Monolog Rindu

Yani, Just it




Sebenarnya aku yakin, di luar sana kamu hanya diam dan tak beraksi apapun. Hanya menandaskan kopi yang entah sudah gelas keberapa. Mungkin juga, kamu tengah menghisap beberapa putung rokok yang kamu beli di warung Mpok Jum. Warung yang letaknya di pojok kompleks dekat rumahmu. Atau, kau sedang melakukan hal lain yang sebenarnya tidak aku ketahui. Percayalah, apapun itu, aku yakin kau pasti sedang bersantai.
Keadaan berbalik padaku. Aku masih duduk di kamar dengan sebuah laptop di pangkuanku. Mengetik beberapa kata yang indah, tapi selalu gagal. Sesekali, aku akan beralih pada benda kotak pipihku. Mengeja beberapa kata yang mucul di layar, membalasnya dan berpaling pada laptop lagi. Mencoba focus dan aku gagal lagi. Bibirku terkedut samar. Malam ini aku berdialog dengan kamu. Tak bertatap sebenarnya, hanya melalui jaringan yang mengudara hingga bisa saling terhubung. Bahkan aku tak akan bisa menatapmu dengan mata bulatku, dan juga tak bisa memeluk erat ragamu. Tapi, ternyata semua itu tak penting sekarang. Mendapat sebuah kabar darimu saja, aku sarasa mimpi jatuh ke jurang. Menebarkan dan membuatku sadar, aku mulai merasakan lagi ilusi itu.
“Aku mulai merindu, apakah salah?” tanyaku pada angin yang bergilir menyapaku.
Mereka datang silih berganti, tersenyum lantas pergi. Semua ingkar dan aku mulai menepi. Sewajarnya, semua mengalami apa itu perpisahan. Namun, aku bukan sewajarnya. Aku hanya manusia yang terlahir dari rahim kokoh seorang ibu. Di sana, aku dibelai agar semakin kuat menghadapi hidup. Datang dan pergi. Kenal dan pisah. Semuanya seperti partikel-partikel yang menyusun suatu massa. Atau semacam senyawa yang terkumpul hingga menjadi sebuah campuran.
“Kamu tahu, aku mulai merindu?” tanyaku lagi pada aksara-aksara yang kutata rapi. Pada mereka-mereka yang terangkai dalam sebuah arti. Aksara-aksara yang beralur cerita. Menjelaskan bagaimana asal muasal rinduku padamu.
Namun semuanya diam. Tak ada sedikit saja petunjuk atau aba-aba. Aku buntu dalam ilusi yang aku ciptakan. Mundur, terjatuh. Maju, tersesat. Maka, bisakah aku memintamu membalas ilusiku? Merasakan bagaimana rongga-rongga dalam dada yang mulai terisi namamu. Nama yang seyogyanya tak akan pernah aku miliki, lantaran kau yang enggan berbagi. Enggan merasakan ilusi yang sama. Bagaimana kita akhiri saja monolog ini?


Kamar Yani. 12 04 2018

Hakikat Melepaskan Cinta

Yani, Just it


Judul : Marry Miss Phobia
Penulis : Jae Kho
Penerbit : Loka Media
Halaman : 346 Halaman
Terbitan : Cetakan Pertama, April 2017
ISBN : 978-602-60841-2-5
Peresensi : Agustin Handayani

Novel yang berjudul ‘Marry Miss Phobia’ ini adalah novel yang menjadi juara kedua dalam event Menulis Novel Tema Phobia yang diadakan oleh salah satu penerbit, yaitu Loka Media. Sebenarnya tidak kaget bila novel karya Jae Kho ini bisa menduduki posisi kedua dalam event tersebut. pembawaan alur dan pendeskripsian setiap adegan sangat detail dan membuat pembaca seakan larut dalam ceritanya.

