Resensi Tinker Bell

Radar Cirebon, 20 April 2019

Seni Mendintai dan Dicintai Tinkerbell

Judul                : Tinkerbell
Penulis             : Equita Millianda
Penerbit           : Pastel Books
Terbitan          : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 334 Halaman
ISBN               : 978-602-6716-44-6
Peresensi         : Agustin Handayani
“Gimana kalo pada satu titik-yang nggak diceritakan sama Walt Disney, Peterpan merasa bahwa dia suka sama Tinkerbell?” –Hal. 325
Sukses dengan novel perdananya yang berjudul Bad Romance, penulis bernama Equita ini kembali merilis novel baru yang berjudul TinkerBell. Novel dengan genre teenlit yang mengusung kisah romance antara sepasang sahabat antara lelaki dan perempuan yang memang selalu menjadi hal yang digemari oleh remaja zaman sekarang. Friendzone, seperti itulah sebutan bagi mereka-mereka yang terjebak dalam zona teman, padahal maunya lebuh dari itu.
Membaca judul Tinkerbell, otomatis ingatan kita akan terlempar pada sebuah film Disney tentang gadis kecil yaitu Tinkerbell, PeterPan, dan juga Wendy. Jika kita mengamati dengan seksana, Tinkerbell memang sangat mencintai Peterpan dengan cara yang sangat bodoh. Ia rela melakukan apa saja untuk berada di dekat lelaki tersebut dan membuat Peterpan senang. Padahal, selama ini, Peterpan hanya mencintai Wendy. Ia tak pernah memandang Tinkerbell lebih dari seorang teman. Meski begitu, mungkin kita bertanya-tanya, apakah sampai cerita itu berakhir, Tinkerbell tetap saja mengalami cinta yang bodoh? Bertepuk sebelah tangan dan mati dalam cintanya sendiri? Apakah tidak ada balasan dari Peterpan yang seharausnya peka bagaimana Tinkerbell mencintainya. Jadi, sebenarnya bukan Tinkerbell tokoh utama wanita di sini, melainkan Wendy. Karena Wendy lah yang mendapatkan cinta tulus dari Paterpan.
Tak jauh berbeda dari kisah Tinkerbell versi Disney, Equita hadir membawa kisah yang hampir serupa. Kara dan Keano, sepasang sahabat dari orok yang rumahnya bersebalahan. Di kisah ini, Keano lah yang lebih diceritakan dengan jelas perasaannya pada Kara. Rasa yang awalnya hanya sekadar tanggung jawab untuk selalu berada di dekat Kara hingga  membuat benih cinta hadir dalam hidupnya. Sedangkan Kara, ia hanya sadar bahwa Keano adalah sahabat yang sangat ia sayangi. Perasaan Kara masih abu-abu dalam awal kisah ini.
Hingga muncullah Dylan yang mendekati Kara dan Keano yang mendekati Sacha. Mereka berdua seakan menciptakan sendiri jarak persahabatan mereka. Apalagi saat Keano memergoki kebusukan Dylan, ia memaksa Kara harus menjauhi lelaki itu. Padahal saat itu, Kara sudah mulai mencintai Dylan. Konflik yang terjadi antara Keano dan Kara membuat Keano frustasi. Ia bahkan mulai tak acuh pada Sacha yang sudah ia dapatkan menjadi kekasihnya.
“Keano sadar bahwa cinta bukan tentang bersama dengan siapa yang paling engkau puja, tapi tentang bersama dengan siapa yang paling memujamu dan belajar menerimanya.” –Hal 144.
Hingga akhirnya, Keano melakukan tindakan besar, bertaruh dengan Dylan untuk mendapatkan Kara dan pada siapa wanita itu akan jatuh cinta. Namun, hal tersebut malah seperti ‘senjata makan tuan baginya’. Tak ada bangkai yang dapat tertutup sempurna. Saat Kara mengetahui semua itu, ia murka. Pertama kalinya, ia sangat marah dalam jangka waktu  yang lama pada sang sahabat.
“Karena orang nggak akan menyakiti apa yang dia cintai.” –Hal 261
Hingga lambat laun, kisah terus bergulir dengan konflik-konflik yang mengejutkan di akhir cerita. Seperti itulah cinta, mau sekuat apapun, tidak akan pernah luput dari masalah. Tidak pernah ada kata mulus bagi perjalanan cinta.
Sepert Tinkerbell yang sangat mencintai Peterpan dan berharap cintanya terbalas. Menurut saya, di sini Kenao lah yang berperan menjadi Tinkerbell. Karena perasaan Keano yang lebih dulu muncul dan sangat transparan.
Novel remaja yang sangat ringan dengan kisah cinta yang dijamin mampu membuat remaja baper. Apalagi dengan adanya Dylan yang manis. Lebih dari itu, novel ini berhasil membuat satu pertanyaan dalam benak kita, mungkin ada satu episode di mana Tinkerbell dan Peterpan bersama seperti kisah Kara dan Keano.

