Resensi Novel Banda Bola, Cuy

Doc. 9 September 2019 Radar Madura

Solidaritas Pertemanan yang Tiada Batas

Judul                : Bandar Bola, Cuy!
Penulis             : Netty Virgiantini
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan          : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 256 halaman
ISBN               : 978602-0621623
Peresensi         : Agustin Handayani

“Terkadang kesunyian memang jadi lebih indah dinikmati bersama.” Hal. 65

Masa remaja memang selalu memiliki ketertarikan sendiri untuk semakin diulik dengan sudut pandang masing-masing. Dunia yang tampak penuh warna dengan pencarian jati diri serta kesiapan mematangkan mental untuk menuju masa dewasa muda. Dengan sudut pandangnya sendiri, Netty mengambil kisah teenlit yang tidak jauh-jauh dari dunia remaja itu sendiri. Persahabatan, dan kegemaran.

“Karena sebenarnya main bola bukan sekadar rebutan bola dengan dua puluh orang dan banyak-banyakin bikin gol. Lebih dari itu, main bola juga ngasih pelajaran pentingnya kerja sama, saling bantu, dan saling menghargai. Sehebat apa pun kemampuan seorang pemain, dia nggak bakal beraksi seorang diri tanpa bantuan rekan satu tim.” –hal. 78

Mengusung kegemaran sepak bola yang memang bisa menjadi ikon remaja kali ini, Netty banyak mengulas hal-hal yang kadang tak kita sadari sebelumnya. Menurut penulis ini, remaja bukan hanya mereka yang terlibat dengan kisah cinta yang menye-menye atau kelabilan sikap. Namun sebenarnya, ada beberapa bagian remaja yang sibuk dengan persahabatan, hobi, dan juga kematangan mental dan fisik yang luput dilihat oleh orang di luar sana. Hal yang menjadi beda dari kisah ini adalah hadirnya seorang cewek pemberani sebagai manajer bandar taruhan bernama Tari. Gadis pemberani yang menggilai dunia bola. Bisa dikatakan Tari ini menjadi jantung tim sepak bola kelasnya.

Adanya Tari di tim sepak bola membuat penyeimbang dan juga penyempurna sikap dari pemain tim lelaki. Meski sering melakukan taruhan illegal di luar jam sekolah, mereka sadar bahwa uang itu untuk kepentingan bersama dan saling membantu. Adanya taruhan hanya untuk meningkatkan semangat mereka dalam bertanding. Semua berjalan mulus selama beberapa waktu meski harus mencari waktu dan tempat yang pas agar tidak diketahui oleh pihak sekolah.

Hingga datang anak OSIS kelas XII yang bernama Alex dan Rashid. Tari menyukai Rashid sejak kelas sepuluh, maka dari itu, kehadiran Rashid sangat menggoyahkan dan menghancurkan waktunya. Kesengajaan yang terasa janggal. Bagaimana lelaki itu yang mendekatinya, menolongnya di saat yang tepat, dan segala kejadian lainnya yang sangat janggal hingga kenyataan sebenarnya terkuak. Ada niat terselubung dari pendekatan lelaki itu yang tiba-tiba. Namun, lagi-lagi cinta bisa mengendorkan sikap waspada yang Tari miliki meski temannya sudah sering memberi nasehat.
"Tugas kita adalah mendidik dan mengarahkan siswa, bukannya langsung menghukum jika mereka melakukan kesalahan. Hukuman kadang malah tidak menyelesaikan masalah.” –hal. 191

Sebenarnya ini masuk poin penting dari inti cerita. Selain saat amarah menguasai tim mereka, saat kekerasan seakan menjadi jalan keluar untuk pelampiasan, sosok Tari bisa dikatakan sebagai pelerei, dan jalan tengah yang sejak tadi buntu. Bagaimana sikap penuh tanggung jawab dan keberanian untuk memikul beban atas terbongkarnya pertandingan illegal itu dan membuatnya diskors tanpa sedikit pun menyeret nama temannya yang lain. Solidaritas yang bukan hanya sebagai teman, tapi sahabat dan juga saudara. Tiga kata yang menjadi sihir bagi mereka bahwa setiap masalah tidak selalu diselesaikan dengann kekerasan. Dan bagaiamana sosok seorang guru di dalamnya.