Dalam novel ini, Jae Kho serasa menjadi Tuhan bagi semua tokoh-tokoh yang sudah ia rangkai dengan takdir sedemikian rupa. Bercerita tentang kisah phobia yang dialami oleh Kaneko Sora. Perempuan yang phobia pada pernikahan lantaran sering melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Belum sampai di situ, sang Kakak yang memilih bunuh diri lantaran ditinggal oleh kekasihnya sehari sebelum pernikahan. Semua masalah itulah yang membuat Sora tidak percaya pada mahligai pernikahan. 
Hingga sebuah keadaan mempertemukannya pada lelaki sok sibuk bernama Miyamoto Hiro. Mereka terjebak dalam keadaan yang memaksanya harus hidup dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Hiro sendiri memiliki konflik batin yang mengganggunya. Hati, hanya konflik itu yang membuatnya enggan menikah lantaran ia yang masih menyimpan sebuah rasa pada cinta pertamanya. Cinta pertama yang meninggalkannya dan menikah dengan lelaki lain. Pernikahan Sora-Hiro adalah pernikahan yang unik dan lucu. Dimulai dari mereka yang selalu bertengkar, ciuman pertama Sora yang karena sangking kagetnya hingga mendorong Hiro terlalu kuat dan membuat lelaki itu jatuh di kue pernikahannya. Pertengkaran-pertengkaran kecil dan segala keusilan menghiasi keseharian mereka.

Hingga dipertengahan cerita, pertemuan Hiro dengan Akina berhasil membuat benih-benih cinta tumbuh kembali. Banyak sekali kejutan dalam cerita ini. Hubungan gelap yang Hiro lakukan dengan Akina dengan menyembunyikan status pernikahannya, Kenichi yang ternyata telah merasakan cinta pada pandangan pertama pada Sora, dan konflik-konflik lain yang bergiliran menyapa.

Meski terkesan sangat ‘melow’ menurut saya, namun dalam novel ini memang sukses menggetarkan hati. Semangat seorang Sora untuk menjadi seorang mangaka dan bagaimana ia yang bertekad untuk mempertahankan pernikahannya dengan Hiro.

“Dua orang bisa disebut saling mencintai bila di antara mereka tidak ada cinta yang dipaksakan. Percayalah, suatu hari nanti Tuhan akan memberimu lebih banyak cinta.”  (Hal. 334)

Konflik yang sangat complicated  dan ending yang jauh dari perkiraan awal adalah sebuah kejutan tersendiri dari novel ini.  Pesan-pesan tentang sebuah pengorbanan cinta, penerimaan cinta serta hakikat cinta itu sendiri menjadi sebuah hal yang patut dicontoh. Meski sebenarnya beberapa pihak tidak ingin mengalami sebuah kisah yang sangat complicated. 

Seperti saat kita salah menaiki Bus, pastilah tujuan Bus itupun juga tidak sesuai dengan keinginan kita. Tidak perlu menyesali. Kita hanya perlu belajar dari pengalaman dan memulai sesuatu yang benar untuk ke depannya. Tidak ada perjalanan yang sia-sia bila kita menikmatinya. Seperti itulah kira-kira inti cinta dalam novel ini.


