Penggunaan Kata 'Di', Seperti Apa?


Gambar dari google.

Materi EBI dan PEUBI pertama yang akan kita bahas adalah penggunaan kata 'di'. Kenapa penggunaan kata 'di' seakan tak pernah bosan dibahas dalam suatu materi kepenulisan? Karena masih banyak penulis baik saya sendiri kadang salah menggunakan 'di' tersebut.

Kapan penggunaan 'di' harus digabung dan 'di' pisah?
Di sini saya akan membahas sedikit penggunaan 'di' yang saya dapat dari teman-teman yang telah berbaik hati untuk berbagi ilmunya.

1. Penggunaan 'di' yang digabung.
Penggunaan 'di' ini biasanya digunakan untuk kata verba (kata kerja) pasif. Ciri khususnya adalah bisa diganti dengan kata 'me-' karena verba pasif pasti memiliki verba aktif. 
Contoh.
1. Dilarang : melarang
2. Ditulis : menulis
3. Dipakai : memakai
4. Dilanggar : melanggar
5. Dibalik : membalik
Dll

2. Penggunaan 'di' yang tidak digabung.
Biasanya kata 'di' ini digunakan untuk menunjukkan tempat. Ciri khusus dari penggunaan 'di' ini adalah dapat diganti dengan kata 'ke/dari' yang juga menjelaskan suatu tempat.
Contoh.
1. Di sana : Ke sana : Dari sana
2. Di mana : Ke mana : Dari mana
3. Di Taman : Ke Taman : Dari Taman
Dll.

Itulah materi singkat tentang penggunaan kata 'di'. Bila ada tambahan bisa di kolom komentar. Terima kasih.

Sebelum Menulis, Lakukanlah Hal-Hal ini!



Selamat Pagi, teman-teman.
Hari ini saya akan membahas seputar awal kita menulis.

Menurut Andrea Hirata, "jika ingin menulis, 99% adalah membaca (riset) sedangkan 1% adalah menulis."

Memang kalimat ini terasa benar di telinga kita. Pembaca memiliki hak untuk mendapatkan bacaan yang bermutu dan berkualitas. Dan seorang penulis bukan hanya mengutamakan kuantitas buku yang ia terbitkan, tapi juga kualitas dari buku tersebut. Jangan biarkan pembaca menimati buku yang kualitasnya belum 'pas'. Bahkan menurut seorang penulis novel 'Bakat Menggonggong', Dea Anugerah. Beliau berkata, "jangan membodohi pembaca dengan hal-hal ringan yang sudah diketahuinya. Buatlah sebuah karya yang memberi manfaat untuk pembaca."

Bagaimana cara membuat karya yang seperti itu? Membacalah. Sebelumnya jadilah pembaca yang baik.

"Good readers is good writers."

Hal kedua yang harus dilakukan oleh seorang penulis selain membaca adalah menulis. Menulis, menulis dan menulis. Tuangkan semua ide dan pemikiranmu dalam tulisan tersebut. Targetkan siapa pembacamu? Berapa rentang usia pembaca (dalam artian sasaran pembaca), apa pesan yang ingin kau sampaikan pada pembaca lewat naskahmu. Itu saja. Naskah yang baik ialah naskah yang sudah tahu ke mana jalannya. Akan kita sodorkan pada siapa naskah kita nantinya. Apakah pada orang tua yang pastinya membutuhkan bacaan parenting, pada remaja dengan kisah romance teenlitnya, atau pada orang-orang yang sedang berjuang dengan buku motivasinya.

Langkah selanjutnya, beberapa penulis memiliki cara sendiri dalam memulai menulis naskahnya. Beberapa akan menulis dalam outline/kerangka karangan dan beberapa lagi langsung menulis apa yang ia pikirkan saat itu. Dan mana yang benar? Semua benar. Tidak ada yang salah. Itu adalah ciri dari setiap penulis. Asal konsisten. Selesaikan naskahmu dan kamu bisa membuat naskah baru. Karena dalam menulis naskah, akan selalu ada rasa bosan, tergiur dengan naskah baru, dan lebih parah adalah buntu ide.



Maka dari itu, mantapkan diri sebelum menulis karya tersebut. Mau seperti apa alur ceritanya, akan seperti apa konflik yang dibawa serta bagaimana endingnya. Bila sudah paham, maka tulislah secepat yang kamu bisa. Karena semakin cepat naskah itu selesai, maka ide pun tak akan cepat hilang.

