Resensi Bingkai Kenangan


Radar Mojokerto, Minggu 3 Maret 2019 
Info by Rudi Santoso 


Kenangan Tersunyi dan Kekuatan Hidup

Judul                : Bingkai Kenangan
Penulis             : Seplia
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Oktober, 2018
Halaman         : 280 halaman
ISBN               : 9786020613611
Peresensi         : Agustin Handayani

Bebicara tentang sebuah kenangan, pastilah beberapa orang memiliki pendapat sendiri. Ada yang menganggap kenangan adalah sesuatu yang harus dilupakan, dan ada pula yang mengangungkan kenangan tersebut lantaran termasuk sisi dirinya di masa lalu, bagian utuh dirinya sendiri. Seyogyanya, kenangan memang harus diingat, bukan dilupakan. Ia adalah bagian utuh diri kita, karena tanpa kenangan, kita bukanlah diri kita di hari ini. Dan bagaimana bila kita tidak bisa mengingat kenangan kita? Bukan hanya kenangan bersama teman, saudara, kerabat, bahkan diri sendiripun, kita bisa dengan mudah melupakannya.

Hal inilah yang dirasakan oleh orang-orang yang mengidap penyakit Alzheimer. Penyakit yang umumnya dirasakan oleh manula ini nyatanya bisa juga menyerang remaja bahkan anak kecil. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selalu ada pengecualian di dalamnya. Dan, di sinilah penulis mengangkat penderita Alzheimer dalam sosok Flo. Gadis yang baru masuk SMA Collase. Di sana, sosok Flo dikarakterkan dengan gadis yang menyiratkan kesedihan mendalam. Semua orang yang melihatnya akan hanyut dalam pesona kecantikan, namun juga terbunuh secara perlahan oleh kesedihan yang terpancar di dalam matanya. Ada kesenduan di dalamnya.

“Ujian sesungguhnya, ya hidup ini sendiri.” – Hal. 231

Bingkai Kenangan adalah kisah remaja yang dengan kisah sekolah, persahabatan dan bagaimana anak-anak remaja bertindak. Kelabilan yang ditampilkan oleh Gaga dalam menentukan hidup hingga ia harus terjerat dunia kelam dan ditendang oleh keluarganya sendiri. Bagaimana sebuah persahabatan yang saling mendukung dan melengkapi sisi kekurangan masing-masing hingga utuh tanpa cela. Flo yang memiliki sahabat sekaligus kekasih yang selalu sabar bahkan saat esoknya ia melupakan mereka, para sahabatnya akan memulai perkenalan kembali. Meski digambarkan dengan sosok lelaki yang easy going dan kurang serius, nyatanya sosok Ellio memiliki sifat kedewasaan dalam menggapai cita-citanya.

Novel ini sangat memukau dengan bumbu dunia fotografer dan event pameran sekolah. Cara-cara pengambilan gambar dan berbafai fitur dari kamera  bahkan dijelaskan dengan sangat rinci. Di sinilah Noah dan Ellio bersaing untuk menang. Mengingat bagaimana Ellio yang selalu menang membuat persaingan semakin seru dengan kegigihan Noah yang juga cukup berbakat di bidang tersebut. Dalam persaingan merekalah kita belajar bahwa seseorang kadang harus di bawah, bukan karena dia kalah. Namun agar menjadi batasan diri agar kita tak pongah. Meski harus menelan pil pahit dengan kekalahan di pameran foto, nyatanya ia menang dalam mendapatkan pembelajaran hidup.

“Aku nggak mau dilupain dan ngelupain siapa pun. Sekalipun itu hal yang pahit atau manis, aku ingin terus mengingatnya.” –Hal 237

Siapa yang ingin dilupakan dan melupakan? Ellio menjawab dengan tegas bahwa ia tidak memiliki seni dalam melupakan. Baik melupakan Gaga yang sudah dua tahun keluar dari rumah, atau Flo, sang kekasih yang menderita Alzheimer. Sisi kehidupan yang diangkat dari novel ini adalah bagaiamana sebuah impian yang harus diperjuangkan, kita bisa lihat dari sisi Nana yang sangat rajin sekolah untuk bisa  kuliah ke luar negeri.

Membaca novel ini jelas kita akan tahu bahwa ini bukan sekadar novel remaja dengan kisah cintanya. Namun ini tentang perjuangan hidup, persahabatan dan juga ketegaran. Bagaimana saat kita dihadapi dengan remaja yang seharusnya memiliki impian, bersenang-senang dengan teman dan beraktifitas lain-lain. Namun, Flo tidak bisa. Jiawanya tidak akan mampu senormal dengan teman lainnya. Bingaki kenangan mengajarkan kita betapa berartinya kenangan bagi orang-orang yang sangat memerlukannya. Jadi, alangkah baiknya kita sayangi kenangan yang melekat dalam pikiran kita. Karena beberapa orang di luar sana bahkan harus berusaha keras untuk mengingatnya,

Probolinggo, 23 Februari 2019

Biodata Narasi
Agustin Handayani. Kalahiran Probolinggo, 1996. Seorang aktivis literasi daerah dan termasuk anggota FLP Probolinggo. Suka menulis novel yang sudah terbit di Intisar Publishing dan AT Press, bahkan beberapa cerpennya beberapa kali memenangkan perlombaan. Sekarang tengah menggeluti dunia resensi dan novel.

