Resensi Tanah Seberang

Yani, Just it


doc. Radar Cirebon 2 Desember 2018 

Pengorbanan dan Nasionalisme di Tanah Seberang

Judul                           : Tanah Seberang
Penulis                         : Kurnia Gusti Sawiji
Penerbit                       : Mojok
Jumlah Halaman          : 268 Halaman
Terbitan                       : I, Juli 2018
ISBN                           : 978-602-1318-68-3
Peresensi                     : Agustin Handayani

Pengorbanan tanpa makna hanyalah sebuah kesia-siaan, namun pengorbanan dengan sebuah makna adalah sebuah tindakan yang heroik. Dalam hidup ini, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan. Dan disetiap pilihan itu pulalah selalu ada resiko di dalamnya. Besar kecilnya resiko yang kita dapat, tergantung dari usaha dan pengorbanan masing-masing. Tergantung bagaimana keberanian kita untuk melangkah ke depan.
Novel yang berjudul Tanah Seberang ini terbagi menjadi trilogi di dalamnya. Di mana setiap cerita memiliki sebuah pengajaran hidup yang sangat heroik. Trilogi tersebut dibagi dalam beberapa judul yang setiap judul memiliki sekitar 5-8 sub bab. Cerita Pertama: Dunia di Ufuk Barat, Cerita Kedua: Jiwa dan Tubuh Nusa, Cerita Ketiga: Pilihan untuk Hidup yang Lebih Baik, dan ditambah Cerita Keempat: Trilogi dari Tanah Seberang.

"Jangan kau terus berlari dari apa yang pasti akan kau hadapi. Ia akan terus menerus mengejarmu. Lebih baik kau keluar dan menghadapinya." (Hal. 10)

Pada Cerita pertama, kita akan berkenalan dengan tiga bocah yang menjadi tokoh utamanya. Amran, Imran dan Umar. Tiga bocah yang selalu mendapatkan dongeng tentang Dunia Ufuk Barat dari Tok Mus. Sebuah dongeng yang memberikan mereka tekad kuat untuk melangkah ke Dunia Ufuk Barat tersebut. Namun sepertinya keinginan menggebu mereka harus ditentang oleh Maknya. Mak Nur sangat menentang anak-anaknya keluar dari rumah atau dari desa Raja Alang ini. Keadaan mereka yang sebagai pendatang ilegal membuat Mak Nur selalu bersembunyi dan menjauhi Rela yang bisa saja memulangkannya paksa ke Indonesia. Sedangkan Indonesia terlalu menyimpan luka untuknya. Mak Nur seakan sudah tak punya wajah di Negaranya sendiri. Namun perjalanan tetaplah perjalanan. Memakan waktu yang seakan mendorong kita terus melangkah. Bukan berdiam diri atau malah menghindar. Mak Nur dan ketiga anaknya harus menghadapi Indonesia dan menyelesaikan masalahnya untuk hidup yang lebih baik lagi.

Pada Akhirnya, untuk hidup, seseorang perlu melakukan perjuangan dan pengorbanan. (Hal. 98)

Nusa dan keluarganya adalah warna negara Indonesia yang hidup di Negeri Malaysia. Menjadi seorang ‘Paskibraka’ adalah cita-cita Nusa sebagai bentuk kecintaannya pada Indonesia tersebut. Mengibarkan bendera merah putih di Negeri orang adalah sebuah tantangan sendiri menurut paskibraka tersebut. Dan saat Nusa mendapatkan cita-citanya, badai menerpa keadaan keluarganya. Nusa dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Melepaskan kewarganegaraan atau merelakan keluarganya mengalami kesulitan hidup? Sebuah pergejolakan batin yang harus dihadapi seorang pemuda yang sangat mencintai tanah airnya meski sebenarnya Nusa lahir di Malaysia, dan tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia.

