Resensi Konspirasi Hujan

 Kabar Madura, 5 April 2019

Menyiasati Cinta di Balik Kesunyian

Judul                           : Konspirasi Hujan
Penulis                         : Adia Puja
Penerbit                       : Mojok
Terbitan                       : Cetakan Pertama, September 2018
Jumlah Halaman          : vi + 132 Halaman
Peresensi                     : Agustin Handayani
Sebuah karya yang apik tak luput dari bagaimana seorang penulis bisa membawa arus perasaan dari pembaca. Hal ini jelas akan memberikan penilain sendiri dari pembaca untuk setiap gaya penulis yang disajikan. Bagaimana seorang penulis memberikan sebuah gelombang untuk menerpa cerita yang dibuat, dan bagaimana pula cara penulis menyurutkan konflik dengan sebuah gebrakan yang tidak diduga oleh pembaca sebelumnya.
Seperti inilah yang Adia Puja lakukan pada kumpulan cerpennya. Karyanya yang berjudul Konspirasi hati memiliki sebuah makna dalam kisah masing-masing. Awalnya, pembaca pasti mengira konspirasi Hati ini hanyalah sebuah kisah cinta klise pada umumnya. Karena dari kata Konspirasi sendiri yang sangat pasaran dalam kisah-kisah percintaan.
Namun, akan beda halnya bila kita mulai membaca satu persatu dan menyelami semua kisah yang ada. Kisah-kisah yang disajikan dalam sebuah kesunyian dan makna mendalam tentang cinta yang terkadang bisa mencerahkan sekaligus membikin muram.
Kita bisa lihat ke cerpen pertama yang berjudul, Ni Luh. Sebuah kisah yang mengambil setting di Bali. Sebuah pulau dewata dengan sejuta pesona. Pulau ini juga yang melahirkan sebuah kesunyian dari rahimnya. Wanita bermarga Luh yang mendominasi cerita ini. Di sini cinta memang berarti kesunyian. Banyak hal yang membuat kita memilih untuk menikmati semua rasa yang mengalir dari pada harus mengungkapkan semuanya dengan terburu-buru. Ada saatnya kita diam karena kita takut. Takut pada akibat apa yang akan terjadi dengan sebuah ungkapan. Dan akan ada saatnya juga, cerita berakhir hanya dengan kesunyian masing-masing. Dengan debaran yang sama, cinta yang sama, dan keterbungkaman masing-masing.
Meloncat ke cerpen ketiga yang berjudul Bualan Bulan. Bercerita tentang Rama yang menyukai seorang teman wanitanya. Hal yang menjadi unik dari cerita ini adalah Rama yang bisa berbicara dengan bulan. Setiap malam, Rama akan bertanya pada bulan tentang apa yang dilakukan oleh orang yang dia sayang. Dan bulan akan menjawab sesuai dengan apa yang gadis itu lakukan. Hal yang aku kira bahwa penulis ingin berfantasi dengan keliaran idenya. Namun, lagi dan lagi aku sebagai pembaca akan jatuh pada kalimat akhir dari cerita tersebut.
“Hanya saja, kamu tidak bisa membedakan antara mimpi dan realita.” -Hal. 43
Ada sebuah adat di sebuah istana kerajaan. Di mana setiap raja yang meninggal, maka semua permaisuri akan ikut menemaninya ke alam baka. Hal itu menandakan sebuah kesetian permaisuri atas cinta kasih dan balas budinya pada sang Raja. Apakah ini  hal yang aneh? Tidak juga. Penulis berhasil membawakan kisah ini pada salah satu cerita di buku ini.
Bagaiaman konflik orang pribumi dan Cina yang hingga saat ini belum bisa bersatu? Senyum Terakhir An akan menjawab bagaimana kisah cinta di atara perbedaan adat dan konflik yang terbentang.
Adia Puja memang menceritakan kesunyian dari arti cinta. Aku suka bagaiman cinta menjalar dari pori-pori kesunyian hingga melahirkan dua sisi yang berlawanan. Semuanya tergantung dengan bagaimana pelaku-pelaku cinta itu sendiri. Apakah kita mampu bertindak dan berani hingga mendapatkan cinta yang cerah dan bahagia. Atau hanya diam dalam bilik kesunyian dan melahirkan kemuraman dan penyesalan. Semoga semua pembaca yang memeluk cerpen ini akan paham dan berhati-hati dalam mensiasati semua kesunyian cinta.

Probolinggo, 12 Januari 2019

Biodata Singkat Peresensi
Agustin Handayani. Perempuan kelahiran 1996. Anggota Forum Lingkar Pena Probolinggo serta aktivis literasi daerah.