Resensi Turn Back


DenPost, Minggu, 3 Maret 2019 
Image by I Made Sujaya 

Sebuah Rahasia untuk Kembali

Judul                : Turn Back
Penulis             : Azizahazeha
Penerbit           : Lumiere Publishing
Terbitan          : Cetakan Pertama, Desember 2018
Halaman         : 316 Halaman
Peresensi         : Agustin Handayani

Saat kita mendengar kata ‘kembali’, apa yang terbersit dalam pikiran kita? Jelaslah mengulang, berpulang dan juga rumah. Seperti itulah cerita dalam novel ini. Novel yang berjudul Turn Back menjelaskan bagaimana usaha Alden untuk bisa kembali pada Bening Citra Lentera, mantan isterinya. Mereka berpisah dengan sangat tidak wajar hingga menyisakan banyak sekali rahasia dan kejanggalan di dalamnya. Hal itulah yang membuat Alden bertekad untuk mencari tahu semuanya saat kembali ke Jakarta, Indonesia.

New York dan segala kemewahannya tidak akan pernah mampu membuat Alden melupakan sosok Bening di hatinya. Maka dari itu, setelah ia sampai di Jakarta, ia langsung melakukan pencarian untuk mencari mantan isterinya tersebut. Masih banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari Bening. Berminggu-minggu ia mencari dan belum menemukan titik terang tentang keberadaan Bening. Bahkan social media terakhir aktif lima tahun lalu. Alden benar-benar frustasi dibuatnya.

“Hidup ini tanpamu hanyalah lakuna.” – Hal. 20

Beberapa orang menganggap cinta adalah suatu zat yang tak berwujud, tetapi bisa mengisi kekosongan di hati manusia. Itulah mengapa saat kita kehilangan cinta atau jauh darinya, kita akan merasakan kekosongan yang terasa pekat. Alden merasakannya. Ia merasa sepi dan entah perasaan apa lagi yang bersarang dalam hati dan pikirannya. Keduanya sama-sama berkompromi dan malah membuatnya frustasi. Ia sangat merindukan Bening. Dan saat semesta mempertemukan keduanya, kita sangat paham bahwa dunia sangat sempit. Sesempit keberadaan Alden dan Bening yang ternyata bekerja di satu gedung yang sama.

Azizahazeha –penulis- seakan memberikan kita sebuah kunci untuk membuka pintu kenangan. Ia memberikan kita banyak kata kunci dan membiarkan pembaca menebak ke mana jalan cerita ini, dan seperti apa asal muasalnya. Hingga per bab, ia sedikit demi sedikit memberikan sebuah penjelasan singkat sebelum menuju ke akhir cerita. Konflik yang sangat kompleks menuurtku.

Bening terpaksa meminta cerai kepada Alden lantaran perjanjiannya dengan ibu Alden –Soraya-. Bening hamil saat bercerai dengan Alden. Dan masih banyak lagi rahasia yang terungakap. Pengungkapan rahasia dipasang dengan porsi yang pas di setiap Bab hingga tidak menyebabkan kebosanan dalam membaca.  Di dua pertiga cerita, penulis memberikan lagi sebuah kejutan yang bagaikan bom untuk pembaca. Kehadiran Ginanjar yang membuat pembaca bertanya-tanya, ‘bagaimana hubungan mantan suami  isteri itu –Ginanjar dan Soraya-? Rahasia apa lagi yang sedang disembunyikan oleh keduanya dari anak-anak dan apa hubungannya dengan Bening?’

“Dia berhak mendapatkan kebahagiaannya. Sudah terlalu banyak kesakitan  yang dia terima. Mungkin selama ini kita banyak berpikir kitalah yang paling menderita. Padahal kenyataannya, di antara kita, dialah yang paling menderita.”- Hal.303

Saat benang merah malah menyeret Mahira, Soraya, Alden, Bening, Andin, Ginajar Aldi, dan Rexa dalam suatu hubungan yang penuh dengan rahasia, kita akan mengakui begitu apiknya semesta mempertemukan semuanya dalam ruangan yang sempit. Saling menyimpan rahasia antara satu orang dengan lainnya, dan saat rahasia itu terbuka, pecahlah! Satu rahasia seakan membuka rahasia lainnya. Tidak ada korban dan pelaku di dalamnya. Karena semua sama-sama berada dalam posisi masing-masing. Terluka dan berkoban. Hanya karena masa lalu, mereka seakan tidak memiliki alasan lain selain menjauh dan saling menenangkan pikiran.

