Sweetly Broken; Patah dan Jatuh Cinta



Judul buku               : Sweetly Broken   
Penulis                     : Dadan Erlangga
Editor                      : Irna Permanasari
Penerbit                   : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                   : pertama, 2018
Tebal buku               : 256 hlm; 20 cm
ISBN                        : 978-602-03-8196-1


BLURB:
    Pengalaman patah hati hingga berdarah-darah, membuat Lara Doris Hartono menutup hati dan menetapkan aturan konyol saat bertemu pria tampan, bersikap dingin dan tak peduli serta jangan pernah menunjukkan kekaguman dan ketertarikan sedikit pun.

    Namun, saat pertama kali bertemu Dias Adji Nugroho, Lara nyaris melanggar aturan tersebut. Padahal, ia pernah bersumpah akan menghajar pria itu karena tayangan di akun Instagram Dias yang menjelek-jelekkan wedding organizer milik Lara. Sekuat apa pun mengelak, Lara mendapati dirinya luluh dalam dekapan kokoh pria itu.

    Ketika Lara sedang menikmati kebahagiaan bersama Dias, seseorang dari masa lalunya muncul. Aryoza Megantara, mantan terindah semasa SMA yang tak pernah benar-benar meninggalkan sudut hatinya.

    Untuk kali ini saja, Lara tergoda untuk meraih kembali apa yang pernah hilang dari masa lalunya bersama Yoza. Namun, apakah itu sepadan jika harga yang akan ia bayar adalah kehilangan Dias untuk selamanya...?

Resensi :
berbicara tentang makna patah hati termanis adalah jika setelahnya kita bisa bertemud engan cinta yang lebih baik dan bisa mengobati luka lama dengan luapan kasih sayang. Seperti yang dikisahkan dalam novel motropop ini. Penulis yang berjenis kelamin lelaki –Dadan Erlangga- sangat berani mengambil sudut pandang pertama sebagai tokoh Lara dalam novelnya. Seperti yang kita ketahui bahwa cara berpikir antara wanita dan lelaki jelas berbeda. Lelaki yang cenderung logis dan wanita yang lebih dramatis. Dan saat kita tahu bahwa penulis bisa masuk ke dalam pikiran toloh wanita, saya benar-benar salut pada gaya penyampaiannya.
“Setiap orang pernah tolol sebelum menjadi lebih pintar dan tangguh.” – hal. 11
Bagi Lara, ada banyak prinsip yang harus ia jaga saat berhubungan dengan lelaki. Terutama prinsip harga diri. Memiliki masalah cinta yang rumit saat remaja hingga sebuah rahasia yang masih tersusun rapat, sekarang Lara lebih berhati-hati untuk meletakkan hatinya pada lelaki. Dan saat pertama kali ia mengenal Dias, lelaki yang sangat tampan dengan senyum manis, sata itulah Lara seakan kehilangan control dirinya. Hatinya seakan bertindak semaunya hingga prinsip yang ia susun dengan matang tak berarti apapun. Dan menurut Zaky dan Nana –sahabat Lara- Dias sudah menaruh hati padanya saat pertama kali bertemu. Meski awalnya perkenalan mereka tidak baik yang dibumbui dengan drama, akhirnya mereka bisa menjadi sepasang teman meski dalam diam-diam menyimpan segenap perasaan.
“Curhat itu kebutuhan psikologis menusia yang harus terpenuhi untuk tetap menjaga kewarasan jiwa.” –Hal. 82
Sisi persahabatan yang disajikan oleh Nana dan Lara benar-benar bisa menjadi bahan renungan dan contoh untuk semua orang. Bagaimana kita yang harusnya bertindak pada orang-orang terutama sahabat. Saling berbagi dan keluh kesah bukan berarti kita lemah, hanya saja itu adalah kebutuhan. Seperti yang dilakukan Lara saat ia bertemu kembali dengan mantan pacar terindahnya saat SMA. Pertemuaan mereka benar-benar tidak menyenangkan. Karena Yoza yang ternyata sedang menyiapkan pernikahannya dengan Clara 6 bulan lagi. Dan sebagai bentuk profesionalitas, Lara menerima tawaran untuk menjadi WO dari pasangan tersebut. Meski setiap hari, semua terasa berat untuk Lara. Tak bisa ia bohongi bahwa masih ada rasa cinta dan cemburu secara bersmaan saat melihat Clara yang sangat mersa pada Yoza. Sementara kehadiran Dias, sejenak tiada arti bagi Lara.