"Saat menulis, jadilah penulis. Bukan editor." -Ernest

Maksud dari perkataan Ernest sendiri adalah, saat menulis singkirkan dulu ketakutan pada typo, kalimat tidak efektif, atau penggunaan EBI/PEUBI. Kenapa? Karena ide datangnya di waktu yang sangat tak terduga dan singkat. Bila kita terlalu berpikir tentang EBI/PEUBI, bisa dijamin ide akan secepatnya hilang. Tulis semampu kita menulis.

Apa artinya kita tidak harus memperbaiki naskah kita? Siapa bilang? Penulis yang baik adalah editor naskahnya sendiri. Setelah naskah ide kita tuangkan, maka saat itulah kita akan menjadi editor bagi naskah kita sendiri. Karena untuk menjadi editor, kita tidak membutuhkan ide, tapi pengetahuan. Jadi, pandai-pandailah menempatkan diri kapan kita menjadi pembaca, penulis, dan editor.

Inilah materi awal yang bisa saya share kali ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua.

Probolinggo, 13 November 2018

Pesan dan Kesan Mengikuti Wicha FLP se-Jatim




Tergabung dalam organisasi Forum Lingkar Pena Probolinggo jelas adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Dalam hati saya berniat untuk turut andil dalam acara dan kegiatan yang diadakan oleh FLP tersebut. 

Hingga saat beberapa kali aktif dalam kegiatan FLP Probolinggo, ketua FLP Probolinggo yang saat ini adalah Kak Rully memberikan informasi terkait adanya program WiCha (Writting Challenge) dan RC (Reading Challenge). 

Mengingat saat itu saya sedang fokus menulis dan jadwal membaca belum beraturan, saya putuskan untuk mengikuti WiCha. Pertama kali di mana perjalanan dalam tantangan menulis di WiCha dimulai.

Beberapa kelas dan cerita suka duka di kelas tersebut.

1. Premiere WiCha : kelas pertama yang menyapa di WiCha. Dengan waktu 30 Hari di mana setiap hari diwajibkan setor jumlah kata yang ditulis, saya merutinkan diri untuk menulis dan setor. Karena dilihat dari beberapa pengalaman teman sekelas, mereka rutin nulis, tapi lupa setoran. Dengan wali kelas Bu Sridaningsih, di sana saya lebih mengenal teman-teman FLP se-Jatim dan sekaligus teman baru

2. Junior WiCha (Kelas Kedua). Kelas ini cukup menantang. Dengan jangka waktu 40 hari, di mana setiap 8 hari diharuskan menulis tulisan bertema baik berupa puisi, cerpen, artikel, dll. Dari kelas ini pun saya belajar menulis artikel, karya yang belum saya kuasai.

3. Senior WiCha (Kelas Ketiga). Kelas di mana saat ini saya berada dan bersiap-siap untuk naik kelas (amin). Dengan jangka waktu 50 hari di mana jumlah kata yang disetor tiap hari pun lumayan banyak, 700 kata. Dengan tantangan tambahan setiap 7 hari sekali membuat tulisan bertema dan mengirimkan karya ke media baik cetak maupun online. Tantangan di sinilah yang menurut saya berhasil membuat saya panas dingin. Karena di kelas ini, selain dari 3 peserta dan tersisa saya sendiri, tema yang diangkat lumayan berat dan kadang harus rela saya lewati. Detik-detik berjuang sendiri yang harus segera saya akhiri. Berjuang sendiri rupanya sangat sepi. 

Kelas selanjutnya, masihkah bisa bertahan? Why not. Kelas Super WiCha, tunggu saja! 

Semoga program WiCha ini terus berjalan dan semakin bisa membantu penulis untuk merutinkan diri menulis setiap hari. Saya pribadi memang sangat terbantu dengan adanya kelas WiCha ini. Karena baik beberapa novel dan Cerpen yang saya terbitkan adalah hasil rutin nulis baik di WiCha dan sebelumnya. 


Inilah kesan dan pesan yang saya alami selama di WiCha. Semoga ke depannya dengan tantangan baru dan lebih menantang, saya bisa menjadi alumnus WiCha dengan lancar. Dan ada baiknya jangan sampai tertinggal kelas meski hanya sekali. 