Probolinggo, 6 April 2019

Bioadata Penulis :
Agustin Handayani. Mahasiswa dan anggota FLP Probolinggo

Resensi Spesial Order

Dokumentasi, Solopos, 21 April 2019

Menyikapi Ambisi dalam Cita Rasa

Judul                : Spesial Order
Penulis             : Alifiana Nufi
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Halaman         : 272 halaman
Cetakan           : Pertama, 2019
ISBN               : 978-602-06-2157-9
Peresensi         : Agustin Handayani
Denga latar masakan dan profesi kokinya, Spesial Order memang sanggup memikat semua pembaca. Alifiana bukan hanya mengangkat sisi romantisme yang terjadi di sebuah dapur, tapi juga tentang bagaimana sebuah masakan dapat terhidang dengan sempurna. Memasak yang katanya paling enak dengan hati, dibantahkan dengan halus. Melalui novel ini Alifian seakan menegaskan lagi, bahwa tidak semua hal dilakukan dengan hati, tapi dituruti oleh pikiran. Itulah masakan yang pas di lidah.
Bercerita tentang Naya yang termasuk perempuan dengan ambisi tinggi untuk menjadi koki, padahal dia adalah mahasiswa pendidikan yang nantinya harus menjadi pengajar. Naya adalah wanita dengan sifat pantang menyerah, tidak pernah mengeluh, dan selalu mencoba. Meski sering menjadi bulan-bulan Chef di kafe tersebut. Hingga, saat ia mendapatkan Chef baru yang diharapkan jauh dari sifar Chef sebelumnya, Naya harus menelan pahit doanya. Chef Nando adalah Chef mesum yang sempat Naya gampar di KRL, 2 kali. Bahkan pertemuan mereka pun sungguh di luar kata baik-baik saja.
Dunia yang  diimpikan indah, luntur seketika. Chef Nando seakan belas dendam karena telah dipermalukan oleh Naya. Bahkan setelah Nando menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi.
“Pengin doang nggak cukup buat jadi seorang koki, Kanaya. Dunia kuliner itu jauh lebih rumit dan lebih kejam dari yang orang lihar. Bertahan dari seleksi alamnya sulit.” Hal. 10
Nando adalah kebanggan orang tuanya karena digadang-gadangkan akan meneruskan warisan keluarga besar. Dia dikuliahkan di sekolah teknik  oleh ayahnya. Namun, tiba-tiba Nando berbelok haluan menjadi mahasiswa masak. Tentu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Namun, tidak ada yang namanya rahasia tertutup rapat, pasti selalu ada waktu yang membongkarnya. Begitulah hingga Nando harus minggat dari rumah dan hidup mandiri. Hingga sepuluh tahun berikutnya, ia bekerja membantu sang sahabat dan bertemu dengan Naya, assisten Chef. Wanita selebor dan ceroboh yang jelas sangat ia benci. Naya tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang koki, itu yang ditangkap Nando meski ia tahu bahwa Naya pekerja keras. Hingga perlahan, setelah waktu semakin menunjukkan sikap masing-masing, ada sebuah perasaan tak rela melihat Naya bersama dengan Nizar.
 “Ada alasan di balik tiap larangan dan saran dari mereka, begitu dengan ayah kamu.” Hal. 198
Orang tua memang selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Menunjukkan jalan terbaik agar masa depannya terjamin dan cerah. Seperti itulah yang dilakukan oleh orang tua Naya maupun Nando. Bedanya, Naya menjadi penurut untuk membahagiakan ayahnya, sedangkan Nando memilih membangkang. Meski begitu, ikatan batin tak dapat dielakkan. Tidak ada orang tua yang benar-benar membenci anaknya sendiri. Begitupun dengan anak yang tak mungkin tahan jauh dari orang tua. Takdir akan tetap menyatukan ikatan batin tersebut.
Special Order menurt saya sangat bagus untuk dibaca oleh para remaja. Karena bukan hanya sisi romatisme yang diusung. Namun, juga bagaimana kita harus bersikap pada apa yang akan dijalani ke depannya harus disiapkan dengan matang. Sama halnya memilih pendidikan yang tidak sama dengan keinginan orang tua. Sebagai anak, kita harus bisa bijak dalam mengambil keputusan ke depannya.
Berani dan bertangung jawab. Seperti itulah pesan yang ingin disampikan oleh novel ini. Bagaimana saat Nando harus berani keluar dari fakultas teknik dan berubah haluan, maka ia harus bertanggung jawab penjelasan pada keluargnya. Bagaimana beraninya Naya mencoba masuk ke dunia koki, maka ia harus bertanggung jawab dengan bekerja keras dalam menggapai mimpi tersebut.
Probolinggo, 16 April 2019
Agustin Handayani. Aktivis literasi daerah dan anggota FLP Probolinggo dan KomunLis (Komunitas Menulis) Probolinggo

