Gugur Kamboja



Yani, Just it

Gbur... Gbur... Gbur...

Bumi lagi-lagi tergores. Tepat saat sang Baskara di atas kepala, semua pening. Hati terasa sekali goresan ilahi.
"Besok... Besok... Besok..." rapalku dengan guyuran tangis di samping kamboja. Merapalkan kata yang entah bermakna apa.
Aku menatap lagi ke arah sang rembulan. Diam, tenang dengan seulas senyum.
"Mandikan, wudhukan, dan pakaikan dia kerudung!" titah seorang Ustadzah tepat di belakangku.
Lagi lagi aku membatu. Aku percaya hidup. Ada perkenalan dan perpisahan. Ada lahir, hidup, dan akhirnya kembali pada-Nya. Namun, rasa ikhlas kadang memerlukan usaha. Menerima takdir tanpa tangis adalah usaha yang aku coba.
"Dekatkan saja dengan adek," pinta Paman yang terlihat tabah di luar. Sepintas memang dia terlihat baik-baik saja. Bahkan tersenyum saat para tamu menyapa. Akan tetapi, aku masih bisa melihat sisa-sisa genangan air mata di pelupuknya.
Aku masih mematung. Di pojok rumah dekat gerbang, ada Kakak. Menyapa tamu dengan ramahnya. Namun aku tahu hatinya marah. Tangan yang terkepal dengan raut wajah merah, ia menderita dalam emosi.
"Semoga amal ibadahnya diterima dan diletakkan di surga-Nya. Amin," pintaku seraya disambut dengan bisikan Ayat Kursi tepat di telinga kanannya.
Ini akhirnya.
Perjalanan seakan berat. Bunga-bunga yang menguar bau sedap disepanjang ucapan Tahlil. Meniti setiap jejak kenangan antara aku dan dia.
Ini adalah akhirnya. Sebuah akhir dari cerita. Tujuannya sudah sampai. Mendahului tetua yang bungkuk atau si kecil yang hanya bisa menangis. Dia lelah dan memilih beristirahat.
"Besok, hidup kakak akan beda," ujar Kakak pelan.
Aku tergugu. Tersedak tangis yang datang lagi.
Gbur... Gbur... Gbur...
Bumi kembali ditutup. Sang rembulan yang aku sayang pun kembali pada Buminya. Semua doa dilantunkan dengan syahdu.
Di samping kanan, setangkai kamboja jatuh tepat di atas gundukan sore ini. Gugur kamboja bersama dengan tangis yang meluruh.
Hari ini, hati teruji kembali. Ikhlas melepaskan hal demi kebaikan.
Doa kami sebagai pengantar perjalanannya menuju peristirahatan.

Prb. 13 08 2018

Cat. Kaki
Adek (bhs jawa) : Adik


Kue-Kue Kasih Sayang



Foto By. Group KSN

Yani, Just it

Tepat hari ini keluarga KSN sedang sibuk di dapur Hayday. Nenek Sutianah yang memeras susu sapi, Fitri Niswani yang memanen gandum, Yuanda Isha sedang mengambil beberapa telur di peternakan. Sedangkan Ellis dan Jumhari bertugas menghitung pengeluaran belanja semalam. Semua orang hilir mudik untuk menyiapkan pesta besar hari ini. Sedangkan aku? Aku berada di depan kompor dan bertugas membuat masakan pembuka.

"Nduk, kamu buat apa?"
Aku terperanjat. Hampir saja aku melempar piring tepat ke wajah orang tersebut. Tanpa hujan dan angin, kak Fitri sudah berada di belakangku sembari memperhatikan isi wajan.

"Aku buat nasi goreng, kak," jawabku mantap.

Tampak Kak Fitri yang memandang ngeri pada 'nasi goreng'  buatanku.

"Kamu yakin ini nasi goreng?" tanyanya yang langsung aku angguki dengan cepat.