Bagaimana sebuah rahasia memang akan berpengaruh terhadap masa depan semua orang, Aizah berhasil menyajikannya menjadi sebuah bacaan yang memikat. Kesan klise terhapus dengan nyamannya alur yang mengalir. Datangnya tokoh-tokoh pendukung yang memiliki sifat khas tersendiri seakan menjadi penghibur dan selingan dari tokoh utama. Banyak hal menarik yang bisa kita dapatkan dari novel ini. Jadi, alangkah baiknya, teruslah membaca, menyelami dan nikmati kisah ini.

Probolinggo, 19 Februari 2019

Biodata Peresensi

Agustin Handayani. Seorang perempuan kelahiran Probolinggo, 1996. Seorang mahasiswa sekaligus pustakwan sekolah. Aktif dalam dunia literasi hingga tergabung dalam Komunitas Menulis (KomunLis) dan Organisasi Forum Lingkar Pena (FLP) Probolinggo. Sudah meluncurkan novel solonya yang berjudul Hey, I Love You (2017), Petrichor (2018), dan beberapa antologi puisi dan cerpen. 

Resensi The Lost Man

Radar Cirebon edisi Sabtu, 2 Maret 2019 
Image from Faris Al Faris 

Misteri Kawan dan Lawan

Judul                           : The Lost Man
Penulis                         : Sarah Ann
Penerbit                       : Mizan
Terbitan                       : Januari, 2019
Halaman                      : 176 halaman
ISBN                           : 978-602-420-732-8
Peresensi                     : Agustin Handayani

The Lost Man, pertama kali membaca dan melihat judulnya, mungkin beberapa orang akan beranggapan tentang sosok lelaki yang hilang dan horror. Itu alami bagi semua orang jika hanya menerjemahkan dari judulnya. Dan saat kita mulai membaca dan menyiapkan diri menyelami ceriat sejak awal, kita pasti bertanya, apa maksud dan tujuan penulis membuat judul ini? Siapa yang hilang? Bagian mana horornya dan apa hubungannya dengan kisah keempat kawan yangs sering menghabiskan sorenya di bale-bale desa.

“Jangan pernah lupa, ya, Kawan! Jangan pernah menjadikan kawan sebagai lawan. Persahabatan kita bukan satu-dua- hari. Delapan tahun bukanlah waktu yang cukup sebentar.” -Hal, 11

Seperti yang kita tahu, waktu dapat mengubah semuanya. Dari kawan menjadi lawan. Pada awal kisah, kita akan berkenalan dengan empat kawan yang masing-masing bernama, Chandra, Edo, Hardi, dan Beni. Empat kawan dengan sifat masing-masing. Sarah Ann, sebagai penulis novel fantasteen ini, hanya memberikan kilasan singkat tentang keempat sahabat ini diawal kisah saja. Selanjutnya, kisah akan berloncat pada terror terhadap seorang penguasa, seorang gadis yang berprofesi sebagai model dan juga dua polisi yang melakukan penyelidikan.

Alur yang memang dicampur, kadang membuat kita bingung, namun tetap sukses menumbuhkan rasa penasaran dalam diri masing-masing pembaca. Apa hubungan gadis bernama Kiara dengan seorang lelaki yang kematiannya tidak diketahui oleh siapa-siapa. Hal-hal mistis yang dialamai seperti taxi misterius, makhluk-makluk halus yang sering datang seakan meminta bantuannya, dan hal aneh lainnya hingga Kiara dan Aga berenca membantu hantu penasaran tersebut sekaligus memecahakan misteri yang seakan berhubungan dekat dengan Kiara sendiri.

“Tempat ini seperti penjara mewah. Perawat di sini menganggap hampir semua pasiennya sama -mengidap gangguan jiwa, stress, gila dan semacamnya.” – Hal. 98

Di tengah cerita, kita akan diperkenalakan dengan satu tokoh lagi, Devi. Dari sini kita tahu bahwa Devi adalah salah satu korban yang selamat dari pembunuhan beberapa tahun silam. Saat itu, dia harus pura-pura mati agat pembunuh itu tak menembaknya. Namun pada akhirnya, ia harus rela dibuang ke sungai dan ditemui oleh warga hingga ia dianggap gila. Maka, pilihan pura-pura gila adalah pilihan yang paling aman untuknya. Devi merasa, hingga saat ini pembunuh tersebut akan terus mengejarnya.

Sebenrnya, menurutku pribadi, Sarah Ann sangat sukses menyajikan sebuah cerita horror, fantasi, dan juga bercampur dengan kemajuan teknologi. Di samping inti dari cerita ini, aku benar-benar terpukau dengan bagaimana penulis bisa menjabarkan dengan sangat detail alat-alat, kemajuan taknologi dan kecanggihannya. Seakan semuanya memang nampak nyata, dan pembaca ikuta masuk ke dalam kisah ini.

Penulis mencoba membuat sebuah garis besar kisah tentang pertemanan, ambisi, dan bagaimana sifat hakiki manusia yang selalu merasa iri. Inilah yang dialami oleh Herdi. Ketamakan telah membuatnya iri dan mengincar nyawa temannya sendiri. Tanpa mau tahu bagaimana indahnya kisah mereka bersama di masa kanak-kanak, kekayaan telah mengubur semua kenangan dan rasa empatinya. Pembunuhan dan pencarian harta karun dimulai.