Dan saat rahasia terkuak tentang masa lalu Yoza, Lara dan keluarga masing-masing, Lara sempat berpikir apakah ini takdirnya untuk bersama lagi dengan Yoza? Tapi, bagaimana dengan Dias yang selalu bisa menenangkan hatinya?

“Mungkin itu yang namanya takdir. Sekeras apapun kita berusaha menghindar, pada akhirnya takdir akan menemui kita sesuai ketetapan-Nya.” Hal. 105

Dan terakhir, novel ini sangat memiliki tingkat keseruan yang sangat bagus. Pembaca mendapatkan banyak pengetahuan tentang music, WO dan beberapa ilmu fotografi dari masing-masing peran. Bisa dikatakan, Dadan berhasil dan sukses dalam menulis novel ini. Ditambah dengan kata-kata puitisnya, cinta dan patah hati memang menjadi dua sisi tangan yang selalu bersama.

Probolinggo, 20 Februari 2019


Perpisahan


Bisakah dunia berjalan seperti negeri dongeng di mana kecupan menjadi pengobat segalanya.
"Aku nggak mungkin bisa menemani kamu seumur hidup." Kepalanya menggeleng pelan. Ia semakin menatap mantap wanita yang kini duduk di sebelahnya. "Tapi, aku bisa menghabiskan umurku denganmu, apa itu sudah cukup?" ujarnya lagi

Wanita di depannya menoleh. Ada sembab di kedua matanya. Bahkan aliran air mata di pipinya masih serupa jalan bagi para semut. Dia adalah Anggun.

Pada sore yang mendung, Anggun dan Dimas sedang duduk di bawah sebuah pohon yang rindang. Sebentar lagi akan hujan, mungkin langit sedang menabung air yang akan ditumpahkan ke bumi. Mungkin lagi, dapur langit sedang sibuk dengan bawang merah agar semua Dewa di sana menangis dan airnya jatuh ke bumi. Itu adalah kemungkinan yang sedang dipikirkan Anggun.

Namun, sebenarnya bukan ini yang menjadi pokok pikiran kali ini. Ini tentang Dimas yang membawa segenggam bunga-bunga melati di tangannya. Ada sekotak cokelat dan selembar surat berwarna merah jambu. Semuanya berbau sama, perpisahan.

"Apa gunanya kita bersama, kalo kamu nggak bisa jadi milik aku seutuhnya," ujar Anggun dengan isakan kecil yang masih tersisa.

Dimas menggenggam kedua tangannya. Memberikan sebuah kekuatan agar Anggun bisa lebih tegar dan percaya bahwa semuanya bisa mereka lalui.

"Aku nggak mampu melawan takdir. Nyatanya, sekuat apapun aku berusaha, keajaiban Tidak pernah datang."

"Tapi, aku belum bisa merelakan kamu," ujar Anggun pilu. Ada nada berat yang selaras dengan hatinya. Mana mungkin ia bisa melepaskan kepergian seseorang yang sudah lama berada di hatinya. Itu sangat mustahil. Lagi pula, Anggun sudah memiliki impian untuk bersama Dimas sampai mereka sama-sama menutup mata.

Terdengar helaan napas kasar. Dimas meraup wajahnya yang mulai kusut. Ini sudah pukul lima sore. Setengah jam lagi, ia harus pergi dan mau bagaimanapun, Anggun harus merelakannya.

Memang tidak ada yang mudah dalam sebuah keikhlasan. Namun, kita juga tidak bisa membiarkan hati dimakan oleh segala perasaan yang menyakitkan. Berlapang dada mungkin menjadi salah satu alasan kita untuk mulai bahagia.

"Aku harus cepat pergi. Ini mungkin jadi pertemuan terakhir kita. Namun, jika besok keajaiban datang, aku harap sisa umurku bisa terisi oleh kamu lagi," ujar Dimas nanar.

Anggun menggelengkan kepalanya pelan. Menolak kepergian Dimas. Namun, ada sebagian kecil hatinya ingin agar kepergian Dimas bisa membawa lembaran baru untuk mereka

"Kamu harus sembuh dan janji kembali lagi ke aku!" perintah Anggun.

Dimas tersenyum sebelum berkata, "bagi seseorang yang hanya memiliki 10% peluang hidup, aku nggak bisa berjanji."

Dan tangis Anggun semakin pecah. Ia memeluk badan yang semakin kurus itu. Wajah Dimas semakin pucat karena terlalu lama di luar sedangkan tubuhnya harus selalu dipantau dokter. Hidup Dimas sudah terlalu sering bergantung pada obat-obatan. Apakah Tuhan tidak memberikan Dimas kesempatan untuk terbebas dari obat tersebut?