Tampak Kak Fitri menghela napas pelan, "baiklah. Berdoa saja Kakek Jon nggak akan keracunan setelah makan nasi gorengmu."

Aku menggaruk kepala belakangku bingung. Memangnya ada yang salah dengan nasi goreng buatanku? Sepertinya tidak, pikirku tak yakin.

"Nduk, setelah masak bantuin Kakak buat kue, ya!" teriak Kak Yuan dari arah peternakan.

Baiklah. Keluarga KSN memang sangat megah. Banyak sekali peternakan yang berjejer di halaman belakang. Peternakan sapi, ayam, bahkan babi. Dan hari ini semua hewan tersebut harus segera diternak untuk dibuat pesta kelahiran Kakek Jon.

"Nduk, tahu bedanya tepung ini?" Kak Ell yang tadi sibuk dengan uangnya kini nampak memegang 2 jenis tepung di kedua tangannya.

Lagi. Aku menggaruk kepalaku.

"Ngh... Yang kanan itu terigu dan yang kiri itu kanji, kak," jawabku ragu. Sial. Aku tidak hapal jenis-jenis tepung. Memangnya apa gunanya jenis-jenis tepung jika sama-sama berwarna putih dan halus? Sama saja.

Dengan semangat semua keluarga mulai mengaduk adonan masing-masing. Nenek sudah berhasil membuat beberapa kue dan spageti untuk hidangan tamu. Kak Fitri yang hanya bisa masak makanan berkuah hadir dengan mie kuahnya. Sedangkan kak Yuan dan kak Ellis datang dengan nghh... Kue yang katanya kue tart.

Kak Jumhari yang tepatnya seorang lelaki tunggal di dapur segera keluar dan bertugas mengundang beberapa tamu agar ikut dalam pesta meriah hari ini.

Semakin sore, semua tamu sudah berdatangan. Ada yang menggandeng pasangan, anak, bahkan keluarganya. Akan tetapi, banyak juga yang hanya menggandeng tangannya sendiri seperti Eyang Guntur, Mbah Sang Fakir, Kak Nana, Sherrly, dan Akang Dhiaz.

Tepat pukul 19.00 waktu bagian Indonesia pelosok, Kakek turun dari kayangan, eh salah ding. Kakek turun dari tangga dengan sarung yang ia selempangkan di bahu.

Sambutan oleh beberapa teman dan keluarga hingga acara potong kue dan doa. Kakek memejamkan matanya erat, seakan bila mata itu terbuka maka setan yang akan berada di depannya.

"Aku harap ada bidadari keseleo yang jatuh tepat di depanku," pinta Kakek dengan sangat keras

Bruk.

Budadari keseleo benar-benar jatuh.

Putri Aditya dengan wajah polosnya tersenyum ke arah kakek Jon yang sudah merapalkan doa amit-amit.

"Mas Jon, aku padamu!"
Dan aksi India benar-benar terjadi di dalam ruang tamu KSN. Kakek terus berlari saat Kak Putri tiada lelah mengejarnya mengitari ruang tamu ini.

Saat semua tamu tertawa dengan geli, mungkin aku hanya satu-satunya orang yang melongo kaget. Tidak terima dengan hal itu, aku langsung menghadang Kakek Jon dan menarik tangannya ke arah deretan masakan keluarga.

Dengan percaya dirinya, aku mengambil piring dan menyodorkan hasil masakanku pada Kakek.

"Ini nasi goreng kasih sayang dari adekmu," ucapku sambil menyendok nasi tersebut, bersiap menyuap Kakek.

"Bentar, Nduk," ucap Kakek menahan sendok tersebut.

"Kamu buat nasi goreng apa beras goreng?"

"Hah?"

Belum aku mengeluarkan jawaban, Kak Fitri datang dengan masakan berkuahnya.

"Mas Jon ini masakan berkuah yang aku buat spesial."

