Ada hal-hal menarik dari cerita ini. Bagaimana kehidupan masyarakat bawah dan kegiatannya, tentang bagaimana orang-orang itu mencari kebahagiaan sendiri dengan saling menertawakan kesialan kawannya, bahkan bagaimana Karyamin memahami burung-burung yang mencari makan untuk anak-anaknya di sarang. Meski begitu, satu hal yang sangat menarik dari cerpen ini adalah sebuah ketidakadilan. Saat Pak Pamong datang dan menagih uang iuran untuk berpartisipasi dana Afrika. Benar-benar sebuah kehidupan nyata di sebuah desa. Padahal bila kita simak kehidupan Karyamin sendiri, untuk hidup saja ia harus bekerja keras dan menahan lapar. Bahkan ia harus mengumpulkan batu dari satu kali ke kali lainnya dengan bayaran yang jauh dari kata pantas. Namun, kehidupan desa memang tak selalu baik-baik saja. Mereka kurang perhatian pada  orang-orang bawah lainnya.

Jasa-Jasa Buat Sanwirya. Cerpen kedua ini berhasil menggelitik pikiran kita nantinya. Ada hal yang benar-benar tak sampai di nalar dari cerita ini. Bagaimana orang-orang yang berkumpul untuk saling menghitung jasa-jasa apa yang bisa mereka lakukan untuk seseorang yang sedang sakit atau bisa dikatakan sedang sekarat ini. Contohlah, Sampir, Waras, dan Ranti yang berkumpul di rumah Sanwirya yang sedang meregang nyawa. Dari pada lekas bertindak untuk menyelamatkan nyawa seorang Sanwirya, mereka malah saling menghitung jasa-jasa yang akan dilakukan untuk kesembuahn Sanwirya. Sekali lagi, hanya ‘akan’ dan belum melakukan tindakan. Cerpen ini seakan memberikan sindiriran keras bagi kita semua, bahwa sesuatu yang diniatkan tanpa tindakan langsung hanya akan menjadi angin yang sia-sia. Tidak dapat menghasilkan sesuatu sesuai perhitungan mereka.

Dalam buku ini bukan hanya menceritakan hubungan manusia dengan manusia, atau manusia dengan alam baik flora ataupun fauna. Namun, juga ada hubungan yang sangat kental antara manusia dan sang penciptanya. Terbukti dengan salah satu cerpen yang berjudul Pengemis dan Shalawat Badar.  Dalam cerpen ini, diceritakan seorang pengemis yang naik ke dalam sebuah bus yang disopiri dengan sangat ugal-ugalan. Hal yang menarik di sini adalah keadaan yang sangat kontras antara keadaan bus dengan pengemis tersebut. Tokoh ‘aku’ yang diceritakan dalam cerpen itu seakan menjadi pengamat bagaimana pengemis itu yang tetap tenang dan terus mengalunkan shalawat badar selama perjalanan yang ugal-ugalan tersebut. Seakan ikatannya dengan Tuhan semakin erat lewat lantunan shalawat badarnya. Dan Tuhan seakan selalu menjaga keselamatannya dari marabahaya. Terbukti dengan akhir cerita ini yang membuat tokoh ‘aku’ terkejut.

“Kudengar orang-orang merintih. Lalu samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikit pun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali ke kota Cirebon.” – Hal. 66

Setidaknya terkumpul 13 cerpen yang dapat dibukukan dalam judul Senyum Karyamin ini. Cerpen-cerpen yang menjadi jejak bahwa awal kepengarangan Ahmad Tohari ini adalah cerpen, yaitu Jasa-Jasa Sanwirya yang berhasil meraih hadiah Sayambara Kincir Emas Radio Nederland Woreldomroep pada tahun 1975. Dan cerpen yang lainnya yang berhasil dimuat di berbagai media massa.

Membaca cerpen kalangan masyarakat bawah ini memang penuh dengan potert kehidupan masyarakat yang sebenarnya memang penuh dengan ironi dan metafora. Maka benar saat Sapardji Djoko Darmono memberikan sebuah pendapat di penutup buku ini bahwa Ahmad Tohari memberikan kecermatan pengamatan tentang berbagai masalah yang sering tidak kita sadari.

Probolinggo, 21 April 2019

Profil Penulis
Agustin Handayani. Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang aktif diberbagai kegiatan literasi. Menjadi anggota FLP Probolinggo hingga saat ini.