Dalam hati, Anggun selalu bertanya, bisakah kali ini keajaiban datang pada mereka yang percaya? Bisakah sekali saja, ia hidup di negeri dongeng di mana sebuah kecupan berhasil menyembuhkan segalanya. Andai bisa ...

Probolinggo, 14 Februari 2019

Bintang





Aku mulai melangkah dengan pelan lagi. Seakan baru saja belajar berlatih melangkah seperti anak kecil yang belum genap berumur setahun. Mungkin juga orang-orang yang kini sedang menatapku tengah mencibir dalam hatinya. Bahkan anak berumur tiga tahun saja sudah berlari mengitari pancuran di taman. Hal ini benar-benar membuatku iri.
Namun apa daya. Inilah keadaanku. Selama tiga tahun hidup dalam kelumpuhan akibat sebuah kecelakaan beruntun yang menewaskan orang tuaku, aku hidup bersama bibi yang sangat mengasihaniku. Seorang wanita yang mungkin sudah hampir memasuki setengah abad, dengan lesung pipi dan gigi kelincinya. Tidak akan ada yang mengira bahwa ia berumur sekian bila dilihat dari kecantikan wajahnya. Aku pun sempat tertipu dan tak percaya dengan umur beliau. Namun, itulah kenyataannya.
"Bintang! Ayo makan!" Teriakan itu berhasil membuatku menoleh dengan senyum mengembang. Itu adalah suara dari Rama. Anak dari bibi Sinta yang menampungku selama ini. Dan mungkin saja, Rama jugalah yang menjadi alasanku untuk bangkit dan sembuh.
"Bentar!" teriakku tak kalah lantang. Dengan hati-hati, aku menapaki rumput taman dengan perlahan. Sejak tadi, aku memang tak memakai sandal atau alas kaki lainnya. Anggap saja aku sedang melakukan terapi. Karena Kata dokter, aku memang harus sering-sering menapak tanah agar saraf di kaki cepat bisa merespon dan tidak kaku seperti sebelumnya.
Baru beberapa langkah, aku merasakan badanku melayang. Otomatis aku terpekik dan hampir saja memukul siapa orang yang lancang mengangetkan aku, tetapi urung saat melihat wajah Rama yang jaraknya sangat dekat denganku.
"Kamu lama. Aku sudah lapar banget," gerutunya yang bahkan helaan napasnya terdengar jelas di telingaku. Jarak kami terlalu dekat. Dan ini benar-benar tak baik untuk kesehatan jantungku.
"Maaf," cicitku dan semakin masuk ke dalam gendongannya. Aku paling tak suka digendong, tetapi gendongan Rama jelas terasa lain. Ada rasa nyaman dan aman yang menjadi satu di sana. Dan aku suka dengan gendongannya.
"Sampai mana perkembanganmu?" tanya Rama setelah berhasil membawaku dan mendudukkan di sebuah karpet yang ia bawa untuk acara piknik kami kali ini.
Hanya ada aku dan Rama. Paman dan bibi harus berangkat ke Bali pagi-pagi sekali untuk mengevaluasi resort di sana. Dan untuk mengusir kejenuhan, Rama mengajakku piknik sekalian terapi di alam terbuka. Aku menyutujui usulannya. Aku pun ingin segera sembuh dan meraih cita-citaku terutama memantaskan diri bersanding dengan Rama. Katakan saja itu adalah bunga tidur. Karena nyatanya, takdir tak pernah mengizinkan kami bersatu. Dengan banyak alasan, aku hanya mampu mengaguminya dari jauh.
"Sudah lumayan. Aku mulai merasakan saraf kakiku bekerja," jawabku seraya mengambil buah yang sudah ia kupas.
Terlihat Rama mengangguk dengan binar puas di matanya. Aku paham, Rama sangat mendukung kesembuhanku. Ia sangat ingin aku segera menjadi Bintang seperti dulu lagi. Bintang yang kuat, bersinar dan semangat.
Lama kami saling fokus dengan santapan yang terhidang. Semilir angin sore benar-benar menjadi selimut kenyamanan bagi kami. Gumpalan awan di langit seakan berbentuk hewan-hewan yang berlarian yang menghiasi birunya semesta.
Aku menikmati bagaimana rumput dengan gemulainya mengikuti angin yang bergerak di sekitarnya. Semuanya nampak damai dan menenangkan. Namun tidak dengan hatiku yang sejak tadi berdetak liar. Ini pasti karena Rama.
"Bin?"
Aku menoleh dan mendapati Rama yang memandangku lekat. "Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Hmm, gini. Besok, aku akan ke Paris," ujar Rama dengan suara yang terbata.
Aku tercekat. Paris? Luar Negeri? Untuk apa?
Aku jelas-jelas kaget. Sebelumnya Rama tidak pernah bercerita apa-apa tentang Paris dan tujuannya ke sana. Dan berita ini benar-benar seperti bom waktu bagiku. Meledak tepat di wajahku bahkan saat aku belum siap menerimanya.
"Aku mau lanjutin S2 ku di sana. Dan besok mungkin aku akan berangkat."
"Secepat itu?" tanyaku kaget.
Rama mengangguk pelan.
Aku tertawa miris. Sepertinya memang hanya aku yang berat melepaskannya. Rama malah terlihat baik-baik saja. Bahkan tidak ada gurat sedih di wajahnya. Apa memang hanya aku yang selalu menderita?
"Oh, oke. Kamu baik-baik di sana," ujarku untuk terakhir kalinya. Setelah itu, aku lebih banyak diam. Tak menghiraukan ajakan Rama untuk keluar dan jalan-jalan. Menurutku semua sama saja. Rama tetap akan meninggalkan. Tidak ada bedanya besok ataupun sekarang.
Aku memang hanya bisa sendiri. Iya. Aku memang harus berdiri sendiri dan terbiasa. Seperti kata pepatah, 'jangan bersandar pada manusia, karena saat ia bergerak, kita bisa jatuh.'
Mungkin merelakan memang tidak akan pernah mudah, tapi bukan berarti aku tak bisa. Rama ke Paris untuk masa depannya. Untuk menapaki tangga kehidupan yang lebih tinggi. Seharusnya aku mendukung dan bangga pada dirinya. Itu seharusnya bila andai saja aku tak jatuh hati.