Resensi Kelly On The Move

Kabar Madura, 8 April 2019 

Seni Melupakan Kenangan

Judul                : Kelly On The Move
Penulis             : Seplia
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Oktober 2018
Halaman         : 304 Halaman
ISBN               : 9786020618098
Peresensi         : Agustin Handayani

Tidak ada kata ‘baik-baik’ saja saat ditinggalkan oleh seseorang yang pernah singgah di hati. Terutama jika sudah lama menetap dan membangun banyak sekali kenangan bersama. Novel Kelly On The Move karya Seplia ini mengungkit bagaimana seorang Kelly yang mengaku sudah move on dari mantan yang memutuskannya secara sepihak. Namun kenyataannya, Kelly masih sering stalk social media Bobby lewat akun palsu yang sengaja ia buat. Bukan hanya sampai di situ, Kelly juga masih belum bisa lolos dari luka pasca putusnya hubungan dengan Bobby. Apakah sebegitu besar rasa sakit hati yang Kelly terima?
“Hal baru emang memang biasanya akan jadi puja-puji, tapi setelah hari demi hari berlalu dan hal baru udah jadi biasa saja, nggak akan jadi primadona lagi.” –Ha; 52
“Gimanapun, mudah untuk meninggalakkn seseorang ketika dia melarat, terus cari pengganti. Gampang mencintai orang dengan segala kelebihan harta benda dan fisiknya, kemudian menyombongkan diri. Tapi hidup… nggak selamanya kita di atas. Nggak selamanya kita baik-baik saja.” -58
Tokoh Kelly dalam cerita ini memang digambarkan dengan seorang wanita muda, cerdas, seorang dosen yang kuat dan penuh talenta. Hampir tidak ada cacat yang dimiliki oleh wanita seperti Kelly ini. Apalagi ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang sangat menyayanginya dan selalu ada saat ia tengah sendiri. Hanya saja, satu kecacatan dalam tokoh Kelly, yaitu terpuruk dalam luka masa lalu. Segala poin kelebihan yang dimilikinya seakan runtuh hanya dengan luka yang Bobby berikan.
Seperti kisah kebanyakan, saat remaja mereka terlalu bernapsu dengan cinta yang membuncah. Berjanji akan memiliki masa depan bersama dengan anak-anak yang akan menghiasai cinta mereka kelak. Selama sepuluh tahun Kelly dan Bobby memiliki angan dan impian bersama. Namun, hanya dalam hitungan detik, Bobby mampu menghancurkan seluruh impian tersebut hingga ke akar-akarnya. Dari sana, Kelly kehilangan harga diri dan kepercayaan untuk menjalin sebuah hubungan baru. Ia selalu bertanya apa yang kurang dari dirinya? apakah masih ada kekurangan dalam dirinya hingga Bobby lebih memilih Maria, wanita yang sok agamis dengan social media yang penuh dengan khutbah.
Hingga di tengah patah hatinya, Kelly berkenalan dengan Assen. Seorang aktor yang mendapatkan keperyaan untuk membantu proses pentas teater sekolah. Mungkin bila ditanya, siapa orang yang tidak histeris kala bertemu aktor setampan Assen, mungkin jawabannya hanya Kelly seorang. Bahkan Kelly tidak mengenal Assen dan malah mengira Assen adalah salah satu mahasiswa yang meminta bimbingan skripsi denganya. Namun kedati begitu, Assen malah tertarik dengan karakter yang Kelly miliki. Wanita yang sangat cerdas dengan kilau cahaya dalam dirinya.
Tak butuh waktu lama, Assen langsung mengutarakan perasaannya. Namun, dari sana pula ia paham apa yang sedang mengurung wanita itu. Luka sebuah perpisahan dan sakitnya kenangan. Kelly belum bisa berdamai dengan masa lalu dan kenangannya.
Sebuah alur cerita yang berjalan dengan lambat, namun sangat nyaman diikuti. Ada beberapa humor yang diciptakan oleh beberapa tokoh sahabat Kelly seperti Chris yang selalu menjadi bahan bullyan Kelly. Meski begitu, di beberapa bagian mereka akan sangat kompak bila membahas tentang drama korea dan Oppa-Oppa-nya.
Ada sebuah nilai perjuangan  yang Assen ajarkan. Bahwa sesuatu, apapun itu tidak harus terburu-buru dan malah terkesan memaksa. Karena itu, meski ia mencintai Kelly, lelaki itu mau menunggu hingga Kelly berbaikan dengan diri sendiri. Karena semua akar masalahnya adalah Kelly yang belum berbaikan pada masa lalu dan dirinya. Semua permasalah ada pada diri Kelly sendiri.
Novel Kelly On The Move ini juga mengangkat kisah persahabatan yang dialami oleh Tere, Chirs, Inez dan juga Kelly. Mereka yang selalu mendukung Kelly untuk bangkit dan mencoba mengembalikan kepercayaan diri sahabatnya tersebut.
“Patah hati nggak pernah sederhana. Meski patahnya sama, hati tiap orang yang ngalamin bakal ngerasain efek yang berbeda.” – Hal 121
Saat kita selesai membaca novel ini, banyak hal yang kita dapat petik di dalamnya. Salah satunya adalah bagaiaman setiap individu menyikapi patah hati dan masa lalu yang sama-sama pahitnya. Meski dengan cara berbeda, mereka sama-sama memiliki tujuan untuk bahagia. Dan perjalana Kelly untuk melupakan masa lalu memang lambat, namun ia tetap bisa menuju kebagaiannya sendiri bersama orang yang mau menunggu dan berjuang bersamnya.
Probolinggo, 6 Maret 2019
Biodata Peresensi
Agustin Handayani. Seorang aktivis literasi Probolinggo yang tergabung dalam Komuitas Menulis (KomunLis) dan juga anggota FLP Probolinggo. Gemar membaca dan menulis hingga karyanya sudah terbit di media, bahkan beberapa sudah dibukukan.


