Resensi Novel Barabas; diuji segala segi

Radar Mojokerto, 27 Oktober 2019


Kebaktian Kepada Tuhan

Judul               : Barabas ; Diuji Segala Segi
Penulis            : Arswendo Atmowiloto
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan         : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 272 halaman
ISBN                : 978-602-0631-9-05
Peresensi       : Agustin Handayani

“Yang tidak setuju adalah lawan. Yang ragu adalah pengkhianat.” –hal. 10

Novel berjudul Barabas; diuji segala segi ini termasuk novel legend. Selain merupakan karya terakhir dari penulis besar, alm. Arswendo, novel ini juga menjadi rekam jejak betapa produktifnya beliau menulis meski dengan keadaan tubuh yang sakit. Bahkan dilansilir dari beberapa media dan kesaksian sang putri, selain novel Barabas ini, Arswendo juga sempat membuat satu cerpen sebelum akhirnya menjelang ajal. Sudah tidak dapat diragukan lagi bagaimana novel-novel karya Arswendo selama ini, yang bahkan sudah puluhan judul terbit dan berhasil memikat para pembaca sejatinya. Tak terkecuali dengan novel Barabas ; diuji segala segi ini.

Dalam novel ini, penulis mengambil tokoh utama bernama Yesus Barabas. Seorang narapidana yang akan menghadapi hukuman mati karena banyak melakukan dosa dan pembunuhan pada serdadu Romawi. Menariknya, meski di dalam penjara bawah tanah yang pengap, dan bahkan tidak akan sadar kapan siang atau malam, Barabas tidak pernah mengeluh sama sekali. Bahkan keringat yang mengucur deras yang membuat lukanya perih, tidak lantas membuatnya meringis atau kesakitan. Barabas hanya diam dan menikmati semua itu. Seakan ia sudah pasrah dan menganggap ini sebagai jalan takdirnya.

Hingga menjelang hukuman matinya, banyak kejadian dan perdebatan yang bisa dikatakan mukjizat bagi seorang Barabas; bebas dan tidak dihukum mati. Masyarakat Roma lebih memilih menyalibkan Yesus yang secara tidak langsung malah Yesuslah yang mengubah jalan hidupnya. Barabas menyaksikan sendiri bagaimana Yesus disalib dan kerumunan orang yang saling berdesakan.

“Setelah ratusan atau ribuan tahun kita hidup dalam balas dendam, kini ada cahaya menampakkan diri. Bukan balas dendam, melainkan mengampuni, memaafkan. Juga kepada musuh sekalipun. Itu yang aku lihat. Cahaya dan senyum di atas segala derita.” – hal. 118.

Barabas bukan hanya pembunuh, ia sangat membenci serdadu Romawi dan tetek bengeknya. Bahkan ia mendapat julukan Kalajengking Tampan karena aksinya melawan Romawi. Setelah lolos dari hukuman mati, Barabas menjalani banyak pencarian arti hidup dan kemanusiaan. Bertemu dengan para kelompok Pendoa, beberapa rosul, hingga berkesempatan berbicara dengan Bunda Segala Duka; Bunda Maria.

Barabas adalah bangsa Yahudi yang tinggal di Yudea. Kisah hidupnya setelah keluar dari hukuman mati, tak lantas membuatnya bahagia dan kembali seperti sedia kala. Namun, sekeluarnya dari penjara bawah tanah dan lolos dari hukuman mati, memngajarkannya untuk mencari arti kehidupan. Seperti, untuk apa kita hidup, bagaimana kita menjalani kehidupan, dll. Semua itu Barabas pelajari bertahap dari segala hal yang dialaminya. Hingga penampilannya pun berubah setelah berkumpul dengan Kelompok Pendoa.

“Biasakan terus berdoa, ketika bersama orang lain atau ketika sendiri. biasakan terus, sehingga setiap tidur pun kamu sebenarnya berdoa.

Meski dalam novel ini banyak menceritakan tentang Tuhan Yesus, Doa Bapa, Bunda Maria, hingga AL Kudus, tapi sebenarnya novel ini tidak memihak pada agama mana pun. Penulis juga sudah menegaskan bahwa novel ini hanya mengajarkan kita tentang cara berkasih pada Tuhan. Bagaimana permusuhan yang tidak harus dibalas dengan kekejaman.