Probolinggo, 13 Februari 2019

Cinta (tak) Bertuan




"Lo beneran suka sama dia?" Vina bertanya dengan nada tak percayanya.

Sedangkan Dini mengangguk santai. Ia memang sangat mencintai lelaki yang dimaksud oleh Vina. Lelaki yang menjadi objek perbincangan pada sore kali ini. Pohon, dan bunga di taman seakan ikut bergosip ria tentang lelaki yang berhasil mencuri hati wanita cantik ini.

"Lo pikir ulang deh," ujar Vina dengan nada memerintah.

"Andai bisa." Dini menghembuskan napasnya pelan. "Masalahnya cinta itu dari sini, bukan dari ini," lanjutnya dengan menunjuk hati dan otaknya bergilir.

Mereka sama-sama diam. Semuanya tahu bagaimana cinta dapat timbul. Tak ada yang bisa mengontrol kedatangannya. Kita tidak pernah tahu kepada siapa, kapan, dan kenapa kita jatuh cinta. Kita hanya sadar bahwa kita jatuh cinta dan tidak ingin kehilangan orang tersebut. Meski kadang beberapa orang mengalami sindrom penyesalan.

"Gue paham cinta gue salah. Tapi gue juga nggak bisa cegah semua itu. Hati bergerak duluan dari logika," lirih Dini lesu. Suaranya melemah dengan pikiran yang berkelana seakan mencari satu orang saja yang mau membelanya tentang cinta yang ia rasakan. Ia tak bisa terus menerus seperti ini. Cintanya telah dipandang salah oleh orang lain. Dan, hatinya semakin menebal tanpa mau menerima perintah move on.

"Lo bener-bener cinta sama dia?" Vina menanyakan pertanyaan yang sama entah sudah keberapa kalinya. Dia hanya berharap Dini bisa mengubah haluan perasaannya. Meski sangat sulit dan bisa saja tidak mungkin.

Dini terlihat menghembuskan napasnya lelah. Ia menoleh ke arah Vina dan menatap kedua netra sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue pengen bahagia. Tapi jika kebahagiaan gue harus dengan mencintai dia, gue bisa apa?"

Vina langsung memeluk sahabatnya. Ia tahu bagaimana perih itu menyiksa. Bagiamana suara lirihnya terkesan putus asa. Semua orang pernah di posisi tersebut. Semua orang pernah merasakan bagaimana saat hidupnya serasa dipermainkan cinta dan ditendang bagai bola oleh orang yang menjadi setengah napas kita. Semua orang pernah merasakan duka dan cinta.