Tapi, kalau aku, persetan dengan pandangan orang atau reputasiku! Memangnya orang-orang yang menentukan seberapa besar cintaku pada tanah air? Masing-masing orang memiliki cara tersendiri dalam menyatakan cinta, bukan? (Hal. 133)

Di cerita ketiga, Tanah Seberang akan membagikan kisah tentang Langgam. Pemuda yang menghabiskan masa remajanya untuk merawat sang Ayah yang sedang sakit. Langgam harus selalu memahami sang Ayah yang kadang keras kepala dan tidak memperdulikan penyakitnya, dan menjadi pendengar yang baik untuk mendengarkan segalam emosi dari sang Ibu. Langgam berpikir, mungkin ini adalah akibat dari pilihan yang salah, yang diambil tergesa-gesa oleh keluarganya tanpa berpikir masak-masak. Sekali lagi, konfliknya adalah, saat pintu kebebasan terbentang luas di hadapannya, pintu yang menjadikannya orang sukses dan jelas bisa memperbaiki keadaan keluarga, apakah Langgam akan mengambil pintu tersebut sedangkan di sisi lain, keluarganya sangat membutuhkan anak sulung sepertinya? Menganggap dirinya adalah Tentara yang mendapat perintah dari atasan.

"Karena hanya dengan keberhasilanlah, ia bisa menunjukkan bahwa ia adalah seorang prajurit terkuat. (hal. 207) 

Langgam mengambil keputusan dari pilihan yang digenggamnya. Ia hanya ingin menjadi tentara terkuat itu.

Sebagai penutup novel ini, Trilogi Tanah Seberang mengumpulkan semua tokoh dari cerita pertama hingga ketiga. Kehidupan mereka yang ternyata saling berkaitan. Sebuah usaha dan pengorbanan yang besar menjadikan mereka manusia-manusia yang bahagia. Polemik kehidupan mereka seakan menjadi sebuah benang tak kasat mata yang saling menguatkan batin mereka.

Kebahagian sejati hanya akan berhak dimiliki oleh orang-orang yang berjuang dengan bersih. (Hal. 268)

Permasalahan baru yang dihadirkan oleh penulis, membawa Amran, Imran, Umar, Nusa dan Langgam dalam sebuah usaha dan pengorbanan mereka bersama. Hingga saat keberhasilan itu mereka dapat, mereka tahu bahwa inilah sejatinya kebahagiaan. Saling membantu untuk hidup.

Buku ini sangat cocok untuk semua kalangan. Namun ada baiknya bagi pembaca yang masih dibawah umur untuk mendapatkan bimbingan dalam membacanya. Kebangsaan, Nasionalisme dan polemik yang dijabarkan oleh penulis seakan berhasil membuat kita bertanya, "apa yang sudah kita lakukan untuk negara tercinta?"

Probolinggo, 30 November 2018
.

Resensi Sunyi di Dada Sumirah



Doc. Radar Cirebon 9 Desember 2018


Menterjemahkan Kesunyian pada Wanita

Judul                           : Sunyi di Dada Sumirah
Penulis                        : Artie Ahmad
Penerbit                     : Mojok
Terbitan                     : Cetakan Pertama, Agustus 2018
Jumlah halaman        : vii+ 298 Halaman
ISBN                            : 978-602-1318-72-0
Peresensi                   : Agustin Handayani

Sunyi di Dada Sumirah adalah sebuah novel yang terbagi menjadi tiga bagian cerita yang saling berkaitan. Tentang Sunyi dan penolakannya pada takdir, Sumirah dengan kelamnya hidup serta Suntini yang mengalami ketidakadilan dalam hidupnya sampai akhir hayat. Tiga perempuan dalam masa yang berbeda harus menjalani takdir dan kesunyian masing-masing sementara ketidakadilan terus mengiring langkah mereka.

Mereka menilai hidupku seolah-olah aku ini makhluk rekaan mereka, bukan ciptaan Tuhan. Mereka menilaiku dari sisi dunia yang terlanjur rusak ini sampai ke akhirat yang konon firdaus dan Kudus. –Hal. 4

Cerita pada bagian pertama, kita akan berkenalan dengan tokoh bernama Sunyi. Sesuai dengan namanya, Sunyi adalah gadis yang terlahir dari kesunyian sama seperti hidupnya. Menjadi seorang anak PSK tidak bisa dijadikan sebagai sebuah kebanggaan baginya. Bila bisa dilahirkan kembali, Sunyi meminta sebuah kehidupan yang lebih baik lagi. Dalam artian Sunyi memang enggan hidup seperti sekarang ini –mendapat julukan anak PSK.