Peranan guru di sini seakan menyindir kita semua. Guru itu contoh, panutan, dan juga pemberi arahan. Setiap pelanggaran, tidak bisa selalu diselesaikan dengan kaku sesuai aturan sekolah. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan terkait dengan bagaimana memberi kesempatan bagi murid tersebut. Karena hukuman tidak terbukti menjadi penyelesaian dalam pelanggaran.

Novel yang benar-benar gila dan menakjubakan. Solidaritas yang kental, bagaimana sosok tim sepak bola saling mendukung dan beraksi untuk memperoleh kemenangan. Bagaimana lapangan mengajarkan arti hidup, dan bagaimana kebersamaan bisa meguatkan tali persaudaraan. Novel remaja yang tidak melulu fokus dengan kisah romance, dengan sudut pandang dan pegambilan dunia sepak bola semakin membuat novel ini memukau pembaca.
Probolinggo, 21 Mei 2019
Biodata Penulis

Agustin Handayani. Seorang mahasiswa dan aktivis literasi daerah. Tergabung dalam FLP Probolinggo dan KomunLis Probolinggo

Resensi Cermin Tak Pernah Berdusta




Radar Cirebon, Sabtu 7 September 2019 

Pembullyan dan Dendam Paling Kejam

Judul                   : Cermin Tak Pernah Berdusta
Penulis                 : Mira W.
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan                : Cetakan Pertama, 2019
Halaman               : 176 Halaman
ISBN                     : 9786020621036
Kategori                : Novel
Peresensi              : Agustin Handayani

“Masa remaja memang masa yang sangat indah, sekaligus kejam.” –Hal. 46.

Berbicara tentang masa remaja yang pasti dilalui oleh semua orang tanpa terkecuali, memang mampu memiliki banyak hal yang menarik untuk dibahas. Masa di mana kita semua mempersiapkan diri dari peralihan kanak-kanak ke masa dewasa muda. Dalam masa itu, pikiran kita semakin tajam dan menangkap apa pun di sekitar dengan lebih peka. Pada masa itu pula, perasaan remaja akan sangat sensitive.

Seperti yang diceritakan dalam tokoh novel ini. Seorang remaja bernama Kavela yang digambarkan dengan manusia buruk rupa. Wajah yang tak cantik, mata sipit, dan tubuh yang kurus kerempeng. Pada masa ini, kebutuhan untuk terlihat cantik dan mencolok memang sangat besar. Seperti yang Kavela alami. Karena tubuh yang tidak mendukung itu, sering kali kepercayaan dirinya turun dratis hingga ia bersikap apatis pada sekitar. Sebenarnya ia tidak akan apatis atau trauma jika sekitarnya terutama teman-temannya tidak memperlakukan Kavela sedemikian jahat, atau kerap kita kenal dengan kasus bullying.

Pembullyan yang awalnya hanya dilakukan dengan niat iseng dan main-main, lama kelamaan akan berlanjut ke tahap-tahap berikutnya yang pasti lebih ektrim. Para pelaku yang melakukan aksi tersebut merasa mendapatkan kepuasan sendiri, sedangkan korban hanya diam dengan ketakutan yang luar biasa, bahkan bisa jadi trauma. Itulah yang Kavela alami. Ia sampai tidak masuk sekolah beberapa hari karena takut di bully oleh teman-teman populernya. Mereka menindas yang lemah tanpa tahu bahwa korban akan membawa lukanya hingga dia dewasa.

“Karena alam hanya memberikan yang jelek-jelek untukku.” –Hal123

Beberapa tahun berikutnya, Kavela yang sudah tidak ingin dibully terus menerus, berusaha memperbaiki diri. Mulai dari mempercantik diri dengan operasi hampir di semua bagian tubuhnya, membangun usaha yang menjadikannya sebagai pengusaha sukses, dan mengganti nama. Ia seakan  ingin mengubur Kavela yang jelek bersama dengan penampilannya yang sudah berubah. Novela Karmalita.

Peruabahan dratis itu juga bersamaan dengan perubahan sikap dan hatinya. Nuraninya seakan terkunci oleh dendam yang ia pendam sejak remaja. Pada semua orang-orang yang menyakitinya dan menjadikan dirinya mainan, Kavela seakan menandai semua orang itu satu per satu.

Dengan bantuan Roni –kutu busuk yang diam-diam selalu berada di sampingnya- Kavela bisa bermain dengan takdir orang-orang yang di dendamnya. Membalas semua air mata, kesakitan, dan trauma yang ditimbulkan mereka dulu. Meski Roni sudah berkali-keli memperingatkannya untuk berhenti. Karena balas dendam tidak akan membuat hidup kita tenang.