Probolinggo, 17 Mei 2018

Dakwah dalam Pena

Yani, Just it





“Kamu tahu tulisan seperti apa yang bermanfaat itu?” tanya Popo saat kami tengah duduk sambil merapikan beberapa buku dalam rak.
Rak yang baru kami beli kemarin sudah hampir penuh dengan buku-buku baru yang kami beli di bazar atau toko-toko buku terdekat.
Aku menggeleng sebagai jawaban dari Popo. Masih sibuk memilah beberapa buku yang belum disampul. Niatnya nanti setelah semua beres, buku-buku yang tak bersampul harus segera dirapikan.
Popo tampak mengambil beberapa buku dari samping kananya. Buku dari penulis Asma Nadia yang baru saja kami borong dari toko buku. Sebenarnya aku tak berniat membeli buku tersebut, hanya saja Popo tetap bersikeras ingin membeli buku tersebut untuk ia baca kala senggang.
“Seperti ini.” Popo membuka plastic segelnya. Membuka beberapa halaman dan membaca sesaat.
“Buku yang bermanfaat adalah buku yang memiliki banyak pesan. Memiliki kandungan dakwah dimana pembaca memperoleh pengetahuan dan ilmu yang bermanfaat,” lanjutnya.
Aku mengernyit heran. Mengambil satu buku sebagai perbandingan.
“Dari buku ini aku juga mendapat ilmu,” sanggahku dan menunjukkan buku yang aku pegang.
Popo tampak tersenyum tipis.
“Apakah dari buku itu kamu mendapatkan sebuah ilmu yang sesuai agamamu?”
Aku menggeleng pelan. aku mengigat isi buku yang aku pegang. Memang sih tidak ada hal-hal yang berbau pengetahuan dan pesan. Hanya saja, bukankah buku sebagai sarana refreshing dan menghilangkan jenuh? 
“Kamu tahu, novel-novel ini sebenarnya juga bisa menghilangkan jenuh,” ujar Popo seakan bisa membaca fikiranku. Ah, pikiranku memang mudah tertebak oleh Popo selama ini.
“Bagaimana bisa? Sedangkan yang kita tahu novel-novel ini terlalu serius dan membosankan. Tidak ada humor atau hal-hal baper yang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri.”
Aku memperbaiki duduk agar lebih dekat dengan rak yang lain. Menatap novel-novel yang aku kelompokkan berdasarkan genre-nya. Komedi, teenlit, romance, fanfiction, dll. Semua adalah novel yang sering aku baca. Novel-novel yang bisa membuat aku tersenyum dan menghayalkan aku sebagai tokoh utama novel tersebut.
Popo menghela napas. Aku menoleh padanya dan mengernyitkan alis bingung.


“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (Al-Qalam [68]: 1)

Rasululllah Saw. bersabda, “Sesungguhnya yang pertama-tama diciptakan Allah adalah pena (qalam), lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ ia menjawab, ‘Ya Rabbku apa yang hendak kutulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat.” 

Aku membaca kalimat tersebut. Entah dari mana Popo mendapatkannya, yang jelas itu benar-benar membuatku tertegun sekaligus tertampar.

“Kamu suka menulis, kan? Kamu ingin menjadi penulis hebat? Bagaimana kalo langkah perjalanan menulismu diselipkan dakwah untuk semua saudara kita, hm?”
“Tapi, Po. Aku takut itu membosankan pembaca dan bukuku nggak akan laris,” bantahku. Memikirkan minat pembaca dan pasaran membuatku takut. Aku tidak ingin melihat buku yang sudah aku sebut sebagai ‘anak’ hanya akan menganggur di rak-rak buku tanpa ada sedikitpun yang menyentuhnya. Itu jelas adalah sebuah mimpi buruk bagi setiap penulis.
“Kamu bisa sisipkan komedi dan kisah-kisah ringan lainnya. Dakwah tidak selalu berat. Tergantung bagaimana kita menyampaikannya. Sampaikanlah hal-hal yang kamu paham pada saudara-saudara kita dengan bahasamu sendiri. Hal itu saja sudah termasuk dakwah.” Popo menjelaskan dengan sangat telaten. Tak pernah kuraguan pengetahuan Popo masalah agam dan lain-lain. Popo lahir dari keluarga pesantren. Besar dan menempuh pendidikan di pondok dan belajar banyak segala ilmu agama hingga ke akar-akarnya. Popo juga aktif di beberapa media massa seperti koran yang isinya selalu tentang dakwah dan berita islami.
“Aku coba saja, Po.” Hanya itu jawabanku sebagai pengakhir perbincangan sore ini. Setelahnya kami menyibukkan diri dengan buku-buku yang harus segere dirapikan dan beberapa akan kami sumbangkan ke sebuah panti asuhan agar bisa lebih bermanfaat.
Perbincangan itu memang sudah selesai. Namun, pemikiran-pemikiran menulis sebagai sarana dakwah sekaligus ibadah seakan mengusik pikiranku. Seperti sebuah tantangan yang harus segera aku pecahkan. Menjadi sebuah hal baru yang terlihat menggiurkan. Aku mulai memikirakn masalah apa yang akan aku angkat sebagai langkah pertamaku berdakwah.
Kisah Aisyah?
Kisah Yusuf?
Ta’aruf yang benar?
Atau aku bisa menggabungkan ketiganya menjadi sebuah kisah yang menarik.
            Aku tekadkan dalam hati, memulai sesuatu yang seharusnya sudah lama aku mulai. Kali ini, pena-pena itu akan menuliskan bagaimana isi dari dakwah-dakwahku kepada semua saudaraku. Kali ini, novel-novel yang akan aku ciptakan bukan lagi sebuah novel yang sekali baca langsung ditutup, akan tetapi sebuah novel yang setelah dibaca akan terus mengalirkan ilmu yang bermanfaat bagi semuanya.