Hanya Arlen, setidaknya satu sahabatnya yang masih sudi menjadi sahabatnya saat semua orang bahkan menjauhinya setelah menemukan fakta bahwa dirinya anak dari seorang PSK. Dari Sunyi kita belajar menjadi seorang yang kuat dan tegar. Berani dalam mengambil segala tindakan yang dianggapnya benar. Namun Sunyi tetaplah seorang gadis yang juga bisa merasakan cinta. Pada Ram, Sunyi pernah berharap bahwa Ram adalah lelaki yang beda dari lelaki yang pernah ditemuinya.

“Hari ini pemuda sepertimu membuktikan bahwa seseorang yang terlahir di kalangan manusia-manusia martabat tinggi tak menjamin dia bisa tumbuh dalam harga diri yang tinggi pula.” –Hal. 66

Di akhir bagian Sunyi, Ram seakan membuktikan bahwa orang-orang yang bermartabat belum tentu memilih harga diri yang tinggi. Tidak selalu orang kaya akan memiliki budi pekerti yang lebih daripada orang-orang redahan seperti Sunyi.

Pada bagian kedua, kita akan berkenalan dengan Sumirah, ibu dari Sunyi yang kerap disapa Mi. ketikdakadilan hidup juga menyapanya. Hidup di tengah-tengah keluarga yang ditinggal bapaknya sejak dalam kandungan, seorang Emak yang hilang bahkan saat ia masih sangat kecil hingga ia harus hidup dengan si Mbah. Kesalahan Sumirah yang terlalu keukeh menunggu Atmojo untuk kembali dari Jakarta dan melamarnya membuat hidupnya disapa oleh kekelaman yang hampir mengekalkan penderitaannya. Ia dijual oleh lelaki yang ia cintai.

Mengapa di dunia ini ada orang-orang yang mampu menyakiti orang lain hanya karena merasa memiliki derajat lebih baik? Mereka lebih suci dan berjiwa lebih luhur. - Hal. 92

Dan kisah ada bagian terakhir, Suntini. Nenek dari Sunyi yang berarti adalah Ibu dari Sumirah. Mungkin ini adalah akar dari kelamnya kehidupan wanita tiga zaman tersebut. Hidup Suntini bahkan seakan hanya sekedipan mata sebelum akhirnya menghabiskan sisa hidupnya menjadi tawanan dan diasingkan di sebuah desa yang terpencil. Dari Suntini kita belajar bahwa hidup hanya meminta pertolongan pada Tuhan, tidak gampang mengeluh pada setiap permasalahan dan juga selalu kuat untuk bertahan. Suntini selalu memiliki banyak harapan dan memandang semuanya dari sisi baik hingga harapannya luntur bersamaan dengan penyakit yang menyerangnya selama di tempat pengasingan. Saat itu Suntini sudah tak dapat berharap untuk bertemu dengan anaknya lagi, Sumirah.

Dari kisah ketiga wanita dengan masa berbeda yang saling berkaitan tersebut, kesunyian dan ketidakadilan memang nampak sangat menyedihkan. Namun dibalik itu semua terkandung banyak makna yang mana bila kita ingin menelaah lebih dalam lagi, dari kesunyian dan ketidakadilan tersebut kita belajar bagaimana cara memaknai hidup dan memandangnya dari sisi yang mungkin hanya segelintir orang yang paham. Hidup adalah sebuah fase-fase di mana selalu ada perubahan yang lebih baik lagi bila kita mau berusaha dan memaknai semuanya dengan bijak. Seperti perihal membenci dan memaafkan pada hal-hal yang melukai kita, misalnya.