Tidak benar jika mata dibayar mata, atau nyawa dibayar nyawa. Sebagai manusia yang memiliki Tuhan, sudah sepatutnya kita saling berkasih. Menghilangkan dendam dan segala sifat buruk dengan menjungjung cinta kasih dan perdamaian. Itulah yang Barabas lakukan. Melupakan dendam dan segala kehusannya membunuh demi menciptakan perdamiaan. Bahkan sampai diakhir pengusirannya, Barabas tetap tersenyum dengan terus berdoa sesuai dengan anjuran Tuhan.

Penyajian novel ini juga bisa dikatakan unik. Terdiri dari beberapa Bab kecil yang sangat memikat. Setiap bab dengan bab selanjutnya akan sangat berikatan dan selalu memukau pembaca. Penjabarannya dan gaya tulisna yang sangat menawan. Novel ini sangat cocok untuk semua kalangan. 

Probolinggo, 8 September 2019

Agustin Handayani. Seorang aktivis Literasi daerah Probolinggo. Penulis novel yang masih menjadi mahasiswi Ilmu Komunikasi.

Resensi Novel Knock Knock; who is there

doc. Kabar Madura,  10 Oktober 2019
Sumber. Anam

Misteri Kota Dudleytown dan Biola Tua

Judul               : Knock! Knock! ; who is there?
Penulis            : Esa Khairina
Penerbit         : Fantasteen, Mizan
Terbitan         : Cetakan Pertama, 2019
ISBN                : 978-602-420-804-2
Peresensi       : Agustin handayani

Semua orang percaya bahwa bukan hanya mahluk hidup saja yang menghuni bumi, melainkan juga mahluk tak kasat mata yang juga menjalani aktivitas bersama kita. Mereka-mereka yang berkeliaran dengan kisah pra mati yang beragam. Beberapa percaya, bahwa dunia memiliki lapisan yang menghubungkan dunia manusia, arwah, hingga menjadi penghuni surga dan neraka. Hal inilah yang mungkin diyakini penulis bernama Esa Khairina tersebut.

Lewat novel Fantasteen yang dikarangnya dengan judul Knock! Knock ; who is there, penulis menceritakan bagaimana dunia-dunia tersebut. Edisi Deluxe ini terbagi menjadi dua cerita yang sama-sama mampu membuat siapapun merinding dan ikut masuk ke sebuah portal alam tersebut.

Cerita pertama dibuka dengan judul yang sesuai di buku sampulnya. Knock Knock; who is there. Berkat tugas Sejarah dari guru yang paling menjengkelkan, Dr. Higgins, tiga siswa harus memutar otaknya untuk membuat film dokumentasi tentang apa pun di Connecticut. Hingga ide untuk mengangkat sebuah kota yang mati lebih dari 70 tahunan. Sebuah kota dengan kemistisan yang sangat kental. Bahkan dikabarkan ada sekitar 101 orang yang hilang di sana dan hanya seperempatnya yang ditemukan dalam keadaan tewas mengenaskan. Kota itulah yang akan Dante, Owen, dan Skylar kunjungi untuk tugas sejarah mereka.

“Dudleytown tidak menjadi kota mati tanpa alasan, bukan?” – Hal. 39.

Setelah Tate ditangkap dan dieksekusi, tidak ada yang berani tinggal di Dudleytown. Mereka menganggap kota itu mengandung kutukan. Karena setiap tetangga di sekitar rumah Tate akan mati dengan cara yang mengenaskan, entah bunuh diri atau dibunuh. Tate dan kota itu seakan menjadi sebuah misteri yang tidak pernah tersingkap selama puluhan tahun hingga membuat Dante, Owen, dan Skylar menerobos masuk ke dalam kota terlarang itu. Di sanalah mereka seakan mengenal Tate lebih dekat. Rumah dengan bau anyir darah, debu yang beterbangan, jebakan yang membuat siapapun celaka, hingga rahasia yang tidak pernah terkuat ke permukaan membuat mereka harus memilih, mundur atau terus lanjut untuk sebuah kebenaran atas kota ini.

Kutukan dan pengabdian dengan setan dan para arwah. Keberanian dan tekad yang kuat membuat mereka semua berada pada akhri dari kota mati tersebut.