FantasTeen - Charlie Is Back





Misteri Teror Permainan Charlie

Judul               : Charlie Is Back
Penulis             : Fransisca Intan
Penerbit           : Dar! Mizan
Terbitan           :  Januari, 2019
Halaman          : 168 Halaman
ISBN               : 978-602-420-730-4
Peresensi         : Agustin Handayani

Charlie Is Back, adalah sebuah seri novel fantasteen yang mengambil sebuah kisah permainan Charlie Charlie Challenge di mana kita bisa memanggil hantu dengan perantara selembar kertas dan sebuah pensil. Seorang hantu yang digambarakan sebagai seoaramg anak kecil yang gemar sekali bermain dan akan sangat senang saat ada orang dewasa yang mengajaknya bermain bersama.

Fransisca Intan sukses membawakan sebuah kisah yang benar-benar menyeramkan sekaligus membuat kita ketagihan untuk membacanya hingga selesai. Ada beberapa adegan yang diceritakan dengan sangat detail tanpa mengurangi unsur mistis sekaligus horor yang membuatku sebagai pembaca jadi menatap sekeliling dengan was-was. Mungkin saja di sekitarku Charlie sedang duduk dengan mata kosong dan memperhatikan setiap orang yang membaca kisahnya. Hingga hinggap sebuah pertanyaan dalam pikiranku; Bagaiamana bisa penulis membuat kisah ini dengan sangat apik? Tidak adakah ketakutan di dalamnya?

“Can we play? Why you won’t play with me?Do you hate me? Do you loved other child? Tell me. If you’re not hate me, let’s play.” –Hal. 30 

Seperti sifat kebanyakan. Charlie pun memiliki sifat yang senang bermain terutama saat ia diajak bermain oleh orang-orang dewasa. Hanya saja, bila ia diusir tanpa bermain terlebih dahulu, makai ia akan marah dan bisa saja akan terus merengek agar kita mau bermain dengannya hingga ia bosan dan pergi dengan sendirinya. Seharusnya inilah yang dilakukan oleh Sofia, Venom dan Joshua saat bermain Charlie Charlie Chellenge. Mereka harus bermain dengan Charlie dan setelah Charlie bosan, barulah mereka mematahkan pensil dan membakar kertasnya agar Charlie bisa kembali ke alamnya. Namun, mereka tidak melakukannya. Mereka mengusir Charlie bahkan sebelum permaianan dimulai. Katakanlah, ini yang menjadi penyebab kekesalan Charlie hingga Venom harus meninggal dunia, Sofia yang harus menerima donor mata dan sekarang divonis terkena anxiety Disorder.

Sofia pun harus ditangani oleh seorang psikiater karena ia yang sangat susah tidur dan memiliki kantong mata yang sangat mengerikan. Tanpa mereka ketahui, penyebab Sofia yang tidak bisa tidur adalah teror  dari Charlie setelah dua tahun kejadian naas itu. Sofia selalu bermimpi buruk dan ketakutan hingga ia memutuskan untuk terus terjaga setiap malam.