Stop Bullying!

Yani, Just it

Stop Bullying!

Sikap pembulian akhir-akhir ini memang sangat marak diberitakan oleh beberapa media. Bukan hal baru lagi saat berita menayangkan korban pembulian yang mengalami kekerasan fisik maupun mental. Lebih mirisnya lagi adalah, pihak yang melakukan pembulian adalah anak-anak remaja yang bahkan masih memakai seragam sekolah. 

Bahkan Masa Orientasi Sekolah pun di jadikan sebagai waktu paling pas untuk melakukan pembulian. Pihak-pihak yang merasa senior akan mengerjai siswa-siswa baru demi kesenangan dirinya. Hingga berujung pada kekerasan fisik yang fatal. 

Salah satu kebudayaan yang sangat susah untuk dihilangkan. Bahkan pihak sekolah seakan juga tak bisa berbuat lebih banyak selain menegur beberapa siswa. 

Menurut saya, pembulian bisa diatasi dengan sikap 'berani melawan' oleh korban. Pihak yang merasa menjadi korban harus memiliki sikap berani dan bela diri untuk melawan tindak pembulian tersebut. 

Sedangkan bagi pihak pelaku. Seharusnya mereka lebih bisa menjaga sikap dan berpikir panjang tentang akibat perlakuan mereka yang tidak benar. Mereka harus memiliki empati yang besar dan rasa kasihan pada korban-korban yang menjadi sasaran mereka.

Marilah kita hidup rukun tanpa tindak kekerasan. Baik fisik maupun mental. Bila sejak kecil sudah ditanamkan sikap kriminalitas, bagaimana saat dewasa nanti? Apakah mereka bercita-cita menjadi penjahat?

Manusia yang cerdas adalah manusia yang selalu berpikiran panjang dan memiliki hubungan baik dengan sekitarnya. Stop Bullying, Now! 

Bulan Bahasa Tahun ini, Meriahkah?

Yani, Just it

SMAN 3 Probolinggo, sekolah negeri yang berlokasi di Jl. Jeruk 66-68, Wonoasih. Sekolah yang lebih umum disapa SMAGA. Setiap tahunnya SMAGA akan selalu merayakan Bulan Bahasa sebagai pesta kecintaan kita terhadap keanekaragaman Bahasa.

Bulan bahasa yang direncanakan pada akhir bulan Oktober itu masih menjadi rahasia bagi para penghuni Sekolah. Hanya saja beberapa siswa berharap kerja Tim OSIS lebih memeriahkan Bulan Bahasa kali ini. Bila mungkin harus lebih meriah dari Bulan Bahasa dua tahun lalu yang mengundang Sekolah SMP/SMA sekota-Kabupaten Probolinggo untuk bergabung di SMAGA dan melaksanakan serangkaian acara yang sudah disusun.
SMAGA yang dua tahun lalu menjadi tuan rumah untuk acara tersebut banyak menuai pujian dari khalayak umum. Beberapa acara yang menatang hingga menghibur benar-benar memikat bagi para peserta.
Ada pidato Bahasa Inggris, Penulisan Huruf Jepang Katakana, Teater, Tes Bahasa Jepang serta penampilan Anime dan juga karaoke. Serentetan acara yang digelar dari pagi hingga sore itu benar-benar membuahkan hasil yang menakjubkan. Semua tamu dan peserta pulang dengan wajah puas yang nampak jelas. Lantas, bagaimanakah Bulan Bahasa Tahun ini?
"Semoga Bulan bahasa tahun ini lebih meriah lagi dan bisa mengundang sekolah lain agar bergabung dan berpesta di bulannya berbahasa ini," ucap seorang siswa yang kini tengah duduk dibangku akhir sekolah.

Probolinggo, 16 10 18.

Resensi di Kota Tuhan




 
 Foto. Jabbar Abdullah

Dokumentasi Radar Mojokerto 23 September 2018

Romantisisme Kenangan dalam Puisi di Kota Tuhan

Judul                           : Di Kota Tuhan Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah
Penulis                         : Stebby Julionatan
Penerbit                       : Indie Book Corner
Jumlah Halaman          : 130 Halaman
Terbitan                       :  Cetakan Pertama, 2018
ISBN                           : 978-602-3093-33-5
Jenis                            : Kumpulan Puisi
Sebelum membaca isi dalam buku ini, mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya tentang apa itu ‘Kota Tuhan’? Apa maksud  penulis dari ‘Daging yang Kau Pecah-Pecah’? Saya kira memang itu adalah pertanyaan mendasar saat kita disodorkan buku bersampul putih ini.