“Ternyata, malapetaka tidak datang sendirian. Karena dibalik bencana, biasanya ada berkat.” –Hal.171

Novel yang tidak benar-benar ringan bagi remaja. Bukan kisah cinta yang diangkat oleh novel karangan Mira W ini. Melainkan sebuah akibat dari pembullyan dan kepercayaan diri. Kisah Kavela menjadi sorotan dalam novel ini. Selain karena perubahan sikap yang membuat pembaca ikut larut ke dalam perasaan tokoh, Kavela memberikan banyak sekali pelajaran di dalamnya.

Peran Roni sebagai seorang sahabat juga ikut andil dalam cerita ini. Lelaki yang dulunya dijuluki kutu busuk ini selain menjadi lelaki dewasa yang mapan dan sukses, ia juga selalu mendukung Kavela hingga mencapai semua kesuksesan ini. Roni pulalah yang selalu mengingatkan Kavela untuk tidak mendendam pada masa lalu. Karena bagaimanapun saat itu mereka semua hanya remaja dengan tingkah yang belum matang.

Novel yang sangat cocok dibaca untuk remaja dan dewasa muda, menurut saya. Karena novel ini bisa menjadi acuan sebuah tindakam main-main yang berujung dendam. Pengingat untuk selalu menghargai orang lain dan membangun percaya diri yang tinggi.

Probolinggo, 24 Agustus 2019


Agustin Handayani. Anggota Forum Lingkar Pena Probolinggo dan KomunLis Probolinggo.


Resensi Novel Dairy of Maret


Doc. Kabar Madura
9 September 2019 
Misteri Teror 29 Maret 1895
Judul                : Diary of March Extended Version
Penulis             : Fransisca Intan
Penerbit           : Fantasteen, Mizan
Terbitan          : Cetakan Pertama, 2019
Halaman         : 256 halaman
ISBN               : 978-602-420-779-3
Peresensi         : Agustin Handayani

Diary of March  Deluxe adalah novel Fantasteen gabungan dari Fantasteen terbaik Diary of Mrach dan Diary of March; The Final Truth. Sebuah novel Fantasteen yang membawa kita untuk memecahkan misteri sebuah pembunuhan yang terjadi di sebuah sekolah pada dua abad silam. Meski begitu, terror dan misterinya tetap terasa hingga sekarang. Bersama dengan Alex dan teman-temannya, novel ini akan mebawa kita ke dalam alur yang melompat dan menengangkan untuk diikuti.

“Ini rahasia terbesarku. Jangan dibaca. Atau, terror dan malapetaka akan mengikutimu. -Ginny Adelaide Tan.” –Hal, 9

Harvetown Senior High School dengan segala misteri dalam asramanya. Lorong misterius, kamar kosong, dan pohon beringin. Semua hal yang mengandung misteri dan hal-hal yang mistis. Mitos yang diawali sejak rumor kematian seorang guru musik piano yang dibunuh dengan keji oleh orang-orang dengan tuduhan telah membunuh siswanya sendiri.

Ada banyak tempat misteri yang menjadi larangan untuk didekati. Sebutlah lorong misterius. Di mana sosok guru bernama Ginny dibunuh dengan sadis oleh orang-orang. Di sana, semua murid yang melewati lorong itu sendirian atau berjumlah ganjil, maka akan mengalami nasib yang tragis. Hantu Ginny akan membunuhnya dengan pisau.

Rumor dari dua abad yang lalu dan bertahan hingga saat ini. sebenarnya ini bukan saja rumor, karena kenyataannya terror itu memang nyata terjadi di antara para siswa di Harvetown ini. pada zaman sekarang, semua ini dimulai saat Alex menemukan sebuah diary usang di perpustakaan bawah tanah. Dari sana, ia mulai mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ada seorang hantu wanita yang tampak marah dan selalu menerornya. Hingga saat ia sadar bahwa terror itu akibat ia membaca diary miliki Ginny.

Meski Alex membuang diary tersebut, nyatanya takdir seakan telah menggariskan hari-harinya untuk membongkar misteri tersebut. Terbukti dengan ia dan kelima sahabatnya yang tersesat ke  masa lalu saat pertama kali penyebab terjadinya terror tersebut.