Meloncat ke cerita yang kedua, penulis langsung mengajak kita ke Vienna, Austria. Seorang bernama Eureka Bernstein, seorang pemain biola yang mendapatkan beasiswa di Musikschdule Mozart. Di sanalah ia mengalami semua keanehan sejak menghuni kamar 31 yang sejak dulu ditutup karena mengalami sebuah pengalaman yang mengerikan. Seakan mengulang kisah yang baru, sejak Eureka mengalami kejadian yang mengerikan dan membuatnya merenggang nyawa, hingga dengan sedikit keajaiban membuatnya terbangun dari kematian. Namun karena kejadian itulah, Eureka tidak pernah sama lagi. Seperti indigo, ia bisa melihat semua makhluk yang berada di dekatnya. Bukan hanya itu, ia bisa masuk ke dalam cerita Ethel yang memiliki kisah hampir sama dengannya. Semakin menyelami kisah tersebut, Eureka semakin dibuat kepayahan dengan sikap Ethel yang seakan mengajaknya bermain-main di portal kematian. Bagiamna dendam Ethel tersebut yang selalu memainkan nyawa orang terdekat Eureka. Hingga Eureka sendiri harus benar-benar menjaga sahabat dan orang yang dicintainya daeri dendam Ethel. Terutama menghancurkan portal penghubung dunia tersebut.
“Tak ada luka yang tak bisa disembuhkan waktu.” –hal. 301

Cerita yang benar-benar memacu adrenalin. Bagaimana sebuah misteri yang disajikan dengan apik oleh penulis. Alur yang benar-benar rapi dan mampu membuat pembaca hanyut di dalamnya. Dante, Skylar,Owen, dan Eureka. Jika bukan dengan kebernian mereka menghadapi alam lain yang penuh mistis dengan mahkluk halusnya, mungkin tidak akan ada sebuah kebenaran yang terungkap. Lebih dari itu, cerita ini tidak akan terasa hidup tanpa tokoh-tokoh pemberani lewat tangan penulis. Novel ini sangat cocok bagi mereka yang percaya bahwa kita memiliki banyak teman tak kasatmata di sekitar ini.

Probolinggo, 5 Oktober 2019

Agustin Handayani. Aktivis literasi daerah yang tergabung dalam FLP Probolinggo dan KomunLis. 


Resensi Novel Our Broken Fate


Radar Madura, 8 Oktober 2019

Belajar Kuat dari Tekanan

Judul                           : Our Broken Fate
Penulis                        : Pricillia A. W
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                     : Cetakan Pertama, 2019
Halaman                     : 232 halaman
ISBN                            : 978-602-06-2940-7
Peresensi                   : Agustin Handayani

“Meski banyak kesedihan dan luka yang harus kuhadapi, kehidupan tetap berjalan, bukan?” –Hal. 96

Hampir sama seperti kisah Romeo dan Juliet yang lahir di keluarga dengan permusuhan yang kental, novel Our Broken Fate ini pun memiliki alur yang hampir serupa. Novel yang dibagi menjadi tiga bagian dengan sudut pandang tokoh berbeda di setiap bab benar-benar membuat kita tahu secara menyeluruh apa yang dirasakan setiap tokoh. Penulis bukan saja membumbui cerita romance ini dengan sebuah dendam dari dua keluarga yang berbeda, tapi juga ada arti kehilangan dan pengorbanan untuk bersama.

“Yang aku tahu dari pengalamanku, kita merasa benar-benar mencintai seseorang jika kita memberi seluruh cinta kita pada orang yang kita cintai. Bukan mencari cinta pada orang itu.” –hal 29

Kisah novel ini dimulai dengan Samudra Banyu Diwangga terhadap Cahaya Aruna, perempuan yang lahir dari rival keluarga besarnya. Dendam turun temurun yang seakan diwarisi oleh keturunan setelahnya seakan mendarah daging. Belum lagi dengan kematian dan kehilangan yang seakan silih berganti. Hal itu juga dialami oleh Sam dan Aya yang masih menginjak usia remaja. Di tengah pertikaian dendam antara keluarga, mereka masih bersama dan saling menguatkan.

Namun, seperti takdir yang seakan mempermainkan mereka dalam sebuah penderitaan tiada akhir, Sam sadar bahwa kebersamaan mereka hanya akan membuat mereka menjadi target bergilir sebagai korban dendam selanjutnya. Sudah cukup memiliki ibu yang ambisius pada kekuasaan, keluarga Millen yang mengancamnya menjauhi Aya, nyatanya kematian Langit –kakak satu-satunya- membuat Sam memutuskan pergi dan meninggalkan Aya dan semua hal tentang keluarga besarnya. Proses pengasingan diri yang ia lakukan agar tidak semakin membuat sekitarnya runyam. Namun hal yang tidak Sam sadari bahwa ada hati yang terluka di tengah kehilangan.