Probolinggo, 17 Mei 2018


Monolog Patah Hati





Agustin Handayani

Aku terduduk dengan kaki yang kutekuk. Memeluk erat badan yang sedari tadi terisak pelan. Rusuk-rusuk yang seakan menyesakkan dada. Otakku terasa pening lantaran terkuras. Aku menatap nanar pada benda-benda yang telah hancur berserakan. Vas bunga, lembaran buku yang tercecer di lantai, pun dengan kursi dan meja yang telah lupa asalnya. Semua menjadi lampiasan amarahku.
Aku mengutuk dan mengumpat bergantian. Merutuki kebodohanku selama ini. Kenapa Tuhan sangat tega membiarkan aku hilang akal dan malah andalkan rasa. Membekukan segala cerdasku dan cairkan segala cinta yang telah lama aku simpan.
“Tuhan! Aku mencintainya!!!” teriakan yang entah sudah berapa kali aku lontarkan. Mencoba meluapkan segala pernyataan-pernyataan yang   bersarang dan mendesak keluar.
Lelaki bermata sipit dengan kaca mata yang membingkainya. Wajahnya terpahat sempurna dengan lesung pipinya. Manis saat ia tersenyum. Coba saja dia melirikku sedetik saja, maka kakiku seakan lumer seperti cokelat-cokelat yang kepanasan. Seperti cacing-cacing yang berada di bawah terik. Ah, memalukan sebenarnya. Namun, itu adalah pengakuan terdalam yang sedang aku rasakan tiap kali ia melirikku tak sengaja.
Tak akan ada tepukan bila hanya dilakukan sebelah tangan. Tak akan ada langkah bila hanya sebelah kaki. Dan bukan cinta bila hanya dirasakan sepihak. Itu yang aku rasakan. Lelaki bermata sipit itu, memiliki kekasih. Memiliki tambatan hati yang telah melarang siapapun untuk masuk. Pun dengan aku yang telah kesulitan masuk.
Aku memujanya sangat lama. Namun, takdir sekarang tak adil padaku. Ia malah bersama dengan wanita yang baru sedetik menyapanya. Meninggalkan aku yang menatap nanar segala senyum dan tawanya. Bahagia yang dia rasakan, malah semakin menyesakkanku. Bukan, bukan aku sumber bahagianya. Melainkan wanita lain dengan hati yang lain. Dia bahagia dengan aku yang berduka.
Hati ini teriris. Semakin perih dan sedih. Aku tahu apa itu cinta dan tawa dengannya. Akan tetapi, dia pun yang ajarkan aku dukan dan lara. Impas!!!
“Aku berhenti!!! Aku berhenti mencintainya!” teriakku lagi. Berharap ini adalah teriakan terakhirku. Sebelum mata terpejam erat dan tersambut alam-alam  mimpi dengan seluruh godaannya. Aku terbuai. Di sana, aku bisa menciptakan sendiri mimpiku bersamanya. Hanya ada aku, dia, keindahan, kebahagian, tanpa orang lain. Meski sebenarnya semua adalah kesemuan. Setelah terbangun, aku sadar, aku bukan siapa-siapa.