"Tapi, meski hati gue memilih dia, ada banyak hal-hal yang mengharuskan gue melupakannya. Ini tentang norma," ujar Dini pedih.

Vina semakin mengeratkan pelukannya. Ia paham, sangat tahu bagaimana sakitnya itu.

"Gue selalu dukung lo. Apapun yang lo lakuin. Gue ada di belakang lo," ucap Vina memberi semangat.

Sementara setetes air mata lolos tanpa dikehendaki si empunya. Dini sudah berjanji tidak akan menangis seperih apapun sakitnya. Ia harus kuat. Meski kadang cinta sangat sakit dan perih, tapi jangan sekali-kali air mata turun hanya untuk menjadi simbol kesedihan dan kelemahan diri.

"Gue nggak bisa mencintai dia. Gue nggak bisa miliki dia. Kenapa?"

"Lo kuat, Din. Inget! Besok lo harus tampil cantik dan bahagia. Seseorang yang lo cintai, besok akan menjadi kakak ipar lo," ujar Vina dan semakin menampar Dini dengan kenyataan yang sangat menyakitkan.

"Rasanya gua bakal mati. Gue nggak sanggup," jawab Dini. Ia melepaskan pelukan Vina dan menatap sahabatnya dengan tatapan terluka yang tak dapat dielakkan.

"Gue pengen ikhlasin dia buat Kak Maya. Tapi, kenapa hati gue berat. Apa cinta memang nggak selalu happy ending?"

Vina tak mampu menjawab. Ia hanya bisa menarik Dini ke dalam pelukannya kembali.

Cinta. Nyatanya mengatakan sangat mudah. Merasakan butuh ketegaran, dan mempertahankan butuh kesabaran. Karena saat cinta bukan untuk kita, maka hanya kesedihan pilu yang dirasakan.

Probolinggo, 11 Februari 2019

Lambe Akrobat




Belajar Koplak bersama si Lambe Akrobat

Judul                           : Lambe Akrobat ; Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip
Penulis                        : Agus Mulyadi
Terbitan                     : Mei 2018
Penerbit                      : Mojok
ISBN                            : 978-602-1318-69-0
Jumlah Halaman        : 165 Halaman
Peresensi                    : Agustin Handayani

Agus Mulyadi atau kerap disapa GusMul adalah seorang penulis yang sangat piawai dalam membawa sebuah cerita sederhana yang sering terjadi sehari-hari menjadi sebuah karya yang sangat bagus dan sukses membuat pembaca puas. Dari karya pertama hingga karya yang kesekian, Agus rupanya tetap menampilkan gayanya yang ceplas-ceplos, njawani dan juga konyol.

Seperti dalam judulnya, Agus membagi buku ini menjadi dua cerita. Cerita pertama, yaitu tentang,  ‘keluarga Hansip,’ yang kiranya terdiri dari 17 kisah komplak dan yang kedua tentang kisah ia dan teman-temannya yang berjudul, ‘Marcopolo dan Geng Koplo.”

Dalam bagian Keluarga Hansip, banyak sekali cerita yang Agus jabarkan di dalamnya. Kisah yang sangat konyol dari banyak pengalaman yang pernah penulis lakukan. Misalnya dalam salah satu judul cerita yaitu, “Nama Anak, Nama Bapak.”

“Yo biar ada keertarikan keturunan, Gus. Nama bapak dan nama anak itu baiknya ada keterikatan dan kesamaan. Pokoknya minimal ada unsur pengikat. Makanya unsur Mul dari Mulgiyanto ini sengaja bapak wariskan. Jadinya kamu tak kasih nama pakai Mulyadi, sedangkan kedua adimu itu tak kasih nama pakai Mulyani.” Hal. 5

Dalam cerita ini, Agus memaparkan bagaimana keterikatan nama-nama dalam keluarga pada umumnya. Bukan sebagai alasan nyentrik dan kompak, Orang lampau memang suka mewariskan salah satu suku namanya kepada sang anak. Hal ini juga menjadi sebuah tradisi yang biasanya dilakukan oleh keluarga kerajaan dengan menyisipkan  Marga keluarga pada keturunannya.