"Dek Fit, mie kuah nggak bisa dikatakan masakan. Nggak usah ulang tahun, aku sering makan mie kuah," gerutu Kakek Kesal. Kakek mengalihkan pandangannya ke samping kanan di mana Kak Yuan dan Kak Ell tengah mengedipkan mata seakan berkata 'ini masakan yang bener'.

Dengan bibir yang tersenyum merekah, Kakek langsung menghampiri mereka dan tanpa aba-aba mencolek kue ukurang besar tersebut.

"Byahhh."
Kakek segera memuntahkan makanannya dan memandang Kak Yuan serta Kak Ell dengan padangan horor.

"Kalian buat kue atau buat lem sih?"

"Kamu menghina saya? Saya buat kue ini khusus kamu. Saya sudah beli tepung kanji yang banyak biar kue ini bisa ngembang," jelas Kak Yuan yang merasa tersinggung dengan muntahan Kakek.

"Ini mereka lagi ngerjain aku, kan?" Batin Kakek ngenes.

Tidak ada hadiah yang 'benar' dari keluarganya. Tidak juga dengan doanya yang mendapatkan hadiah 'salah'. Ulang tahunnya kali ini adalah hari paling ngenes se-dunia baginya.

"Kakek!" Aku memegang bahu kakek pelan. Memberi sebuah senyum termanis yang diharapkan bisa menular untuk Kakek.

"Tiada hadiah terbaik dari kami untuk hari kelahiranmu. Tidak kak Putri dengan hadiahnya, Aku dengan beras goreng, Kak Fitri dengan mie kuah, maupun kak Ell dan Kak Yuan yang membuat kue lem."

Detik berikutnya yang sudah sesuai dengan skenario, Eyang Guntur mulai membacakan sebuah puisi yang berkolaborasi dengan Embah Sang Fakir.

Setelah mereka selesai dengan puisinya, aku segera melanjutkan ucapanku.

"Aku tahu Kakek tak suka aksara panjang. Maka kami, secara langsung tanpa bertele-tele lagi, kami keluarga KSN  hanya bisa berdoa semoga yang terbaik untuk Kakek ke depannya."

"Barakallah fii Umrik, Kakek."
"Doa terbaik untukmu."
"Sehat selalu."
"Bahagia selalu."

"Dan ingatlah, Kek. Doa kami tak pernah sehancur makanan buatan kami."


Malam itu, semua makanan utuh di atas meja seakan menjadi saksi bisu bahwa dalam sebuah pesta, mereka tak membutuhkan makanan. Tapi doa dan saling berbagi bahagia.

"Sial, Mbah. Aku kelaperan," umpat Eyang Guntur.

"Podo, Eyang. Aku yo ra mangan dek omah ben iso gratisan dek kene," timpal si embah Sang Fakir

"Makan ae kalo kalian mau keracunan,"  selaku pada Eyang dan Embah yang langsung mengumpat bersamaan.
Aku terkikik dengan hancurnya pesta malam ini namun jejak kasih sayangnya menempel erat di dada.

Ini bukan cerita, baik itu cermin atau cerpen. Ini hanya sebuah khayalan seorang gadis yang gagal membuat puisi dan beralih ke cerita absurd ini. Apapun itu, baik buruknya tulisan ini, tetap terselip doa paling tulus dari adekmu, Kek. Dari keluarga KSN pada Kakek Jon yang paling kami sayang

Sukses dan bahagia selalu, Kakek

Prb. 10 Agustus 2018
(Pukul. 00.00 tepat pergantian umur Kakek tercinta, Jon)



Kisah Keluarga Angsa




Yani, Just it

Pada zaman dahulu, hiduplah segerombolan angsa yang mengatasnamakan mereka sebagai 'keluarga'. Susah senang, hujan badai mereka akan lalu bersama. Terbang ke sana ke mari bersama dan memenuhi sungai 'surga' di dekat Gunung Bromo.