Membenci akan membuat nilai deraja diri akan turun, akan lebih rendah lagi. Memaafkan adalah salah satu cara ampuh untuk mengobati hati yang merasa tersakiti. Hal- 120

Mungkin kita sering menjumpai kisah-kisah pahit dengan tokoh wanita yang malang, tapi seperti yang harus kalian ketahui, ini bukan sekadar potongan kisah perempuan, ini adaah kisah panjang penelusuran makna kesunyian perempuan dari tiga zaman, melintasi tiga generasi untuk menyingkap gelapnya sejarah manusia. Semoga siapapun pembaca yang telah atau akan memiliki buku ini bisa menelaah kisah-kisah kesunyian hidup yang Sunyi, Sumirah dan Suntini alami. Dan sebaik-baiknya novel ini adalah manfaat yang akan didapat oleh pembaca yang budiman.

Probolinggo, 17 Oktober 2018




Kata yang (tak) Sempat Terucap




“Sebenarnya aku memiliki 3 permintaan. Apa kamu bisa mengabulkannya?”
Sika diam. Ia masih menatap sahabatnya dalam. Meski begitu, semua orang tahu ada tatapan penuh arti yang coba Sika berikan pada Dika. Dan Biarkan hanya Dika yang tahu arti tatapan tersebut.
“Apa permintaan kamu?” tanya Sika. Ia biarkan saja saat tangan kokoh Dika merangkulnya. Mungkin ini akan menjadi rangkulan terakhir mereka.
“Pertama, aku ingin kamu bahagia.”
“Pasti,” jawab Sika cepat. Ia tersenyum hingga lesung pipi kanannya terlihat yang semakin menambah manis dirinya.
“Kedua, aku ingin kamu memiliki keluarga yang kamu sayang, seperti aku yang menyayangimu.” Ucapan ini membuat Dika dan Sika sama-sama terdiam. Ada sebuah luka dan harapan yang muncul bersamaan dalam hati masing-masing.
Hidup di sebuah rumah tanpa tahu siapa kedua orang tua masing-masing adalah sebuah kesialan yang tak pernah mereka harapkan. Tidak. Tak seorang pun ingin bertukar posisi dengan mereka.
Dika, lelaki yang dua puluh tahun lalu ditemukan di depan gerbang panti. Hanya dengan selembar kertas bertuliskan permohonan maaf dan sebuah nama untuk dirinya. Saat itu yang Dika tahu bahwa keluarganya tak bisa membesarkan dirinya tanpa sebuah alasan yang jelas.
Sedangkan Sika. Anak yang katanya hasil hubungan gelap seorang pejabat negara dengan seorang janda. Setelah kedua orang tuanya di arak keliling kampung saat ditemukan kumpul kebo, sang Ibu diasingkan sedangkan Pejabat tersebut lepas karena kekuasaan dan uang. Tak ingin menanggung malu, Ibu tersebut selalu mencoba menggugurkan kandungannya. Namun, takdir memang ingin Sika lahir. Meski dalam kebencian sang Ibu dan dibuang ke panti yang sama di mana sudah ada Dika di sana.
Nasib yang hampir sama. Meski semua anak di sini jelas memiliki cerita yang sial menurut masing-masing. Dan pada hari ini, saat Sika harus pergi meninggalkan Dika. Pergi dan memulai kisah yang baru dengan keluarga yang baru dan akan menerima Sika dengan kasih sayang. Lantas Dika bisa apa selain mendoakan?
“Permintaan ketiga?” tanya Sika yang bisa membuyarkan lamunan Dika.
Dika tersenyum. Ia beralih mengusap pipi Sika dengan sayang. “Permintaan terakhir biar aku yang simpan. Karena permintaan ini tidak akan pernah terkabul.”
“Loh, kok gitu?” protes Sika mengembungkan pipinya.
Dika hanya tersenyum. Ia memilih menikmati semua yang masih bisa ia pandang saat ini. Bagaimana merah bibir itu, kulit kuning langsat yang selalu bercahaya, dan rambut hitam legam yang selalu dibiarkan terurai. Esok, Dika paham bahwa apa yang ia pandang sekarang tak akan bisa ia nikmati lagi.
Meski begitu, Dika akan menandai waktu ini. Waktu yang menjadi awal kisah mereka masing-masing, bukan berdua.
***
“Di dunia ini tidak semua kata harus terucap dengan lugas. Ada yang diteriakkan nyaring, berbisik, dan ada pula yang hanya dipendam sendiri.”
“Dan kamu memilih yang terakhir?”
“Eh’em. Aku memilih mengucapkannya lewat hati. Karena aku tahu bahwa terucap atau tidaknya ini, tidak akan pernah mengubah keadaan. Dan aku tak ingin apa yang aku keluarkan percuma.”
“Kamu memang aneh, ya! Andai kamu berbicara dari awal pada Sika tentang cintamu, aku yakin Sika tak akan meninggalkanmu seperti ini. Apalagi sekarang dia sudah menikah.”
Dika hanya tersenyum. Ya, mungkin jika dulu ia berani dan berbicara lebih dulu pada Sika, wanita itu tak akan meninggalkannya. Dan mungkin juga ia memiliki kesempatan lebih. Namun...
“Bagaimana kalo jodoh Sika memang lelaki itu? Aku bisa apa?”
Sekali lagi, Dika mencoba berpikir jernih. Yah, sekuat apapun ia berusaha, tetap saja semesta yang akan menentukan. Bukan ia, bukan Sika, bukan cinta, maupun penyesalannya.
“Jika orang-orang selalu menghindari penyesalan. Maka aku sangat menghormatinya. Karena penyesalan adalah kerja sama antara takdir dan hati,” bisik Dika.
Sedangkan Dito, kawan kerjanya hanya bisa diam dan coba memahami. Ia belum pernah berada di situasi yang rumit seperti Dika, tetapi bila ia berada dalam keadaan seperti itu, ia tak yakin akan berperilaku sama.