“Ki lho, Gus, conto adimu kuwi, lulus SMK jadi lulusan terbaik, ndak seperti kamu, ndak ada prestasi, nilai Matematika pun cuma empat, sudah jelek, bodho sisan! Koyo ngono kok pengin punya isteri.” Hal. 32

Njawi banget. Itu adalah hal yang saya tangkap dari percakapan Agus dan Sang Bapak disebuah cerita yang berjudul, “Sang Anak Pesakitan”. Kali ini Agus seakan menceritakan sebuah kesialan yang sangat mengenaskan dari hidupnya. Dengan tetap mempertahankan cara berceritanya yang asal tapi tapi tidak asalan, Agus mulyadi membawa kita pada sebuah kisah seorang bapak yang sering membesar-besarkan prestasi salah satu anaknya kepada anak yang lain. Penghargaan, seperti itulah yang dilakukan sang Bapak lakukan dengan menindas anak-anak yang belum berprestasi. Hingga saat roda berputar dan anak yang lain mulai menunjukkan sebuah prestasi juga, maka sang Bapak akan berpindah haluan dan menyanjung anak tersebut. derita anak yang hanya bisa ‘raja’ bila ia berprestasi hingga bisa terbebas dari bulan-bulanan sang Bapak.

Berpindah pada bagian kedua dalam buku ini adalah tentang Marcopolo dan Geng Koplo yang terdiri dari 16 cerita kocak dan ngenes menurut saya.

Berawal dari Agus yang akan mengunjungi desa Neneknya dengan membawa Rudi agar ikut serta. Agus dengan gayanya yang sok mengenalkan Rudi pada alam desa sang Nenek agar bisa membuat Rudi terkagum nantinya. Hampir semua keindahan alam yang Agus kenalkan tak lantas bisa membuat Rudi terkagum. Agus mulai putus asa. Sepertinya Rudi memang sangat susah untuk mengagumi kenampakan alam dan pegunungan di desa. Hingga saat Agus sudah putus asa, Rudi malah berteriak histeris karena melihat sekumpulan anakan lele di kubangan. Keantusiasan Rudi membuat Agus mulai percaya diri dan menyombongkan desa tersebut dan berkata bahwa banyak anakan lele di desanya. Dalam hati ia bersyukur bahwa masih ada sesuatu yang bisa membuat Rudi terkagum dengan desanya, meski sebenarnya hati kecilnya merasa miris bersamaan.

“Namun di satu sisi, saya juga merasa sedih. Sedih karena anakan lele yang dilihat Rudi di Kali Kanci tadi sebetulnya bukan anakan lele melainkan kecebong. Ya, kecebong.” Hal. 76

Oh, ada lagi satu cerita yang akan saya angkat dari buku ini. Kisah ini sebenarnya sudah sangat terkenal di masyarakat. Religi yang dicampur dengan humor kocak yang berhasil membuat perut serasa diaduk. Bagaimana tidak? Saat kita kecil dulu, pastinya film Tuyul yang dibintangi oleh alm. Darto adalah sebuah film yang akan sangat disukai oleh anak-anak dan bahkan berhasil mempengaruhi anak-anak. Salah satunya adalah sebuah anggapan bahwa dhemit sangat takut dengat ayat suci dan bacaan Al-Quran. Mungkin persepsi orang ulama atau dewasa, ayat atau bacaan Al-Quran tersebut tak lain adalah sebuah ayat atau surah yang sering kita baca saat ngaji atau selesai shalat. Tapi rupanya ada hal lain terjadi pada Karyo.

“Alip ba t a, alip ba ta, alip ba ta” dengan harapan si dhemit bisa segera enyah dari hadapannya. Hal. 82

Sebagai akhir dari ulasan yang saya sampaikan, mungkin banyak sekali saran dan pesan yang sebenarnya ingin Agus sampaikan dalam tulisannya. Utamanya mengenai sebuah kesialan, kegagalan dan semua jenis musibah yang kadang membuat orang-orang drop dan meratapi nasibnya. Di sini, Agus seakan mengajak kita semua untuk woles dalam menghadapi segala jenis kegagalan. Bukankah kegagalan adalah tangga menuju kesuksesan? Meski sebenarnya kita juga tidak akan tahu kesuksesan itu akan kita raih setelah melalui berapa tangga kegagalan. Hanya saja, Agus seakan berkata, “Nikamti, Syukuri, dan Tertawalah!”
Di akhir buku ini, rupanya Agus juga memberikan sedikit belas kasihnya pada kita sebagai pembaca dengan adanya sebuah Glosarium. Semua kata njawi  yang tertera dalam cerita di dalamnya telah diterjemahkan dengan sangat mudah oleh Agus sehingga kita tak perlu takut untuk membaca buku kumpulan cerpen komedi ala Agus Mulayadi. Jangan lupakan juga untuk memperhatikan batasan umur yang sudah tertera di bagian belakang cover bahwa kumpulan cerita ini bersifat 17+, dimana masih memerlukan bimbingan bagi anak-anak di bawah umur. Sekian terima kasih.