Banyak hewan yang memandang iri pada mereka, terutama angsa-angsa hitam. Sekawanan angsa hitam itu pun mulai mencari cara untuk memisahkan keluarga angsa putih. Mereka mulai membuat cerita-cerita palsu, mangadu domba agar angsa-angsa putih tadi terpecah belah.

"Saya tidak percaya jika keluarga saya seperti itu!" Bantah tegas Angsa E, angsa paling kecil di gerombolan tersebut.

"Mereka ingin menyingkirkan Angsa C karena Angsa C sering berbuat salah," ucap salah satu Angsa hitam saat melihat angsa C sendirian mencari makan.

"Tidak mungkin." Angsa C rupanya juga sangat sulit untuk diadu domba.

Begitupun dengan Angsa A, B, dan D. Mereka tidak ada yang percaya dengan ucapan pihak lain kecuali keluarganya sendiri.

"Ketahuilah, semakin kamu berkata dan menguji kekeluargaan kami, maka kami akan semakin erat dan semakin tak terpisahkan. Karena kami memiliki prinsip dimana 'bersama, kami kuat'. Jadi, jangan buang-buang waktu dengan mengusik keluarga kami."

"Betul. Sikapmu malah seperti kekurangan kebahagiaan. Kamu seperti kompas yang hilang jarum arahnya," timpal Angsa B, Angsa tertua kedua setelah angsa A.

Kunci dari kekeluargaan mereka adalah saling percaya dan terbuka. Tidak ada rahasia yang ditutupi oleh salah satu pihak. Satu sakit, semua juga. Dan saat beberapa pihak senang, maka menularlah kesenangan tersebut. Hingga saat ini, Sekawanan angsa tersebut sering dipanggil Keluarga Angsa dari Surga. Simbol kekeluargaan murni dan suci dimana tidak akan goyah meski diterjang badai.


Tamat
Inspirasi kisah sehari ini dan Patung Angsa di Alun-Alun Kota.
Probolinggo, 12 08 201


Resensi Museum Anomali






Foto. by Jabbar Abdullah
Radar Mojokerto

Memanfaatkan Hidup dengan Anomali Waktu   

Judul Buku                 : Anomali Hati
Penulis                        : Lubis Grafura
Penerbit                     : Mojok
Tebal                          : 175 Halaman
ISBN                            : 978-602-1318-67-6
Cetakan                      : Pertama, Mei 2018
Peresensi                   : Agustin Handayani

Berbicara tentang waktu, selalu ada rahasia besar di dalamnya. Sepeti itulah yang kiranya dijabarkan dalam novel yang berjudul, ‘Anomali Hati’ ini. Berbicara dengan Anomali mungkin beberapa orang akan bertanya apa itu anomali? Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) anomali diartikan dengan penyimpangan dari yang sudah ada. Sedangkan bila kita mendengar kata ‘Hati’, jelaslah mengenai sebuah perasaan yang dimiliki oleh semua insan manusia. Lantas apa hubungan antara Anomali dan Hati dalam karya ini? Inilah pemikiran awal yang akan biasa kita pikirkan sebelum berlajut membaca isinya. Lubis Grafura, penulis kelahiran Kediri 1984 akan membawa kita semua untuk menyelami karyanya dengan santai namun juga serius.

“Ada peluang besar, tapi di sana juga tersimpan bahaya yang besar.” – Hal. 50

Sebuah perbedaan waktu di mana waktu di tempat lain seakan menyusut dengan sendirinya. Uniknya, penyusutan waktu tersebut hanya dialami oleh Alendra. Seorang mahasiswa Ilmu Fisika yang memiliki keambisiusan dengan otaknya yang di atas rata-rata dari mahasiswa lain. Secara tak disengaja, ia mengalami anomali waktu hingga membuatnya tak bisa bertemu dengan Sheli, wanita yang ia kenal dari sambungan  telepon  nyasar. Terlalu banyak alasan dan sebab hingga mereka tidak pernah mendapatkan titik temu. Setelah menganalisa beberapa kejadian, Alendra dengan kecerdasanya mendapati sebuah keganjilan waktu antara dirinya dan Sheli saat berkirim surat. Dengan perhitunganya sendiri, Alendra menghiung berapa lama waktu menyusut dan kapan waktu antara dirinya dan Sheli dapat sejajar.