“Mereka yang mati tidak mudah untuk mati dua kali dan mungkin saja kembali.” -Hal 51

Permaian memanggil hantu memang memiliki resiko sendiri-sendiri tergantung dengan siapa hantu yang sedang kita panggil. Maka, saat Sofia bertemu dengan Jesthine, ia sadar bahwa selama ini Charlie yang selalu bermain ayunan di depan rumahnya memang nyata. Charlie yang menerornya memang menginginkan nyawanya. Charlie merasa dipermainkan karena sampai detik ini, Sofia selalu pergi dan tidak mengajaknya bermaian. Lagi pula, manusia normal mana yang mau bermaian dengan seorang hantu anak kecil yang menyeramkan. Namun, saat meminta bantuan pada seorang paranormal yang dikenal Jesthine, saat itulah Sofia dan Joshua paham bahwa mereka harus kembali bermain Charlie Charlie Challenge untuk mengajaknya bermain.
“Playing with me or I won’t leave your life. Or I take you to death much faster.” -Hal. 155

Novel horor yang mengangkat kisah urban legend ini benar-benar sangat menyeramkan sekaligus mengerikan. Kisah Charlie sendiri diceritakan dengan sangat luwes oleh penulis. Bagaimana kehadiran Charlie, sosoknya yang mengerikan dan seluk beluk Charlie saat masih menjadi bocah benar-benar membuat saya paham dari mana asal permainan tersebut dan kenapa menggunakan perantara kertas dan pensil.

Meski dengan mata yang selalu awas pada sekitar, hati yang merasa ketakutan sendiri dengan pikiran yang melayang dan menerka-nerka apakah Charlie juga ada di sekitar saya, novel ini benar-benar sukses untuk membuat pembaca merasa ketakutan namun juga ingin menyelesaikan bacaannya. Semoga semua teman-teman yang membaca novel ini mendapatkan pelajaran untuk tidak bermain-main dengan hantu, meskipun dalam permainan.

Probolinggo, 13 Februari 2019

Bidata Peresensi
Agustin Handayani. Lahir di Probolinggo dan menjadi aktivis literasi daerah terutama Anggota FLP Probolinggo.

Alasan Menjadi Anggota FLP!




"Rumah bagi penulis adalah sebuah organisasi yang menjadi wadah sekaligus tempat belajar bersama." -Yani, FLP Probolinggo.



Seseorang mungkin bisa menulis sendiri, namun untuk menjadi seorang penulis, kita butuh teman, wadah, dan juga segala hal lainnya yang bisa membuat kita maju dan terus berproses. Tidak ada penulis yang langsung meraih kesuksesan dan berada di titik tertinggi tanpa melalui proses. Maka dari itu, seyogyanya kita belajar mencintai proses. Dan dalam proses tersebut, ada banyak penulis yang melaluinya dengan kisah masing-masing.
Forum Lingkar Pena adalah sebuah wadah sekaligus menjadi rumah untuk para penulis agar terus berproses, dan belajar hingga sukses dan menjadi penulis yang bermanfaat. Banyak teman, saudara, motivasi serta dukungan yang membuat kita bisa terus tegak dan kokoh dalam usaha kita menjadi penulis yang bermanfaat.
Dari sebuah artikel ini, saya akan memaparkan alasan-alasan yang membuat saya wajib bergabung dengan FLP terutama FLP Probolinggo.

1. Berawal dari Kegelisahan.

Minat baca memang sangat kecil, apalagi dengan minat menulis. Dari sini, saya berpikir bagaimana bisa saya meningkatkan minat baca kota (Probolinggo) agar lebih tinggi lagi. Dan karena saya sendiri memang menyukai dunia literasi sejak dulu, meski hanya membaca, saya pun mencari komunitas dan organisasi daerah yang bisa menjadi wadah agar membantu meningkatkan minat baca remaja. Saya ingin menjadi bagian untuk mendukung semua kegiatan literasi di zaman ini. Karena, kesadaran diri bahwa seseorang yang cerdas adalah mereka yang gemar membaca.
Secara global, FLP memang sangat sukses menjadi sebuah jawaban untuk meningkatkan minat baca dalam masyarakat.
2. FLP adalah wadah

Sangat banyak rintangan dalam menjadi penulis. Misal, patah semangat, malas, lelah, tidak ada ide, dll. Itu semua adalah kegelisahan lainnya yang sering dirasakan oleh penulis manapun menurut saya. Maka dari itu saya berpikir bagaimana caranya menghilangkan kegelisahan yang ini? Oh, iya! Saya harus memiliki teman sehobi dan sejalur dengan saya. Merekalah yang nantinya akan terus mendorong kita dan memberi Semangat. Selalu ada kata-kata, "sukses, ya!" , "jangan patah semangat!" , "gitu saja pasti kamu bisa, kok!" , "kami percaya sama kamu!" Dan banyak lagi kata-kata dukungan yang mau tidak mau memang sangat berpengaruh untuk kita semua. Akan ada saat di mana kita berpikir, "Oh, ya! Jika mereka percaya saya bisa, kenapa saya harus pesimis?"