Probolinggo, 04 Juli 2018



Menggerus Luka Tanah Air


Foto By. Yuanda Isha

Luka Tanah Air

Judul Buku                            : Menggerus Luka Tanah Air
Penulis                                   : Komunitas Sastra Nusantara
Penerbit                                 : Yayasan Halaman Yuan
Tahun terbit                          : Cet. Pertama, September 2018
Jumlah Halaman                  : xiv+68 Halaman
ISBN                                       : 978-602-61843-7-5
Peresensi                               : Agustin Handayani
Buku antologi puisi yang berjudul ‘Menggerus Luka Tanah Air’, adalah sebuah antologi yang disusun oleh sekitar 18 penyair dan penulis di mana terdapat sekitar 32 puisi di dalamnya. Diciptakannya buku ini sebagai bentuk penggalangan dana yang digagas oleh Komunitas Sastra Nusantara dengan pendirinya Yuanda Isha, penyair asal Tanjung Pinang yang juga masuk dalam Penyair KEPRI. Dengan tema sosialnya, semua penyair di sini mulai menuliskan bagaimana tanah air baik dilihat dari sudut pandang lingkungan sosial, sejarah,  bahkan renungan religiousnya.
Seperti yang dikatakan oleh Salimi Ahmad (Penulis) yang mengisi endors antologi ini, “pada hematnya, semua karya puisi yang diciptakan menjurus ke tema sosial –sadar atau tidak sadar.” ( Hal. 52).
 Salimi Ahmad menjelaskan bahwa setiap penyair dalam karyanya memang bertujuan untuk berbagi. Berbagi rasa dan pemikiran kepada pembaca. Tidak mungkin penyair menciptakan sebuah puisi tanpa mau berbagi apa yag ia rasakan atau ia pikirkan.

Dan dalam antologi ini, samua penyair seakan kompak menceritakan apa yang mereka rasakan dan lihat tentang luka-luka di tanah air tercinta.
Di kolong jembatan kami merintih perih, sedangkan engkau di kasur, tidur mendengkur, Tuan. ( Hal. 3)
Puisi kedua yang dibuka oleh seorang Penyair asal Bojonegoro, Guntur Suyanto. Dalam puisi singkatnya yang berjudul “Malam Kelam dan Lolongan Anjing” ini, Guntur seakan membeberkan sebuah kesenjangan social antara kaum atas dan bawah. Terlihat dari mereka yang berada di kolong jembatan dengan seorang tuan yang mendengkur di kasur. Ini adalah hal yang faktanya memang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Masih banyak rakyat bawah yang kadang dalam tidurnya harus menahan nafsu laparnya. Berselimut kardus di bawah kolong jembatan yang kadang terazia oleh keamanan karena dianggap sebagai sampah masyarakat dan merusak keindahan jalan. Pernahkah kalian berpikir bagaimana kerasnya hidup kaum bawah dalam melawan hari-hari yang semakin kejam mencekamnya?
Sama halnya yang dibeberkan oleh penyair bernama Ahmad Ridwan Wanderer. Berikut penggalan puisi yag berjudul “Adakah”
Ranting pohon menjadi atap
Untuk melanjutkan hidup
Rumput mengeja napas mereka yang keluar dari jembatan tua
Lalu adakah yang mendengar tangis mereka? (Hal. 23)
Dan lagi-lagi puisi di dalam antologi Menggores Luka Tanah Air ini menjelaskan bagaimana sebuah penampakan yang sering kita lihat namun enggan  untuk kita selami. Ada banyak mata yang melihat kondisi seperti yang dibeberkan dalam puisi ini, tapi sayangnya hanya sedikit mata yang mau berbagi dan mengurangi kemelaratan yang ada.
Dari kedua puisi yang menjabarkan luka yang sama, masihkah hati kita tak terketuk? Pertanyaan besarnya adalah, “Apakah kita masih belum peduli dan enggan berbagi pada mereka yang terluka dan mati di tanah air tercinta ini?”
Maka, Yuanda Isha sebagai penggagas penggalangan dana ini mulai menjelaskan keinginannya dimana Yuanda mengajak semua penulis dan penyair untuk berbagi dengan orang-orang yang sebelumnya enggan kita lihat tersebut. tanpa melepaskan kepiawaian dalam menulis, semua penyair menyumbangkan puisi terbaik yang dijadikan sebagai ajang penggalangan dana untuk sebuah panti Asuhan di Yogyakarta -Sasaran pertama mereka dalam berbagi.
Dalam antologi ini pun, beberapa penyair juga memperlihatkan bagaimana nasib anak bangsa di luar sana. Seperti yang tercantum dalam penggalan puisi di bawah ini.
Kami, anak-anak negeri
Semakin terpenjara
Kami terkurung, terhimpit
Seolah tanpa daya untuk bangkit