“Kamu dititipkan pesan untuk selalu berhati-hati, jujur, dan tak terlena dengan omongan manis seseorang.” – Hal 172

Banyak pelajaran yang didapat setelah aku membiarkan diriku menjadi pembaca yang menuntaskan kisah ini. Misteri yang tersaji dan bagaimana alur yang seakan meloncat, lirih, dan kadang meneganggkan berhasil membuat kita paham, bahwa itulah hidup. Kita bisa berjanji bahwa pada hari ini, kebajikan akan kita pegang sampai esok. Namun, saat esok tiba. Waktu dan ketamakan bisa mengubah kawan menjadi lawan. Bisa saja, musuhmu adalah mereka yang selalu berkata manis di depannya. Nyatanya, dia adalah pisau tajam yang dapat menghunusmu dengan keji.

The Lost Man, buku yang mungkin bisa membawa semua pembaca untuk berhati-hati pada kawannya kali ini. Namun, tetap saja kita harus menanamkan sifat bijak dan menjauhi tamak agar terhindar dari kejahatan-kejahatan yang ditimbulkan oleh hati. Sangat aman untuk dibaca oleh semua golongan agar mendapat pemahaman dari petualangan yang menegangkan kali ini.

Probolinggo, 9 Februari 2019



Esok Setelah Lulus




Agustin Handayani

Wanita ini terus saja duduk dalam dia. Sejak tadi, tiga puluh menit yang lalu tidak ada percakapan yang berarti antara dua manusia yang saling membisu. Memberi jeda dan jarak bagi kesunyian untuk duduk di atara mereka. Bahkan muk-muk bening hanya bisa diam tanpa gerakan. Kopi yang sejak tadi panas, mulai menghangat dan dingin di detik ini.

“Jika kamu kuliah, apakah kamu bisa menjamin kamu bisa kerja?” tanya wanita yang lebih tua. Umurnya mungkin sudah setengah abad. Sangat kentara dengan keriput yang nampak jelas di sekitar matanya. Meski begitu, bekas sisa senyum bibirnya tak pernah hilang. Masih membekas sempurna yang selaras dengan cetakan mata bulatnya.

“Aku tidak tahu, Bu. Namun, aku sangat ingin kuliah. Ada jalur undangan dan bidik misi yang bisa aku ambil nantinya. Masalah biaya tidak akan jadi masalah lagi,” jawab Lela, seorang gadis yang sejak tadi mengutarakan impian dan cita-cita pendidikannya. Ia sudah tak memiliki ayah, jadi semua yang memerlukan diskusi dan pertimbangan selalu bersama dengan sang ibu. Ayahnya sudah sejak delapan tahun lalu meninggal akibat kecelakaan motor saat berangkat kerja. Kehidupan mereka setelahnya sangat berat. Kepala keluarga yang menjadi pondasi rumah, sekaan runtuh seketika. Dari sinilah Lela diajarkan untuk bisa bersikap mandiri dan memandang jauh ke depan.

“Ibaratkan rumah. Kuliah ibaratkan perabotannya seperti meja, kasur, kursi, dan lain-lain. Sedangkan pekerjaan adalah rumah itu sendiri. Dan masa depan adalah unsur keduanya. Dari sini coba kamu piker. Apa yang kamu butuhkan terlebih dahulu? Rumah atau perabotannya?” wanita itu diam terlebih dahulu. Ia menghirup udara sedalam-dalamnya dan menghembuskan napas perlahan. Pemikirannya mungkin berbeda dari orang tua kebanyakan. Namun, ia hanya ingin memberikan sedikit pencerahan tentang apa namanya masa depan dan keberhasilan.

Di luar sana, banyak para wisudawan yang berakhir dengan menjadi pengangguran hingga banyak pula kertas lamaran yang terbuang sia-sia. Siapa yang salah? Apakah perkuliahan atau lembaga pelatihan tenaga kerja yang salah? Sebenarnya ini bukan salah siapa-siapa. Menurut wanita ini, kesalahan terbesar hanya berada pada awal pemikiran yang kurang matang. Beberapa orang kurang memperhitungkan langkah yang akan mereka tuju ke depannya. Beberapa pemuda bahkan hanya asal kuliah dan menjalaninya dengan bermain sesuka hati. Apakah itu salah?

“Kamu bisa jawab pertanyaan Ibu?” wanita ini kembali bertanya pada Lela yang sepertinya sedang mencerna apa yang akan dipilihnya untuk menuntun langkahnya kelak.

“Aku ingin memiliki rumah dahulu baru perabotan,” jawab Lela mantap.