Probolinggo, 15 mei 2018


Bersama Perempuan dan Takdirnya

(Terbit di radar mojokerto, 6 Mei 2018)

Judul  : Perempuan yang Memesan Takdir
Jenis  : Kumpulan Prosa
Penulis          : W Sanavero
Penerbit  : Mojok
Cetakan  : Pertama, Februari 2018
Tebal : VI+102 Halaman
ISBN  : 978-602-1318-65-2
Peresensi  : Agustin Handayani


Berbicara tentang perempuan memang sebuah hal yang menarik. Makhluk dengan sejuta cinta yang mengemban makna. Memerankan sejuta karakter sekaligus penyeimbang bagi kaum lelaki. Di tangannya tergenggam berbagai pilihan, antara dicintai atau mencintai, menyerah atau bertahan, lemah atau kuat. Semua pilihan itu seperti melekat bagai hukum alam. Sedangkan kita tahu bahwa manusia sangat dekat dengan takdir. Sebenarnya apa itu takdir? Apakah perempuan mengalami salah satu dari pilihan-pilihan takdir? Ketika emansipasi dijunjung tinggi sebagai langkah pembebasan rantau marginalisasi, tetap saja ada beberapa pihak yang belum menyukai persamaan derajat antara perempuan dan lelaki. Hingga kita tahu, seperti apa takdir yang melekat pada para perempuan hingga saat ini.

Dalam album prosa Perempuan yang Memesan Takdir, menyingkap sisi perempuan-perempuan yang tengah menjalani takdirnya masing-masing. Para tokoh yang masing-masing memiliki sudut pandang dalam memaknai cinta, kenangan, keluarga, budaya bahkan hubungan manusia dengan Tuhan. Keenam belas kisah dalam album prosa ini tercipta dari perenungan sunyi-lirih, liar dan acak sebagai menyelami hakikat kehidupan, utamanya pada perempuan itu sendiri.

“Tuhan benar-benar keterlaluan! Kebencian yang aku rawat ratusan hari hilang seketika. Yang tersisa hanya cinta dan luka yang kembali terbuka menyayat.” (Hal. 11)

W Sanavero membuka prosa pertama dengan judul, “Kata-Kata dan Cermin.” Dalam prosa ini tokoh aku adalah seorang penulis yang membangun sendiri dunianya dalam cerita. Tumpukan-tumpukan kertas hasil tulisannya, sering tokoh aku panggil sebagai ‘anak-anaknya’. Anak-anak yang sudah sekitar tiga ratus hari berdiam diri hingga nantinya bisa terkirim ke salah satu penerbit mayor. Tulisan-tulisan yang dihasilkan dari sebuah kesendirian, kesepian, dan air mata yang tokoh aku alami, hingga nantinya tokoh aku berharap tulisan tersebut cukup kuat membuat pembaca tersiksa setengah mati. Setelah kita membaca masalah tokoh aku dan tulisannya, kita seakan-akan terlempar pada sebuah kenangan tokoh aku dengan seorang lelaki yang pernah mengingkari sebuah janji. Lelaki yang mengajarkannya apa itu luka dan cinta. Luka yang telah ia pupuk dalam waktu lama. Namun, saat takdir menyapa dan mengembalikannya pada sumber luka dan cinta, apa lagi yang bisa perempuan lakukan?