Selesai.
Probolinggo, 12 12 2018

Andai Menunggu seenak Mengantri Bakso Solo.

Yani, Just it


Probolinggo tempo sekarang, di mana banyak sekali gerobak bakso berkeliaraan. Bahkan dibeberapa simpang jalan juga mulai tercecer penjual bakso yang dengan mudah kita temui. Dari harga yang terjangkau, hingga harga yang bisa dibilang fantastis.

Aku mulai mengenal Probolinggo dan baksonya saat usia dua belas tahun. Saat dengan murah hatinya, seorang guru mengajakku menyantap semangkok bakso dengan gerobak bertulis 'Bakso Solo'. Hal pertama yang terlintas dalam benak adalah, "wah, tanpa ke Solo aku sudah bisa makan baksonya." Sungguh naif dengan pemikiran seperti itu.

Namun, kawan! Di sini aku tak mau bercerita tentang bagaimana rasa baksonya, seberapa besar bakso tersebut, atau harganya. Di sini aku ingin menceritakan perihal menunggu. Menunggu bakso yang masih mentah hingga matang. Hal inilah yang menjadi filosofi ku.

Kalian tahu arti dari menunggu? Menunggu adalah bersabar karena sesuatu yang terbaik tengah disiapkan. Sama halnya saat aku menunggu bakso, aku bersabar menunggu hingga bakso bisa siap kita santap. Bagaimana bila kita tidak sabar? Maka bakso tidak akan dihasilkan dengan sempurna. Bisa jadi setengah matang atau malah mentah.

Begitulah hidup kawan! Kita menunggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan terburu-buru dalam menginginkan sesuatu. Ada kalanya kita harus duduk, mengamati dan meresapi bagaimana lingkungan kita berjalan sembari menunggu tersebut

Aku berbicara, andai menunggu seenak mangantre bakso Solo, jelas semua orang akan menunggunya sembari mengobrol dengan teman, berbincang-bincang, melihat bagaimana bakso di masak, atau menhirup aroma bakso yang tercium. Nah, kenapa dalam menunggu sesuatu kita tidak bisa seperti itu. Misal, kita menunggu datangnya cinta. Mengeluh, ingin cepat datang, bahkan menghujat pada semesta. Dan saat semesta lelah mendengar keluhanmu, datanglah cinta. Dan terima saja bila cinta itu seperti bakso yang masih setengah jadi atau bahkan mentah.

Jadi, itulah filosofi yang harus aku terapkan dalam hidup. Kenapa aku memilih bakso Solo? Karena dibalik rasanya yang enak, bakso Solo memiliki kisah lain di dalamnya. Tersimpan haru, arti hidup dan lain sebagainya.