Wanita itu tersenyum. Setiap manusia memiliki apa yang namanya pilihan dalam masa depannya masing-masing. Sementara orang tua hanya bisa memberikan arahan dan pengertian. Mau apa jalan yang diambil nantinya, orang tua hanya harus merelakan dan memberi dukungan.
Probolinggo, 2 Maret 2019


Angan Dara



“Aku mungkin bisa hidup meski tanpa dia.” Dara terdiam setelahnya. Dia mengetuk ujung dagunya dan berpikir sejenak. “Iya. Aku bisa hidup tanpa dia, tapi tidak tanpa kamu,” cengirnya setelah itu.
“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”
“Hm, mungkin karena dari semua lelaki yang ada, hanya kamu yang rela aku recokin setiap malam, gendongin aku keliling taman kompleks, dan hanya kamu juga yang selalu ngasih aku makan saat aku lupa,” jawab Dara enteng.
Sementara Angan, lelaki yang kini berada di depannya hanya tersenyum tipis. Merasa ajaib juga dengan jawaban Dara yang jauh dari harapannya. Ia kira, Dara akan berkata ‘karena aku mencintaimu’, tapi itu semua memang hanya mimpi bagi Angan.
Dara adalah wanita yang Angan sayangi. Mungkin perasaan yang ia rasakan tidak sepenuhnya bertepuk sebelah tangan. Angan jelas tahu bahwa Dara juga menyayanginya. Meski dalam rasa yang berbeda, hanya sebagai kakak dan pelindung.
“Jadi, dalam artian, kamu nggak akan bisa hidup tanpa aku?” pancing Angan dengan nada menggoda. Namun, anggukan yang ia terima langsung menghentikan cengiran Angan. Ia mengubah mimik wajahnya menjadi serius dan berucap lirih, “aku harap kamu memang nggak akan bisa hidup tanpa aku.”
Dara mendekat. Memposisikan dirinya di depan Angan dan langsung menepuk bahu lelaki itu seakan menyalurkan sebuah energi yang dapat menguatkan Angan. “Aku harap kamu selalu bahagia,” ujar Dara tulus.
Angan tersenyum tipis. Ia kehabisan kata-kata untuk menjawab kalimat yang diberikan oleh Dara. Kalimat doa yang sebenarnya cukup mustahil untuk Angan semogakan. Karena ia sangat paham, bahwa kebahagiaannya bukan dengan cara seperti ini. Kebahagiaannya bukan dengan cara melepaskan Dara untuk menuju kebahagiaanya esok, jelas bukan. Angan tidak akan pernah mampu setegar itu. ia seperti manusia kebanyakan yang memiliki sifat egois. Dan sekali saja, Angan ingin egois dengan memiliki Dara untuk dirinya sendiri.
“Besok kamu harus datang ke acara pernikahanku, ya!” pinta Dara yang berhasil membuyarkan semua hayalan yang berada di atas kata ‘seandainya’.
“Nyatanya, meski kamu nggak bisa hidup tanpa aku, takdirmu memilih dia menjadi teman hidupmu,” batin Angan sendu. Ada perih setiap Angan tahu, bahwa semua yang ingin ia miliki hanya sekadar angan dalam hayalannya. Ia tidak akan mampu meminta semesta menjadikan Dara sebagai teman hidupnya.
Maka, biarlah Angan menitipkan saja segala kenangan, cinta, dan rindu yang ia rasakan pada angin yang selalu datang setiap waktu. Pada rerumputan yang selalu menjadi saksi bahwa ia sedang bersandiwara dan memainkan sebuah lakon berkarakter kuat. Ia menipu semua orang bahwa ia kuat menghadapi hari esok. Hari di mana sebuah ikrar suci akan melayang di ujung doa bersamaan dengan retak segala harapannya. Ia kalah telak.
***
Hari ini Angan sengaja tidur sampai siang. Ia bahkan mengabaikan rengekan adiknya dan teriakan sang abang yang memintanya bersiap untuk menghadiri pernikahan Dara yang sedang digelar di gedung Joyolelono. Katakan saja ia pengecut, tapi itu lebih baik dari pada kedatangannya hanya akan menimbulkan kekacauan. Angan tidak yakin dirinya akan bertindak normal dan santai saat melihat Dara tersenyum bahagia bersama lelaki lain. Ia tidak sebaik itu. Bisa saja ia akan mengamuk dan menghancurkan acara pernikahan itu dengan kebrutalannya.
Angan sudah berniat untuk melanjutkan tidurnya bila saja teleponnya tidak berbunyi nyaring dengan nama ‘Soni’ yang terpampang di layarnya. Dengan malas, Angan segera mengambil ponsel dan menekan tombol hijau.
“Kamu ganggu ak—“
“Kamu di mana?” potong Soni dengan nada panik dari seberang sana.
Angan menjauhkan ponselnya sejenak. Kenapa abangnya nampak panik?
“Di rumah. Kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Angan yang mulai khawatir. Ia menyesal juga tidak ikut serta dengan sang abang dan adik ke sana. Bisa saja mereka sedang di jalan dan---