“Pada akhirnya selalu ada pengorbanan yang mengakhiri sebuah kisah. Baik itu dilakukan si tokoh baik maupun tokoh antagonis.” –Hal. 200

Novel ini cukup menegangkan dalam genre romantis. bagaimana dua keluarga yang saling berselisih dengan dendam masing-masing dan ketamakan dalam kekuasaan. Bumbu yang cukup serius untuk sebuah novel percintaan. Namun, cukup menarik mengingat hal-hal tentang perjuangan Bastian agar Aya mau menatapnya, pengorbanan Sam agar Aya tidak ikut terlibat, dan bagaimana akhirnya kehilangan mengajarkan untuk terus bangkit dan berdiri dengan kaki sendiri seperti yang dialami oleh Laura.

Novel ini juga cukup mengajarkan kita bahwa orang tua selalu memiliki cara sendiri untuk menyayangi dan melindungi anaknya. Meski kadang bersikap tegas dan menyebalkan, orang tua selalu tidak ingin anaknya berada di poisi yang sulit. Juga pelajaran bahwa sesuatu yang dilakukan dengan cara kotor, nyatanya tidak akan membuahkan hasil yang bahagia.

Dan sebagai penutup novel ini, Kisah Penguasa Cahaya dan Penguasa Air menjadi akhir yang manis.  
Probolinggo, 14 September 2019

Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo dan KOMUNLIS Probolinggo.




Resensi Novel Nagra dan Aru


Radar Mojokerto, 6 Oktober 2019

Romantika Remaja Hingga Perjuangan untuk Bertahan

Judul                           : Nagra dan Aru
Penulis                        : Inggrid Sonya & Jenny Thalia
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                     : Cetakan Pertama, 2019
Halaman                     : 360 halaman
ISBN                            : 978-602-0620-9-6-1
Peresensi                   : Agustin Handayani

“Bersandar itu nggak harus nunggu lo lemah dan nggak harus nunggu gue kuat. Siapa tahu dengan bersandar, kita sama-sama kuat.” –Hal. 125

Sebenarnya sudah banyak novel remaja dengan kisah romantikanya yang beredar di pasaran. Namun, jelas saja antara satu novel dengan novel yang lainnya selalu memiliki perbedaan yang sangat kentara. Entah dari konflik, tokoh, sifat penokohan, setting, hingga sudut pandang yang berbeda. Ada novel yang hanya mengangkat kisah cinta ala-ala remaja saja, atau tentang perjuangan meraih mimpi dan cita-cita. Nah, di sini novel yang ditulis oleh Inggrid dan Jenny ini bukan hanya tentang kisah percintaan ala-ala remeja yang bisa dikatakan terlalu chessy, tapi juga tentang sebuah perjuangan untuk bangkit dari kesalahan, perjuangan untuk meraih cita-cita juga turut menghiasi manisnya novel ini.
Sesuai dengan judulnya, novel Nagra dan Aru bercerita tentang dua manusia tersebut. Aru yang berperan sebagai seorang perempuan dengan tingkat keanehanyang tinggi, kocak. dan juga tidak tahu malu. Hampir sama seperti novel remaja kebanyakan. Bedanya di sini Nagra bukan lelaki dingin yang cuek. Nagra hanya seorang siswa biasa yang suka sekali memacari adik kelasnya. Jiwa playboy yang sama sekali tidak membuat Aru mundur untuk mendapatkan Nagra. Perjuangan untuk mendekati Nagra sendiri terbilang sangat terang-terangan bagi seorang perempuan. Kisah yang manis, dan juga kocak. Aru yang bisa dikatakan sebagai perempuan pemberani seakan menlindungi Nagra dari siapa pun yang mengganggu Nagra, terutama Igo yang berhasil membuat seorang Nagra diskorising guru.