Alex dan sahabat-sahabatnya menyaksikan dengan kepala mereka sendiri bagaimana seorang Ginny yang dituduh membunuh siswanya sendiri. Padahal, itu hanya sebuah dusta yang dilimpahkan pada dirinya. Hingga sebuah dusta yang tidak bisa diungkapkan kebenarannya sampai orang-orang keji itu termakan amarah dan membuuhnya dengan sadis. Dendam dan sakit hati membuat Ginny akhirnya gentayangan dan menghuni lorong sekolah di mana ia dibunuh dan dimakamkan dengan tak layak.

Dari saat itu, setiap ada siswa yang sendirian atau berjumlah ganjil melewati lorong tersebut akan dibunuh oleh hantu Ginny. Bahkan para siswa pun tidak boleh mendekati pohon beringin di mana makan Ginny saat itu. Teror yang benar-benar sadis dan sangat menakutkan.

“Jangan sembunyikan kebenaran, ungkapkanlah….” –Hal, 212

Dengan suara piano itu Alex dan kelima sahabatnya seakan melakukan perjalanan waktu dan menjadi saksi bagaimana kejadian yang sesungguhnya. Hingga dengan takdir yang sudah digariskan itulah, mereka seakan menjadi kunci dan saksi untuk mengungkapkan misteri sekolah dan kematian guru music tersebut.

Novel yang benar-benar menegangkan dan menakutkan. Itulah kalimat pertama yang akan kita kemukakan setelah mengikuti akur ceritanya. Bagaiaman terror dan setting tempat yang seakan-akan nyata dan membawa pembaca seakan ikut merasakan perjalan waktu dan bertemu sosok Ginny.

Antara ingin berhenti dan melajutkan. Mungkin itulah kelebihan novel ini. Berhenti karena mungkin kisahnya benar-benar berhasil membuat bulu kuduk berdiri, tapi tetap ingin melanjutkan sampai akhir di mana kita tahu bagaiamana kisah tersebut akan berakhir.

Dalam novel ini, Fransisca sebagai penulis juga memberikan beberapa cerpen karyanya yang juga membahas sebuah misteri atau kekuatan supranatural yang meski dengan alur singkat, tapi tetap bisa menarik untuk dibaca.

Misteri, teor, hantu gentayangan, kebenaran, dan kebencian. Kata-kata kunci yang selalu kita temukan bagaimana kisah ini berakhir. Novel yang tidak bisa dibilang ringan, tapi juga nyaman dibaca. Sepertinya saat membaca, pastikan kalian tidak dalam ruang yang kosong atau sendirian. Dan jangan pernah membaca diary seseorang tanpa izin atau hal buruk akan terjadi.
Probolinggo, 10 Mei 2019


Agustin Handayani. Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang aktif dalam literasi kota. Anggota FLP Probolinggo dan KomunLis Probolinggo. 



Resensi Novel Another Heart



Berdamai dengan Dendam dan Sakit Hati

Judul                : Another Heart
Penulis             : Mala Shanti
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Halaman         : 296 halaman
Terbitan          : Cetakan pertama, 2018
ISBN               : 978-602-04-5517-4
Peresensi         : Agustin Handayani


Saat sepasang suami isteri memilih berpisah, saat seorang ibu melahirkan tanpa ayah, maka siapa saja yang mengalami akibat dari hal itu? bukan hanya kedua pihak yang bersangkutan, tetapi juga sekitar yang secara tidak langsung juga ikut masuk ke dalam masalah tersebut. Siapa? Anak. Dalam sebuah rumah tangga di mana suami isteri memilih untuk berpisah, maka hal pertama yang harus mereka pikirkan adalah mental dan masa depan anak. Setidaknya, mereka harus bisa meyakinkan diri bahwa anak mereka tidak akan terkena dampak buruk dari perpisahan tersebut. Karena sekolah pertama anak adalah keluarga, jadi, apa pun yang dilakukan orang tua, akan selalu berdampak  untuk anak tersebut.