Selesai dengan prosa pertama, ternyata W Sanavero lagi-lagi membuat sebuah kejutan pada prosa berikutnya.
AKU INGIN KEPERAWANANKU KEMBALI, pertama
Selebihnya aku ingin menjadi ibu, kedua. (Hal. 13)
Pembukaan yang benar-benar mencengangkan dan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Hingga kita akan dibawa pada kisah seorang perempuan bernama Daisy, perempuan yang kehilangan keperawanannya. Daisy sendiri sering dikaitkan dengan Bunga Aster. Bunga eksotis yang selalu basah saat musim hujan. Keadaan desa yang sangat epik menjadi daya tarik dari prosa kali ini. Semua warganya yang kebanyakan sudah tidak perawan membuat kita bertanya-tanya, mengapa bisa? Hingga prosa ini sendiri yang akan membuat kita paham bahwa keadaan desa, dimana lelaki yang sering memanen keperawanan, namun enggan menikahi perempuan yang kehilangan keperawanannya. Mereka lebih menyukai menikah dengan seorang janda. Di sini, kita lagi-lagi menemukan salah satu takdir dari seorang perempuan. Janda seakan lebih terhormat dari pada seorang perempuan yang kehilangan keperawanannya sebelum menikah. Bagaimana pandangan masyarakat pada perempuan yang kehilangan perawannya yang disebabkan oleh pemerkosaan atau hal lainnya. Jelas, di sini keperawanan, adalah mahkota sendiri bagi perempuan yang nilainya sangat tinggi di mata masyarakat.

Di prosa lainnya, penulis menghidangkan sebuah prosa tentang hubungan religius  manusia dengan Tuhannya yang berjudul, Dialog Kepada Tuhan. Kita seakan mendengarkan seorang narator yang menceritakan kisah perempuan yang mengalami ketakutan hebat. Ketakutan-ketakutan pada dimensi waktu yang bernama mimpi. Mungkin seperti mimpi buruk yang enggan kita jumpai. Namun di sini, bukan hanya tentang mimpi buruk, tetap juga tentang kenangan yang tak ingin ia ingat. Mimpi menurutnya hanya sebuah bualan fiksi. Di sini, dalam ketakutannya ia tak lupa untuk berdoa. Meminta dalam ketakutannya agar mimpi tersebut tidak datang lagi. Bila memang datang, segera bangunkan dia. Sesuai dengan judul prosa ini, keterlibatan Tuhan dan doa-doa yang mencolok. Tokoh yang seakan berserah pada semua takdir. Saat semua orang terdekat tak bisa menjadi sandaran tempat berbagi, maka memang seharusnya kita meminta dan berserah pada Tuhan. Meminta dengan segala kesungguhan hati. Namun, meminta tanpa ada usaha tetap saja omong kosong. Di sini, tokoh mulai membuat kenangan baru agar kenangan sakit tersebut bisa tergantikan.

Beberapa dialog maupun monolog dapat membuat saya ketagihan untuk terus membaca album prosa ini. Bagaimana tentang seorang perempuan yang menyikapi takdirnya, baik dalam hal cinta, sosial, dan hubungannya dengan Tuhan. Semuanya seakan tertata dan terhidang dengan sangat menggiurkan untuk dibaca.

Alur yang mengalir membuat saya bisa memahami dengan mudah album prosa ini. Ketertarikan akan setiap judul membuat saya bertanya, ada pesan apa lagi setelah ini? Sebenarnya jika kita mau membaca dengan hati-hati tanpa didahului oleh protes tentang sikap dan sifat para perempuan dalam album ini, kita akan tahu bahwa perempuan memang identik dengan hati. Lemah dan pasrah. Namun, yang terpenting lainnya adalah sikap kita sebagai para pembaca. bila kita hanya asal membaca, menutup buku setelah selesai, maka kita tak akan pernah tahu maksud dari album prosa ini. Namun, saat kita memahami bagaimana alur-alur dan sikap perempuan dalam karya ini,  kita akan paham bahwa kisah tersebut mengandung pesan yang mendalam bagi para pembaca, utamanya perempuan. Meski sebenarnya bukan hanya perempuan saja yang harus membaca album prosa ini, lelaki juga harus membaca agar mereka tahu apa takdir yang berteman dengan perempuan.