“Kita Cuma perlu cari cara buat tetap bertahan sesering apa pun kita disakitin. Manusia sering kali cari hal-hal besar buat mengubah dunia, buat mengubah diri sendiri. Tapi sebenarnya kita cuma butuh hal kecil berthana di dunia ini.” –Hal. 124

Titik menarik dari novel ini mungkin saat kemunculan tokoh bernama Igo. Seorang siswa yang beda kelas dengan Nagra dan Aru. Hanya saja Igo ini memiliki masa lalu yang masih bersangkutan dengan Nagra. Bisa dikatakan Igo ini adalah seorang siswa yang salah bergaul hingga jatuh dala lingkaran hitam. Bagaimana Igo yang harus bertahan saat sakau, saat semua orang hanya perduli pada uanganya, tapi tidak pada dirinya. Meski Nagra terlihat tidak perduli dan sering cekcok, nyatanya Nagra adalah teman yang selalu ada di saat-saat terendah Igo. Nagra juga tak tanggung-tanggung membantu Igo, ia juga merelakan perasaannya agar sang sahabat lama itu bisa sembuh. Aru yang berada di antara dua lelaki yang sama-sama membutuhkannya.

Meski kita dibawa pada alur yang cukup komplit di tengah cerita, tetap saja kita dapat menikmati tingkah konyol seorang Aru.

“Rasa kasihan itu termasuk emosi, Go. Emang kenapa kalau gue kasihan sama lo? Kasihan itu bukan berarti meremehakn tapi peduli! Emang dosan dikasihanin orang?” –Hal. 205.

Novel ini tidak bisa dikatakan novel biasa saja. Kisah remaja yang terjadi di sini bukan hanya tentang pelajaran, keseharian sebagai siswa atau kisah romantikanya. Tapi juga mengisahkan sudut pandang tentang siswa-siswa yang salah jalur, narkotika, rehabilitasi, hingga kemauan yang membuat kita lepas dari lingkaran hitam tersebut.

Meski novel ini ditulis duet oleh Inggrid Sonya & Jenny Thalia, alur dan pembawaannya benar-benar mudah dipahami. Setiap Bab yang diambil dari sudut pandang berbeda antara Nagra dan Aru tidak serta merta membuat pembaca bingung.  Malah kita semakin bisa mendalami setiap adegan meski dengan sudut pandang yang berbeda.

Probolinggo, 15 September 2019

Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo dan KOMUNLIS Probolinggo.

Resensi Novel Banda Bola, Cuy

Doc. 9 September 2019 Radar Madura

Solidaritas Pertemanan yang Tiada Batas

Judul                : Bandar Bola, Cuy!
Penulis             : Netty Virgiantini
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 256 halaman
ISBN               : 978602-0621623
Peresensi         : Agustin Handayani

“Terkadang kesunyian memang jadi lebih indah dinikmati bersama.” Hal. 65

Masa remaja memang selalu memiliki ketertarikan sendiri untuk semakin diulik dengan sudut pandang masing-masing. Dunia yang tampak penuh warna dengan pencarian jati diri serta kesiapan mematangkan mental untuk menuju masa dewasa muda. Dengan sudut pandangnya sendiri, Netty mengambil kisah teenlit yang tidak jauh-jauh dari dunia remaja itu sendiri. Persahabatan, dan kegemaran.

“Karena sebenarnya main bola bukan sekadar rebutan bola dengan dua puluh orang dan banyak-banyakin bikin gol. Lebih dari itu, main bola juga ngasih pelajaran pentingnya kerja sama, saling bantu, dan saling menghargai. Sehebat apa pun kemampuan seorang pemain, dia nggak bakal beraksi seorang diri tanpa bantuan rekan satu tim.” –hal. 78

Mengusung kegemaran sepak bola yang memang bisa menjadi ikon remaja kali ini, Netty banyak mengulas hal-hal yang kadang tak kita sadari sebelumnya. Menurut penulis ini, remaja bukan hanya mereka yang terlibat dengan kisah cinta yang menye-menye atau kelabilan sikap. Namun sebenarnya, ada beberapa bagian remaja yang sibuk dengan persahabatan, hobi, dan juga kematangan mental dan fisik yang luput dilihat oleh orang di luar sana. Hal yang menjadi beda dari kisah ini adalah hadirnya seorang cewek pemberani sebagai manajer bandar taruhan bernama Tari. Gadis pemberani yang menggilai dunia bola. Bisa dikatakan Tari ini menjadi jantung tim sepak bola kelasnya.

Adanya Tari di tim sepak bola membuat penyeimbang dan juga penyempurna sikap dari pemain tim lelaki. Meski sering melakukan taruhan illegal di luar jam sekolah, mereka sadar bahwa uang itu untuk kepentingan bersama dan saling membantu. Adanya taruhan hanya untuk meningkatkan semangat mereka dalam bertanding. Semua berjalan mulus selama beberapa waktu meski harus mencari waktu dan tempat yang pas agar tidak diketahui oleh pihak sekolah.