Probolinggo, 04 12 2018

Alyana, si Gadis Hujan

Yani, Just it


November yang setengah basah. Kemarau memanjang sedangkan hujan melambat. Sudah banyak kekeringan di beberapa desa, bahkan doa-doa dan ritual meminta hujan sudah sering dilakukan. Tahun ini seakan terkena kutukan oleh Tuhan.

Di pojok desa, sebuah rumah sederhana di mana halaman rumahnya berjejer banyak bunga dan pohon rindang. Di dekatnya terdapat sebuah taman di mana seorang gadis sering duduk dan menghabiskan waktunya dengan berbicara pada tumbuhan di pekarangannya. 

"Apa hujan akan datang bersamaan dengan rindu yang tuntas?" Alyana. Nama gadis tersebut.

Ia seperti berada dalam kisah bang Toyib. Menunggu seseorang yang sudah lama tak pernah pulang. Berkali-kali purnama. 

Alyana mulai menyiram bunganya sedikit demi sedikit. Desanya sedang dilanda kekeringan yang panjang. Mereka harus hemat dalam penggunaan air. Untuk mandi dan minum saja mereka harus membeli air galon atau membeli air mentah di kota yang jaraknya begitu jauh. 

"Harus ada kurban. Alam meminta kurban."

Alana diam. Ia mendengarkan beberapa petani yang baru saja pulang membajak sawah. Petani yang selalu mengeluh tentang kapan datangnya hujan. 

"Apakah alam memang butuh kurban seperti kisah Kasada di Bromo?" Alyana bertanya pad dirinya sendiri. 

Ia meninggalkan aktivitasnya. Melangkah ke luar rumah dan meneliti bagaimana keadaan orang-orang tanpa hujan. Mereka kelimpungan. Tanaman banyak yang mati. Krisis air bersih.

Konon, di desa ini terdapat sebuah laut di mana orang terdahulu meminta datangnya hujan. Laut itu selalu menjawab permintaan warga dan turunlah hujan. Namun, akhir-akhir ini Laut seakan membisu. Menulikan telinga pada permohonan warga.

Dan tanpa disadari Alana, kakinya sudah melangkah pelan menuju tempat laut itu berada. Sekitar 8 meter ke arah barat daya. 

Di sanalah laut itu berada. Laut yang tidak pernah dimanfaatkan oleh warga dikarenakan keangkerannya. Laut ini bisa menyeret warga kapan saja dan tidak pernah ada yang memprediksi. 

Alyana memejamkan matanya erat-erat. Bibirnya seakan merapalkan sebuah doa. Hatinya lelah menunggu sang Kekasih yang tak pernah pulang. Hidup sendiri tanpa sebuah kebahagiaan berarti. Apa lagi definisi sepi dalam hidupnya?

Jika Ia bisa bermanfaat bagi orang banyak dan mendatangkan hujan, kenapa tidak ia lakukan saja? Karena hidup dalam kesendirian sama saja mati. 

Dengan sekali tarikan napas, Alyana meloncat ke laut luas tersebut 

Gebyur .  ..
Bersamaan dengan itu, langit mendung dan bergemuruh. Setitik air hujan turun dan membasahi tanah-tanah tandus. 


Tamat.

Pramudya dan Semangat Motivasi

Yani, Just it
Assalamualaikum wr. Wb

Selamat Malam teman-teman penulis!
Pada malam ini, seperti yang telah dijadwalkan bahwa kita akan membahas tentang "Pramudya dan Semangatnya."

Sudah kenalan dengan Pramudya sendiri? Beliau adalah salah satu penulis yang banyak memotivasi penulis sekarang dengan semangatnya. 
Beberapa quotes yang ka tulis bahkan lekang hingga saat ini. Misalnya. 
1. "Menulis adalah sebuah keberanian."

Bagi Pramoedya, menulis adalah sebuah keberanian karena dalam menulis setiap orang bisa mengungkapkan setiap pendapat dan juga pikirannya. Selain itu, keberanian sangat kita butuhkan untuk menerima segala bentuk kritikan dan cacian dari tulisan kita. Tidak ada tulisan yang langsung bagus di awal kali ia lahir. Semua tulisan mengalami proses. Jadi, untuk apa kita takut bila kesuksesan hanya akan datang pada mereka yang berani. 

2. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."
Bagi Pramoedya, menulis berguna untuk membuatnya tetap hidup dalam hidup orang, walaupun ia telah tiada


Dan masih banyak lagi kata-kata penyemangat dari Beliau. 
Di sini saya juga ingin membahas dari sepak terjang seorang Pramudya Ananta sendiri. Bagaimana ia yang saat berada di Buru, ia dilarang menulis. Namun, Pram tidak bisa dicegah. Ia tetap menulis meski dalam kondisi dan situasi yang tidak mendukung sama sekali. Hingga lahirlah Buku Bumi Manusia yang hingga saat ini sangat viral dan bahkan menjadi film. 
Bagaimana perbandingannya dengan penulis saat ini?

Mungkin karena mereka belum memililki motivasi yang kuat, atau situasi yang terjepit seperti Beliau hingga mereka bisa memilih situasi dan kondisi yang bagaimana untuk menyamankan mereka menulis. Beberapa memilih menulis dan keramaian, keheningan, taman kota, setelah bangun
 tidur, dll.

Bahkan Pramudya bisa menulis meski ia berada di tahanan dengan udara yang sesak. Beliau bisa menciptakan banyak buku yang bermanfaat bagi semua orang.

Maka, saya harap, setelah kita membaca dan mengamati bagaimana seorang Pramudya di masa lampau, kita mulailah memperbaiki diri. Ada beberapa poin yang saya dapat dari kisah Beliau.
1. Berani. Jangan takut ditentang bila tulisanmu tidak sesuai dengan selerea mereka.
2. Mulailah menulis untuk memberi manfaat pada orang lain. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.
3. Menulis untuk Peradaban
4. Menulislah di mana dan kapanpun. 

Mungkin ini hanya materi singkat yang saya rangkum. Dan pastinya akan sangat banyak kekurangan. Maka dari itu, semoga masih ada teman-teman yang bisa sharing dan saling berbagi. Terima kasih

Probolinggo, 19 11 18

Sekilas tentang Penerbitan

Selamat Malam dan salam sejahtera

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas sedikit tentang penerbitan? Apa kegunaan dari penerbitan sendiri?  Bagaimana sistem kerja dari penerbitan? Dan bagaimana cara kita mencari kevalidalitas dari suatu penerbit?

Oke, jadi kita mulai saja, ya!

Berbicara tentang penerbitan jelas saja sudah tidak asing bagi kita semua. Banyak para penulis baik pemula maupun yang sudah terjun lama dalam literasi seakan berkawan dengan penerbitan serta timnya.


Apa penerbitan itu? 
Menurut KBBI, penerbitan adalah proses atau cara menerbitkan suatu karya. Sedangkan penerbitan yang kita kenal adalah 'dapur naskah' di mana naskah mentah kita diolah hingga bisa turun ke pemasaran.

Bagaimana suatu penerbitan bekerja hingga 'memasak' naskah penulis?

Sebelumnya kita harus mengenal dulu beberapa bagian dari penerbitan tersebut.
1. Penulis. Tanpa penulis, naskah tidak akan pernah ada. Yang artinya tidak akan ada bahan mentah untuk dioleh menjadi bahan matang. Penulis di sini bertujuan untuk menulis hingga menghasilkan karya yang akan siap naik ke 'dapur naskah'.

2. Editor. Seperti namanya, editor adalah seseorang yang memiliki keahlian untuk mengedit naskah agar naskah tersebut tidak 'luka/tergore'. Naskah yang mengalami cidera baik di typo, PEUBI/EBI adalah naskah yang luka menurut pembaca. Secara tidak langsung naskah tersebut akan kehilangan unsur nilai estetikanya. Apa yang harus dikuasai oleh seorang editor? Selain menguasai EBI/PEUBI, editor juga harus bisa mempercantik kalimat agar mudah masuk ke dalam pemahaman pembaca. Selebihnya, editor akan melakukan keahliannya sendiri.