Itu adalah pemikiran kenapa saya harus memiliki rumah (FLP) untuk menjadi tempat saya mencari semangat dan dukungan dari mereka.  Karena Kegelisahan itu tidak datang sekali dua kali. Kadang berkali-kali yang membuat saya semakin gencar bertukar pikiran dan meminta dukungan teman-teman.

FLP sebagai wadah juga mengenalkan saya kepada penulis-penulis lainnya. Mereka akan dengan senang hati bertukar cerita perjuangan mereka hingga bisa sampai di titik ini. Tidak ada yang instan di dunia ini, mie saja harus dimasak sebelum di makan. Apalagi menjadi penulis. Harus ada usaha dan pengorbanan di setiap langkahnya. Dari sini kita pasti akan semakin semangat setelah mnedapatkan pengalaman dari temna-teman yang seperti “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.”

3. Luruskan Niat, Berikan Manfaat.

Jika ditanya apa yang harus dimiliki penulis saat pertama kali ia menulis, pasti jawabannya adalah niat. Apa niat kita menulis? Sebelumnya, mungkin saya tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk. Niat saya hanya untuk menulis saja. Hingga saat saya mulai tergabung di FLP, saya paham niat menulis saya masih belum benar. FLP mengajarkan kita menulis untuk berbagi manfaat untuk sekitar. Seperti yang kita tahu, dengan tulisan, kita seakan hidup dalam keabadian. Dengan tulisan, kita menembus ribuan kepala untuk berbagi kebaikan dan manfaat. Karena itulah, adanya FLP benar-benar membantu saya untuk terus membenarkan niat dan beribadah lewat tulisan.

4. Pengalaman, Pelajaran, sekaligus Pengetahuan

Forum Lingkar Pena juga memberikan saya pengalaman dalam berorganisasi di masyarakat. Mereka memberikan saya kesempatan untuk ikut aktif bergabung dalam segala acara yang dilaksanakan. Banyak acara yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena yang semakin menambah pengalaman saya, sekaligus menjadi ide dan pondasi untuk saya terus menulis.

Pelajaran. Di sini banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Cara menyikapi diri, cara menulis yang baik, dan seperti apa tulisan bermanfaat itu, dan juga menjadi motivator untuk orang lain agar tidak patah semangat.

Pengetahuan. Forum Lingkar Pena bukan hanya memiliki penulis Fiksi. Ada banyak penulis non fiksi yang tergabung  di sana. Dari hasil karya mereka lah saya mendapatkan sebuah ilmu baru dan pengetahuan lainnya. Saya tidak selalu hidup dalam dunia imajinasi (fiksi), namun juga menyeimbangkannya dengan dunia riset dan ilmiah.

5. Saudara

Ada yang beda dengan pergaulan di Forum Lingkar Pena. Apa? Persaudaraan yang terjalin. Kita sama-sama saling mengingatkan tentang agama dan syariat Islam. Jadi, FLP bukan lagi hanya tentang Menulis, tetapi tentang berdakwah lewat tulisan. Seperti sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Atau sembari menyelam, kita minum air. Maka, selagi belajar menulis, kita juga belajar keagamaan.

Mungkin itulah beberapa alasan kenapa saya memilih FLP sebagai wadah yang wajib saya ikuti. Karena menulis bukan lagi tentang membuang kegelisahan, namun juga tentang berbagi manfaat, berdakwah lewat tulisan. Jadi, bagi teman-teman yang belum tergabung, saya ingatkan untuk segera bergabung. Dan bagi yang sudah bergabung, salam literasi untuk kita semua!

“Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22Th” Blogger FLP



Probolinggo, 25 Maret 2019






Resensi Purple Prose



Gambar. I Made Sunjaya


Bali dan Kenangan yang Kembali

Judul                : Purple Prose
Penulis             : Suarcani
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Oktober 2018
Halaman         : 304 Halaman
ISBN               : 9786020614137
Tidak ada sebuah masa lalu yang bisa terbebas dalam diri kita. Sejauh apapun kita berlari untuk menjauh, masa-masa kelam dahulu sebenarnya tidak pernah pergi. Ia tepat berada di balakang kita. Bisa jadi berupa bayang-bayang hitam yang selalu menemani kita disetiap langkah. Itulah yang sepertinya ‘pas’ untuk mengungkapkan bagaimana masa lalu dan keberadaaannya dengan diri kita sendiri.
Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk terbebas dengan masa lalu? Terus berlari dan mengindar seperti pengecut yang penakut? Mungkin seperti itulah yang Galih lakukan selama tujuh tahun ini. Karena masa lalu kelamnya, bahkan teramat kelam hingga membuatnya terjebak dalam suatu dimensi bernama penyesalan, ia melarikan diri ke Jakarta dan mencoba memulai babak baru dalam hidupnya. Kejadian yang membuatnya diburu oleh mimpi serta rasa bersalah.
Bali dan segala keindahan ternyata membuainya dalam sebuah pergaulan yang benar-benar membuatnya berada  di masa-masa kelam. Mahasiswa yang seharusnya fokus belajar, malah membuat Galih berada di jalan yang salah. Narkoba dan teman yang salah. Semuanya berakibat fatal. Dimulai dari Galih yang dihadapkan pada sebuah musibah kematian Reza dan juga peristiwa yang menariknya dalam kubang dosa. Tidak cukup ia menerima amukan warga serta keluarga Reza yang tidak terima anaknya meninggal lantaran overdosis. Galih bahkan harus mendapatkan musibah saat ayahanya terkena serang jantung dan meninggal dunia. Seperti kata pepatah, ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’. Itulah masa-masa sulit bagi Galih, hingga ia memustuskan lari sebagai pengecut.
“Jakarta menyelamatkan masa depannya, tapi tidak bisa melindunginya dari masa lalu. Dan, masa depan yang damai tercipta jika kita masih takut pada masa lalu.” –Hal 15
Sejauh apapun, Galih harus kembali lagi ke Bali lantaran tugas kerjanya. Ia harus rela dipindah tugaskan ke Bali sekaligus menghadapi masa lalunya. Bertemu dengan teman-teman lama yang membuatnya masuk dalam masa kelam hingga pertemuan dengan Roya. Wanita aneh dengan kebiasaan unik setiap sedang gugup atau dalam banyak pikiran. Roya akan selalu menghidupkan dupa yang asapnya tebal untuk menenangkan segala pikirannya. Wanita kikuk, pendiam, selalu ditindas, dengan kata meminta maafnya tanpa tahu apa yang salah dari dirinya. ia hanya tahu bahwa ia pembuat kesalahan dan ceroboh.
“Puple prose, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya prosa ungu.” - Halaman 162
Galih dan Roya, tanpa mereka sadari mereka sedang berada dalam zona yang disebut dengan prosa ungu. Sebuah kesia-siaan dari penyesalan yang belum mampu mereka hadapi dengan tegas. Roya dengan segala rasa bersalahnya terhadap masalah yang menimpa adiknya, Kanaya. Roya selalu menyalahkan diri atas trauma yang menghancurkan Kanaya hingga detik ini. Dengan setting waktu yang sama, tujuh tahun lalu.
Dengan waktu yang sama tersebut, Kanaya, Galih, Roya, dan kenangan itu seakan memiliki benang merah yang menyambungkan perkeping kenangan dan membuat sebuah batas antara mereka masing-masing. Kemarahan yang memuncak, penyesalan yang semakin mendalam, dan juga kepasrahan untuk saling melepaskan. Bukankah dunia memang sangat sempit dan sulit?
Novel ini bukan hanya melulu tentang kisah cinta. Namun, banyak nilai social yang dapat dipetik. Tentang hubungan manusia dalam suatu instansi yang harus bisa saling menghargai. Bagaimana kita harus bertanggung jawab bila berbuat kesalah tanpa harus lari dan malah menghindari masalah.
Kisah yang bersetting di Bali juga membawa banyak kebudayaan Bali dan cara beribadahnya.  Meski tempat-tempat tidak digambarkan dengan sangat meneliti, tapi sudah cukup membangun gambaran tentang Bali dan segala situasinya. Apalagi dengan beberapa upacara keagamaan atau perayaan desa, semuanya menjadi pengetahuan baru bagi orang-orang yang belum menginjakkan kakinya ke sana.
Purple Prose juga mengajarkan bagaimana hidup yang sebenarnya. Hidup tidak selalu baik dengan akhir yang bahagia. Ada saatnya sebuah kisah akan melekat dalam ingatan yang kita sebut masa lalu, ada kisah yang hanya sebagai tempat singgah sementara seperti yang dijalani Galih dan Roya, serta ada kisah yang harus kita tapaki berikutnya dengan pandangan yang lebih berani. Inilah yang disebut masa depan.