Hingga datang anak OSIS kelas XII yang bernama Alex dan Rashid. Tari menyukai Rashid sejak kelas sepuluh, maka dari itu, kehadiran Rashid sangat menggoyahkan dan menghancurkan waktunya. Kesengajaan yang terasa janggal. Bagaimana lelaki itu yang mendekatinya, menolongnya di saat yang tepat, dan segala kejadian lainnya yang sangat janggal hingga kenyataan sebenarnya terkuak. Ada niat terselubung dari pendekatan lelaki itu yang tiba-tiba. Namun, lagi-lagi cinta bisa mengendorkan sikap waspada yang Tari miliki meski temannya sudah sering memberi nasehat.
"Tugas kita adalah mendidik dan mengarahkan siswa, bukannya langsung menghukum jika mereka melakukan kesalahan. Hukuman kadang malah tidak menyelesaikan masalah.” –hal. 191

Sebenarnya ini masuk poin penting dari inti cerita. Selain saat amarah menguasai tim mereka, saat kekerasan seakan menjadi jalan keluar untuk pelampiasan, sosok Tari bisa dikatakan sebagai pelerei, dan jalan tengah yang sejak tadi buntu. Bagaimana sikap penuh tanggung jawab dan keberanian untuk memikul beban atas terbongkarnya pertandingan illegal itu dan membuatnya diskors tanpa sedikit pun menyeret nama temannya yang lain. Solidaritas yang bukan hanya sebagai teman, tapi sahabat dan juga saudara. Tiga kata yang menjadi sihir bagi mereka bahwa setiap masalah tidak selalu diselesaikan dengann kekerasan. Dan bagaiamana sosok seorang guru di dalamnya.

Peranan guru di sini seakan menyindir kita semua. Guru itu contoh, panutan, dan juga pemberi arahan. Setiap pelanggaran, tidak bisa selalu diselesaikan dengan kaku sesuai aturan sekolah. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan terkait dengan bagaimana memberi kesempatan bagi murid tersebut. Karena hukuman tidak terbukti menjadi penyelesaian dalam pelanggaran.

Novel yang benar-benar gila dan menakjubakan. Solidaritas yang kental, bagaimana sosok tim sepak bola saling mendukung dan beraksi untuk memperoleh kemenangan. Bagaimana lapangan mengajarkan arti hidup, dan bagaimana kebersamaan bisa meguatkan tali persaudaraan. Novel remaja yang tidak melulu fokus dengan kisah romance, dengan sudut pandang dan pegambilan dunia sepak bola semakin membuat novel ini memukau pembaca.
Probolinggo, 21 Mei 2019
Biodata Penulis

Agustin Handayani. Seorang mahasiswa dan aktivis literasi daerah. Tergabung dalam FLP Probolinggo dan KomunLis Probolinggo

Resensi Cermin Tak Pernah Berdusta




Radar Cirebon, Sabtu 7 September 2019 

Pembullyan dan Dendam Paling Kejam

Judul                   : Cermin Tak Pernah Berdusta
Penulis                 : Mira W.
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                : Cetakan Pertama, 2019
Halaman               : 176 Halaman
ISBN                     : 9786020621036
Kategori                : Novel
Peresensi              : Agustin Handayani

“Masa remaja memang masa yang sangat indah, sekaligus kejam.” –Hal. 46.

Berbicara tentang masa remaja yang pasti dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali, memang mampu memiliki banyak hal yang menarik untuk dibahas. Masa di mana kita semua mempersiapkan diri dari peralihan kanak-kanak ke masa dewasa muda. Dalam masa itu, pikiran kita semakin tajam dan menangkap apa pun di sekitar dengan lebih peka. Pada masa itu pula, perasaan remaja akan sangat sensitive.

Seperti yang diceritakan dalam tokoh novel ini. Seorang remaja bernama Kavela yang digambarkan dengan manusia buruk rupa. Wajah yang tak cantik, mata sipit, dan tubuh yang kurus kerempeng. Pada masa ini, kebutuhan untuk terlihat cantik dan mencolok memang sangat besar. Seperti yang Kavela alami. Karena tubuh yang tidak mendukung itu, sering kali kepercayaan dirinya turun dratis hingga ia bersikap apatis pada sekitar. Sebenarnya ia tidak akan apatis atau trauma jika sekitarnya terutama teman-temannya tidak memperlakukan Kavela sedemikian jahat, atau kerap kita kenal dengan kasus bullying.