3. layouter. Seorang yang memiliki keahlian layout, adalah orang yang sangat laku di pasaran. Kenapa? Karena tidak semua orang bisa menguasai layout. Beberapa keahlian layout bahkan didukung dengan editing. Seorang layoter selain memperindah tata letak naskah, dia juga harus memiliki nilai estetika yang tinggi terhadap penangkapan isi cerita hingga ilustrasi yang mendukungnya. Itulah mengapa kita menganggap layoter sebagai 'jantung dapur'. Karena beberapa layoter juga bisa merangkap editor dan desain grafis dalam pembuatan ilustrasi naskah.

4. Percetakan. Naskah bisa masuk ke dalam percetakan bila sudah diolah oleh layouter. Bisa dibilang percetakan adalah proses akhir dari naskah sebelum masuk ke pemasaran.

5. Marketing dan distributor. Kedua tim ini sangat membantu dalam hal penyebaran karya penulis ke pembaca. Meski di zaman ini, pembaca harus bisa menjadi marketing dan distributor bagi karyanya sendiri. Karena apa? Tidak dapat dipungkiri bahwa penerbitan lebih mencari penulis dengan follower banyak atau bahkan yang sudah memiliki 'branding' di masyarakat agar karyanya bisa laku di pasaran. Karena penerbitan tetap saja memerlukan sistem marketing yang dapat membantu bisnisnya. Bila penulis tersebut sudah cukup dikenal oleh banyak orang, tidak dapat dipungkiri bahwa nantinya penerbitan akan mengincarnya dan melamar naskahnya.

Setelah kita mengetahui tim-tim di dapur naskah, sekarang giliran kita membedakan macam-macam penerbitan.

1. Penerbit Mayor. Kelebihan yang dimiliki oleh penerbit ini adalah naskah kita yang akan terpampang di toko buku nasional seperti Gramedia. Dengan kelebihan tersebut, jelaslah penerbit mayor tidak akan asal-asalan mengambil naskahnya. Mereka akan melalukan seleksi yang ketat dan juga revisi besar-besaran. Meski sebenarnya beberapa penerbit mayor juga membuka jalur penerbit indie untuk penulis yang ingin menerbitkan naskahnya. Bagaimana dengan penerbit indie itu sendiri?
Contoh penerbit mayor yang kita kenal adalah Gramedia, Mizan, Grasindo, Diva, dll

2. Penerbit indie. Penerbitan indie ini lebih dikenal dengan sistem berbayar di mana penulis mengharuskan membayar biaya administrasi untuk mendapatkan pelayanan dari 'dapur naskah' itu sendiri. Berapa biaya minimal penerbit? Bervariasi. Beberapa penerbit indie akan mematok harga kecil karena baru lahir, sedangkan beberapa lagi akan mematok harga fantastis karena mereka percaya diri pada kualitas dapur mereka. Contoh beberapa penerbit indie, yaitu : Inthisar Publishing, Halaman Yuan, Ajrie Publishing, Sintesa Publishing, AE Publishing, Wijaya Publishing, AT Press dengan cabangnya yang sudah lumayan.

3. Self Publishing. Seperti namanya, self publishing adalah penerbitan di mana penulis yang bekerja di dapur naskahnya sendiri. Penulis menjadi seorang editor, layoter, bahkan marketing sendiri. Sedangkan penerbit hanya akan memberi ISBN dan mencetak sesuai permintaan.

Bagaimana cara kita mengetahui kevalidalitas dari suatu penerbit mengingat masih banyak kecurangan yang dilakukan oleh oknum dengan mengakui sebagai penerbit dan membawa kabur naskah penulis. Kita hanya perlu masuk ke dalam web Perpusnas dan mencari nama penerbit tersebut atau mitra penerbit tersebut apabila dalam prises ISBN nya melalukan kerja sama dengan penerbit lain.

Sementara itu yang kita bahas untuk materi penerbitan kali ini. Semoga teman-teman penulis dapat memahami materi kali ini. Terima kasih



Probolinggo, 16 11 2018

Resensi Novel Ikan Kecil

Radar Madura, 16 Maret 2020 Menerima Takdir dan Belajar Kesabaran dari Cobaan Judul               : Ikan Kecil Penulis...