“Dara kecelakaan. Mobil pengantin wanita ditabrak truk hingga sekarang seisi mobil di rawat di Rumah Sakit Dharma Husada dengan kondisi kritis.”
Telinga Angan mendengung. Ia tidak bisa mendengar semuanya dengan jelas. Bukan. Bukan kerena ini memiliki riwayat gangguan pendengaran, hanya saja informasi yang ia terima sangat menyakitkan untuk ia dengar.
“Aku udah hubungin kamu dari tadi. Sekarang cepat kamu ke sini. Dara kritis.”
Ponsel yang Angan pegang terjatuh. Ini bukan mimpi. Semuanya jelas nyata. Maka dengan tangan yang sudah gemetar hebat, Angan segera menyambar jaket dan kunci motornya. Berdoa dalam hati semoga Dara tidak mengalami kondisi buruk. Semoga saja.
Nyatanya, Tuhan kadang tidak mengabulkan semua doa yang kita panjatkan. Ada beberapa hal yang dijadikan ujian bagi manusia sebelum doa-doanya terkabul. Angan merasakannya sat ini. Ia harus menerima kabar buruk keadaan Dara saat sampai di rumah sakit tersebut.
Mama Dara, Irana yang menangis dalam pelukan suaminya. Seorang lelaki dengan bahu bergetar yang seharusnya menjadi suami Dara hari ini. Di depan ruangan yang mungkin tempat di mana Dara dirawat, ada Soni dengan tatapan kosong.
“Dia kritis. Dan mungkin setelah ia sadar, ia akan mengalami kebutaan. Retinanya rusak. Rumah sakit juga tidak memiliki pendonor yang yang cocok untuknya,” jelas Soni dengan suara pelan. Meski tidak begitu akrab dengan Dara, beberapa kali mereka masih saling betegur sapa apabila Angan membawa Dara ke rumahnya.
“Buta?” beo Angan dengan pikiran kosong. Kepalanya terasa berat dan siap meledak dengan informasi yang ia terima saat ini. Apakah tak cukup Tuhan menguji dirinya dengan harus melepaskan Dara bersama lelaki lain? Apakah Angan juga harus ikhlas menerima kenyataan hidup Dara yang jelas tidak akan sama seperti semula? Tidak dapat melihat bagaimana warna-warni dunia. Tidak dapat juga melihat bagaimana bunga yang selalu mereka petik di kebun belakang. Dara juga tidak akan bisa melangkah seriang kemarin.
“Aku akan mendonorkan mataku untuk dia,” ujar Angan yang langsung mendapatkan perhatian dari semua orang di dalam sana, tak terkecuali abangnya sendiri.
“Jangan bodoh!” hardik Soni geram. Ini bukan masalah mendonorkan dan semuanya selesai. Akibat yang ditimbulkan akan mempengaruhi kehidupan Angan setelah ini. Dan sebagai Abang, Soni belum bisa melihat adiknya berkorban terlalu jauh.
“Aku nggak bisa lihat Dara menderita, Bang. Aku mungkin bisa hidup dengan kekurangan aku nantinya, aku kuat. Tapi Dara nggak, Bang. Dia pasti akan frustasi dengan kodisinya. Lagi pula, Dara masih seperti anak kecil.” Angan tertawa kosong sebelum melanjutkan ucapannya, “dia bahkan masih sering nangis saat aku godaian dia. Coba kalian bayangkan! Bagaimana reaksi Dara saat tahu dirinya buta? Aku jelas nggak bisa ngebayangin itu,” jelas Angan dengan aliran air mata di pipinya. Angan menangis dalam ucapannya.
Semua orang kembali menangis. Mereka tidak dapat melontarkan apa-apa untuk menjadi jawaban dari penjelasan Angan. Karena semua orang tahu bahwa semuanya benar. Dara belum sekuat itu untuk menerima semuanya.
“Baiklah. Jika kamu mau mengorbankan semuanya.” Soni mengucapkannya dengan nada pelan. Mungkin sebagian hatinya berharap Angan tidak akan mendengar ucapannya. Namun saat melihat Angan yang tersenyum senang, Soni yakin ia akan menyesali persetujuannya barusan.
“Terima kasih, Bang. Aku hanya ingin mengorbankan sesuatu untuk orang yang aku cintai. Mungkin aku tidak akan bisa menemaninya seumur hidup, tapi mata ini akan menjadi bagian dari hidupnya dan itu sudah lebih dari cukup,” jelas Angan dengan nada pelan agar hanya Soni yang mendengarnyua. Karena tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya pada Dara selama ini selain abangnya.
Cukup hari ini saja ia mengungkapkan perasaannya. Esok, ia harus semakin kuat menutupnya agar tidak merusak kebahagian Dara. Cukup ia menjadi salah satu bagian tubuh orang yang ia cinta, itu sudah cukup. Setidaknya ia pernah berkorban demi orang yang ia cinta.
Selesai.
Probolinggo, 13 februari 2019