Resensi Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri


Dokumentas. Kabar Madura 23 April 2019

Menyelami Kisah Cinta yang Bodoh

Judul                : Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri
Penulis             : Artie Ahmad
Penerbit           : Mojok
Terbitan          : Januari, 2019
Halaman         : viii+140 Halaman
ISBN               : 978-602-1318-83-6
Peresensi         : Agustin Handayani

Artie Ahmad hadir lagi dengan karya terbarunya. Sebuah kumpulan cerita pendek yang berjudul Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri. Kumcer yang di dalamnya terdiri dari 16 cerita pendek yang saling berdiri sendiri. Meski begitu, keenam belas cerpen tersebut seakan memiliki benang merah, yaitu tentang cinta. Namun bedanya, kisah cinta yang dikisahkan dalam setiap cerpen adalah sebuah kisah pilu, tragis, dan menyedihkan dari sebuah cinta. Hampir semua cerita di masaing-masing cerita seakan menjelaskan bagaimana cinta yang bodoh, menyakitakan dan menimbulkan luka. Cinta hanya pemanis diawal saja sebelum pahit setelahnya.
Bisa kita lihat dari sebuah cerpen yang diambil menjadi judul buku ini, yaitu Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri. Sepasang kisah suami isteri yang bernama Eugene dan Marion. Dalam permulaan cerita, mereka sudah berada di sebuah kota tua bekas penjajahan militer dulu, kota kelahiran Eugene. Dengan segala mitos yang ia jabarkan, Marion termakan dalam bualan yang tercipta dari suaminya sendiri. Cinta adalah pilihan. Kita bisa memilih apakah kita akan tetap menjadi budak cinta atau mengakhiri cinta yang bodoh. Seperti itulah yang Eugene lakukan. Sejak banyak informasi bahwa sang isteri sering keluar dengan seorang lelaki yang bukan dirinya, Eugene jelas merasakan marah yang selalu ia redam dengan batang rokok dan asap yang mengepul. Puncaknya, saat ia mendapati dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita yang sudah ia nikahi malah bergaul dengan lelaki lain. Saling berbagi kehangatan.
“Cinta yang tolol harus diakhiri. Penghiatana harus dibayar tunai dengan kematian. Seharusnya memang begitu.” Hal- 137
Beralih pada kisah cinta yang tak kalah menyedihkan adalah cerpen dengan judul Hidangan di Meja Makan. Seperti judulnya, kita tidak akan kesusahan dalam mengartikan akan ke mana cerita itu berjalan. Namun, Artie seakan memiliki nilai sendiri dalam memaknai hidangan yang ia jadikan objeknya kala ini. Penulis seakan mengatakan cinta dapat membuat seseorang lemah. Seperti halnya yang sedang dialami oleh seorang tokoh wanita. Setiap hari ia selalu dihidangkan makanan yang lezat dan berlemak dari suaminya. Tanpa bisa berbuat apa-apa, wanita ini semakin rakus dan rakus seperti halnya sapi yang hanya bisa makan setiap saat. Suaminya akan sangat senang saat mendapati wanita itu makan dengan lahap hingga kekenyangan. Dari kisah sebelumnya, diceritakan bahwa mereka berdua sama-sama memiliki sebuah pengalaman pahit tentang kelaparan dan makanan. Maka dari itu, sang suami yang seakan sehat ternyata memiliki penyakit mental yang tak dapat sembuh karena ambisinya pada kekenyangan.
“Aku mencintaimu juga. Dengan segenap lemak di dalam tubuhku. Mencintai dengan kolestrol dan gula darah yang tinggi. Aku mencintaimu dengan segala pengabdian, bahkan rela menjadi moster yang rakus…”- Hal 80
Keenam belas cerita cinta yang berada di dalam buku ini mungkin akan membuat pembaca berpikir dengan keras, apakah benar kisah cinta penuh luka? Baik ditimbulkan oleh perpisahan maupun perngkhianatan. Namun, mau apapun itu sumber luka tersebut, cinta memang selalu membawa dua genggam tangan dengan isi yang berbeda tapi tak bisa dipisahkan. Sebutlah kanan sebuah suka dan kiri adalah duka. Maka, saat kita mengenggam kanan, kita juga harus menerima kehadiran kiri.
Bahasa yang sangat puitis denga diksi yang mampu menembus ke dalam perasaan pembaca. Bagaimana seorang Artie Ahmad menyajikan kisah yang tidak melulu menye-menye, namun langsung menjatuhkan ke dalam jurang cinta yang tolol. Penulis memberikan banyak masalah yang secara nyata memang benar adanya di tengah kelumpuhan manusia dalam menjalin hubungan. Banyak kata setia yang dikhianati dan banyak pula rasa cinta yang mati dan menyakiti hati sendiri. Lantas, apakah kita bisa menjalin cinta yang cerdas dan hanya tersirat sebuah kebahagiaan? Sedang kita tahu bahagia adalah hal yang semu dan relatif.
Membaca dan menyelesaikan novel ini adalah pilihan saya untuk terus menikmati alurnya per cerita hingga selesai. Meski buku ini memang tidak dianjurkan untuk anak-anak usia di bawah 15 tahun. Besar harapan pembaca yang telah membaca buku ini bisa dengan bijak mengetahui arti cinta sesungguhnya sekaligus membuat diri berhati-hati pada cinta.
Probolinggo, 13 Maret 2019
Biodata Peresensi
Agustin Handayani. Seorang mahasiswa dan penggiat literasi daerah. Anggota aktif FLP Probolinggo yang sangat menyukai dunia sastra. 