Pembullyan yang awalnya hanya dilakukan dengan niat iseng dan main-main, lama kelamaan akan berlanjut ke tahap-tahap berikutnya yang pasti lebih ektrim. Para pelaku yang melakukan aksi tersebut merasa mendapatkan kepuasan sendiri, sedangkan korban hanya diam dengan ketakutan yang luar biasa, bahkan bisa jadi trauma. Itulah yang Kavela alami. Ia sampai tidak masuk sekolah beberapa hari karena takut di bully oleh teman-teman populernya. Mereka menindas yang lemah tanpa tahu bahwa korban akan membawa lukanya hingga dia dewasa.

“Karena alam hanya memberikan yang jelek-jelek untukku.” –Hal123

Beberapa tahun berikutnya, Kavela yang sudah tidak ingin dibully terus menerus, berusaha memperbaiki diri. Mulai dari mempercantik diri dengan operasi hampir di semua bagian tubuhnya, membangun usaha yang menjadikannya sebagai pengusaha sukses, dan mengganti nama. Ia seakan  ingin mengubur Kavela yang jelek bersama dengan penampilannya yang sudah berubah. Novela Karmalita.

Peruabahan dratis itu juga bersamaan dengan perubahan sikap dan hatinya. Nuraninya seakan terkunci oleh dendam yang ia pendam sejak remaja. Pada semua orang-orang yang menyakitinya dan menjadikan dirinya mainan, Kavela seakan menandai semua orang itu satu per satu.

Dengan bantuan Roni –kutu busuk yang diam-diam selalu berada di sampingnya- Kavela bisa bermain dengan takdir orang-orang yang di dendamnya. Membalas semua air mata, kesakitan, dan trauma yang ditimbulkan mereka dulu. Meski Roni sudah berkali-keli memperingatkannya untuk berhenti. Karena balas dendam tidak akan membuat hidup kita tenang.

“Ternyata, malapetaka tidak datang sendirian. Karena dibalik bencana, biasanya ada berkat.” –Hal.171

Novel yang tidak benar-benar ringan bagi remaja. Bukan kisah cinta yang diangkat oleh novel karangan Mira W ini. Melainkan sebuah akibat dari pembullyan dan kepercayaan diri. Kisah Kavela menjadi sorotan dalam novel ini. Selain karena perubahan sikap yang membuat pembaca ikut larut ke dalam perasaan tokoh, Kavela memberikan banyak sekali pelajaran di dalamnya.

Peran Roni sebagai seorang sahabat juga ikut andil dalam cerita ini. Lelaki yang dulunya dijuluki kutu busuk ini selain menjadi lelaki dewasa yang mapan dan sukses, ia juga selalu mendukung Kavela hingga mencapai semua kesuksesan ini. Roni pulalah yang selalu mengingatkan Kavela untuk tidak mendendam pada masa lalu. Karena bagaimanapun saat itu mereka semua hanya remaja dengan tingkah yang belum matang.

Novel yang sangat cocok dibaca untuk remaja dan dewasa muda, menurut saya. Karena novel ini bisa menjadi acuan sebuah tindakam main-main yang berujung dendam. Pengingat untuk selalu menghargai orang lain dan membangun percaya diri yang tinggi.

Probolinggo, 24 Agustus 2019


Agustin Handayani. Anggota Forum Lingkar Pena Probolinggo dan KomunLis Probolinggo.


Resensi Novel Dairy of Maret


Doc. Kabar Madura
9 September 2019 
Misteri Teror 29 Maret 1895
Judul                : Diary of March Extended Version
Penulis             : Fransisca Intan
Penerbit           : Fantasteen, Mizan
Terbitan          : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 256 halaman
ISBN               : 978-602-420-779-3
Peresensi         : Agustin Handayani

Diary of March  Deluxe adalah novel Fantasteen gabungan dari Fantasteen terbaik Diary of Mrach dan Diary of March; The Final Truth. Sebuah novel Fantasteen yang membawa kita untuk memecahkan misteri sebuah pembunuhan yang terjadi di sebuah sekolah pada dua abad silam. Meski begitu, terror dan misterinya tetap terasa hingga sekarang. Bersama dengan Alex dan teman-temannya, novel ini akan mebawa kita ke dalam alur yang melompat dan menengangkan untuk diikuti.