Seperti yang dirasakan Elle. Menjadi seorang anak tanpa sosok ayah di sampingnya membuatnya bersikap skeptis terhadap kaum lelaki. Bagaimanapun, ia sangat benci pada sang ayah yang malah tak bertanggung jawab dan tidak berupaya mencari keberadaannya sampai sang ibu meninggal. Semakin benci Elle pada lelaki saat ia menyaksikan bagaimana sang paman meninggalkan bibinya hanya karena tidak dapat memiliki seorang anak. Apakah cinta memang sedangkal itu? lantas apa yang bisa ia percaya dari lelaki bila semua lelaki yang ia kenal malah mengecewakan dan membuat Elle sendiri bersikap defensive pada kaum tersebut.
“Jangan suka menakar orang lain setara dengan standar yang kamu pasang untuk dirimu sendiri.” –Hal.9

Hingga Elle pun bertemu dengan Raffi saat mereka melakukan lomba memasak di sekolahnya. Pertemuan pertama yang memberi kesan tersendiri bagi Raffi, tapi tetap saja tidak berarti apa-apa bagi Elle yang memang tidak menyukai lelaki. Hingga alur melompat ke masa saat mereka sama-sama sukses dan sudah memiliki masa depan yang cerah, nyatanya sikap Elle tetap sama dan malah semakin keras.

Elle dan Raffi terlibat dalam sebuah hubungan yang sangat rumit. Tanpa status yang jelas, mereka masih saling berhubungan meski Raffi sudah memiliki calon tunangan. Sementara Elle tetap keukeh bahwa dia tidak ingin menjalin sebuah hubungan dengan lelaki karena ia tidak bisa percaya pada semua lelaki meskipun Raffi mencintainya dengan tulus. Hingga banyak hal yang membuat mereka kembali bertemu meski berkali-kali pula diambang perpisahan. Bahkan Raffi yang mulai jenuh dengan hubungan tak jelas yang sedang mereka jalani harus menerima semua scenario yang sudah Tuhan berikan pada mereka.
“Tuhan tidak pernah menggariskan satu pun hal yang sia-sia. Begitu pun saat menakdirkan  sebuah pertemuan, meski kemudian diakhiri dengan perpisanan.” Hal, 181

Dalam novel ini memang kita akan dikenalkan dengan sosok yang paling keras kepala seperti Elle. Namun, bila kita tekuni alur yang terjadi sampai akhir, Elle hanyalah seorang korban dari adanya perpisahan. Padahal, perpisahan dan pertemuan adalah satu koin dengan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Sama halnya dengan kebencian dan cinta yang hanya dibedakan selapis tipis. Kisah hidup yang selalu memiliki rahasia dan kejutan dan berhasil membuat hatinya terbolak-balik. Tentang kisah kedua orang tua yang sesungguhnya hingga kehadiran sang ayah kembali yang membuat Elle bimbang, tentang bagaimana sang bibi yang mendapatkan kebahagian baru setelah dikecewakan oleh lelaki. Lantas, apakah Elle juga memiliki takdir kebahagian nantinya?

Meski dikemas dalam kisah romansanya, sebenarnya Another Heart lebih condong ke dalam hubungan sebab akibat dari sebuah perpisahan. Karena selain tokoh Elle yang lebih menonjol, di sini juga ada kisah Indri, keteguhan Raffi yang meminta Elle percaya padanya, serta cerita hidup sang ibu tiri yang bisa berbesar hati menerimanya seperti anak sendiri.

Selalu ada rahasia yang akan terbuka pada waktu yang tepat. Seperti itulah inti kisah Another Heart. Penulis benar-benar sukses membuat pembaca terkesan dengan banyaknya amanat dalam kisah ini. Terutama berdamai dengan diri dan memaafkan semua kebencian di hati.

Probolinggo, 10 Mei 2019
Agustin Handayani. Mahasiswa akhir Ilmu Komunikasi. Anggota FLP Probolinggo dan KomunLis.

Ku Tak Salah Melepasmu





Lewat kertas kosong sisa buku tulis sekolah ini, aku utarakan bagaiamana perasaan hatiku. Lewat setiap kata yang selalu aku susun sama, tidak ada yang berubah. Terik matahari yang masih mentereng hingga membuat kulit terbakar, cinta itu masih tetap ada. Bahkan angin yang kemarin datang bersama kita, masih tetap tertiup mesra membelai kulit telanjangku. Ah, bukankah semua masih sama? Tidak ada yang berubah kecuali kita.

Iya, kita memang sangat berbeda. Bukan lagi berbeda yang menyatukan, tapi sebaliknya. Kita adalah dua hal yang sangat berbeda dan itu menimbulkan jarak di antara kebersamaan kita. Kita seperti dua manusia yan terpisah ratusan kilo mater. Padahal dulu kita terlampau dekat, bahkan angin pun tak bisa lewat di sela kita.
Roda memang selalu berputar, ‘kan?