Probolinggo, 12 Maret 2019

Peresensi
Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo. Seorang mahasiswa yang aktif menulis cerpen, puisi, novel, dan resensi.

Belok Kanan Barcelona



Catatan Kecil Film Belok Kanan Barcelona 


Awal liat film ini, aku sangat antusias karena salah satu pemainnya adalah Mikha Tambayong yang berperan menjadi Retno. Bukan hanya ada Mikha, melainkan ada mantan personil SMASH, yaitu Morgan. Kisah dalam film ini menurut aku sangat komplit. Ada agama, persahabatan, asmara, dan perjuangan. Tidak melulu fokus pada asmara, film ini mengajarkan banyak hal. Misal 
1. Indahnya Persahabatan dan Menyikapinya.
Memang, alasan terkuat Retno menolak Francis karena karena beda. Hanya saja, Retno juga menjelaskan bahwa persahabatan lebih baik untuk mereka semua. Karena dalam persahabatan tidak pernah memandang bulu. Dalam artian, persahabatan bisa dengan beda RAS. 

2. Pencarian Tuhan dan Agama
Lagi-lagi Retno menjelaskan dengan sangat hati-hati untuk kehidupan masa depannya dan Francis. 
Retno : Jangan pindah agama hanya karena gue. Tapi, itu memang karena lo sudah menemukan apa yang lo cari.

Dalam Islam, memang untuk menjadi mualaf memang hanya semata-mata karena Allah SWT, bukan makhluk. Penggambaran kisah cinta beda agama sangat dikemas apik. Dan, karena aku percaya bahwa cinta beda agama memang tidak akan ada kata MENANG. Pasti salah satu di antara mereka ada yang kalah. Tidak mungkin dalam satu keluarga miliki dua pilot, dua arah. 

3. Keberuntungan dan Keberanian.
Seperti kata seorang penjual patunh di mana Ucup (Jusuf) membeli hadiah untuk Farah. Penjual tersebut berkata, "keberuntungan hanya didapatkan oleh mereka yang berani." Kata-kata ini sangat mujarab bagi Ucup. Dia berani mengambil tindakan berani dan berbahaya hanya untuk seorang Farah, demi cinta. Perjalanan untuk itupun benar-benar sangat berliku dan penuh tantangan. Mulai dari uang yang menipis, terjebak dalam sebuah peperangan, perjalanan yang jauh, ditangkap karena dicurigai salah satu teroris yang nama dan wajahnya hampir sama. Dan bukankah selalu ada kekecewaan yang pasti di alami? Farah dari dulu hingga sekarang hanya mencintai Francis. Tapi, kembali lagi, Keberuntungan tidak akan kita dapatkan bila kita tidak berani. Dengan sisa perasaannya yang kecewa, Ucup kembali mengejar Farah di airport, hingga bisa berbuah manis. How lucky man?

3. Asmara dan Hati.
"Lo tahu apa yang bikin gue kesel? Saat gue tahu nggak ada yang salah antara kita semua!" -Farah.

Kisah cinta yang tak berbentuk, tak beraturan. Retno dan Francis saling mencintai. Ucup mencintai Farah dan Farah mencintai Francis. Mereka sama-sama berjuang mendapatkan cinta masing-masing. Dengan segala rintangan, dan usaha yang berbeda. Retno terhalang agama, Francis yang terlebih dahulu mencari Tuhannya, Farah yang harus jatuh dan mau menerima hati yang lebih tulus, dan Ucup dengan kesabaran tinggi menunggu dan berjuang. Namun lagi-lagi, selalu ada hasil yang tak pernah mengecewakan usaha. 

Secara singkat, ini dulu yang saya tulis. Mungkin, apa yang aku rasakan malam ini tidak sama dengan teman-teman yang pernah menonton film ini terlebih dahulu. Namun yang pasti, kalian pasti merasakan perasaan yang kecampur aduk. Tentang bagaimana kisah ini yang sukses membuat aku menangis, haru, tertawa, dan bahagia. Semua itu ibaratkan bumbu pada masakan yang enak.

Besar harapan ingin ada kisah lanjutan, namun mungkin memang harus sampai sini kisah tersebut.