Setiap penulis memiliki cara dan ciri dalam mengekspresikan yang ia tulis dalam karyanya, apa yang ia rasakan, lihat bahkan apa yang ia dengar. Bagaimana dengan Stebby Julionatan? Penulis asal kota  Probolinggo ini rupanya memiliki sebuah keunggulan dalam karyanya kali ini. Di Kota Tuhan Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah merupakan kumpulan puisi yang dibagi menjadi dua midrash dimana dalam proses penyelesaiannya membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Proses yang panjang dimana perenungan dan pematangan karya sangat dirasakan oleh Stebby.

Mengusung lokalitas, Stebby menceritakan setiap sudut kota Probolinggo dengan romantisme yang mampu menggelitik perasaan. Rabu dan Biru adalah dua tokoh yang seakan mengantar bagaimana penulis mempuisikan apa yang ia rasakan. Keunikan lainnya dalam puisi ini adalah penyajiannya yang ditulis seperti ayat-ayat seperti dalam alkitab. Penggunaan diksi yang sangat indah serta untaian kata yang mampu membawa kita kesebuah kenangan yang mungkin memang dilalui oleh penulis secara pribadi.
1 Bromo seperti bentangn yang membawa kembali kenangan.
2 Ia seperti rentang yang memeluk kembali kenangan.
… (Hal.36)

Dalam salah satu puisi di Midrash pertama, Stebby rupanya ingin mengajak kita bermain-main dengan kota Probolinggo dan kenangan yang ia miliki. Dalam puisi ini, Bromo menjadi sebuah sorotan puisi kenangan yang penulis rasakan. Bahkan pemilihan kata dalam kalimatnya seakan melemparkan kita tepat di hamparan pasir Gunung Bromo sembari merasakan apa yang dirasakan oleh penulis kala itu.
Pada sebuah puisi yang diberi judul, “Serva Ordinem et Ordo Servabit Te”* (Taatilah ‘Hukum’ maka ‘Hukum’ pun akan baik terhadapmu). Meski dalam puisi ini terbilang sangat pendek, rupanya tak sependek maka yang terkandung. Sempat saya berpikir –mungkin begitu dengan orang lain- bahwa puisi ini adalah jantung dari buku yang sangat apik ini. Berikut saya tampilkan puisi utuh tersebut:

1 Di Kota Tuhan aku adalah daging yang kau pecah-pecah. 2 Darah yang kau alirkan di sepanjang Efrata. 3 Mengikutimu adalah sedih tu sendiri
4 Biru, apakah jawabmu?
5 Ya, dengan segenaphatiku.

Sebelumnya penulis memang sempat menjelaskan bahwa arti dari Kota Tuhan sendiri adalah sebuah kota yang dianugerahi kepada penulis, sedangkan ‘daging yang kau pecah-pecah’ lebih merujuk pada anugerah yang diberikan kepada manusia bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk dibagi ke sesama.

Biru tak ingin mencintai Hari selain Rabu. Iya. Diambil dari judul salah satu puisi di midrash pertama, seperti itulah kesimpulan yang bisa kita ambil dari sekian banyak puisi dalam buku ini. Tidak pernah ada Biru dengan hari selain Rabu. Bahkan kita seakan bisa menangkap bahwa Biru dan Rabu adalah jodoh yang ditakdirkan berada di Kota Tuhan untuk saling berbagi pengalaman dan cerita tentang bagaimana kenangan dari masa kanak-kanak hingga pencarian jati diri.

Keseluruhan karya puisi ini memang sangat cocok untuk dinikmati oleh banyak pembaca. Seperti pada hakikatnya sebuah puisi, saat puisi tersebut jatuh pada tangan pembaca, maka setiap pembaca akan memiliki caranya sendiri dalam menafsirkan. Dilengkapi dengan gambar tempat-tempat yang menjadi setting puisi tersebut, bisa menjadi kekuatan sendiri bagi kumpulan puisi ini. Bagi orang-orang luaran sana, mereka akan lebih bisa mengenal Probolinggo, sebuah kota yang bahkan di Peta hanya sebuah gambar tak aturan berwarna biru dengan batas daerahnya.