Resensi Konspirasi Hujan

 Kabar Madura, 5 April 2019

Menyiasati Cinta di Balik Kesunyian

Judul                           : Konspirasi Hujan
Penulis                         : Adia Puja
Penerbit                       : Mojok
Terbitan                       : Cetakan Pertama, September 2018
Jumlah Halaman          : vi + 132 Halaman
Peresensi                     : Agustin Handayani
Sebuah karya yang apik tak luput dari bagaimana seorang penulis bisa membawa arus perasaan dari pembaca. Hal ini jelas akan memberikan penilain sendiri dari pembaca untuk setiap gaya penulis yang disajikan. Bagaimana seorang penulis memberikan sebuah gelombang untuk menerpa cerita yang dibuat, dan bagaimana pula cara penulis menyurutkan konflik dengan sebuah gebrakan yang tidak diduga oleh pembaca sebelumnya.
Seperti inilah yang Adia Puja lakukan pada kumpulan cerpennya. Karyanya yang berjudul Konspirasi hati memiliki sebuah makna dalam kisah masing-masing. Awalnya, pembaca pasti mengira konspirasi Hati ini hanyalah sebuah kisah cinta klise pada umumnya. Karena dari kata Konspirasi sendiri yang sangat pasaran dalam kisah-kisah percintaan.
Namun, akan beda halnya bila kita mulai membaca satu persatu dan menyelami semua kisah yang ada. Kisah-kisah yang disajikan dalam sebuah kesunyian dan makna mendalam tentang cinta yang terkadang bisa mencerahkan sekaligus membikin muram.
Kita bisa lihat ke cerpen pertama yang berjudul, Ni Luh. Sebuah kisah yang mengambil setting di Bali. Sebuah pulau dewata dengan sejuta pesona. Pulau ini juga yang melahirkan sebuah kesunyian dari rahimnya. Wanita bermarga Luh yang mendominasi cerita ini. Di sini cinta memang berarti kesunyian. Banyak hal yang membuat kita memilih untuk menikmati semua rasa yang mengalir dari pada harus mengungkapkan semuanya dengan terburu-buru. Ada saatnya kita diam karena kita takut. Takut pada akibat apa yang akan terjadi dengan sebuah ungkapan. Dan akan ada saatnya juga, cerita berakhir hanya dengan kesunyian masing-masing. Dengan debaran yang sama, cinta yang sama, dan keterbungkaman masing-masing.
Meloncat ke cerpen ketiga yang berjudul Bualan Bulan. Bercerita tentang Rama yang menyukai seorang teman wanitanya. Hal yang menjadi unik dari cerita ini adalah Rama yang bisa berbicara dengan bulan. Setiap malam, Rama akan bertanya pada bulan tentang apa yang dilakukan oleh orang yang dia sayang. Dan bulan akan menjawab sesuai dengan apa yang gadis itu lakukan. Hal yang aku kira bahwa penulis ingin berfantasi dengan keliaran idenya. Namun, lagi dan lagi aku sebagai pembaca akan jatuh pada kalimat akhir dari cerita tersebut.
“Hanya saja, kamu tidak bisa membedakan antara mimpi dan realita.” -Hal. 43
Ada sebuah adat di sebuah istana kerajaan. Di mana setiap raja yang meninggal, maka semua permaisuri akan ikut menemaninya ke alam baka. Hal itu menandakan sebuah kesetian permaisuri atas cinta kasih dan balas budinya pada sang Raja. Apakah ini  hal yang aneh? Tidak juga. Penulis berhasil membawakan kisah ini pada salah satu cerita di buku ini.
Bagaiaman konflik orang pribumi dan Cina yang hingga saat ini belum bisa bersatu? Senyum Terakhir An akan menjawab bagaimana kisah cinta di atara perbedaan adat dan konflik yang terbentang.
Adia Puja memang menceritakan kesunyian dari arti cinta. Aku suka bagaiman cinta menjalar dari pori-pori kesunyian hingga melahirkan dua sisi yang berlawanan. Semuanya tergantung dengan bagaimana pelaku-pelaku cinta itu sendiri. Apakah kita mampu bertindak dan berani hingga mendapatkan cinta yang cerah dan bahagia. Atau hanya diam dalam bilik kesunyian dan melahirkan kemuraman dan penyesalan. Semoga semua pembaca yang memeluk cerpen ini akan paham dan berhati-hati dalam mensiasati semua kesunyian cinta.