Kekasihku yang dulu aku cinta. Lewat surat ini aku ingin memberitahukan betapa aku sangat mencintaimu. Bahkan kamu pun mungkin tak akan sadar seberapa besar itu. apakah sebesar gunung? Atau sebesar dunia ini? Ah, aku pun tak dapat mengira-ngira sebesar apa cintaku. Karena yang aku tahu adalah perasaan ini terlampau besar hingga tak ada perandaian yang dapat mewakilinya.

Namun kekasihku, kamu jangan terlalu senang dulu. Sudah aku bilang di awal, bahwa roda itu berputar, bumi pun sama. Perasaan yang dulu membuncah ruah, lama kelamaan menyurut. Cinta yang dulunya besar, lama-lama mengkerut, mengecil hingga akhirnya habis.

Kekasihku yang dulu pernah aku cintai tanpa alasan apa dan mengapa. Ternyata waktu memang tak berwujud tapi kenapa ia berhasil melululantahkan semua yang kita bangun. Waktu seakan menghipnotismu untuk berbubah dan berjalan menjauh dariku. Aku sadar, itu pasti bukan kehendakmu. Mungkin kamu di bawah pengaruh waktu yang jahat hingga kini kita menjadi masing-masing aku dan kamu.

Aku tidak tahu harus dari mana memulai kisah ini. Apakah sejak aku jatuh cinta? Atau sejak kita bersama? Tapi alangkah bijaknya, aku mulai saat kita mulai merasa saling menjauh. Karena menurutku inilah awal kisah baru kita. Kita akan melangkah dengan jalan yang saling bersebrangan tanpa ada titik temu di depan sana. Kita seakan menuruti waktu yang memerintah kita berpisah.

Tidak ada orang ketiga atau keempat di dalam hubungan kita, seperti perjanjian kita di awal. Meski begitu, retaknya hubungan bukan hanya karena masalah orang lain. Ini murni karena kita sendiri. Kamu yang mulai menjadi orang lain, atau memang seperti itu kamu? dari dulu hanya bertopeng karena kamu merasa perlu menakhlukkanku? Dan setelah aku takhluk, kamu dengan sikapmu kembali pada semula. Sikap yang jelas tidak aku kira dan pastinya tak aku suka.

Kamu terlalu mengekang dan mengikatku hingga aku tak bisa apa-apa. Bahkan sekadar bernapas pun, terlampau sulit. Ikatannya terlalu ketat. Apakah kamu sadar bahwa semakin kuat ikatan ini maka semakin besar keinginanku lepas?

Kekasihku yang berubah. Tidak baik bila kita sama-sama ketakutan. Kau takut aku berpaling sedang aku takut kamu berubah. Karena dari ketakutab itu, aku sadar bahwa kita sama-sama melangkah di arah yang berbeda.

Ketakutan itu tidak baik, kataku dulu. Namun kamu bilang kamu tidak takut hanya awas saja. Aku tak lantas percaya. Karena sinar mata kita sama, sama-sama dalam kecemasan dan ketakutan setiap bersama.

Kekasihku yang terlampau aku cintai dulu, siang ini bnayak kejadian yang semakin meyakinkan aku bahwa cinta memang tidak harus selalu bersama. Ada kalanya kita harus saling melepas untuk sejenak merasa bebas. Kita perlu bernapas untuk mengisi perasaan yang mulai kebas.

 Setiap waktu yang bergulir, setiap kata yang selalu kita katakan di setiap malam itu, banyak perbedaan yang semakin kentara. Perbedaan yang satu per satu muncul dengan sendirinya. Itu sudah menjadi aba-aba perpisahan kita, bukan?

Aku sudahi sejenak cerita ini. esok mari kita sambung lagi dengan lebih rinci. Dan mungkin esok, cerita ini sudah tentang aku dan kamu masing-masing, bukan lagi kita.

Probolinggo, 1 September 2019

Resensi Novel Sepasang Sepatu Tua



Kabar Madura

Personifikasi Kisah yang Menyentuh Lainnya.

Judul                            : Sepasang Sepatu Tua
Penulis                         : Sapardji Djoko Darmono
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama    
Terbitan                      : Cetakan Pertama, Maret 2019
ISBN                           : 978-602-06-2672-7
Peresensi                     : Agustin Handayani

Tidak ada yang mengecewakan dari hasil tangan seorang Sapardji Djoko Darmono atau sering disapa Eyang Sapardji. Sastrawan yang terkenal dengan Hujan Bulan Juni ini selalu bisa menampilkan hal beda dan menyentuh tepat ke hati pembaca. Tidak seperti karyanya yang lain yang lebih banyak berupa puisi atau novel, kini Eyang Sapardji hadir dengan kumpulan cerpen yang terkumpul dalam judul Sepasang Sepatu Tua. 19 cerpen yang dikemas dengan sangat apik dan menarik.