Penulis dengan sangat cerdasnya menjabarkan berbagai ilmu hukum dalam novel ini melalui kecerdasan Alendra. Tentang usaha-usaha yang dilakukan lelaki tersebut guna menempuh berbagai cara agar mereka –Sheli dan Alendra- bisa berkomunikasi hingga melibatkan orang-orang terdekat mereka. Akan tetapi smeuanya gagal. Waktu seakan memiliki sebuah rahasia yang semakin rapat dan membuat mereka berpikir dengan keras bagaimana memecahkan sebuah rahasia tersebut.

 “Demi waktu bahwa sesungguhnya kita benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman. Mengerjakan amal shaleh, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” –Hal. 143

Benar. Dalam karya ini penulis mencoba menajabarkan pada kita bahwa selain rahasia, waktu juga membawa arti tersendiri di setiap detiknya. Bagaimana cara manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut dengan semaksimal mungkin karena waktu selalu berotasi ke dapan dan tidak pernah perlahan mundur. Seperti itulah yang dilakukan Alendra daalam misinya mempelajari anomali waktu. Anomali waktu antara dirinya dan Sheli digunakan untuk memperbaiki beberapa kejadian yang kurang baik di masa lalu agar bisa menjadi baik di masa depan. Akan tetapi mereka sadar. Bagaimanapun mereka berusaha, Tuhan-lah yang menentukan semuanya.

Dalam kisah ini memang yang menjalaninya adalah sepasang manusia dengan perasaan ketertarikan dan rasa nyaman, namun anomali tetaplah menjadi penghalang. Pembawaan cerita yang banyak memasukkan unsur-unsur disiplin ilmu menjadikan kisah ini sebagai pembelajaran beberapa pengetahuan. Beberapa pesan yang diringkas dengan lebih ringan dalam sebuah percakapan tokoh lebih cepat diresap dan menjadi perenungan diri bagi para pembaca.

“Orang yang melontarkan kritik pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran.” –Hal. 88

Dalam penggalan kalimat ini sebenarnya sudah mampu menyindir beberapa orang yang sangat hobi mengkritik keburukan seseorang. Padahal, tidak ada  manusia yang hidup tanpa cela. Begitupun dengan Alendra yang terlalu cerdas hingga teman-temannya enggan bergaul dan selalu mengkritik bagaimana sikap Alendra di depan para dosen. Sisi positifnya adalah, kritikan tersebut kita jadikan sebagai perenungan untuk berkembang semakin baik lagi. Biarlah kata pedas atau kasar kita terima, kita hanya perlu menjaga diri kita dengan tidak menyakiti orang lain karena lisan kita yang tajam.

Membaca buku ini, kita seakan diajak kesebuah dimensi waktu yang bermain degan ilmu-ilmu alam. Banyaknya pelajaran yang diharapkan penulis agar bermanfaat bagi para pembaca. Hingga di detik terakhir saya membaca novel ini, saya berfikir penulis sangat pintar menciptakan sebuah kisah yang seakan nyata dalam pikiran saya. Semoga semua pembaca setelah ini lebih bisa menghargai waktu dan tidak menjadi insan yang merugi.


Pangeran Monyet

Yani, Just it



Mungkin sedikit banyak orang-orang telah tahu kisah Pangeran Kodok. Siang ini, saya ingin mengisahkan Pangeran Monyet.