Probolinggo, 12 Januari 2019

Biodata Singkat Peresensi
Agustin Handayani. Perempuan kelahiran 1996. Anggota Forum Lingkar Pena Probolinggo serta aktivis literasi daerah.

Resensi Kelly On The Move

Kabar Madura, 8 April 2019 

Seni Melupakan Kenangan

Judul                : Kelly On The Move
Penulis             : Seplia
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Oktober 2018
Halaman         : 304 Halaman
ISBN               : 9786020618098
Peresensi         : Agustin Handayani

Tidak ada kata ‘baik-baik’ saja saat ditinggalkan oleh seseorang yang pernah singgah di hati. Terutama jika sudah lama menetap dan membangun banyak sekali kenangan bersama. Novel Kelly On The Move karya Seplia ini mengungkit bagaimana seorang Kelly yang mengaku sudah move on dari mantan yang memutuskannya secara sepihak. Namun kenyataannya, Kelly masih sering stalk social media Bobby lewat akun palsu yang sengaja ia buat. Bukan hanya sampai di situ, Kelly juga masih belum bisa lolos dari luka pasca putusnya hubungan dengan Bobby. Apakah sebegitu besar rasa sakit hati yang Kelly terima?
“Hal baru emang memang biasanya akan jadi puja-puji, tapi setelah hari demi hari berlalu dan hal baru udah jadi biasa saja, nggak akan jadi primadona lagi.” –Ha; 52
“Gimanapun, mudah untuk meninggalakkn seseorang ketika dia melarat, terus cari pengganti. Gampang mencintai orang dengan segala kelebihan harta benda dan fisiknya, kemudian menyombongkan diri. Tapi hidup… nggak selamanya kita di atas. Nggak selamanya kita baik-baik saja.” -58
Tokoh Kelly dalam cerita ini memang digambarkan dengan seorang wanita muda, cerdas, seorang dosen yang kuat dan penuh talenta. Hampir tidak ada cacat yang dimiliki oleh wanita seperti Kelly ini. Apalagi ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang sangat menyayanginya dan selalu ada saat ia tengah sendiri. Hanya saja, satu kecacatan dalam tokoh Kelly, yaitu terpuruk dalam luka masa lalu. Segala poin kelebihan yang dimilikinya seakan runtuh hanya dengan luka yang Bobby berikan.
Seperti kisah kebanyakan, saat remaja mereka terlalu bernapsu dengan cinta yang membuncah. Berjanji akan memiliki masa depan bersama dengan anak-anak yang akan menghiasai cinta mereka kelak. Selama sepuluh tahun Kelly dan Bobby memiliki angan dan impian bersama. Namun, hanya dalam hitungan detik, Bobby mampu menghancurkan seluruh impian tersebut hingga ke akar-akarnya. Dari sana, Kelly kehilangan harga diri dan kepercayaan untuk menjalin sebuah hubungan baru. Ia selalu bertanya apa yang kurang dari dirinya? apakah masih ada kekurangan dalam dirinya hingga Bobby lebih memilih Maria, wanita yang sok agamis dengan social media yang penuh dengan khutbah.
Hingga di tengah patah hatinya, Kelly berkenalan dengan Assen. Seorang aktor yang mendapatkan keperyaan untuk membantu proses pentas teater sekolah. Mungkin bila ditanya, siapa orang yang tidak histeris kala bertemu aktor setampan Assen, mungkin jawabannya hanya Kelly seorang. Bahkan Kelly tidak mengenal Assen dan malah mengira Assen adalah salah satu mahasiswa yang meminta bimbingan skripsi denganya. Namun kedati begitu, Assen malah tertarik dengan karakter yang Kelly miliki. Wanita yang sangat cerdas dengan kilau cahaya dalam dirinya.
Tak butuh waktu lama, Assen langsung mengutarakan perasaannya. Namun, dari sana pula ia paham apa yang sedang mengurung wanita itu. Luka sebuah perpisahan dan sakitnya kenangan. Kelly belum bisa berdamai dengan masa lalu dan kenangannya.
Sebuah alur cerita yang berjalan dengan lambat, namun sangat nyaman diikuti. Ada beberapa humor yang diciptakan oleh beberapa tokoh sahabat Kelly seperti Chris yang selalu menjadi bahan bullyan Kelly. Meski begitu, di beberapa bagian mereka akan sangat kompak bila membahas tentang drama korea dan Oppa-Oppa-nya.
Ada sebuah nilai perjuangan  yang Assen ajarkan. Bahwa sesuatu, apapun itu tidak harus terburu-buru dan malah terkesan memaksa. Karena itu, meski ia mencintai Kelly, lelaki itu mau menunggu hingga Kelly berbaikan dengan diri sendiri. Karena semua akar masalahnya adalah Kelly yang belum berbaikan pada masa lalu dan dirinya. Semua permasalah ada pada diri Kelly sendiri.
Novel Kelly On The Move ini juga mengangkat kisah persahabatan yang dialami oleh Tere, Chirs, Inez dan juga Kelly. Mereka yang selalu mendukung Kelly untuk bangkit dan mencoba mengembalikan kepercayaan diri sahabatnya tersebut.
“Patah hati nggak pernah sederhana. Meski patahnya sama, hati tiap orang yang ngalamin bakal ngerasain efek yang berbeda.” – Hal 121
Saat kita selesai membaca novel ini, banyak hal yang kita dapat petik di dalamnya. Salah satunya adalah bagaiaman setiap individu menyikapi patah hati dan masa lalu yang sama-sama pahitnya. Meski dengan cara berbeda, mereka sama-sama memiliki tujuan untuk bahagia. Dan perjalana Kelly untuk melupakan masa lalu memang lambat, namun ia tetap bisa menuju kebagaiannya sendiri bersama orang yang mau menunggu dan berjuang bersamnya.
Probolinggo, 6 Maret 2019
Biodata Peresensi
Agustin Handayani. Seorang aktivis literasi Probolinggo yang tergabung dalam Komuitas Menulis (KomunLis) dan juga anggota FLP Probolinggo. Gemar membaca dan menulis hingga karyanya sudah terbit di media, bahkan beberapa sudah dibukukan.