“Ini rahasia terbesarku. Jangan dibaca. Atau, terror dan malapetaka akan mengikutimu. -Ginny Adelaide Tan.” –Hal, 9

Harvetown Senior High School dengan segala misteri dalam asramanya. Lorong misterius, kamar kosong, dan pohon beringin. Semua hal yang mengandung misteri dan hal-hal yang mistis. Mitos yang diawali sejak rumor kematian seorang guru musik piano yang dibunuh dengan keji oleh orang-orang dengan tuduhan telah membunuh siswanya sendiri.

Ada banyak tempat misteri yang menjadi larangan untuk didekati. Sebutlah lorong misterius. Di mana sosok guru bernama Ginny dibunuh dengan sadis oleh orang-orang. Di sana, semua murid yang melewati lorong itu sendirian atau berjumlah ganjil, maka akan mengalami nasib yang tragis. Hantu Ginny akan membunuhnya dengan pisau.

Rumor dari dua abad yang lalu dan bertahan hingga saat ini. sebenarnya ini bukan saja rumor, karena kenyataannya terror itu memang nyata terjadi di antara para siswa di Harvetown ini. pada zaman sekarang, semua ini dimulai saat Alex menemukan sebuah diary usang di perpustakaan bawah tanah. Dari sana, ia mulai mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ada seorang hantu wanita yang tampak marah dan selalu menerornya. Hingga saat ia sadar bahwa terror itu akibat ia membaca diary miliki Ginny.

Meski Alex membuang diary tersebut, nyatanya takdir seakan telah menggariskan hari-harinya untuk membongkar misteri tersebut. Terbukti dengan ia dan kelima sahabatnya yang tersesat ke  masa lalu saat pertama kali penyebab terjadinya terror tersebut.

Alex dan sahabat-sahabatnya menyaksikan dengan kepala mereka sendiri bagaimana seorang Ginny yang dituduh membunuh siswanya sendiri. Padahal, itu hanya sebuah dusta yang dilimpahkan pada dirinya. Hingga sebuah dusta yang tidak bisa diungkapkan kebenarannya sampai orang-orang keji itu termakan amarah dan membuuhnya dengan sadis. Dendam dan sakit hati membuat Ginny akhirnya gentayangan dan menghuni lorong sekolah di mana ia dibunuh dan dimakamkan dengan tak layak.

Dari saat itu, setiap ada siswa yang sendirian atau berjumlah ganjil melewati lorong tersebut akan dibunuh oleh hantu Ginny. Bahkan para siswa pun tidak boleh mendekati pohon beringin di mana makan Ginny saat itu. Teror yang benar-benar sadis dan sangat menakutkan.

“Jangan sembunyikan kebenaran, ungkapkanlah….” –Hal, 212

Dengan suara piano itu Alex dan kelima sahabatnya seakan melakukan perjalanan waktu dan menjadi saksi bagaimana kejadian yang sesungguhnya. Hingga dengan takdir yang sudah digariskan itulah, mereka seakan menjadi kunci dan saksi untuk mengungkapkan misteri sekolah dan kematian guru music tersebut.

Novel yang benar-benar menegangkan dan menakutkan. Itulah kalimat pertama yang akan kita kemukakan setelah mengikuti akur ceritanya. Bagaiaman terror dan setting tempat yang seakan-akan nyata dan membawa pembaca seakan ikut merasakan perjalan waktu dan bertemu sosok Ginny.

Antara ingin berhenti dan melajutkan. Mungkin itulah kelebihan novel ini. Berhenti karena mungkin kisahnya benar-benar berhasil membuat bulu kuduk berdiri, tapi tetap ingin melanjutkan sampai akhir di mana kita tahu bagaiamana kisah tersebut akan berakhir.

Dalam novel ini, Fransisca sebagai penulis juga memberikan beberapa cerpen karyanya yang juga membahas sebuah misteri atau kekuatan supranatural yang meski dengan alur singkat, tapi tetap bisa menarik untuk dibaca.

Misteri, teor, hantu gentayangan, kebenaran, dan kebencian. Kata-kata kunci yang selalu kita temukan bagaimana kisah ini berakhir. Novel yang tidak bisa dibilang ringan, tapi juga nyaman dibaca. Sepertinya saat membaca, pastikan kalian tidak dalam ruang yang kosong atau sendirian. Dan jangan pernah membaca diary seseorang tanpa izin atau hal buruk akan terjadi.
Probolinggo, 10 Mei 2019


Agustin Handayani. Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang aktif dalam literasi kota. Anggota FLP Probolinggo dan KomunLis Probolinggo. 



Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...