Love Rules : Manisnya Cinta dan Peraturannya




Judul                : Love Rules
Penulis             : Alfiana Trisnawati
Penerbit           : Cabaca.id
Jumlah Bab      : 16 Bab
Peresensi         : Agustin Handayani

Blurb.
Cowok itu terkenal karena kencan tujuh harinya.
Meski singkat, semua bisa didapatkan.
Tutur kata lemah lembut.
Perhatian.
Intinya, dalam tujuh hari, cewek mana pun di sekolah ini akan diperlakukan olehnya seperti tuan putri.
Cowok itu juga punya beberapa aturan khusus dalam kencan tujuh harinya.
Mulai dari tidak adanya kontak fisik yang berlebihan sampai dilarang mengganggunya ketika masa kencan telah usai.
Tidak ada yang dapat mengaturnya.
Sampai kemudian cintalah yang mengaturnya.

Semua orang mengenalnya.
Cowok itu bernama... Ardian.

Review
Ada yang tidak biasa dengan cerita jatuh cinta dalam novel Love Rules karya Alfiana ini. Di sini, seakan ada hukum atau bisa kita sebut dengan sistem hubungan dalam pacaran ; Pacaran Seminggu. Tokoh Ardian Syaputra, lelaki paling manis, perhatian dan penuh kasih sayang. Ardian lah yang menjadi pelaku dari system konyol tersebut. Di mana ia akan jadian di hari rabu dan putus setelah seminggu setelahnya. Aneh dan menggelitik.
Mungkin itu juga yang dirasakan oleh kapten basket puteri bernama Alfika ini. Perempuan yang terkenal dengan sorot mata yang tajam, tegas, kulit kecoklatan yang malah nampak eksotis namun juga manis secara bersamaan. Menurut Alfika, Ardian benar-benar cowok yang brengsek dan suka memainkan perasaan wanita. Bagaimana bisa kita bermain dengan cinta dan menerima saja semua wanita yang telah menembaknya pada hari tersebut. Meski sebenarnya, ada beberapa peraturan yang Ardian buat dalam hubungan seminggunya.
“Pertama, tidak ada selingkuh. Aku tidak menerima alasan  apa pun jika Kakak selingkuh.” – Bab 6
Cukup adil. Meski dalam tempo seminggu, aturan yang Ardian buat logis dan tidak menyakiti siapapun. Dia akan terus bersikap baik dan manis terhadap semua wanita yang ia kencani. Namun, bagaimana jika ternyata sikap yang ia tunjukkan pada Alfika malah berbeda? Ardian seakan dengan sengaja sering  melakukan kontak fisik dengannya. Padahal menurut Gina –sahabat Alfika- kontak fisik dengan Ardian hanya sampai pegangan tangan. Apakah ini pertanda Ardian mencintai Alfika?
Novel ini bukan melulu tentang kisah cinta. Ada kisah persahabatan yang sangat kental di dalamnya. Tentang Alfika, Gina dan juga Bani. Tiga sahabat yang saling menguatkan dan juga memahami satu sama lain. Hal ini bisa dilihat dari sikap Bani yang mengenal baik bagaimana saat sahabatnya –Alfika- sedang gugup saat menghadapi pertandingan. Meski mereka berdua cenderung saling adu mulut dan jarang akur, persahabatn mereka malah terkesan manis dan kuat.
Poin tambahan dari novel ini adalah penggambaran tentang permainan basket yang sangat pas. Bagaimana penulis seakan memang sudah hapal betul bagaimana dunia baskat itu sendiri. Dari hal gerakan, posisi dan juga tournament. Sebagai pembaca, jelas kita akan paham bahwa novel ini bukan hanya menjadikan dunia basket sebagai ‘tempelan’ saja.
Kembali pada kisah Ardian dan Alfika, saat dipertengah, penulis seakan menggiring kita pada penyebab system konyol tersebut sekaligus luka yang Ardian alami di masa lalu. Jadi, pertanyaannya siapa Nirmala itu? Apakah hubungan Nirmala dengan Ardian di masa lalu? Apakah Nirmala masih memiliki pengaruh besar dalam hidup lelaki tersebut? Jadi, apa yang bisa Alfika lakukan sekarang setelah mengetahui semua rahasia masa lalu Ardian dan Nirmal?
“Rasanya… kita dipertemukan dalam waktu dan keadaan yang tidak tepat.” –Bab 15
Pertanyaannya, bagaimana saat mereka kembali dipertemukan dalam waktu dan kondisi yang berbeda? Setidaknya kondisi yang lebih baik tanpa adanya bayang-bayang luka masa lalu dan juga aturan ‘Pacarana Tujuh Hari’? mungkin semuanya bisa lebih baik.
Jadi, bagi teman-teman yang penasaran dengan kisah Alfika dan Ardian bisa baca kisah Love Rules ini di app Cabaca.id yang bisa di download terlebih dahulu di play store. Silahkan nikmati bagaimana system pacaran ala Ardian yang benar-benar menggelitik dan menggelikan sekaligus.