FantasTeen - Charlie Is Back





Misteri Teror Permainan Charlie

Judul               : Charlie Is Back
Penulis             : Fransisca Intan
Penerbit           : Dar! Mizan
Terbitan           :  Januari, 2019
Halaman          : 168 Halaman
ISBN               : 978-602-420-730-4
Peresensi         : Agustin Handayani

Charlie Is Back, adalah sebuah seri novel fantasteen yang mengambil sebuah kisah permainan Charlie Charlie Challenge di mana kita bisa memanggil hantu dengan perantara selembar kertas dan sebuah pensil. Seorang hantu yang digambarakan sebagai seoaramg anak kecil yang gemar sekali bermain dan akan sangat senang saat ada orang dewasa yang mengajaknya bermain bersama.

Fransisca Intan sukses membawakan sebuah kisah yang benar-benar menyeramkan sekaligus membuat kita ketagihan untuk membacanya hingga selesai. Ada beberapa adegan yang diceritakan dengan sangat detail tanpa mengurangi unsur mistis sekaligus horor yang membuatku sebagai pembaca jadi menatap sekeliling dengan was-was. Mungkin saja di sekitarku Charlie sedang duduk dengan mata kosong dan memperhatikan setiap orang yang membaca kisahnya. Hingga hinggap sebuah pertanyaan dalam pikiranku; Bagaiamana bisa penulis membuat kisah ini dengan sangat apik? Tidak adakah ketakutan di dalamnya?

“Can we play? Why you won’t play with me?Do you hate me? Do you loved other child? Tell me. If you’re not hate me, let’s play.” –Hal. 30 

Seperti sifat kebanyakan. Charlie pun memiliki sifat yang senang bermain terutama saat ia diajak bermain oleh orang-orang dewasa. Hanya saja, bila ia diusir tanpa bermain terlebih dahulu, makai ia akan marah dan bisa saja akan terus merengek agar kita mau bermain dengannya hingga ia bosan dan pergi dengan sendirinya. Seharusnya inilah yang dilakukan oleh Sofia, Venom dan Joshua saat bermain Charlie Charlie Chellenge. Mereka harus bermain dengan Charlie dan setelah Charlie bosan, barulah mereka mematahkan pensil dan membakar kertasnya agar Charlie bisa kembali ke alamnya. Namun, mereka tidak melakukannya. Mereka mengusir Charlie bahkan sebelum permaianan dimulai. Katakanlah, ini yang menjadi penyebab kekesalan Charlie hingga Venom harus meninggal dunia, Sofia yang harus menerima donor mata dan sekarang divonis terkena anxiety Disorder.