“Mereka itu ternyata telah jatuh cinta padamu. Mereka senang kau membelinya, sebab sudah belasan tahun berada di toko itu tanpa ada yang menawarnya.” –Hal. 5

Kisah pertama yang dibuka dengan sebuah judul cerpen Sepasang Sepatu Tua yang juga menjadi judul dari buku ini. Majas personifikasi yang ditampilkan tentang sepasang sepatu tua yang milik tokoh aku. Sepatu yang awalnya jebol, hingga tokoh aku memutuskan membeli sepasang sepatu baru di China Town. Tidak seperti sepatu buntutnya yang bisu, sepasang sepatu tua yang baru ia miliki ini sangat ramai dan selalu berbicara dengan bahasa yang belum dimengerti oleh si empunya. Di mana pun berada, sepasang sepatu ini seakan terlihat sangat tertarik dengan keadaan baru yang ditemuinya setelah keluar dari toko yang menjadi rumah lamanya.

Dalam cerpen ini, mungkin akan banyak penafsiran yang didapatkan oleh pembaca. Tidak ada yang salah, karena tafisran yang beragam tersebut mengandung kebenaran dari buah pikir pembaca. Bila dilihat dari sudut pandang tokoh ‘Aku’, sifat yang dimilikinya dalam menghargai barang-barang milik pribadi dan bagaimana ia yang seakan menganggap bahwa sepasang sepatu itu adalah teman yang paling sejati. Ia tidak pernah merasa sendiri atau sepi karena selalu mencengarkan ocehan-ocehan dari sepasang sepatu tersebut. Dan bila kita lihat dari bagaimana sepasang sepatu yang tetap bersama meski berbeda dari kulit sapi, kita diingatkan tentang hakikatnya sepasang manusia.

Manusia selalu ditakdirkan bersama meski berasal dari perbedaan. Laki-laki dan wanita. Dari Jawa atau Sunda, tetap saja dari mana asal mereka, tetap tidak bisa membuat mereka berpisah. Manusia harus menerima takdir yang membuat mereka bersana atas dasar perbedaan. Karena yang sama, belum tentu bersama.

Melompat ke sebuah cerita yang berjudul, “Seorang Rekan di Kampus Menyarankan Agar Aku mengusut Apa Sebab Orang Memilih Menjadi Gila.” dalam cerpen ini memang sedikit berbeda dari cerpen lainnya yang mengusung majas personifikasi. Cerpen ini lebih membahas tentang hubungan atau interaksi manusia dengan sesama. Hidup adalah pilihan, seperti itulah yang sering kita dengar. Begitupun dengan orang gila di sekitar. Dalam cerpen ini, mereka percaya bahwa orang gila pasti memiliki alasan kenapa mereka akhirnya memutuskan menjadi gila. Maka dari itu, seorang mahasiswa yang melihat orang gila di tepi jalan, memutuskan mengajak orang gila itu berinteraksi dan bertanya perihal alasan menjadi gila. sebuah interaksi yang aneh sebenarnya. Bagaimanapun kita tahu, bahwa orang gila tidak pernah merasa dirinya gila, dan orang waras yang berbicara dengan orang gila makan akan terlihat gila oleh orang lain. Bukankah ini adalah hal yang aneh? Meski begitu, saya menangkap sebuah inti dari cerita ini di bagian akhir yang sengaja di tuliskan sebagai jawaban dari interaksi tersebut.

“Orang-orang lalu lalang, kendaraan lalu lalang, hari berjalan tertatih-tatih sampai saat mendengar suara azan.” –Hal.20

Menurut Eyang Sapardji dalam sebuah acara bedah bukunya, ke-19 cerpen ini tidak memiliki benang merah karena ditulis dalam waktu yang berbeda dan bahkan beberapa sudah dimuat oleh media massa. Meski begitu, kepiawaian dan bagaimana amanat yang terkandung selalu sukses membuat pembaca puas dan terkesan secara bersamaan.
Probolinggo, 10 Mei 2019

Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo dan KomunLis Probolinggo.