Rabu dan Biru, saya harap mereka dapat mengantarkan banyak orang di luar sana tentang seperti apa itu Kota Tuhan kami, Probolinggo. Buku inipun bisa menjadi referensi bagi pembaca untuk lebih mengenal Probolinggo dan kenangan yang meski sekecil apapun layak untuk dikenang.

Probolinggo, 08 September 2018




Resensi 3 Saudara 1 Hati

Yani, Just it

 

Cinta yang Sama
Judul                          : 3 Saudara 1 hati
Penulis                       : Syarifatul M
Penerbit                     : Arsha Teen
Terbitan                     : September 2017
Jumlah Halaman      : 191 Halaman

3 Saudara 1 Hati adalah sebuah novel yang diterbikan dari hasil project ABNT pada tahun 2017 lalu. Menceritakan bagaimana sebuah hubungan keluarga yang sangat rumit dan aneh. Sangat jauh dari kata keluarga harmonis. Sebuah hubungan keluarga yang seakan berdiri sendiri. Orang tua denga kesibukan kerja, dan saudara yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Bercerita tentang anak pertama atau si Sulung, Nirmala. Memiliki watak yang cukup mandiri dan tangguh sebagai seorang Kakak. Di awal cerita bahkan aku merasa Nirmala ini hanya akan jadi angin lalu yang sekadar lewat dalam cerita, tapi ternyata Nirmala lah yang seakan penggiring cerita hingga ke akhir. Ditemani oleh lelaki special dalam hidupnya, Ardhi.

Anak kedua, Jovita. Wanita tomboy dengan sahabatnya Arthur. Memiliki sifat tomboy yang cuek. Namun, memiliki sebuah hati yang baik dan suka menolong. Andi, lelaki pertama yang berhasil membuatnya merasakan jatuh cinta. Jovita atau kerap disapa Vita paling tidak suka berteman dengan wanita. Hampir semua temannya adalah lelaki, tapi yang paling dekat memanglah hanya Arthur. Lelaki yang diam-diam menaruh rasa pada wanita tomboy itu. Hingga cinta pertamanya ternyata jatuh pada Andi bukan Arthur.

Si Bungsu, Adara. Cewek cantik yang masih menginjak SMU. Dari sini aku kira dia akan menjadi tokoh utama dari cerita karena Adara dan Reyhanlah yang menyambut cerita 3 Saudara 1 Hati ini. Adara dan Reyhan saling mencintai, tapi mereka sama-sama diam dan menikmati kedekatan yang terjalin. Hingga datanglah Dika. Lelaki yang berhasil membuat Adara berpaling dari Reyhan.

Bagaimana jadinya bila Ardhi, Dika dan Andi yang dibicarakan oleh ketiga saudara tersebut adalah satu orang? Ardhi Andika. Lelaki dewasa dan pekerja keras. Charisma yang dimilikinya ternyata mampu membuat 3 saudara jatuh hati sekaligus. Meski sejak awal, Ardhi hanya mencintai satu wanita, Nirmala. Teman semasa kuliahnya.

“Bukan sekadar ingin memiliki, dalam diam kusimpan cinta dalam hati.” –Adera Freedella

“Sahabat dan cinta, mereka dua hal yang berbeda.” –Jovita Clara

”Kita berdua sudah sama-sama dewasa, apa sesulit itu mengatakan bahwa kita saling suka.” –Nirmala Alyssa

Dari ketiga saudara yang mencintai satu lelaki yang sama membuat alur dan plotnya lebih menantang. Sebuah konflik keluarga yang saling tidak peduli juga menghiasi cerita ini. Hingga ada banyak amanat yang dapat kita petik dari ini. Keluarga bukan hanya membutuhkan aliran uang atau dana, melainkan juga kasih sayang dan cinta. Seperti itulah yang coba dijabarkan oleh Novel ini. Selalu ada kejutan dari terbongkarnya rahasia dalam keluarga tersebut. hingga cerita ini akan ditutup dengan menyatunya mereka di cinta masing-masing serta kasih sayang orang tua yang kembali di rasakan.

Keseluruhan aku sangat suka dengan cerita ini. Dengan bahasa yang ringan, penulis berhasil membawa setiap peristiwa terlihat bermakna dan tidak membosankan.

Probolinggo, 12 Oktober 2018

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...