Pangeran Monyet dulunya adalah pangeran yang tampan, gagah dan menjadi idaman Para Puteri. Akan tetapi, Pangeran memiliki sifat buruk, yaitu pelit. Ia tak mau berbagi pada sesama bahkan adiknya sendiri.

Hingga suatu hari, Pangeran bertemu seorang nenek tua yang ringkih. Nenek itu terlihat sangat kelaparan. Sedangkan Pangeran terlihat acuh sambil terus makan apel ditangannya.

"Percuma wajahmu rupawan bila akhlakmu rendahan. Kau akan menjadi monyet hingga kau bisa melakukan kebaikan!" kutuk Nenek tersebut.

Pangeran berteriak tak terima, hingga tiba-tiba badannya mengecil dan suaranya berubah ....

"Uuaak uu aak,"

Pangeran sedih. Meskipun begitu ia tetap pelit dan enggan berbagi pisang dan buah dengan temannya.

Hingga suatu hari, seorang Puteri bernama Ell tengah duduk termenung di taman rumahnya. Di taman tersebut tengah tumbuh pohon mangga yang berbuah lebat.

"Ah, andai ada buah mangga yang jatuh. Aku ingin sekali makan rujak mangga," ucapnya dengan wajah setengah melamun.

Pangeran Monyet yang berada di atas pohon tersebut mendengar ucapan sang Puteri, hanya saja ia tak peduli. Ia masih asyik memetik beberapa buah mangga di dekatnya. Hingga seekor semut tanpa sengaja menggigit kaki Pangeran.

"Uuuaaak uuaaak." Teriakan Pangeran Monyet kesakitan karena si Semut. Ia marah-marah pada semut yang dengan tak bertanggung jawab pergi meninggalkan Pangeran.

Dug.

Sebuah mangga jatuh di dekat sang Puteri. Puteri Ell sangat girang melihat buah tersebut. Ia menengadahkan kepala ke atas dan melihat seekor monyot yang tengah menggaruk kaki dan kepalanya. (Kutuan mungkin 🤣)

"Terima kasih, Monyet," ucap Puteri Ell tulus dan langsung menuju ke dalam rumah. Ia tak sabar membuat rujak mangga.

Sementara si Pangeran Monyet hanya melongo dan mengumpat kesal. Mangganya berkurang satu. Tiba-tiba, Pangeran Monyet merasakan perubahan pada tubuhnya. Kaki dan tangannya memanjang. Tubuh yang tak sampai satu meter tiba-tiba bergetar dan membesar.
Kutukan terlepas.

Pangeran tercengang. Ia mengira akan sangat sulit untuk lepas dari kutukan tersebut. Akan tetapi, hanya karena sebuah kebaikan tak disengaja yang ia lakukan, kutukan itu sudah bebas. Akhirnya, Pangeran kembali ke Kerajaan dan berjanji akan menjemput Puteri tadi agar menjadi Permaisurinya.

Probolinggo, 11 07 2018

Kami Muslim dan Kami Bukan Teroris.

Yani, Just it



Seperti kebanyak muda-mudi di malam minggu. Sore ini, aku menyempatkan diri menikmati indahnya pemandangan taman kota. Duduk santai dengan sebungkus batagor dan segelas cokelat. Aku memandang bagaimana air mancur terus keluar dari mulut sang Angsa.
Bila aku menoleh sedikit saja, sebelah kanan terdapat sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Aku mendecih, sebenarnya ada iri dalam hati. Terbersit dalam hati untuk membawa kekasihku nanti, sayangnya belum ada orang yang bisa aku panggil kekasih.

Sedang khusyuknya dengan batagor yang aku makan, tiba-tiba dari arah selatan seorang pemuda bercelana cingkrang berlari ke arahku.

"ALLAHHU AKBAR!!!" teriaknya sambil melempar sebuah benda yang menyerupai Bom rakitan ke kakiku.

Aku melompat kaget. Terhenyak sendiri dengan banyak umpatan yang aku keluarkan. Apakah ini saatnya aku menjadi puing-puing tanpa bekas?