Resensi Novel Hopeless



Kabar Madura, 22 Agustus 2019

Kebenaran yang Membuat Putus Asa

Judul                : Hopeless
Penulis              : Collen Hoover
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan            : Mei 2019
ISBN                 : 978-602-03-1201-9
Peresensi           : Agustin Handayani

Terkadang mengetahui kebenaran lebih membuat putus asa ketimbang menyakini kebohongan.

Ada beberapa kebenaran yang kadang tidak perlu diungkapkan. Biarkan lambat laun dimakan waktu dan hilang ditelan zaman, itu yang mungkin dipikirkan oleh Collen Hoover saat menulis novel berjudul Hopeless- tanpa daya ini. Kebenaran dan kejujuran yang orang-orang banggakan kadang menjadi satu alasan yang tidak ingin didengar oleh beberapa orang. Bukan karena kebenaran itu tidak penting, hanya saja beberapa kebenaran malah seperi belati yang siap menikam dan membunuh kita tanpa ampun.

Seperti kisah Sky, seorang gadis yang baru pertama kali sekolah umum. Mendapatkan julukan ‘cewek nakal’ karena berteman dengan Six dan sering bergonta-ganti kekasih. Saat ia harus merasakan sekolah umum seperti gadis kebanyakan, sahabatnya Six tidak bisa menemani karena harus pergi di ujung dunia yang lain. Jadilah Sky menjalani kesehariannya sendirian.

Tanpa ponsel, koneksi internet, televisi dan alat elektronik lainnya. Sky seperti hidup di belahan dunia yang belum mengenal teknologi. Ibu angkatnya yang benama Karen mangaku anti teknologi hingga Sky harus sembunyi-sembunyi memakai ponsel barunya yang diberikan oleh Six sebelum pergi.

“Kadang-kadang kau harus memilih dari tumpukan keputusan yang salah, yang di dalamnya tidak ada keputusan yang benar. kau hanya harus memilih keputusan keliru yang kesalahannya paling kecil.” – Hal. 472

Suatu peristiwa membuatnya mengenal Dean Holder. Lelaki yang bereputasi buruk dengan sifat temperamental yang menakutkan. Berkali-kali Sky harus memutar otaknya dengan semua sikap Holder yang membingungkan dan penuh rahasia. Awalnya ia ingin sekali masuk ke dalam kehidupan lelaki itu, memahami setiap ekspresi lelaki itu. namun setelah Sky tahu maksud dari tatapan Holder dan sikap lelaki itu yang membingungkan, Sky mulai bertanya-tanya, apakah itu adalah tindakan yang tepat.

Hubungan masa lalu mereka ternyata sangat dalam. Banyak hal yang Sky temukan dengan kebersamaannya bersama Holder. Lelaki itu memiliki kebenaran tentang mereka di masa lalu. Kebenaran yang membuat Sky mengenal Hope, Lessi dan juga beberapa orang yang membuatnya jatuh tak berdaya, terutama ayahnya. Lelaki yang memiliki peran penting dalam masa kelam di masa lalu.

Dari kebenaran itu pula, Sky dituntut untuk mencari keputusan yang adil tentang sekitarnya. Pada Karen dan kebohongannya selama 13 tahun, Holder dengan segala rahasia yang dimiliki, dan sang ayah yang membuatnya trauma berkepanjangan.

“Aku tidak percaya pada akhir yang mengatakan hidup bahagia selamanya.” – Hal. 484

Setiap satu perlakuan manis, maka Holder berhasil mencuri satu keping hatinya hingga semua bagian hatinya benar-benar milik Holder seketika. Sky tahu bahwa lelaki itu memang memiliki takdir bersamanya. Bagaimana pelukan dan cara Holder meyakini semua yang terjadi, Tidak ada kisah yang selalu pilu, begitupun akhir yang selalu bahagia. Masa depan adalah sebuah rahasia yang tidak banyak diketahui.

Dari novel ini kita bisa mendapatkan banyak pelajaran bahwa setiap masalah, semua kesedihan memang harus dilalui dengan sekuat tenaga. Kita tidak bisa mengharapkan hidup yang selalu bahagia dan monoton. Ada kalanya bergejolak. Dari sikap Holder yang selalu memberi dukungan dan sangat memahami Sky, kita tahu bahwa cara terbaik menghadapi masalah dengan menjalaninya. Teman-teman yang membaca novel ini mungkin juga akan paham bagaimana peliknya masalah dan cara mengatasinya.
Probolinggo, 1 Juli 2019


Agustin Handayani. Anggota FLP Probolinggo dan aktivis literasi daerah.

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...