Kami anak-anak Pertiwi
Terpenjara di Negeri sendiri. (hal. 24)
Rupanya di sini penyair yang bernama pena Mheefrhoodhent asal jambi lebih menitikberatkan puisinya kepada anak bangsa dan segala keadaan yang dialami. Memperlihatkan bahwa mimpi-mimpi anak bngsa yang harus terkunci dalam sebuah ruang tanpa bisa keluar menjadi nyata. Negeri kami belum merdeka, seperti itulah yang kiranya ingin disampaikan oleh penyair ini. Hanya anak-anak di kalangan atas dan terpandang yang akan disorot negeri. Sedangkan anak-anak bangsa yang menuntut ilmu dengan kaki-kaki telanjang harus berusaha mati-matian agar negeri mau meliriknya barang sedikit saja. Mereka hanya akan dilirik dan disanjung saat  bisa berada di titik atas. Lantas, apakah mereka harus menjadikan kepala di bawah dan kaki di atas agar Negeri Pertiwi ini sudi untuk membantunya?
Menurut saya pribadi, adanya antologi ini dalam masyarakat benar-benar membuktikan bahwa sastra memang dijadikan ajang untuk saling berbagi. Dengan sebuah tujuan mulia ini, keberadaan antologi puisi, “Menggerus Luka Tanah Air,” patut mendapatkan  applause dan pujian atas kepedulian tiada tara oleh para penyair Nusantara dalam antologi ini. Semoga niatan yang sudah tercapai ini akan menimbulkan niatan-niatan yang lain para penyair agar mau berbagai dengan mereka yang belum bisa hidup layak seperti kita.

Probolinggo, 23 September 2018



About Me!



Assalamualaikum wr. wb

Hai, teman-teman grey.
Jangan kaget bila aku menyebut kalian semua dengan sebutan grey. Karena aku cinta grey. Grey adalah warna yang membuatku sedikit tenang.

Kali ini, aku akan berbagi kisah sedikit saja sih tentang aku.
Jadi, artikel kali ini aku beri judul, About Me!  😉

Oke, langsung saja iya.

Agustin Handayani. Seorang perempuan kelahiran Probolinggo, 1996. Seorang wanita yang mengaku sangat mengagumi petrichor dan segala jenis kenangan. Lebih memilih menghabiskan waktunya dengan membaca dan menulis dari pada mojok sama doi. Masalahnya, aku nggak ada doi #plak.

Perempuan yang sejak SMP kelas 8 sangat menyukai novel-novel remaja. Jelas, ini juga berpengaruh pada genrenya menulis novel saat ini. Dan pada saat tahun 2017 tepatnya bulan Agustus, aku terjun langsung di dunia tulis menulis. Bergabung dengan beberapa group kepenulisan dan juga organisasi literasi. Hingga, mulailah aku belajar dan menikmati proses yang ada.

Kunci dari belajarnya adalah :
Terus belajar dan menikmati proses.

Itu saja. Hingga pada saat ini, merambah ke dunia novel, cerpen, dan resensi. Bahkan sekarang mulai belajar menulis prosa. Perempuan ini juga bermimpi menjadi penulis hebat yang akan terus bermanfaat ke depannya. Amin.

Beberapa karyanya sudah banyak yang dimuat dan terbit di beberapa penerbit.

Novel.
1. Hey, I Love You (2017)
2. Lost and Love (2018)
3. Petrichor (2018)

Antologi Puisi
1. Jejak Perjalanan (2017)
2. Memggerus Luka Tanah Air (2018)

Antologi Cerpen
1. Perjalanan Rasa (2017)
2. Perempuan yang Kuceritakan Padamu (2018)
3. Nostalgia (2018)
4. Payung Cokelat Susu (2018)
5. Story of Our Life (2018)
6. Jejak Persahabatan (2018)
7. Balada Cinta (2017)
8. Hijrah (2018)

Ikuti jejak perjalanannya di akun media sosial yang sudah tertera, ya!
see you!

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...