Dengan segala umpatan itu, aku berlari menjauh. Sedangkan lelaki celana cingkrang itu pun berlari ke arah pepohonan besar.

Lima menit dan belum terjadi apa-apa. Apakah Bom itu mati? Kabelnya terputus? Atau mlempem?

Dengan hati-hati, aku mendekati keberadaan bom rakitan tersebut. Banyak pertanyaan dalam dada. Apakah bila aku mendekat, bom itu akan meledak? Kemana orang-orang? Mengapa hanya aku sendirian yang seakan nyawanya berada di ujung tanduk?

"Assalamu'alaikum, mbg?" sapa segerombolan orang dengan senyumnya sebelum aku mendekati keberadaan bom itu. Sementara di belakangnya terdapat kamera yang aku pastikan sedang merekamku. Tak lupa dengan lelaki celana cingkrang tadi.

"Kamu!!!" tunjukku kesal. 

Sementara seorang perempuan muslim mengambil bom tersebut dan membukanya di depanku.
Hanya sebuah bom mainan.
Hingga mengalirlah sebuah cerita tentang misi mereka melakukan hal tersebut. Aku hanya menganggukkan kepala. Terasa pening dengan keterkejutan yang belum reda.

"Jadi, maksud kami agar orang-orang tidak langsung menilai lelaki celana cingkrang dan wanita cadar sebagai pelaku teroris. Bisa saja, tadi saya lempar uang, heheh," cengir lelaki celana cingkrang disela penjelasannya.

Aku mendengus dengan gurauannya yang garing. Akan tetapi dalam hati aku mengiyakan. Terlalu banyak adu domba yang menjelekkan beberapa kaum. Dan memojokkan cara berpakaian sebagai pelaku kejahatan tersebut.

"Jadi, Mbg. Kami Muslim dan Kami bukan Teroris."

Aku mengangguk dengan senyum tulus. Benar. Aku muslim dan aku bukan teroris.
Di akhir sesi sore itu, kami berfoto bersama dan saling berjabat tangan.

"KAMI ISLAM DAN KAMI BUKAN TERORIS!!!" ucap kami bersamaan sebagai penutup video yang direkam oleh lelaki berperut besar.

Prob. 07 07 18

Puisi Lama

Yani, Just it


EGOKU

Yani

Sempat kita berbincang saat mentari malu-malu di ufuk barat. Mengintip dengan mesra tak kala kita terfokus pada titik pembahasan.

"Aku adalah perempuan teregois, kak!" Seruku padamu.

Aku ingin menciptakan sebuah pertengkaran kecil yang ku pantik dari ujung senyummu. Namun semua tahu, kau cukup dewasa 'tuk tersulut.

Aku ingin merangkai hati dari awan-awan mendung yang dijauhi para burung jantan. Kau menolak. Menyuruhku membangun hati dengan aurora-aurora yang indah. Berharga, tak semua orang dapat menyentuh.
Aku tergelak dengan kencang. Menggeleng kepala bukti menolak.

"Tidak, Kak. Aku tidak mau menjadi hal yang indah. Karena aku buruk. Egoku menjadikannya buruk," ungkapku.

Kali ini kita terdiam. Saling mengecup perbedaan yang terbentang. Egoku dan egomu, sama.
Melucuti ego masing-masing pun kita enggan. Ego layaknya sarung yang terpakai saat kita di Gunung Bromo. Penghangat kala dingin.

Sedangkan cinta, hanya terucap di atas ranjang. Kala kita bergerumul dengan peluh-peluh tak terhitung. Meneriakkan nama di atas dosa-dosa malam. Dosa yang setelahnya memaksa kita bertaubat.

Aku egois, kakak!
Karena aku tak membiarkan cinta hilang
Mengulang lagi dan lagi kesalahan terindah
Hingga berharap, Neraka pun ada kita di sana


Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...