Sofia pun harus ditangani oleh seorang psikiater karena ia yang sangat susah tidur dan memiliki kantong mata yang sangat mengerikan. Tanpa mereka ketahui, penyebab Sofia yang tidak bisa tidur adalah teror  dari Charlie setelah dua tahun kejadian naas itu. Sofia selalu bermimpi buruk dan ketakutan hingga ia memutuskan untuk terus terjaga setiap malam.

“Mereka yang mati tidak mudah untuk mati dua kali dan mungkin saja kembali.” -Hal 51

Permaian memanggil hantu memang memiliki resiko sendiri-sendiri tergantung dengan siapa hantu yang sedang kita panggil. Maka, saat Sofia bertemu dengan Jesthine, ia sadar bahwa selama ini Charlie yang selalu bermain ayunan di depan rumahnya memang nyata. Charlie yang menerornya memang menginginkan nyawanya. Charlie merasa dipermainkan karena sampai detik ini, Sofia selalu pergi dan tidak mengajaknya bermaian. Lagi pula, manusia normal mana yang mau bermaian dengan seorang hantu anak kecil yang menyeramkan. Namun, saat meminta bantuan pada seorang paranormal yang dikenal Jesthine, saat itulah Sofia dan Joshua paham bahwa mereka harus kembali bermain Charlie Charlie Challenge untuk mengajaknya bermain.
“Playing with me or I won’t leave your life. Or I take you to death much faster.” -Hal. 155

Novel horor yang mengangkat kisah urban legend ini benar-benar sangat menyeramkan sekaligus mengerikan. Kisah Charlie sendiri diceritakan dengan sangat luwes oleh penulis. Bagaimana kehadiran Charlie, sosoknya yang mengerikan dan seluk beluk Charlie saat masih menjadi bocah benar-benar membuat saya paham dari mana asal permainan tersebut dan kenapa menggunakan perantara kertas dan pensil.

Meski dengan mata yang selalu awas pada sekitar, hati yang merasa ketakutan sendiri dengan pikiran yang melayang dan menerka-nerka apakah Charlie juga ada di sekitar saya, novel ini benar-benar sukses untuk membuat pembaca merasa ketakutan namun juga ingin menyelesaikan bacaannya. Semoga semua teman-teman yang membaca novel ini mendapatkan pelajaran untuk tidak bermain-main dengan hantu, meskipun dalam permainan.

Probolinggo, 13 Februari 2019

Bidata Peresensi
Agustin Handayani. Lahir di Probolinggo dan menjadi aktivis literasi daerah terutama Anggota FLP Probolinggo.

Alasan Menjadi Anggota FLP!




"Rumah bagi penulis adalah sebuah organisasi yang menjadi wadah sekaligus tempat belajar bersama." -Yani, FLP Probolinggo.



Seseorang mungkin bisa menulis sendiri, namun untuk menjadi seorang penulis, kita butuh teman, wadah, dan juga segala hal lainnya yang bisa membuat kita maju dan terus berproses. Tidak ada penulis yang langsung meraih kesuksesan dan berada di titik tertinggi tanpa melalui proses. Maka dari itu, seyogyanya kita belajar mencintai proses. Dan dalam proses tersebut, ada banyak penulis yang melaluinya dengan kisah masing-masing.
Forum Lingkar Pena adalah sebuah wadah sekaligus menjadi rumah untuk para penulis agar terus berproses, dan belajar hingga sukses dan menjadi penulis yang bermanfaat. Banyak teman, saudara, motivasi serta dukungan yang membuat kita bisa terus tegak dan kokoh dalam usaha kita menjadi penulis yang bermanfaat.
Dari sebuah artikel ini, saya akan memaparkan alasan-alasan yang membuat saya wajib bergabung dengan FLP terutama FLP Probolinggo.