Resensi I Am Sahraza



Keajaiban sebagai Buah Kesabaran

Judul               : I Am Sarahza
Penulis             : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit           : Republika Penerbit
Cetakan           : Cetakan I, April 2018
Halaman          : vi+370 Hlm
Peresensi         : Agustin Handayani
Lahirnya novel I Am Sahraza adalah bentuk sebuah rasa syukur yang tidak terkira dari pasangan paling fenomenal ini. Sebuah karya sastra yang membuat siapapun tahu bagaiama titik perjuangan dari pasangan suami isteri ini dalam menghadapi seluruh cobaan dari Tuhan. Rasa yang dipasang surutkan, jatuh dan bangun, hingga Tuhan tetap memberikan janjinya sebagai buah dari kesabaran.
Berbicara tentang Hanum dan Rangga, maka kita juga teringat tentang pasangan penulis yang telah mencetak banyak sekali novel best seller dan berhasil di filmkan dengan sangat memukau. Ternyata, dari semua itu, kehadiran I Am Sahraza juga tak kalah memukau dari novel sebelumnya. Pasangan ini memberikan jejak rekam bagaimana kisah perjalanan cinta mereka hingga semua cobaan yang dilalui.
Hanum dan Rangga adalah sosok yang perjalanan hidupnya memang tidak semulus yang dibayangkan orang. Terlepas dari mereka yang termasuk keluarga Amin Rais, atau penulis terkenal, nyatanya mereka sama dengan orang kebanyakan yang juga mengalami gonjang ganjing dalam bahtera rumah tangganya. Bedanya di sini adalah, bukan dari pihak ketiga, melainkan sebuah harapan pelengkap keluarga, yaitu anak.
“Takdir Tuhan memang tidak bisa dilukiskan hanya dengan sebaris kata ‘indah’. Atau sempurna sekalipun.”- Hal. 348
Tuhan sudah berjanji akan ada buah dari kesabaran umatnya, itu yang dipegang oleh Hanum dan Rangga. Sosok Rangga yang sangat sabar dna telaten memberikan nasehat pada Hanum benar-benar membuktikan betapa taatnya Rangga pada Tuhan dan cintanya ia pada sang isteri. Ia percaya dengan janji Tuhan. Meski kadang cobaan yang datang sempat membuatnya sedih dan kecewa, berkali-kali lagi Rangga mengingatkan diri pada sang Pencipta.
Program kehamilan, bayi tabung, hingga cara-cara tradisional lainnya sudah mereka lalui untuk mendapatkan keturunan. Padahal, teman-teman mereka bahkan saudara sudah dikarunia anak.  Hanya mereka yang masih tertatih mencoba dan bahkan mengalami banyak kegagalan. Bahkan saat tuba Falopi Hamum harus diangkat sebelah, hal itu menjadi penurun semangat mereka. Ada rasa kecewa dan frustasi yang Hamum rasakan pada Tuhan. Ia mulai hitung-hitungan pada Tuhan dan benar-benar kecewa. Hanum mengalami depresi karena banyaknya kegagalan yang ia terima. Namun, sosok suami memang sangat membantu dan selalu setia berada di dekat Hanum agar tak berlarut dalam kesedihan.
“Keberuntungan akan selalu berpihak pada mereka yang memelihara kesabaran. Kebahagiaan akan selalu tergoda mendatangi mereka yang bersyukur. Sesuai janji Tuhan, ia melunasi permohonan hamba-Nya yang tak bosa menengadahkan tangan.” – Hal. 348
Pengorbanan dan perjuangan sosok seorang Ibu memang tidak pernah bisa kita pungkiri. Saat Hanum sudah berada di titik terendah dari perjuangannya, semangat dari sang ibu membuatnya bangkit. Kedua orang tua yang selalu mendukung dan berada di belakang Hanum membuat mereka bersyukur. Apalagi pengorbanan Amin Rais dan sang isteri yang langsung terbang ke Surabaya untuk mendaftarkan program bayi tabung yang entah sudah keberapa kalinya, bisa membangkitkan haru dalam diri kita masing-masing.
Novel I am Sahraza adalah kado terindah untuk sosok bayi mungil yang sudah dinantikan pasangan ini selama 11 tahun. Dengan sebuah kesabaran dan tawakal, mereka terus berusaha hingga benar-benar dikabulkan oleh Tuhan.
Novel yang memang sangat cocok untuk kita semua. Bukan hanya bagi pasanagn suami isteri yang sedang menunggu anak, melainkan semua orang yang tengah ditimpa musibah. Dari rekam perjalan mereka, kita bisa belajar bahwa ujian seberat apapun akan selalu Tuhan bayar dengan setimpal dengan hadiahnya. Tidak ada ujian yang Cuma-Cuma, semua sudah tertulis dalam takdirNya. Ujian itulah yang menjadi parameter keimanan ciptaanNya. Kesabaran, itulah kunci utama.
Probolinggo, 15 April 2019
Biodata Penulis
Agustin Handayani. Penulis kelahiran Probolinggo yang aktif di dunia literasi. Termasuk anggota FLP Probolinggo
  

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...