Probolinggo, 24 Maret 2019

Resensi Novel FantasTeen Lurkers





Misteri Makhluk yang Bersemayam dalam Danau

Judul                : Lurkers
Penulis             : Putri Saskia
Penerbit          : DAR! Mizan
Terbitan          : Cetakan Pertama, Juni 2018
Halaman         : 184 Halaman
ISBN                : 978-602-420-607-9
Peresensi         : Agustin Handayani
“Markas di dalam hutan terlalu berbahaya.” –Hal. 31
“Memang baru dua bulan kita di sana, tapi banyak sekali kenangannya.” – Hal. 32
Dalam seri fantasteen kali ini, kita akan menikmati sebuah cerita dari tiga sekawan. Greg, Jordan, dan juga Jerome. Tiga sekawan dengan sebuah markas yang berada di sebuah hutan, sangat dekat sekali dengan sebuah danau yang sangat hijau. Markas tersebut dikelilingi oleh pohon mahoni yang tampak menjulang tinggi. Sangat strategis dan nyaman untuk menjadi markas tempat tiga sekawan ini berkumpul. Ada banyak kenangan yang tak mampu dielakkan oleh masing-masing. Dari mereka yang menyiapkan segala barang untuk mengisi markas, merenovasi hingga menjadi tempat bercanda bersama. Dan adakah hal yang mampu mengubur kenangan berarti itu?
Penulis yang bernama Putri Saskia ternyata memberikan sebuah misteri pada tiga sekawan ini. Berawal dengan kematian anjing kesayangan dari Sammy yang hanya tersisa kepala saja. Inilah awal permulaan dari sebuah masalah pembunuhan yang terbilang cukup  sadis. Apakah benar ini ulah manusia? Lantas bagaimana dengan lendir yang berbau amis di sisa tubuh korban?
Leviathan adalah iblis
Tinggal di lautan luas sebagai moster
Dan neraka yang panas ada di dalam mulutnya
(hal. 96)
Mereka memberi nama makhluk berlendir itu Leviathan. Makhluk berlendir dengan regenerasi yang cepat, tidak mempan ditembak dan bergerak sangat cepat. Makluk inilah dalang dari terbunuhnya anjing Cooper beberapa waktu lalu. Sebuah keingintahuan mereka bertiga ternyata membawa mereka pada maut yang siap menjempput saat itu juga. Dan Jerome adalah salah satu korban manusia pertama dalam cerita ini setelah seekor anjing. Keambisian semakin merajai dua sekawan yang tersisa.
Penulis memberikan kita para tokoh-tokoh kuat dengan ambisi masing-masing. Si Serigala Muda yaitu  Jordan dan Si Tenang, Greg. Misteri dan keinginan membalas dendam pada makhluk yang membunuh sahabat mereka semakin besar.
Memang tidak bisa masuk di nalar makhluk seperti ini. Pembaca pun dibuat bertanya-tanya bagaimana dan masuk ke dalam jenis apa makluk hidup ini dalam tingkatan makluk hidup? Sedangkan makhluk ini hanya terdiri dari lendir yang bermulut dengan tubuh yang tidak beraturan. Sedangkan bila kita menebak ini adalah ubur-ubur, jelas semakin tidak masuk akal. Penulis seakan memfantasikan sendiri imajinasinya hingga membuat sebuah spesies baru.
“… ditambah fakta, bahwa dia punya banyak lendir untuk melumasi tubuh, tidak bisa bertemu cahaya senter dan mobil. Mungkin bukan cahaya, lebih tepatnya panas.” –Hal. 176
Dan penulis memberikan sebuah pembelajaran yang berarti untuk kita tetang sebuah ambisi, kekuatan dan keberanian. Dalam cerita ini, penulis seakan meyuratkan bahwa dalam menjalani sesuatu kita harus bisa setenang Greg dan berpikir jauh hingga membuah sebuah hasil yang fantastis. Dibeberapa kesempatan, kita bisa meniru bagaimana Jerome yang bisa melawan ketakutannya untuk berenang, dan ada saatnya kita harus berani untuk mengabil keputusan di keadaan tersempit seperti yang Jordan lakukan untuk membantu Pharen dan Paman Carl.
Sejauh ini, Lurkers menjadi sebuah misteri dalam pemikiranku. Bagaimaan bisa penulis mengelola imajinasinya dengan  keliaran dan tak luput memberikan sebuah pembelajaran yang tak tersirat.
Probolinggo, 14 Januari 2019

Biodata Peresensi
Agustin handayani. Mahasiswa kelahiran Probolinggo, 1996. Penggiat literasi daerah dan anggota Forum Lingkar Pena Probolinggo.

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...