Probolinggo, 22 Februari 2019

Jemput Terbawa ; Kisah-Kisah dari Tukang Kaba

Images. Teguh Wibowo 




Judul                : Jemput Terbawa
Penulis             : Pinto Anugrah
Penerbit           : Buku Mojok
Terbitan          : Maret, 2018
Halaman         : iv+206 hlm.
ISBN               : 978-602-1318-62-1
Peresensi         : Agustin Handayani
Penulis bernama Pinto Anugrah. Lelaki yang lahir di lereng Gunung Merapi ini benar-benar membawa sebuah gebrakan baru dalam penyampain sebuah cerita. Penulis seakan menunjukkan bahwa sebuah alur cerita tidak melulu bercerita tentang seorang tokoh utama dan yang lainnya adalah sampingan. Namun, penulis memberikan sebuah awalan sebagai pemancing bagaimana pembaca yang biasanya langsung menerka bahwa kisah ini pasti akan berjalan seperti ini atau ah, pasti tokoh ini yang menjadi pemeran utama. Ternyata, Pinto segera membuat kita bertanya-tanya, mau ke mana arah jalan cerita ini.
“Kisah orang kami kabarkan, dusta orang, kamu tidak ikut serta.” –Hal. 4
Di sini kita akan berkenalan dengan Tukang Kaba. Konon, Tukang Kaba adalah seorang dengan saluang yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia akan mendendangkan sebuah kisah kepada orang-orang dengan alunan musik yang menyayat. Bahkan pada zaman Junjungan Puti Panjang Rambut. Seorang Raja Perempuan yang tangguh dan sangat dihormati di negerinya. Di sinilah, Tukang Kaba akan memerankan lakonnya sebagai pendendang yang mampu membuat rakyat percaya akan asal muasal kehamilan dari Puti Panjang Rambut.
“Bundo kandung adalah bunda dari segala bunda, ibu dari segala ibu, seperti tanah ini. Tahan Pangkal Pulau Perca.” –Hal. 162
Dan dari saat itu, Bunda adalah pangkal garis sebuah keturunan, dan bukan kepada bapak lagi.
Selain kisah Puti Panjang Rambut, novel ini juga membawa beberapa kisah yang sebenarnya bila kita cermati lagi, sama-sama memiliki benang merahnya. Tentang sebuah perang yang kira-kira terjadi pada saat masa pemerintahan Soekarno. Di mana ada beberapa gerombolan yang memberontak. Di sinilah sebuah kisah Nurselah terjadi. Seorang isteri dari Pajatu yang tengah berjalan ke pengungsian, tetapi di tengah jalan malah ditangkap oleh Tentera Pusat. Dan sial bagi Nurselah dan teman-temannya yang harus disiksa bahkan beberapa tak bernyawa. Dan sebuah siksaan yang diterima oleh Nurselah adalah sebuah kehamilan tanpa tahu siapa bapak dari janinnya.
Di kisah yang menurutku adalah sebuah kisah ketiga, atau kisah terakhir dari novel ini adalah anak dari Nurselah sendiri, Laya. Kisah dari wanita ini memang tidak jauh dari kisah tiga wanita sebelumnya. Memiliki sebuah peran sendiri. Hamil dengan orang yang bukan suaminya. Laya juga dihamili oleh Mak Ujang. Lelaki yang ikut merawat Nurselah. Karena kehamilannya, Laya harus hidup di hutan dan menghindar dari sikap warga yang seakan memusuhinya. Hanya karena Laya adalah anak dari Nurselah, wanita cacat yang dikira belum pernah menikah sebelumnya.
Seorang Kaba hanya bertugas mendendangkan sebuah kisah kepada orang-orang. Ia mengarang cerita dengan sedemikian rupa, menyayat-nyayat di awal hingga seperti roda yang selalu berputar. Selalu ada kisah yang indah di akhir hidupnya. Atau bisa saja. Tukang Kaba memberikan kisah yang menggembirakan hati, tetapi berakhir dengan tangisan air mata. Itulah tugas dari Tukang Kaba yang selalu membawa saluangnya.
Aku sempat berpikir, mungkin tiga kisah ini adalah jebakan dari seorang penulis. Dan pembaca lainya juga akan berpikir sama saat mendekati akhir cerita. Dan bisa saja, penulis di sini berperan sebagai Tukang Kaba itu sendiri. Penulis dalam tubuh Tukang Kaba membawa tiga kisah seorang wanita yang memiliki kisah kesakitan dan menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Dan dari tiga kisah itu pun, kita bisa memetik satu intisari yang mungkin disuratkan Penulis dalam novel ini.
“Oh, kisah mana lagi yang hendak dikabarkan, biarlah tukang kaba yang menyampaikan. Seperih apa pun penderitaan hidup, tidak akan jadi perih di tangan tukang kaba. Berikanlah segala perihnya pada tukang kaba, agar mampu digubah menjadi kisah-kisah yang menyenangkan hati, kisah-kisah yang membangun mimpi dan harapan.” –Hal. 204
Dan, bagi kita semua, mari kita dengarkan dan nikmati bagaimana penulis dalam tubuh tukang kaba mendendangkan kisah-kisah yang menyayat ini dan menggubahnya menjadi penuh cinta, itulah tujuan dari Tukang Kaba itu sendiri. Kesuksesan tukang kaba dalam berdendang, adalah kesuksesan penulis yang mmebawa pembaca masuk dan ikut merasakan keperihan hidup dalam tiga wanita tersebut.
Probolinggo, 26 Januari 2019


Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...