Semakin Luka Di sini




Karya. Yani

Semakin menganga luka semalam
Tangis-tangis yang tak lagi lirih
Bersautan dengan hati yang menjerit lara
Kekecewaan semakin menganga perih

Dendam-dendam bagai ayat yang kurapalkan
Berniat dalam hati 'tuk menjauh saja
Pun dengan hati yang kuhipnotis tuk membatu
Anggap dia sebagai angin lalu

Namun, luka tetap luka
Semakin kurasakan, perih mendera
Duka luka akan selalu terasa
Karena dia yang semakin timbulkan lara

Probolinggo, 01 05 2018

Dan Biarkan, Kami (Perempuan) Memesan Takdir




Tepat pukul 14.00 WIB, ternyata lagi-lagi Probolinggo memberikan sebuah acara besar di Dunia Literasi. Probolinggo yang memiliki sebuah organisasi literasi daerah yaitu Komunlis berhasil mengisi Hari Kartini kali ini dengan sesuatu yang indah dan pastinya lebih bermanfaat.

Sukses dengan acara-acara sebelumnya, Komunlis (Komunitas Menulis) mengundang seorang penulis muda bernama W Sanavero. Perempuan kelahiran Blora, 17 Januari 1995, seorang perempuan yang kini sedang sibuk melakukan booktour album prosanya yang berjudul, Perempuan Memesan Takdir".

Dalam album prosa yang sangat manis ini memang menceritakan bagaimana perempuan-perenpuan dalam album ini berinteraksi dengan kekasih, keluarga, masyarakat dan hubungan dengan Tuhan.

Pembawaan yang apik dan unik menjadi ciri khas dari album ini. Pengungkapan fakta-fakta yang sebelumnya telah melakukan riset selama setahun lebih menjadikan karya ini sangat bagus dan 'Wow'.

Bahkan menurut Penulisnya sendiri, semua karya di dalam album prosa ini adalah pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi di sini bukan hanya dialami oleh penulis sendiri, namun juga sekitarnya yang menjadi proses kreatif dalam pembuatan album prosa ini.

Kedatangan penulis sendiri ke Probolinggo, memang tanpa sengaja memiliki moment yang pas sesuai dengan judul album prosa ini. Hari Kartini dan Perempuan yang Memesan Takdir. Bahkan dari banyaknya pengunjung kali ini, perempuan memang mendominasi. Sehingga, para pemantik diskusi, moderator bahkan Narasumber bisa secara gamblang memberikan pesan dan kesan kepada perempuan sesuai dengan album prosa ini.

Pengunjung yang sebagian besar adalah pelajar, membuat para pemantik, moderator bahkan narasumber berhati-hati dan memilah kata untuk mengungkapkan isi album tersebut. Album Prosa yang memang disajikan untuk usia 18+, hingga dalam penyampaian harus lebih diperhalus lagi. Namun, semua kembali pada pembaca. Seperti yang dikatakan Sanavero, setelah buku-buku ini dicetak, maka buku tersebt bukan miliknya lagi. Layaknya anak, mereka akan menemukan orang tua baru dimana orang tua baru itulah yang akan menyikap anak-anaknya. Bagaimana pembaca akan menyikap album Prosa ini ke depannya. Apakah hanya menjadi kata dan frasa, atau dijadikan pegangan dan kekuatan untuk bertindak ke depannya.

Acara terakhir dari Komunlis ke #5 ditutup dengan edisi foto bersama penulis. Selanjutnya, harapan yang mungkin tak tersampaikan secara tersurat, namun tersirat adalah harapan semoga dengan rentetan acara yang telah dilewati ini, bisa dijadikan pendorong/motivasi bagi semua teman-teman yang sudah datang maupun tidak agar bisa lebih berani mengutarakan gagasan, dan tampil 'unik' tanpa rasa terkekang sama sekali. Carilah diri kita sendiri agar kita bisa lebih berekspresi lagi. Tak ada yang bisa menjatuhkan kita, bahkan diri kita sendiri. Bila kita tak memiliki kaki, biarkan tangan yang menjadi penonggak. Bila kita kaku tak bisa bergerak, biarkan aksara kita yang melangkahi Dunia.
Selamat Hari Kartini bagi wanita-wanita Hebat di seluruh Dunia.
Di tanganmu tergenggam takdir yang suci dan indah.

Probolinggo, 21 April 2018

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...