1. Berawal dari Kegelisahan.

Minat baca memang sangat kecil, apalagi dengan minat menulis. Dari sini, saya berpikir bagaimana bisa saya meningkatkan minat baca kota (Probolinggo) agar lebih tinggi lagi. Dan karena saya sendiri memang menyukai dunia literasi sejak dulu, meski hanya membaca, saya pun mencari komunitas dan organisasi daerah yang bisa menjadi wadah agar membantu meningkatkan minat baca remaja. Saya ingin menjadi bagian untuk mendukung semua kegiatan literasi di zaman ini. Karena, kesadaran diri bahwa seseorang yang cerdas adalah mereka yang gemar membaca.
Secara global, FLP memang sangat sukses menjadi sebuah jawaban untuk meningkatkan minat baca dalam masyarakat.
2. FLP adalah wadah

Sangat banyak rintangan dalam menjadi penulis. Misal, patah semangat, malas, lelah, tidak ada ide, dll. Itu semua adalah kegelisahan lainnya yang sering dirasakan oleh penulis manapun menurut saya. Maka dari itu saya berpikir bagaimana caranya menghilangkan kegelisahan yang ini? Oh, iya! Saya harus memiliki teman sehobi dan sejalur dengan saya. Merekalah yang nantinya akan terus mendorong kita dan memberi Semangat. Selalu ada kata-kata, "sukses, ya!" , "jangan patah semangat!" , "gitu saja pasti kamu bisa, kok!" , "kami percaya sama kamu!" Dan banyak lagi kata-kata dukungan yang mau tidak mau memang sangat berpengaruh untuk kita semua. Akan ada saat di mana kita berpikir, "Oh, ya! Jika mereka percaya saya bisa, kenapa saya harus pesimis?"

Itu adalah pemikiran kenapa saya harus memiliki rumah (FLP) untuk menjadi tempat saya mencari semangat dan dukungan dari mereka.  Karena Kegelisahan itu tidak datang sekali dua kali. Kadang berkali-kali yang membuat saya semakin gencar bertukar pikiran dan meminta dukungan teman-teman.

FLP sebagai wadah juga mengenalkan saya kepada penulis-penulis lainnya. Mereka akan dengan senang hati bertukar cerita perjuangan mereka hingga bisa sampai di titik ini. Tidak ada yang instan di dunia ini, mie saja harus dimasak sebelum di makan. Apalagi menjadi penulis. Harus ada usaha dan pengorbanan di setiap langkahnya. Dari sini kita pasti akan semakin semangat setelah mnedapatkan pengalaman dari temna-teman yang seperti “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.”

3. Luruskan Niat, Berikan Manfaat.

Jika ditanya apa yang harus dimiliki penulis saat pertama kali ia menulis, pasti jawabannya adalah niat. Apa niat kita menulis? Sebelumnya, mungkin saya tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk. Niat saya hanya untuk menulis saja. Hingga saat saya mulai tergabung di FLP, saya paham niat menulis saya masih belum benar. FLP mengajarkan kita menulis untuk berbagi manfaat untuk sekitar. Seperti yang kita tahu, dengan tulisan, kita seakan hidup dalam keabadian. Dengan tulisan, kita menembus ribuan kepala untuk berbagi kebaikan dan manfaat. Karena itulah, adanya FLP benar-benar membantu saya untuk terus membenarkan niat dan beribadah lewat tulisan.

4. Pengalaman, Pelajaran, sekaligus Pengetahuan

Forum Lingkar Pena juga memberikan saya pengalaman dalam berorganisasi di masyarakat. Mereka memberikan saya kesempatan untuk ikut aktif bergabung dalam segala acara yang dilaksanakan. Banyak acara yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena yang semakin menambah pengalaman saya, sekaligus menjadi ide dan pondasi untuk saya terus menulis.

Pelajaran. Di sini banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Cara menyikapi diri, cara menulis yang baik, dan seperti apa tulisan bermanfaat itu, dan juga menjadi motivator untuk orang lain agar tidak patah semangat.

Pengetahuan. Forum Lingkar Pena bukan hanya memiliki penulis Fiksi. Ada banyak penulis non fiksi yang tergabung  di sana. Dari hasil karya mereka lah saya mendapatkan sebuah ilmu baru dan pengetahuan lainnya. Saya tidak selalu hidup dalam dunia imajinasi (fiksi), namun juga menyeimbangkannya dengan dunia riset dan ilmiah.

5. Saudara

Ada yang beda dengan pergaulan di Forum Lingkar Pena. Apa? Persaudaraan yang terjalin. Kita sama-sama saling mengingatkan tentang agama dan syariat Islam. Jadi, FLP bukan lagi hanya tentang Menulis, tetapi tentang berdakwah lewat tulisan. Seperti sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Atau sembari menyelam, kita minum air. Maka, selagi belajar menulis, kita juga belajar keagamaan.

Mungkin itulah beberapa alasan kenapa saya memilih FLP sebagai wadah yang wajib saya ikuti. Karena menulis bukan lagi tentang membuang kegelisahan, namun juga tentang berbagi manfaat, berdakwah lewat tulisan. Jadi, bagi teman-teman yang belum tergabung, saya ingatkan untuk segera bergabung. Dan bagi yang sudah bergabung, salam literasi untuk kita semua!

“Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22Th” Blogger FLP



Probolinggo, 25 Maret 2019






Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...